
Not Edited!
Kondisi kembali normal. Saat ini, Arley duduk sambil melemaskan tangan kirinya ke bawah. Entah mengapa, ia tak bisa melepaskan kembali pedang berwarna hitamnya itu. Benar-benar lengket layaknya ditempel oleh perekat.
Foss, yang hanya terlihat terdiam di sebelah Kale, tak dapat berkata apa-apa semenjak kemunculan sang istri. Wajahnya tampak pucat, dan tubuhnya gemetaran setengah mati.
Sedangkan paman Radits, dirinya dengan tenang berbincang-bincang dengan Kale, yang kala itu, sang wanita tengah memangku Emaly dengan tenang.
“Ahahaha! Aku benar-benar tak menyangka, jika kalian akan benar-benar menikah!” ucap paman Radits dengan gembiranya.
“Yaah~ Walaupun kami sudah menikah selama empat tahun ini, tetapi kami masih belum di berikan seorang anak pun.” Ketika itu, Kale menjawab dengan wajahnya yang cukup sedih, alisnya naik ke arah atas seperti kecewa dengan kondisi dirinya saat ini. “Tetapi, walaupun demikian, aku sangat sayang dengan suamiku,” ucap Kale, yang kemudian menggenggam tangan sang suami.
Di saat pembicaraan antara Paman Radits dan Kale terjedai, di saat itu jugalah topik pembicaraan menjadi tajam dan pekat.
“Baiklah, sekarang kembali ke topik utama,” ujar Kale dengan nada dinginnya. Menataplah Kale melihat ke arah Arley dengan tajamnya. “Hey, namamu Arley, kan, kalau tidak salah …?” Ketika itu, Kale melipat kedua tangannya di atas meja. Tampak seperti seseorang detektif yang tengah menginterogasi seseorang. “Aku ingin bertanya kepadamu, Arley. Bagaimana mungkin, kau bisa menemukan pedang itu?” Tanya Kale dengan begitu serius.
Tiba-tiba, tampak aura yang begitu merah dan pekat, keluar dari punggung Kale. Arley tampak terkejut dan dirinya langsung berdiri dari posisi duduknya. Varra dan paman Radits pun langsung terkejut saat hal itu terjadi, tetapi, bukannya mereka berdua bereaksi dan ikut berdiri, mereka berdua malah terdiam dan terperanjat kaku tak bisa bergerak.
“Hohoo! Menakjubkan … kau bisa bergerak di dalam kondisi tekanan seperti ini,” jelas Kale untuk menantang Arley. Kemudian, dirinya mengeluarkan aura pembunuh, yang lebih pekat dari hawa pertama.
“K-kale! Hentikan!” Teriak paman Radits sambil menjulurkan tangannya ke arah Emaly, sang paman terlihat begitu marah, sebab Kale melupakan keberadaan Emaly.
“Diam! Saat ini aku sedang berbicara dengan anak ini, Tom!” cetus Varra dengan nada tinggi nan mengintimidasi. Ia hanya fokus duduk, dan mengeluarkan aura merahnya itu. Padahal, saat ini, Emaly tengah mengucurkan air mata sejadi-jadinya, tetapi ia tak bisa bersuara sebab rasa takut yang tiada tara.
“Bodoh! B-Bukan itu!” Lantas, paman Radits ingin berdiri dari kursinya. Tetapi, dirinya malah terjatuh sebab tubuhnya tak bisa bergerak, kaku menahan aura intimidasi ini. “Aaaaaa!” teriak paman Radits yang tak bisa berbuat apa-apa.
“Huh, kau masih sama seperti dulu, hanya besar omongan saja.” ujar Kale, yang sengaja menjelekkan paman Radits. Wajah Kale pun berbalik menatap Arley, namun, tiba-tiba dirnya menyaksikan sesuatu hal yang amat mengerikan. “H-Huh!?—” wajah Kale langsung memucat, dan keringat dingin langsung mengucur dari pori-pori wajahnya.
Ia melihat wajah Arley yang terlihat begitu bengis, tetapi bukan hanya itu, Arley dengan leluasa bisa bergerak di dalam intimidasi yang begitu dahsyat ini. Selain itu, wajah Arley tampak begitu mengkerut dan cukup aneh untuk orang normal. Dan warna retina matanya, mulai berganti waran, dari yang awalnya berwarna Hijau, sesekali bergradasi menjadi Ungu.
“Hentikan!” Bentak Arley, yang ketika itu menjulurkan tangan kanannya ke arah Kale.
Saat itu, Kale malah membalas Arley dengan senyuman bahagianya. Ia merasa sudah sangat lama tak mengalami hal ini. “Coba saja kalau bisa!” ucapnya, yang saat itu ingin bangkit dari kursinya. Akan tetapi, tiba-tiba tubuh Kale malah kaku, tidak bisa bergerak. “H-ha? Mengapa tubuhku tidak bisa bergerak?!” ucap Kale, sambil menatap tajam ke arah Arley, juga telah larut dalam mode bertempur.
Pikiran Kale sangat kalut, ia ingin sekali bertempur melawan balik sang remaja. Tetapi, Saat itu juga, tiba-tiba aura hitam pekat tumbuh dari posisi belakang Arley. Mata Kale langsung terbelalak, dan dirinya yang tadi merasakan ketertarikan untuk bertempur, saat ini, ia sama sekali tak bisa bergerak. “A-apa ini?!” Sontak, sekujur tubuh Kale langsung mengguyurkan keringat dingin, rasa takut yang tiada tara bangkit dari dalam hatinya.
Sampai saat ini, Kale masih belum mengendurkan aura intimidasinya. Sebab hal itu, Arley menjadi sangat marah dan kesal, seketika itu juga, sang remaha langsung berjalan ke samping kanan Kale, dan langsung memegang punggung Kale dengan geramnya.
“Hentikan.” ucap Arley, yang menatap tajam ke bola mata Kale.
“K-Kale! Hentikan!” Tiba-tiba, terdengar suara Foss yang begitu jantan, dirinya dengan suara lantang membentak sang istri. Tampak jika Foss juga menggeramkan seluruh tubuhnya untuk terbebas dari intimidasi Arley dan Kale.
Terkejut mendenagar bentakan sang suami, dan menimbunnya rasa takut di dalam hati, sebab intimidasi Arley. Kelopak mata Kale lagsung melinangkan air mata ketakutan. Secara otomatis, aura intimidasi Kale berhenti mendadak dan dirinya langsung terkulai lemas.
Begitu juga dengan Arley, entah bagaimana, dirinya langsung mematikan aura intimidasinya. Dan ia langsung menarik Emaly dari pangkuan Kale.
“Dasar bodoh! Apa yang telah kau lakukan! Lihat kondisi Emaly!” teriak Paman Radits, yang langsung bangkit dari keterpurukannya.
Sedangkan Arley, saat itu langsung terduduk, dan ia memeluk Emaly yang tampak begitu ketakutan.
“K-k-kaak, A-Arley … a-a-aku … t-t-takut ….” Dengan suara gemetarannya, Emaly memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat itu. Arley langsung memeluk hangat Emaly, dan ia mengelus lembut rambutnya. Seketika itu juga, tangisan Emaly terpecah dan mengisi seisi ruangan.
“Ah ….” Ketika itu, Kale baru menyadari, jika apa yang ia lakukan tadi, telah membuat Emaly sangat ketakutan, dan dirinya baru menyadari jika amarah paman Radits, bukanlah sebab dirnya mengintimidasi Arley, tetapi karena ia mengeluarkan aura intimidasi di waktu yang salah, yaitu saat dirinya melepaskan aura itu ketika Emaly berada di sekitar mereka. “M-maafkan aku. A-aku kelepasan.” Saat itu juga, Kale langsung jatuh dari kursinya, dan ia mencoba untuk memeluk Emaly dengan penuh perasaan penyesalan. “A-aku benar-benar lupa, jika Emaly ada di pangkuanku!”
Saat itu, Foss langsung bangkit dari kursinya, dan ia dengan cepat menarik lengan Kale. Selama ini, Foss tak pernah marah kepada istrinya, tetapi, untuk kejadian yang kali ini, Foss tampak benar-benar marah dengan sang kekasih hati.
“BODOH!” bentaknya dengan nada keras dan dalam. “jangan pernah kamu ulangi lagi hal semacam ini!” teriak Foss yang tampak begitu garang. Mata Kale langsung terbelalak lebar sebab suara tinggi Foss. Dan seketika itu juga ia mengguyurkan air matanya.
“M-maafkan aku … maafkan aku,” ucapnya, sambil memeluk Foss dengan perasaan penuh beraslah.
Kecerobohan ini, akhirnya membuka pintu baru kepada pasangan Kale dan Foss. Selain itu, kecerobohan ini juga membuka kejelasan baru atas identitas Arley. walaupun masih abu-abu, tetapi sosok Arley saat ini, membuat dan mengungkap misteri baru terhadap siapa sebenarnya sosok sang remaja berambut merah ini, di mata keluarga Tomtom, dan Varra.
Mengingat kejadian saat ARley arah, membuat paman Radits menatap intens wajah Arley. Yang ketika itu, diri sang remaja tengah memeluk Emaly dengan sangat hangat. Tetapi, saat dirinya menyadari jika Arley juga ikut menangis saat dirinya memeluk sang adik, seketika itu juga, sang paman langsung mencairkan isi hatinya, dan kembali menyadari, jika Arley jugalah masih seorang anak-anak biasa.
“Apa yang aku pikirkan ….” gumam paman Radits, sambil ia mengelus-elus rambutnya.
Saat itu, Varra yang telah kembali bisa bergerak, dirinya juga langsung memeluk Emaly dan Arley secara hangat. “Tenanglah … tenanglah, aku juga berada di sini.” Tubuh Varra saat itu juga masih gemetaran. Sekilas ia menatap wajah Arley, dirinya juga bertanya-tanya, sebenarnya apa yang Arley lakukan tadi, dan mengapa ia bisa mengeluarkan aura hitam legam seperti itu? dan pertanyaan itu juga terpikir di benak paman Radits, juga Foss.
Siapa sebenarnya remaja satu ini? mengapa ia bisa berada di sini? Dan apa sebenarnya yang menjadi sebab Arley lupa ingatan? Terus dan terus hal itu di pikirkan oleh paman Radits.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------