
Not Edited!
Berdiri tegap … matanya kembali melotot, tak disangka jika sebuah informasi yang begitu penting bisa disampaikan oleh orang luar, selain intel kerajaan.
Bukan hanya sang perdana mentri yang mendelikkan matanya, akan tetapi, seluruh elemen manusia yang berada di ruangan tersebut ikut terkejut dengan usulan yang tak disangka-sangka ini.
Sang Ratu pun tak mampu menahan postur elegannya, demikian ia sempat terdiam kaku saat Yufi menjelaskan bahwasanya negara terkuat di benua itu, saat ini tengah dalam masa kehancurannya.
“Mengapa kau berkata demikian, wahai penyihir muda?” tanya sang Ratu, sembaru ia kembali ke postur seriusnya.
Yufi kemudian mulai menjelaskan beberapa hal penting sebelum dirinya memberitahu alasan dan tujuan dia memberitahu informasi ini kemada mereka semua.
“Kurang lebih, sekitar dua bulan yang lalu …,” ucap Yufi, sembari ia berjalan dan melihat wajah seluruh mentri yang hadir di ruanga itu. Wajah mereka tampak gelisah dan seperti menyembunyikan sesuatu. “Sebuah penyerangan sekala massive tengah terjadi pada setengah bagian benua [Horus]. Hal itu menyebabkan runtuhnya dua negara besar dari lima negara utama di benua ini ….” Setelah Yufi menyebutkan hal tersebut, terkejutlah seluruh mentri yang sebenarnya telah menyimpan informasi itu dan tak akan memberitahunya kepada sang Ratu.
“APA?! Mengapa informasi sepeting ini tak ada yang menjelaskannya kepadaku?!” Dengan wajah yang tercengang lebar, sang Ratu memandang kecewa sang perdana mentri, juga seluruh mentri yang hadir di ruangan tersebut.
Yufi kemudian kembali berbicara dengan menghadapkan tubuhnya ke arah sang Ratu. “Aku rasa, para tuan-tuan yang terhormat ini, sedang sibuk memikirkan pemasukan bulanan mereka sampai-sampai informasi yang begitu besar seperti ini tak mampu mereka sebutkan kepada yang mulia,” ucak Yufi sembari ia tersenyum licik.
Melihat mentri-mentirnya telah memasang tampang ketakutan, sang Ratu sudah tahu apa yang akan ia laukan kepada mereka semua. Namun, untuk saat ini ia lebih memilih untuk mendengarkan keseluruhan informasi dari sang penyihir muda.
“Lanjutkan …,” tegas sang Ratu dengan wajah kesal.
Sejenak Yufi menelan ludahnya untuk melembabkan kerongkongan. “Ekhem … tapi tahukah yang mulia … jika penyerangan ini dilakukan oleh bangsa yang kita bahkan tidak tahu keberadaannya ada bersama kita?”
Tampak heran, sang Ratu sepertinya tak memahami apa yang Yufi katakan. “Maksudnya …? Bangsa yang bukan manusia? Apakah kau mengatakan jika kita bukanlah satu-satunya makhluk yang bisa berpikir secara mandiri?”
“Benar yang mulia. Diluar sana … terdapat makhluk yang memiliki kecerdasan serupa dengan kita. Jika yang mulia pernah mendengarkan kisah mengnai bangsa Elf, Orc, Succubus, dan lain sebagainya … bangsa inilah yang saya maksud.”
Tersenyum sang Ratu mendengarkan kisah Yufi. “Haah … aku kira kau berbicara seirus, apakah ini ide lelucon kalian? Wahai mentri-mentriku?” utas sang Ratu, yang tak menganggap serius Yufi dan Nina.
“Aku berbicara serius, yang mulia …,” jelas Yufi, sembari ia tersenyum licik.
Mendengar ucapan Yufi, sang Ratu langsung melotot melihat para mentri-mentrinya. Di antara mereka tak ada yang berani membantah, sebab jika mereka berakta bohong, sebuah mantra sihir akan bekerja sesuai dengan sumpah mereka.
“Apakah yang dikatakan orang ini adalah sebuah kebenaran?!” teriak sang Ratu sembari ia berdiri dari singgasananya.
Hening … tak ada yang berani menjawab perkataan sang ratu.
“Jika yang mulia tidak percaya … hamba akan mendatangkan buktinya.” Sembari Yufi merogoh saku kantungnya, Nina kemudian memberikan sebuah kantung dimensi, yang terbuat dari kulit King Boar kepada sang sahabat. “Terima kasih, Nina,” ucap Yufi sembari tersenyum ringan.
Lantas, Nina hanya merundukkan kepalanya sembari ia melangkah mundur seusai pekerjaannya di tuntas.
Diletakkannyalah kantung coklat tersebut tepat di pertengahan antara Yufi berdiri, dengan tempat sang ratu duduk. Lalu, ia menaruh tiga lempeng besi yang terlihat transparant layaknya kaca, pada tiga sudut yang berbeda. Dengan sedikit ayunan pada tongkat sihirnya, Yufi merapalkan sebuah mantra untuk membesarkan ukuran kantung dimensi tersebut.
“Advance Magic, Code : Three Alumpus Orion Metal. Original Spell : Enlarge!”
Rapal Yufi, yang ketika itu mengorbankan tiga lempengan transparant tersebut, sebagai alat pertukaran sihirnya.
Membesarlah kantung dimensi yang diikat dengan seutas tali tambang tersebut. Ukurannya yang berawal hanya sekitar segenggam tangan, saat ini telah terdeformasi menjadi tiga meter lebih.
Seusai mantra sihirnya berjalan dengan baik, Nina dan Yufi kemudian membuka kantung tersebut, dan merogoh sesuatu bendar dari dalamnya.
Seluruh mata memandang mereka dengan curiga, para perajurit yang berjaga di ruangan tersebut, langsung mempersiapkan diri mereka jika suatu hal yang buruk tengah di rencanakan oleh kedua penyihir muda itu.
“Maafkan kami, karena telah membuat yang mulia Ratu, dan tuan-tuan yang terhormat semua, jadi menunggu momen utama pada rapat kali ini!” ujar Yufi sambil tersenyum lebar. “lihatlah hadiah yang kami bawakan dari kota [Exandia]! Tubuh seorang makhluk, yang tak akan pernah kita temui, kecuali penyerangan itu terjadi!”
Saat itu, keluarlah tubuh seorang makhluk berbadan biru, bertanduk dua, dan bersayap kelelawar.
Tercengang, semua orang yang ada di ruangan itu langsung berdiri dari kursinya dan melangkah mundur, menjauh dari lokasi di mana Yufi menggeletakkan sebuah jasad.
“Ini … yang seluruh hadirin tengah lihat sekarang … adalah tubuh dari makhluk yang bernama, Incubus.” Terang Yufi, sembari ia menajamkan pandangan matanya, wajahnya serius dan tak ada nada bercanda yang keluar dari setiap lisan.
“A-apakah makhluk itu masih hidup?” tanya sang Ratu.
“Tidak … makhluk ini telah mati, Yang Mulia.” Sambil mengelap kedua tangannya, Yufi kemudian melangkah, mendekati sang Ratu negeri [Palanita].
“Bagaimana engku bisa mendapatkan tubuh itu?!”
“Penjelasannya panjang yang mulia, tapi … aku mendapatkan jasad ini, berkat sahabat karibku yang berhasil selamat atas tragedi hancurnya setengah benua [Horus].
Teriam seribu kata. Sang Ratu tak tahu harus berbuat apa dengan tubuh yang ada di hadapannya tersebut. “B-baiklah … untuk saat ini aku mempercayai ucapanmu ….” Seketika itu juga, sang Ratu terduduk lesu pada Takhtanya.
Kembali memasang senyuman pada wajah jelitanya, Yufi kemudian menjentikkan jarinya sebagai sandi, agar Nina segera memasukkan tubuh tersebut kedalam kantung dimensi.
“Aku hampir tidak percaya semua hal ini … apakah aku sedang bermimpi? Negara semegah [Exandia] saat ini tengah di ambang kehancuran,” gumam sang Ratu dengan dirinya sendiri. “jadi? Apa yang membuatmu berani membocorkan rahasia ini kepada kami? Adakah dendam pada dirimu terhadap negara itu? atau kau menginginkan sesuatu dari kami?”
Ketika itu, Yufi langsung membungkukkan tubuhnya untuk memberikan penghormatan yang tertinggi, sebelum ia meminta sebuah permohonan kepada sang Ratu.
“Hamba tidak banyak meminta, yang mulia … saat ini … tanah air hamba sedang berada dalam masa kehancuran, semenjak Raja yang baru, mulai memimpin negeri [Exandia]. Hamba beserta teman-teman hamba … ingin mengembalikan Takhta yang sebenarnya, pada ahli waris, yang Almarhum Raja Alexander Dombart Hubert telah peruntukan kepadanya ….” Terang sang penyihir sembari ia merundukkan kepalanya.
“Raja Alexander telah meninggal?! Bukankah ia berhenti sebab umur yang tua?!” teriak salah seorang mentri di melakang Yufi. “Apakah kita mendapatkan informasi yang salah?” gumam teman di sebelah orang yang bertanya.
“Sepertinya … broker yang kalian andalakan, telah terkorupsi oleh pihak lawan. Sama seperti apa yang kalian lakukan untuk negeri ini …,” cetus Nina, yang sedari tadi hanya berdiam diri. Namun, saat ia berbicara, maka kalimatnya sama pedas dengan cabai setan.
Terperanjat mereka semua saat mendengar ucapan sang wanita berambut pink itu. Lantas, Mata mereka bergerak perlahan menuju sang pemimpin rapat, dengan harapan, sang Ratu tidak dalam kondisi perasaan yang buruk.
Tetapi rasa takut mereka terbayar tunai. Ketika itu, wajah sang Ratu sangatlah beram. Tak perlu kata-kata untuk menjelaskan ekspresi si pemimpin rapat.
Dengan tatapannya yang tajam, seketika itu juga seluruh audience menjadi senyap di dalam kegelisahan yang dalam.
Dilain sisi, Yufi dan Nina malah tersenyum lega atas apa yang tengah mereka harapkan. Apakah yang Yufi dan Nina harapkan dari pemberontakan ini?! dan untuk apa mereka melakukan semua ini?!
Bersambung ! ~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------