
~PoV Arley~
Gemuruh teriakan mulai mencakar gendang telinga ini, sesekali aku menutup kedua telingaku dengan telapak tangan, namun tampaknya usahaku tak membuahkan hasil.
Suara yang menderu kencang sesekali menggetarkan gendang telinga ini. Sungguh, suasana hatiku lagi tak nyaman untuk mendengarkan segala hal yang dengan semena-menanya merasuki lubang telingaku dengan paksa.
Pertandingan berjalan cukup cepat, beberapa orang telah selesai menyelesaikan pertandingannya, dan pertandinganku akan berlangsung setelah pertarungan antara Eadwig melawan salah satu rekan tim Aurum pada babak kali ini usai.
Ya, dengan kata lain. Pertandingan aku melawan Amy, akan berlangsung sesaat lagi.
.
.
.
***
.
.
.
~PoV 3rd~
Pertarungan sengit tengah berlangsung di atas lapangan arena. Saat ini Eadwig sedang bertarung hebat dengan Bamsi Erkeoglu, salah seorang anggota tim Yellow Eagel, yang Aurum adalah ketua dari Tim tersebut.
Bamsi Erkeoglu. Memang basis kekuatan orang yang melawan Eadwig ini adalah tenaga dan pertahanan.
Demikian Eadwig dibuat kesusahan olehnya, akibat pertahanan Bamsi yang sangat ketat serta serangannya yang begitu sakit. Eadwig sempat dipaksa melangkah mundur untuk menghindari serangan Bamsi, "sang Tank bernyawa" .
"Heh! Kau cukup tangguh juga!" ucap Eadwig sembari mengeluarkan sedikit keringatnya.
"Seharusnya aku yang mengucapkan kalimat itu wahai pangeran Negeri『Simbad!』. Kau sangatlah tangguh, bahkan aku tidak bisa menyentuhmu sedikitpun. Namun aku tidak akan menyerah sampai di sini saja!" lantas, Bamsi mengambil ancang-ancangnya untuk melakukan serangan sekala luas.
Hal itu bisa dilihat dari posisi tarikan pedangnya yang melebar ke samping kanan, dan tamengnya yang di buka lebar ke samping kiri.
"OH!? Tampaknya seranganmu kali ini akan sangat berbahaya!" namun tentu saja Eadwig tidak gentar. Ia malah mengambil ancang-ancangnya untuk mengcounter serangan dari Bamsi.
Muncul gelombang angin dari sekitar Bamsi dan juga dari sekitar Eadwig. Perlahan tapi pasti, gelombang angin itu melebar dan meluas, sampai akhirnya putaran gelombang angin tersebut saling bertabrakan dan menciptakan pusaran angin yang cukup kencang tepat di tengah-tengah arena.
Warna kulit wajah Bamsi berubah menjadi merah, sedangkan tubuh Eadwig mengeluarkan urat-urat berwarna biru dari setiap nadinya.
Puncak dari pengumpulan energi pun usai. Seketika itu juga, Bamsi melempar tamengnya ke arah luar arena, kemudian ia memegang kedua pedang panjangnya tersebut dengan menggunakan kedua telapak tangan Bamsi, yang terlihat begitu lebar.
Pedang panjang itu lalu ia ayunkan ke arah belakang sebelah kanan tubuhnya yang cukup besar. Lalu Bamsi memasang kuda-kudanya untuk bersiap-siap melontarkan tubuh besarnya itu ke arah Eadwig.
Namun Eadwig tidak kalah postur. Energi yang juga ia telah kumpulkan, saat ini telah mencapai batas maksimal. Ya, hal itu bisa dilihat dari tubuh Eadwig yang secara perlahan mengeluarkan asap putih dari sekujur sisi badannya.
Demikian Eadwig menarik mundur bila pedang yang ia genggam dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia julurkan ke arah Bamsi seperti tengah membidik ke bagian mana ia akan menusukkan ujung bilah pedangnya tersebut.
Sontak, dengan timing yang bersamaan. Eadwig dan Bamsi melontarkan tubuh mereka kedepan untuk mengadu kekuatan mentah yang mereka miliki.
"Glory Blash!"
Teriak Bamsi sembari menyabetkan jurus pamungkasnya.
"Seven Heavens!"
Demikian juga dengan Eadwig, ia memotong angin dengan ujung pedangnya yang telah dilapisi oleh energi『Mana』miliknya.
Blar!
Guncangan angin menerpa seisi stadion arena, ketika serangan Eadwig menghantam dan mengenai serangan Bamsi, demikian pada saat itu juga Bamsi tak mau menyerah untuk memotong serangan pamungkas milik Eadwig.
Bamsi dengan seluruh tubuhnya, masih bertahan untuk memotong serangan Eadwig yang pada saat ini hanya menyisakan sedikit gelombang energinya.
Sekilas dari wajah Bamsi, tampak senyuman lega sebelum kemenangan diraih penuh oleh dirinya.
"Horaaa!" Teriak Bamsi untuk mendorong gelombang energi yang tercipta dari tebasan pedang Eadwig tadi.
Namun secara tiba-tiba, Eadwig melangkah mundur, dan ia kembali melontarkan sabetan pedangnya yang begitu keras! demikian juga intensitas kekuatannya lebih hebat dari serangan yang pertamanya.
"Seven Heavens!"
Teriak Eadwig sembari menebaskan dua kali lagi sabetan pedangnya. Dengan cepat energi angin yang ia tebaskan ke arah Bamsi, langsung menumpuk dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
"A-apa!?" sontak tubuh Bamsi langsung terpukul mundur akibat serangan Eadwig yang begitu kuat. Tentu saja Bamsi masih belum menyerah, ia masih mencoba untuk menahan serangan Eadwig yang bergejolak hebat.
"Aku masih belum selesai," jelas Eadwig sembari menyabetkan sekali lagi pedang yang telah berlapis『Mana』miliknya.
Boom!
"Ghaaa!" Bamsi mencoba untuk menahan rasa sakit tubuhnya sehabis dirinya menghantam tembok tribun penonton yang saat ini telah remuk menjadi bebatuan kerikil.
Tubuh Bamsi yang besar melekat dan tertempel didalam semen tribun penonton akibat hentakan serangan Eadwig yang begitu kuat. Dan saat itu juga, Bamsi kehilangan kesadarannya.
Pritt!~
Terdengar suara peluit berdering hebat. Tanda bahwa pada pertandingan kali ini, sudah dengan pasti dimenangkan oleh Eadwig of Simbad.
Seketika itu juga, teriakan gembira para penonton, memecah langit dengan sangat menggilanya. Hujan tepuk tangan dan siulan mulut berkumandang dengan semaraknya.
Akhirnya, usai sudah pertarungan antara Eadwig melawan Bamsi. Tibalah waktunya Arley untuk melaju ke arena pertandingan.
Ya, pada pertandingan kali ini, Arley akan bertarung dengan temannya sendiri. Ia akan melawan Amylia Tsovinar Poseidon. Sang Tuan Putri ke-4 dari kerajaan『Atargatis』.
.
.
.
***
.
.
.
~PoV Arley~
Kondisi yang tadinya riuh, saat ini sudah mulai kembali netral. Eadwig yang telah menang dan berhasil masuk ke babak selanjutnya, akhirnya telah kembali naik ke atas kaca monitor untuk menanti pertarungan selanjutnya.
Dengan gembiranya Amy menghampiri Eadwig, lalu ia berusaha mengelap keringat yang muncul di wajah Eadwig dengan menggunakan kain yang ia tarik keluar dari dalam kantung bajunya.
Sejenak tanpa disengaja mata Eadwig mengarah ke arahku, lalu mata kami saling bertemu. Sontak aku langsung mengalihkan pandanganku karena aku merasa kurang nyaman dengan kegiatan yang mereka berdua tengah lakukan.
Namun dengan sengat perlahan aku mengintip kembali ke arah mereka. Bukan kemesraan mereka berdua yang aku dapatkan, malah aku melihat Eadwig tengah berjalan ke arahku.
"Arley, bagai mana perasaanmu?" tanya Eadwig yang saat ini tengah berjalan ke hadapanku.
Spontan aku memalingkan pandanganku lagi dari dirinya, dan aku hanya menjawab pertanyaan sang pangeran dengan jawaban yang instan.
"A-aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, selamat ya sudah masuk ke babak selanjutnya." dengan perasaan yang begitu campur aduk, aku memberikan selamat kepada Eadwig.
"Haah ...," terdengar suara helaan nafas dari arah Eadwig. Lalu dengan sangat tiba-tiba, Eadwig duduk jongkok tepat dihadapanku. "-Hey Arley, aku tahu kau menyimpan suatu hal yang sangat penting." perlahan Eadwig mulai menasihati diriku dengan kata-katanya yang bijak.
"Tetapi untuk saat ini kau harus fokus di pertarunganmu selanjutnya. Kau tahu, walaupun lawanmu selanjutnya adalah Amy, namun aku akan tetap mendukung dirimu untuk memenangkan pertandingan ini Arley," ucap Eadwig dengan polosnya.
"Heeh~, apakah kau yakin? kalau kak Amy mendengar perkataanmu yang tadi, aku rasa ia akan sangat marah kepadamu Eadwig." jelasku kepada Eadwig.
"A-aa!? -aku harap kau tetap merahasiakan perkataanku yang tadi ya Arley!" tiba-tiba wajah Eadwig memucat.
"Pfft! Ahahaha! aduhh, reaksimu sangat memuaskan! huuh ... - ya, tenang saja. Aku tidak akan membocorkan perkataanmu yang tadi, dan tentu saja aku akan mengalahkan Amy!" entah mengapa perasaanku saat ini mulai mencair dengan suasana sekitarku. Ini semua berkat perkataan Eadwig yang terdengar begitu hangat.
"Hehe! syukurlah kalau begitu. Nah sekarang ayo selesaikan pertarungan ini, dan mari kita bersama-sama melanjutkan pertandingan di babak selanjutnya," Eadwig lalu berdiri dan ia menarikku untuk bangkit.
Kemudian aku langsung meraih tangannya dan dengan cepat tubuhku yang ramping ini, langsung tertarik berdiri.
Setelah aku berhasil berdiri di atas kedua kakiku ini, lalu Michale mulai kembali mengambil alih acara.
"Apakah kalian masih bersemangat!?" teriak Michale untuk menghibur para penonton.
"-Waaaa!" tentu saja gemuruh masyarakat menggelar demi memberi kepastian bahwa mereka masih dalam kondisi prima.
"Hahaha aku sangat senang jika kalian berteriak seheboh itu. Okey! saat ini lapangan pertandingan sudah selesai dibenahi, nah marilah kita melanjutkan pertandingan selanjutnya!" ucap Michale sembari menurunkan tangga kaca yang ia ciptakan dari sihirnya itu.
Lalu berangkatlah aku dan Amy berjalan berdampingan menuruni tangga kaca tersebut, untuk memulai pertarungan di antara kami berdua. Sesampai kami berdiri di atas lapangan Arena, kemudian secara serempak kami saling berjabat tangan sebelum pertarungan dimulai.
"Kak Amy, siapapun pemenangnya. Aku berharap kita tidak meninggalkan sebiji dendam pun diantara kita berdua, " ucapku kepada sang putri negara 『Atargatis』.
"Tentu saja Arley, aku berharap semoga kita berdua tidak mengalami cedera yang parah!" dengan senyuman yang begitu manis, Amy mulai mengumandangkan genderang perangnya dengan kalimat yang barusan saja ia lontarkan.
"Kalau begitu selamat bertanding," jawabku dengan senyuman tajam sembari menanggapi tantangan "Amy" sang "Putri Duyung."
Priit! ~
Lalu menderulah suara peluit pertandingan yang cukup panjang, tanda bahwa pertandingan telah dimulai.
***