The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 225 : Legenda & Penyesalan (Part 4).



Not Edited !


Udara silir menghembus rambut setiap orang yang berada di dalam ruangan itu. Sebuah ruangan yang atapnya terbuka, bahkan mampu menyerap cahaya rembulan masuk ke dalamnya.


Setiap insan yang berada di dalam ruangan itu, saat ini hanya bisa menampilkan wajah kaget mereka. Kesebelas orang yang mendengar informasi itu, sangat tak menyangka jika akan mendengar sebuah nama, yang bahkan tidak mereka rasa bisa masuk di akal jika hal ini benar terjadi.


“M-Merlin Stuart?!” imbuh Gimu Jonah, seorang ketua Guild dari negeri [Simbad], selepas dirinya mendengar nama itu.


Hexa lalu menganggukkan kepalanya untuk memberi kejelasan pada mereka semua.


“Kalian mungkin tidak yakin dengan apa yang aku telah sampaikan.” Bergeraklah Hexa mendekati tulisan itu, untuk sekali lagi. Dirinya tampak merunduk, dan kembali menyentuh ukiran pada lantai ruangan. “Tetapi tidak ada orang lain yang memilik tulisan kacau seperti ini, selain pria itu, dan ‘si bodoh’ ini juga mencantumkan namanya di ukiran ini.” tersenyumlah Hexa, bersanding dengan sedikit gelak tawa, saat dirinya mengatakan hal tersebut.


Bergeraklah mereka semua ke tempat di mana Hexa berada, kemudian, mereka ikut membaca apa yang Hexa tunjukkan kepada mereka. Kesebelas orang itu membungkukkan tubuh mereka di belakang Hexa, hanya untuk melihat tulisan yang Hexa geladah barusan.


Tampak berderet-deret tulisan yang menggunakan bahasa [Hubert], tepat di depan peti putih, pada ruangan itu. Tulisan yang amat panjang, dan seperti menjelaskan mengapa tulisan itu bisa berada di sana.


“Mau aku bacakan? Aku yakin kalian tidak akan bisa membaca tulisan tangan dari Merlin.” Memutarlah kepala Hexa saat ia menawarkan hal itu.


“Mah~ Aku rasa ada untungnya membawa si ‘Merlin Maniak’ satu ini, bersama kita.” ujar Foss sambil melipat kedua tangannya.


Dante pun setuju dengan apa yang Hexa sarankan. “Mohon bantuannya, Hexa.” Ucap Dante, dengan wajah berkeringatnya.


Setelah mendapat kepastian dari sang ketua kelompok, Hexa akhirnya mulai membaca dari apa yang Merlin ingin sampaikan kepada mereka semua. “Baiklah aku akan mulai,” jelas Hexa, sembari ia menarik napas panjang.


***


Aku, Merlin Stuart Jelinton. Memberikan salamku kepada kalian yang telah menemukan tempat ini. Selamat datang, wahai Pria yang Tuhan nubuatkan, juga salam hormat, bagi kalian, orang-orang normal yang menemukan tempat suci ini. Maafkan diriku, karena telah memasuki ruangan ini sebelum waktunya. Aku datang ke tempat ini, ‘untuk memberikan peringatan kepada kalian semua’.


Karena tempat ini adalah lokasi pertama yang aku kunjungi, maka ada sebuah pesan besar yang aku ingin sampaikan.


Ingat! Jangan pernah sentuh kunci terkutuk itu! Jika kalian melanggarnya, maka sebuah bencana akan terjadi, tepat di mana lokasi pedang itu berada. Tanda bencana yang pertama adalah: Berubahnya warna kotak suci ini, beserta senjata terkutuk itu. Bagi kalian yang telah melanggar larangan ini, cepatlah temukan pedang itu, dan tumbalkanlah nyawa seseorang yang memiliki panjang hidup, sekitar seratus tahun, untuk kotak suci ini.


Tambahan: Pesan ini adalah yang pertama dari enam pesan yang tersebar di seluruh penjuru dunia, jika kau adalah orang yang mencari kebenaran, maka carilah pesan lainnya, tetapi jika engkau mencari kepuasan dan nafsu, pulanglah ke kampung halaman kalian.


Salam hangat, dari sang penjelajah dunia: Merlin Stuart Jelinton.


***


Setelah Hexa menyelesaikan bacaannya, situasi langsung berubah menjadi sunyi. Mereka semua seperti tidak percaya dengan apa yang telah mereka dengarkan. Keringat dingin keluar deras dari sekujur tubuh mereka.


Terkesan seperti tidak percaya dengan apa yang pesan itu ingin sampaikan, namun mereka tahu pasti apa yang merupakan kenyataan atau delusi. Tetapi, untuk saat ini mereka ingin menganggap semua tulisan itu hanya sebagai sebuah kebohongan.


Bagaimana tidak? Seluruh harta, nyawa, cinta, dan waktu … telah mereka habiskan hanya untuk mencari satu peti ini. Dan di saat mereka menemukan salah satu peti yang sudah di nanti-nanati, mereka malah menadapat sebuah pesan yang begitu menyayat hati.


“Ha … Hahaha … Ini hanya omong kosong …,” gumam Zansel yang tampak begitu kesal dengan apa yang ia barusan dengarkan.


Dante hanya menatap Hexa dengan tatapan kosong, ia juga tak tahu harus beralku seperti apa, jika kejadiannya malah seperti ini.


Berdirilah Hexa dari duduknya, lalu ia membalikkan badan, sembari menatap wajah dari kesebelas orang lainnya.


“Aku mempercayai tulisan ini.” Hexa tiba-tiba melontarkan kalimatnya secara sepihak. Tentu saja hal ini langsung memicu kemarahan dari orang-orang, yang sangat ingin memuntahkan setiap kekesalan mereka pada seseorang. Dengan ganasnya lima orang langsung maju dan menarik kerah Hexa secara bersamaan.


Tampak begitu jelas, jika, Baster Fosseys, Prinatalia Kale, Zansel Royale, Gimu Jonah, dan Trambel Ketoks … kelima orang itu memberikan ekspresi kesal tiada tara. Namun tidak ada suara yang terlepaskan dari kerongkongan mereka, hanya tatapan kesal yang mereka bisa lemparkan kepada Hexa.


“Tunggu! Tolong jangan sakiti Hexa!” teriak si wanita berambut putih, yang ketika itu berlari dari belakang kelima orang tersebut, dan berdiri di depan Hexa, untuk melindungi sang pria. “Dia tidak bersalah! Bukankah Hexa hanya membacakan pesan itu saja?!” cetus Allyzabeth, kepada lima orang lainnya.


Lantas, semangat kelima orang itu pun langsung memudar, mereka sebenarnya tahu betul apa yang Allyzabeth katakan, hanya saja, mereka sedang mencari orang yang bisa di jadikan pelampiasan dari amarah mereka.


Sharlie pun maju mendekati Hexa, dan ia juga langsung melihat sekujur tubuh Hexa dengan penuh penghayatan. “Kau baik-baik saja …?” tanya Sharlie, menggunakan suara dan nada yang begitu datar. Seperti tidak ada emosi di balik suaranya itu.


Allyzabeth yang tidak suka melihat kedekatan antara Hexa dan Sharlie, tampak mendecakkan bibirnya secara sengaja. Dirinya  tampak tak bahagia jika kedua orang ini saling berdekatan. Saat itu, Allyzabeth langsung masuk di antara mereka berdua, dan seketika itu juga memeluk lengan kiri Hexa.


“Allyz … apa yang kau lakukan?” tanya Hexa, menggunakan ekspresi datar, kepada sang wanita berambut putih tersebut. “lepaskan, tangan sebelah kiri masih terasa sakit.” Ditepisnyalah peluk hangat Allyzabeth pada lengan kirinya, menggunakan tangan kanan, dan segera Hexa pergi menuju keluar ruangan.


Selepas kejadian itu, si wanita tampak begitu terkejut, tetapi Allyzabeth tidak lantas menyerah, ia malah memasang muka kesalnya terhadap Sharlie. Wajahnya memerah dan ia langsung menggigit bibirnya sendiri.


Sedangkan Sharlie? Ia hanya menatap kosong apa yang Allyzabeth lakukan. Dan di saat Hexa sudah pergi cukup jauh dari lokasi regu ini berkumpul, Sharlie langsung mengejar Hexa dengan sepenuh hati.


Lalu, muncullah Foss dari samping kiri si wanita berambut Putih itu. “Allyz, aku sudah lama ingin menanyakan hal ini sebenarnya. Kamu … apakah kamu benar-benar mencintai Hexa?” tanya Foss, dengan nada gemulainya.


Menolehlah si wanita berambut putih itu, menghadap ke wajah Foss, dengan ganasnya ia membentak sang pria berwajah gorila. “Tentu saja! Apa pun akan aku berikan, asal aku bisa menikah dengannya!” ucapnya. “tapi … aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan hati lelaki itu?! Jika hal ini tidak segera aku lakukan, aku bisa gila seumur hidupku!”


Sontak, Foss tampak mendekati kuping Allyzabeth, dan ia membisikkan sesuatu padanya. “Ne~ Aku pernah mendapatkan informasi ini dari seseorang yang terpercaya.” Mendengar panggilan dari sang pria gemuai, Allyzabeth langsung menunjukkan ekspresi ketertarkannya, pada informasi satu ini. “Kau tahu? Sebenarnya Hexa itu sudah menikah, loh~. Dan tampaknya, ia juga telah memiliki seorang anak,” bisik Foss dengan suara super kecilnya.


Mata Allyzabeth langsung memekar lebar. “Tentu saja Aku tahu! mau dia memiliki sepuluh istri sekali pun, aku akan terus mendekati dirinya!” cetus Allyzabeth—begitu ganasnya, sambil ia meneteskan air mata yang tak dapat terbendung lagi.


“Ahh~ aku tak mengerti hati wanita, sepertinya latihanku masih kurang.” Demikian, Foss yang berbicara sendiri langsung pergi menghampiri Dante bersama kelompok lelaki yang lainnya. Mereka tampak sedang menyelidiki kotak putih itu dengan sangat teliti.


Di lain pihak, Hexa dan Sharlie terlihat sedang mencari pedang terkutuk yang di maksudkan oleh ‘Merilin S J’ tadi. Mereka berdua, ditambah Allyzabeth. Pergi ke ruangan sebelumnya, demi menelusuri setiap seluk beluk, dan sisi-persisi, dari ruangan kosong itu. Tetapi sudah dari ujung, sampai ujung lainnya, mereka bertiga masih belum juga menemukan pedang hitam itu.


“Ini aneh … seharusnya pedang itu tidak berada jauh dari tempat kita …,” ujar Hexa, yang tampak gelisah akan suatu hal.


Mendekatlah Sharlie beserta Allyzabeth ke tempat Hexa berdiri. “Bagaiamana? Apakah sudah di temukan?” tanya Allyzabeth kepada sang pria.


Lalu, Hexa mengosok-gosok dagunya seperti orang yang tengah berpikir keras. “Hey, apakah kalian merasakan ada yang aneh selama sembilan bulan ini?” tanya Hexa, sambil mengingat setiap kejadian pada bulan-bulan terakhir.


“Hal yang aneh …?” gumam Allzabeth, kemudian ia menoleh ke arah Sharlie, dan Sharlie pun menoleh ke arah Allyzabeth. Namun mereka berdua hanya menggelengkan kepala, tampak seperti orang yang tidak tahu sama sekali dengan apa yang Hexa maksudkan.


“Tidak, aku yakin ada sesuatu yang aneh! Aku akan mengeceknya sekarang juga!” Ketika itu, Hexa langsung berlari kencang menuju pintu keluar. Sedangkan Allyzabeth dan Sharlie, mereka tampak terkejut degan tindakan Hexa. Tentu saja mereka berdua langsung mengejar Hexa dengan sepernuh kekuatan.


Berlarilah ketiga orang ini menuju satu ruangan sebelumnya. Beberapa perangkap ruangan terlihat sudah tak aktif, sebab keberadaan Hexa bersama rekan-rekannya kelokasi ini. Dan tibalah saatnya, dimana Hexa menemukan pedang berwarna hitam itu berada.


Saat itu, langkah Hexa bersama Sharlie juga Allzabeth, langsung terhenti dan menunjukkan ekspresi terkejut mereka.


Bagaimana tidak? Tepat di depan wajah mereka bertiga, tampak segerombolan orang dengan pakaian yang telah bersimbah rona merah yang pekat, terbaring tak bernyawa, mengelilingi salah seorang yang menggenggam sentaha hitam itu.


“Ugh!? B-Bandit?!—” ucap Hexa dengan suara begitu pelan. Mereka tampak berhati-hati ketika menghadapi ketidak pastian ini.


Sejenak Allyzabeth ingin berteriak saat melihat kumpulan mayat itu, namun, Hexa dengan begitu gesitnya langsung mendekap mulut Allyzabeth, kemudian bersembunyi di samping tembok, yang merupakan posisi tak terlihat oleh si orang pemegang senjata.


Insting Hexa mengatakan, jika orang in iadalah kabar buruk bagi mereka. Tentu saja begitu, jika di lihat dengan saksama, orang itu sudah tidak berbentuk seperti manusia lagi. Tubuhnya telah terkontaminasi oleh bercak-bercak putih di setiap wajahnya, dan menumbuhkan daging baru pada setiap bercak- bercak tersebut.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!


Bersambung!


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------