The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 92 : Arley v Amylia.



    Berdebar kencang, jantungku memompa setiap butiran darah didalam tubuhku dengan sangat cepat. Tensi udara tiba-tiba berubah menjadi hangat, layaknya kondisi didalam ruangan sauna yang pengap dan panas.


    Kupingku mulai berdengung, bukan karena suara gemuruh. Namun yang terdengar hanya seutas suara nyaring yang melintas di benakku.


     Seperti barusan saja ada bom yang meledak di belakangku dan telingaku berdengung akan hal tersebut. Ya, itu hanya perumpamaan bukan kejadian fakta. Jadi intinya kupingku sedang berdengung.


Priit! ~


    Terdengar lantunan peluit yang memecah kebuntuan dan penatnya kepalaku. Seketika, gemuruh suara penonton bisa kembali aku dengar, dan tampaknya aku dapat kembali berfikir dengan jernih.


    Namun tubuhku hanya dapat terdiam sembari melirik ke arah Amy yang saat ini tengah berlari menuju sudut kiri atas lapangan arena.


    Sesampainya ia disana, Amy menodongkan tongkat sihirnya tepat ke arah diriku. Dan di saat itulah aku baru bisa menggerakkan tubuhku.


"Water Sprinkle!"


    Teriak Amy sembari merapalkan mantra sihirnya. Tepat dari ujung tongkat sihirnya, keluar percikan air yang terlontar dengan sangat kencang dan kuat.


    Aku melihatnya seperti peluru-peluru air yang tertembak cepat ke arahku. Demikian aku melompat ke kiri dan ke kanan untuk menghindari serangan yang di lontarkan Amy.


    Lalu aku menarik keluar pedang yang tersemat di pinggang sebelah kiriku dan aku melompat lurus tepat ke arah Amy yang pada saat itu telah menyadari, bahwa aku sedang mengincar kepalanya dengan sangat cepat.


Zrak!


    Entah itu sebuah keberuntungan, atau memang refleks Amy yang hebat. Namun dengan lincahnya ia mengelak serangan langsung, yang memang aku sengaja lancarkan tepat ke arah kepalanya.


    Amy merunduk ke bawah dan dengan anggunnya ia melompat ke sebelah belakangku sembari menyodorkan kembali tongkat sihirnya, tepat di bagian belakang kepalaku.


    Ya, lokasi dimana aku tidak bisa menghindari serangan yang akan Amy lontarkan selanjutnya.


    "Eugh!?" terpelintir kalimat tidak jelas dari mulutku, aku sedikit terkejut dengan pergerakan lincah Amy. Sempat terlirik olehku, yang pada saat itu tampak wajah Amy tersenyum bahagia seperti ia baru saja memenangkan pertandingan ini.


    Tapi tentu saja aku tidak menyerah begitu saja!


"Water Drop!"


    Amy merapalkan mantra sihir airnya dengan begitu cepat, sontak tercipta gumpalan air yang cukup besar. Mungkin sekitar stengah meter, dan air itu menggumpal dengan sangat cepat.


     Seperti, hal itu terjadi dalam sekali kedipan mata.


    Lantas aku langsung menghentakkan kedua kaki ini pada lantai pertandingan. Dan dengan sangat tertekan, aku berusaha melompat tinggi ke angkasa.


    Namun pada saat itu, bola air yang di tembakan oleh Amy sudah meluncur cepat ke arah tubuhku.


    Jika aku berdiam saja di udara, sudah pasti aku akan terkena serangan Amy yang begitu mendadak ini. Tidak ada pilihan lain, dengan paksa aku memutarkan tubuh ini ke belakang. Saat itu juga aku melakukan salto kebelakang.


    Nyaris, ketika aku melakukan salto, hampir saja punggung belakangku tergesek gelombang air yang Amy ciptakan. Tapi saat ini aku cukup beruntung, karena tidak seutas rambut pun, pada tubuhku ini mengenai gelombang tersebut.


Boom!~


    Dengan dahsyatnya gelembung air yang di ciptakan Amy menabrak dinding tribun penonton. Seketika itu juga, seluruh penonton yang berada di sudut Barat arena menjadi basah kuyub akibat serangan yang tak terelakkan.


    "Whooaa!~" teriak seluruh penonton yang terkena cipratan air.


    Seketika itu juga, lompatan yang aku lakukan berhasil melintasi tubuh Amy yang kala itu berada di belakangku. Saat ini posisi kami kembali seperti semula, posisi Amy berada di sudut Arena, sedangkan aku berada lebih dekat ke tengah Arena.


    "Wheew, untung saja aku tidak terkena serangan itu," cakapku sambil kembali memasang kuda-kuda.


    Wajah Amy lalu mulai menampilkan ekspresi panik, tampak butiran keringat mulai keluar dari pori-pori wajah Amy.


    "Aku tak menyangka kau bisa selincah itu Arley. Kukira pergerakanmu akan kaku seperti pergerakan para kesatria pada umumnya," Amy lalu mulai kembali menata kuda-kuda tempurnya.


    Kemudian ia menyodorkan tongkat sihir yang ia pegang menggunakan tangan kanan, tepat ke arahku saat ini.


    Perlahan aku melangkah mundur untuk mengambil kuda-kuda bertarung. Kali ini aku akan melancarkan serangan balasan kepada Amy.


    Dengan cepat, aku tarik bilah pedangku ke arah belakang, lalu aku menatap lurus tepat ke arah target yang aku tuju! seketika itu juga, dengan kecepatan angin aku melompat ke arah Amy tanpa rasa ragu.


Bwush!~


    Demikian, dengan sangat semangat aku menebaskan bilah pedangku ini, tepat menuju ke arah Amy.


    "Gale Wind!"


    Saat itu juga, gelombang angin terpotong dan bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah Amy.


    "Gyaa!" tepat sasaran! kali ini Amy tak dapat menghindari seranganku. Tubuhnya terpental ke udara dan terjatuh tepat di pinggir bibir lantai arena.


    "Sial! sedikit lagi!" ujarku dengan sangat jengkel. Lalu aku berlari menuju Amy dengan kecepatan penuh, guna mempersingkat durasi pertarungan antara kami berdua.


    "Maafkan aku kak Amy! namun kali ini aku lah yang akan meraih kemenangan! Heyaaa!" dengan sangat geram aku mencoba menendang Amy yang pada saat itu terbaring kaku di bibir lapangan.


    Namun sebuah kejadian aneh terjadi.


    "Huh!?" aku sangat terkejut. Ketika aku mencoba untuk menendang tubuh Amy yang tergolek lemas, bukannya tubuh Amy yang terpental keluar.


    Kali ini malah aku merasa seperti, aku hanya menendang segalon air, dan benar saja tubuh Amy yang tergeletak di pinggir arena adalah bayangan dirinya yang terbuat dari air.


    Sejenak aku terdiam di pinggir lapangan arena. Aneh, aku melirik ke seluruh penjuru lapangan, namun aku tidak menemukan tubuh asli sang penyihir air.


    "Hihihi ~ kau melihat kemana Arley? ~" tiba-tiba terdengar suara yang entah dari mana asalnya.


    Aku bisa mendengarkan suara Amy dengan jelas, namun aku tidak bisa menemukan tubuhnya!? sebenarnya apa yang sedang terjadi?!


    "Heeh ... kau sangat pintar untuk main petak umpet ya kak Amy," cetusku dengan perasaan yang tidak enak.


    Dengan cepat aku langsung berlari menuju tengah Arena, karena jika aku berada di sudut lapangan, yang ada aku hanya akan membahayakan diriku sendiri.


    "~Ah, mau lari kemanapun engkau wahai Arley, kau tidak akan bisa luput dari pantauanku," berdengung kalimat itu di seluruh penjuru lapangan.


    Tampaknya bukan hanya aku yang merasakan hal semacam ini. Sejenak aku melihat ke arah tribun penonton, mereka semua dibuat bingung oleh menghilangnya badan Amy yang saat ini entah ada dimana.


    Kemudian, secara tiba-tiba. Kabut tebal mulai mengepul dan muncul secara mendadak!


    "I-ini!? kejadian ini sama persis seperti pertarungan antar Amy dan Darwin!" ucapku saking terkejutnya aku setelah melihat kepulan kabut yang begitu tebal mulai merambah keseluruhan sisi arena.


    "Hhmm~ Arley, tampaknya kau telah menyadari sihirku yang satu ini. Namun, mengetahuinya saja tidaklah cukup untuk mengalahkan sihirku yang satu ini, " sepertinya ucapan Amy kali ini, bukanlah bualan semata.


    "Itu kan hanya pendapatmu saja kak Amy, sepanjang pertandingan ini masih berlangsung, dan nafasku masih berhembus. Aku akan pastikan bahwa sihirmu ini bisa aku kalahan!" Teriakku sembari memprovokasi Amy, walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa untuk mengalahkan dirinya.


    "Ow~ mengesankan, mari kita lihat bagaimana engkau akan mengalahkan sihirku yang satu ini, fufufu~" menggema, suara tertawa Amy memamantul ke seluruh penjuru arena.


    Namun tiba-tiba saja, gumpalan kabut yang tadinya menyebar ke seluruh penjuru arena, dengan sendirinya kabut-kabut itu mengumpul tepat di tengah-tengah lapangan arena.


    " A-apa!? mustahil! b-bagaimana bisa!?!" terkejut bukan main. Tepat di atas kepalaku, kabut asap yang tadinya menyebar dan tak berbentuk. Tiba-tiba saja mengumpul dan menciptakan sebuah penampakan yang begitu gila!


    "Waaaaaa!" teriak semua orang yang melihat postur mengerikan itu.


    Ya, tepat di atas kepalaku saat ini. Tercipta sebuah monster yang aku rasa bahan dasarnya adalah kabut!


    Mengerikan. Gigi taring yang panjang. Mata hitam memerah pada retiananya, rambut panjang menjuntai turun ke lantai, serta tubuhnya tinggi besar juga menyerupai putri duyung.


    Pada bagian pinggang ke atas berbadan manusia, dan pinggang kebawa berbadan ikan. Juga tampak detail yang begitu ekstrim, dimana tampak sirip makhluk itu terlihat begitu tajam dan Absurb.


    Apakah ini benar-benar kabut?! Ataukah ini hanya ilusi?! atau ini benar-benar kenyataan!?! entah lah, saat ini seluruh panca indraku dibuat bingung dengan kehadiran monster duyung ini.


    Lalu, dengan sangat tiba-tiba, makhluk raksasa yang tingginya mencapai 3 meter itu, dengan gemulainya ia berdansa diatas arena.


    Aku tak dapat berkata-kata, mataku hanya terpaku pada wujud mengerikan sang monster. Tapi di balik anehnya bentuk makhluk tersebut, entah mengapa, tariannya tampak begitu indah.


    Setelah ia menari, kali ini ia bernyanyi dengan suara yang begitu merdu. Sang monster hanya bersenandung dengan suaranya yang sangat tinggi. Demikian ia saat ini bernyanyi dan menari bersamaan.


    "Hm ...? HA!?" sontak, tubuhku terbujur kaku! dan selepas aku menyadari akan hal itu, makhluk mengerikan itu menatapku dengan senyuman lebarnya, yang bahkan bibir makhluk itu terbuka sampai batas kuping.


    "Huwi-hwi-hwi!" ketika sang duyung tertawa, sekujur tubuhku langsung merinding.


    Sontak, makhluk tersebut turun dengan sangat cepat ke lantai arena, dan saat itu juga ia memukul serta mencabik dadaku dengan kedua belah tangannya!


    "Ghaaak!" seketika itu juga tubuhku terlempar jauh ke pinggir arena, betapa sakitnya serangan makhluk satu ini!?


    Perlahan aku coba bangkit dari tidurku, sembari memegang dadaku yang tercabik akibat serangan makhluk tersebut.


    "D-darah!? Ini kenyataan! Ini sebuah realita!" Setelah aku menyadari bahwa semua ini adalah kenyataan, raut wajahku langsung berubah.


Deg!


    Jantungku berdegub kencang, tanda bahwa aku masih hidup. Namun darah yang keluar dari bekas luka yang aku terima, merembes cukup cepat akibat peredaran darah yang ikut berputar kencang


    "Heeh, jadi ini maksud kak Amy ketika ia mengatakan, semoga kita berdua tidak mengalami cedera yang parah ...," didalam keruhnya situasi yang aku hadapi saat ini, tiba-tiba makhluk itu turun dan menjejakkan sirip ekornya yang berwarna abu-abu kelantai arena.


    Lebih tepatnya seluruh tubuh makhluk Itu berwarna abu-abu kecuali matanya.


    Lantas, makhluk itu tampaknya tidak senang ketika melihat aku masih bernyawa. Saat itu juga, mata makhluk mengerikan itu melotot, dan ia tampak begitu kesal.


    "Baiklah, ini bukan waktunya untuk takut. Nah, waktunya pertunjukan tiba," ketenangan yang sempat hilang, akhirnya pulang kembali.


    Demikian aku berdiri pada kedua kakiku sendiri, dan saat itu juga aku berjalan maju sembari memungut pedang berwarna perak yang tadinya sempat terlepas dari genggaman tanganku.


    "Sekarang, bagaimana cara agar aku bisa mengalahkan monster satu ini ...," gumamku pada diriku sendiri.


    Demikian tanpa aku sadari, bibirku ini tersenyum lebar dibarengi dengan keringat yang mulai menetes akibat adrenalin yang melonjak tinggi.


    Bisakah aku mengalahkanya ...? ya, tentu saja aku bisa ....


**