The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 23 : Pembebasan



***


Bertatapan, kami saling bertatapan. entah kenapa anak ini berada di posisi yang lebih rendah dari kondisi normal. posisi anak ini sedang merangkak, seperti ia sedang berhati-hati agar tidak ketahuan oleh sesuatu. matanya juga penuh kecemasan.


"... A-Apa yang kamu lihat ...."


Kalimat pertama terlontar dari mulut sang anak. nada bicaranya membuatku sedikit kesal. tanpa fikir panjang aku langsung meninggalkan nya tanpa memperpanjang obrolan.


"-Ah! H-Heyy … t-tunggu dulu!!"


Menggegar, suara anak itu berubah menjadi menggeletar, aku tidak tahu apa yang tengah terjadi dengan anak berambut pirang ini, tetapi aku yakin pasti telah terjadi sesuatu hal yang amat buruk sampai membuat suara anak ini seperti keledai yang kelaparan.


"... Tch ... Ada apa ....?" ucap ku dengan dingin.


Sang anak kembali terdiam, terpancar dari raut wajahnya, dia sedang ketakutan akan suatu hal. walaupun demikian keheningan ini memakan waktu cukup lama.


Untuk memulai percakapan baru, akan sangat menyebalkan jika hal ini terulang kembali. aku memilih untuk pergi daripada menghabiskan waktu yang sangat berharga ini.


"Tunggu!! aku ingin meminta tolong!"


lagi-lagi langkah ku terhenti, ku perhatikan dengan seksama kondisi anak ini. bajunya yang seperti karung goni terlihat lusuh dan kotor, tidak, aku yakin baju ini sudah beberapa bulan tidak di ganti, aroma kurang sedap keluar dari arahnya.


Bergumam, anak itu bergumam sendiri seperti memilih perkataan yang tepat untuk di lontarkan kepadaku, akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara.


“A-apakah kau tahu lokasi desa terdekat di sekitar sini?”


Ucap nya dengan suara serak dan cempreng. Kemudian aku langsung menunjukkan arah menuju desa sang kakek yang memberikan aku sub kubus semalam.


“… Ikuti saja jalan setapak ini (menunjuk menggunakan jempol ke arah belakang) dalam waktu empat jam kau akan sampai pada desa yang terdekat.”


“-Empat jam!?”


Tampak kekecewaan merembes dari wajahnya.


Bocah itu mulai mencucurkan air mata, ia mencoba mengelap air mata yang meluap dengan kedua telapak tangannya, tetapi tentu saja hal itu tidak dapat di bendung hanya dengan telapak tangan.


Aku mengeluarkan udara dari dalam paru-paruku melalui mulut, niatnya untuk mengeluarkan rasa penat di dada tetapi ternyata tidak berhasil.


Ingin rasanya bisa dengan cepat sampai ke Ibukota. dengan berat hati aku menghampiri anak tersebut.


Langkah kaki ini kusilangkan tepat di hadapan sang anak. Terkejut, wajah anak itu tampak heran, refleks sang anak mendongak melihat ke wajah ku.


Kutanyakan lagi sebuah pertanyaan agar bisa membantu bocah berambut pirang ini keluar dari masalahnya.


“… Jadi, apa yang bisa aku bantu ....?”


Anak itu terlihat kebingungan, jelas ia tidak berharap bantuan dari anak bertubuh kecil seperti ku.


menilai seseorang dari fisiknya, tentu saja hal itu membuatku kesal, tetapi walaupun demikian, aku sudah memantapkan diri untuk tetap membantu anak ini. Aku mulai menceramahinya.


“... Tch! Hey lihat … Walaupun kau mungkin seumuran denganku, tapi jangan lihat aku dari penampilan!”


ku pegang baju anak itu dan menariknya berdiri, lalu secara terpaksa bocah itu berdiri pada kedua kakinya. “Ah! Hey!!” tepis sang bocah berambut pirang, ia merasa terusik dengan perbuatan ku barusan.


Mungkin Cara ku terlalu keras, kemudian aku mulai menurunkan tensi pembicaraan.


“… Jadi apa masalahnya ....? ”


Utas ku demi mendorong isi hati dari anak berambut pirang yang menyebalkan ini.


Seperti tidak ada pilihan lain, sang bocah akhirnya mengutarakan isi hatinya kepadaku.


“Aku, aku sebenarnya sedang melarikan diri, k-kau tahu, ini ... lihat lah ini”


Sang anak menunjukkan lehernya. Terdapat besi perak tergelang ketat di leher anak tersebut, sangking ketatnya, tampak memar yang mulai membiru di sekeliling nya, melihatnya saja membuatku sesak nafas.


“… Ah!?! kau ... budak!?”


Awalnya ia hanya hanya terdiam, kemudian anak itu mengangguk untuk memberikan isyarat bahwa yang aku sebutkan barusan adalah sebuah fakta.


“… lalu kenapa kau lari dari majikan mu? Kau tahu kan resikonya?”


“Aku sudah tidak tahan!! Mereka selalu menyiksa ku dan teman-temanku!! Aku lebih baik mati dari pada hidup di tempat seperti itu-!!!”


Spontanitas. Mendengar kalimat anak itu, tangan ini bergerak dengan sendirinya. dengan keras aku menampar wajah anak tersebut sampai ia tersungkur ke tanah.


“—KAU!! JANGAN KATAKAN INGIN MATI SEGAMPANG ITU!!!”


Terkejut. bocah pirang itu terbelalak setelah melihat ekspresi wajah ku. dengan naluri nya, bocah ini memilih untuk tidak melawan perkataan ku, ia yakin bahwa orang yang di hadapannya itu pernah mengalami hal yang lebih buruk dari pada dirinya.


“... M-maafkan aku ....”


Ucap sang anak, memelas ampun kepadaku, wajahnya kembali murung, dan tampaknya fikirannya menjadi kosong akibat tamparanku tadi.


Kondisi hening sejenak. mencoba memecah kecanggungan, aku menanyakan kembali hal yang sekiranya solutif.


“… Apa yang mau kau lakukan?"


Anak berambut pirang itu kembali terdiam. matanya menyamping seperti takut untuk memandang mataku.


Tetapi pada akhirnya ia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.


“A-Aku ingin membebaskan mereka semua … aku ingin teman-temanku di perlakukan selayaknya manusia ... Aku ingin kami hidup di dunia yang luas ini tanpa ada seorang pun yang bisa menggangu, Aku ingin kebebasan!!!”


"Oke, baiklah, dengan jelas aku mendengar permohonan itu”


Resolusi sang anak sudah bulat. ku genggam erat lengan anak itu dengan tangan kiri, dan kemudian ku keluarkan tongkat sihir menggunakan tangan satunya. luwes, mantra terucap lantang dari bibir pucat ku.


“Gale Ventum~"


Muncul pusaran angin hasil sihir yang ku ciptakan. Tanpa ragu-ragu aku melompat ke pusaran angin itu lalu kami di bawanya terbang ke langit luas.


“He!?! Heee!!!!???? Aaaaaaaaa!!!!!!!”


Dalam kejapan mata kami keluar dari dalam hutan menuju langit yang luas, tinggi dan dingin. aku langsung menjarah seluru sudut hutan dengan mata yang letih ini. Walaupun demikian anak ini berteriak seperti kemasukan setan.


“… Ada di mana teman-teman mu?-”


“Haaaaaaa!!! Aku jatuh!!! Aaaaa!!!!”


Ketakutan nya tak terbendung, wajar saja, aku harus bisa memahami hal ini, dia tidak terbiasa dengan kondisi dimana ia harus berada di posisi yang tinggi. memekik kencang, bocah pirang itu terus berteriak sampai suaranya mulai serak.


“…Tch! Hey!! Lihat, kita baik-baik saja!!!”


Untuk menyadarkan bocah ini, aku melepaskan genggaman ku kepadanya.


Bukannya semakin tenang, malah bocah ini menjadi lebih histeris.


“Waaaa!! Apa yang kau lakukan!!!! Gyaaa!! Aku jatuh!!!!”


Beberapa saat kemudian sang anak baru tersadar bahwasannya dia bisa berdiri di atas udara.


"… H-He? kenapa!? Kok bisa!?!?!”


“… Haah, Kau sedang berdiri di atas angin yang sedang aku kendalikan, Jangan berlebihan dalam segala hal.”


“Hiya-hiya-hiya!! Ini adalah reaksi yang seharusnya orang-orang tunjukkan jika mengalami hal yang sama denganku!! Kau ini siapa sebenarnya!!? Kenapa kau bisa melakukan hal ini!!”


“Tch~”


“Wooyyy!!! Jangan decikkan bibirmu-“


Dari ketinggian itu sang anak melihat ke sebuah lembah yang sangat ia kenal, ya, lembah itu adalah tempat dimana ia berhasil melarikan diri.


Posisi lembah tersebut berada pada dua bukit batu yang tandus. terlihat samar-samar dari kejauhan, ada banyak Karavan dagang yang terparkir rapih disana, tenda kemah juga terpasang rapih di beberapa tempat.


Bocah itu terpaku dengan pandangannya, tentu saja aku menyadari akan hal itu.


“… Sudah berapa lama kau lari dari sana”


“A-Ah! ehm, Sekitar dua hari, aku harus segera membebaskan mereka, jika tidak, pada sore hari ini mereka akan mulai melakukan perjalanan pulang menuju kota ….”


Tanpa aba-aba aku memegang kembali lengan sang anak, dan menariknya terbang menuju lokasi tempat perkara. kami terbang ke lembah tersebut dengan kecepatan udara.


“Lagi-lagi!!!!?? G-Gyaaaa!!!!!!”


Tidak memakan waktu yang lama, dalam hitungan menit kami langsung sampai di lokasi yang di bicarakan.


***