The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 216 : Sobat.



Not Edited!


Perlahan, kedua mata Arley terbuka sayu. Tampak cahaya lampu, menyinari dengan begitu terang, bahkan sampai batas silau.


Arley berkali-kali mengedipkan matanya, untuk menetralkan pandangan kabur pada dirinya.


"A-aku, dimana?" gumam Arley sambil ia bangkit dari tidurnya. Menataplah ia, melihat lantai keramik berwarna putih--tersusun elok layaknya ruangan berkelas.


Paman Radits kemudian menghampiri Arley dari sebelah kanan, ia membawa segelas air putih untuk di suguhkan kepada sang remaja.


"Ah, syukurlah kau sudah sadar. Ya ampun ... Kenapa kalian berdua malah pingsan sih? Bagaimana nanti, jika kita harus melawan monster? Aku jadi ragu untuk membawa kalian ke perjalanan kita selanjutnya." Tampak paman Radits sedikit cemas dengan kondisi Arley dan Varra. Duduklah ia di samping kanan Arley, sambil memegangi pundaknya. "Ini, minumlah."


Merasa sudah baikan, dan pengelihatannya sudah kembali normal, Arley menoleh ke sebelah kanannya sembari ia mengambil gelas air putih itu dengan rasa penuh terima kasih.


"Maafkan aku, Paman. Aku hanya sedikit terkejut," jelas Arley sambil ia menggaruk-garuk kepalanya dengan tangan kiri. "Varra di mana?" Lantas, pertanyaan susulan di lontarkan Arley kepada sang paman.


Menunjukklah Paman Radits ke arah seberang mereka, mungkin sekitar lima belas meter dari tempat mereka duduk saat ini.


Arley dan Paman Radits, berada di tengah ruangan, dengan di kelilingi oleh etalase dan kursi kayu yang cukup panjang.


Sedangkan Varra dan Emaly, berada di sebelah barat daya, dari posisi pintu masuk ruangan ini.


"Bagaimana bisa ruangan ini terlihat begitu besar? Bukankah jika di lihat dari luar, cuman tampak sekitar lima meter saja?" Arley memperhatikan dengan serius, sekeliling ruangan yang serba putih ini.


"Kita berada di bawah tanahnya, kalau kau perhatikan, lantai di pintu masuk, terlihat agak sedikit menurun, kan? Nah itu lah rahasia dari ruangan ini."


Mendengar penjelasan sang paman, Arley hanya menatap bingung sambil menenggak air putih dari gelas kacanya, penuh dengan semangat.


Jika di perhatikan dengan saksama, ruangan ini ukurannya hampir sama lebarnya dengan lapangan di atas, drmikian Arley langsujg menyadari, jika rumah yang di bangun kotak itu, hanyalah dekorasi belaka. Bangunan yang sesungguhnya adalah lapangan itu sendiri, yang menjadi bagian atap dari toko utama.


Setelah pulih dari pingsannya, kemudian Arley di bawa oleh paman Radits untuk bergabung dengan Varra dan orang berwajah Gorila itu.


"Eugh!?" Lantas, Arley teringat kembali, moment saat dirinya terpingsan. Dirinya sempat tak menyangka jika makhkuk yang ada di hadapannya adalah makhluk yang bisa berbicara.


Melihat tubuh Arley yang terkejut, sang paman langsung menghembuskan napas panjang, sembari ia menepuk punggung Arley. "Arley, dia ini manusia hanya saja ... Wajahnya terlihat sedikit lebih cantik dibandingkan kita."


Mendengar ucapan Paman Radits, sang Gorila tersipu malu, sambil memegangi kedua pipinya.


"Perkenalkan, nama beliau, Prinatalia Fosseys," ujar sang paman, sambil menjukurlan tangan, demi memperkenalkan pria yang satu ini.


Namun, ternyata bukan itu hal yang Arley takutkan. Sambil menjulurkan jari telunjukknya, Arley menanyakan hal yang sempat membuat ia terkejut tadi. "D-dia ini ... pria, kan?" ujarnya, dengan nada gemetaran.


Sejenak, paman Radits memiringkan kepalanya sambil bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Dan akhirnya, dirinya baru sadar atas pertanyaan Arley barusan. "Aahh! Bagian itu yang ternyata kau takut kan?!" cetus paman Radits, sambil ia memukul kepala Arley dengan telapak tangannya.


Yap, Arley sedikit terkejut dengan fakta, bahwasanya, Prinatalia Fosseys adalah pria dengan prilaku kemayu, walaupun sebenarnya, ia adalah lelaki dengan kemampuan pandai besi terbaik di kota ini.


***


Perkenalan pun usai. Saat ini, Arley dan Varra sedang di beri penerangan tentang hal apa yang sebenarnya paman Radits rencanakan, sampai-sampai, ia merepotkan dirinya sendiri membawa kedua remaja, menuju ke tempat yang terbilang cukup terpencil ini.


"Baiklah, karena kondisi sudah lebih membaik, aku sekarang akan menerangkan, sebab mengapa kalian aku bawa ke tempat ini," ujar sang paman, sembari ia kembali menggendong Emaly, yang kala itu tengah di awasi oleh Varra.


"Seperti yang telah kita rencanakan, sebelum kita pergi berangkat mencari bahan dagangan, kita akan mempersiapkan diri, untuk menjadi: Adventurer Professional," jelas Paman Radits, sambil mangacungkan jari telunjukknya. "Dengan kata lain, kalian akan mendaftarkan diri sebagai seorang, Adventurer, untuk mendapatkan lisensi profesional!"


Tampak sedikit terkejut dengan ucapan Paman Radits, wajah Arley dan Varra langsung memancarkan cahaya gembira, saat mereka tahu jika diri keduanya akan menjadi seorang, Petualang.


Senyuman mereka sudah menggambarkan jawaban jika mereka sudah siap dengan apapun tantangan yang akan dihadapi. Paman Radits akhirnya juga ikut tersenyum, sebab tekad kedua remaja ini, bisa di acung jempol sebagai apresiasi mereka.


"Nah! Pilihlah senjata yang kalian suka!" Selepas ucapan paman Radits terlontar dari kedua mulutnya, Arley dan Varra langsung menyebar ke seluruh tempat di toko ini, untuk mencari senjata yang mereka akan gunakan nanti.


Lantas ... dari kursi kasirnya, Pria bernama; Prinatalia Fosseys itu, tampak begitu bahagia atas kehadiran keluarga Tomtom.


"Tom, apakah mereka berdua ini kerabatmu?" tanya sang pria berwajah gorila tanpa buku. "aku tak menyangka, seorang Tom bisa berubah 180 derajat seperti ini, dalam waktu yang singkat. Apanyang sebenarnya terjadi dengan dirimu, Tom?"


Paman Radits hanya tersenyum, sembari dirinya mengelus kepala Emaly, yang kala itu, ia dudukkan di atas meja kasir.


"Setiap orang pasti akan berubah, Foss. Tetapi, orang itu akan berubah menjadi apa dan siapa, semuanya tergantung pada orang yang mereka kasihi. Kalau kasus pada diriku, semua ini berkat mendiang istriku, dan Emaly. Berkat mereka, aku bisa menjadi diriku yang sekarang."


Dengan kepalanya yang dirinya tumpukan pada tangan kanannya, pria yang di panggil dengan sebutan Foss itu, lagi-lagi tersenyum sambil memperhatikan Varra dan Arley.


"Hahaha, kau tertarik dengan mereka?" Kali ini, paman Radits yang kembali bertanya kepada Foss.


"Ya, mereka berdua sangatlah unik. Aku tak pernah bertemu dua orang yang sepolos ini, sepanjang umurku. Bagaimana bisa kau menemukan anak-anak ini? Kau mau jadikan mereka apa, di masa depan kelak?"


"Hey-hey, jangan pikirkan hal yang buruk tentangku. Ingat Foss, aku bukan orang yang kau kenal dahulu, sekarang, aku sedang membayarkan seluruh utang-utangku pada negeri ini, demi memajukan bangsa [Palanita]. Kau tahu sendiri, kan, apa yang telah orang itu lakukan, dan berikan kepadaku, selepas kejadian itu berakhir? Sekarang waktunya aku membalas seluruh jasa dan kebaikannya," jelas paman Radits. "dan tentang dua anak ini ... mereka adalah kakak angkat dari Emaly, jadi, masa depan mereka adalah masa depanku. Aku akan berjuang semaksimal mungkin, untuk menjadikan kedua anak ini, orang yang mampu mewujudkan cita-cita mereka sendiri."


Mata Foss mendelik saat mendengar penjelasan Paman Radits. Dalam benaknya, ia berpikir jika, Radits yang dahulu, saat ini telah menjadi jiwa yang lain. Tersenyumlah Foss dalam lamunnya, sembari ia kembali memperhatikan Arley dan Varra, yang ketika itu, tampak bingung saat memilih peralatan dasar yang mereka butuhkan, untuk menjadi seorang, Adventurer.


"Aku bersyukur pernah bertemu denganmu, Tom. Aku berharap, cita-citamu juga terwujud, sama seperti saat cita-citaku bersama Lana, yang berhasil engkau tunaikan."


Sontak, paman Radits langsung menoleh ke wajah Foss, dirinya langsung tersenyum dengan bibir yang mengembang lebar, bahkan sampai menunjukkan setiap sisi pada giginya. Kala itu, paman Radits sempat melihat wajah sang Gorila tak berbulu, tampak begitu bahagia dengan apa yang telah dirinya dapatkan.


"Terima kasih, sobat! Aku juga senang mendengarnya!" beradulah kedua tinju sang pria dengan lembut. Tanda bahwa persahabatan mereka, telah ditempu dalam waktu yang cukup panjang.


Apa rahasia di antara Radits dan Foss? Dan apa yang menyebabkan mereka berdua bisa sedekat ini?


Bersambung ~


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------