The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 45 : Berkemah



Sinar mentari di sore hari perlahan masuk ke sela-sela dedaunan yang melekat diantara pepohonan yang rimbun nan asri.


 


 


Cuitan burung yang telah pulang kembali ke rumah-rumah mereka seakan menjadi irama di sore hari yang indah ini.


 


 


sesekali tangisan burung hantu juga membias di antara lantunan suara hutan yang indah.


 


 


Berjalan dengan santai, sambil melihat pemandangan hutan yang penuh dengan kedamaian, serasanya di hutan ini sama sekali tidak ada Monster yang mendiami nya, sebegitu damainya lah kondisi hutan ini.


 


 


Hampir mirip dengan keadaan hutan di desa*** [Durga]*** walaupun pemandangan nya sedikit berbeda.


 


 


***


 


 


Berjalan dengan santainya di antara pepohonan yang rimbun, Sofie menggendong Arley tanpa lelah.


 


 


Ia terus melangkah kan kakinya di jalan setapak yang terbentuk akibat sering di lalui oleh pengguna jalan yang ingin menuju kota atau desa terdekat.


 


 


"Kak Sofie, apa kau yakin jalannya lewat sini? Berapa lama lagi sampai kita bertemu dengan sungai yang kakak sebutkan tadi?"


 


 


Tanya Arley kepada Sofie yang nafasnya masih santai, terkadang Arley berfikir, apakah berat badannya sebegitu ringannya sampai Sofie tidak merasakan lelah ketika menggendongnya.


 


 


Kemudian Sofie berhenti pada dua kakinya.


 


 


"Arley, tenang saja, kita sebentar lagi sampai di aliran sungai yang aku sebutkan tadi, coba kau dengarkan suara nya"


 


 


Kemudian Arley dengan seksama mendengarkan suara hutan, dan benar saja ada terdengar suara seruan air dari arah yang kita tuju.


 


 


"Benar kan? Kalau begitu, pegang yang erat yaa!!"


 


 


Senyum Sofie, kemudian ia membenarkan posisi gendongan Arley terhadap nya dan bergegas ia berlari menuju sumber aliran sungai yang sudah sangat dekat tersebut.


 


 


"A-aaa!! Hati-hati kak!!"


 


 


Arley yang hampir terjatuh bergegas memeluk punggung Sofie agar ia tidak terlepas dari dekapan nya terhadap Sofie.


 


 


***


 


 


Beberapa saat kemudian Sofie berhenti tepat di samping Aliran sungai.


 


 


"Sampaaaii!!"


 


 


Ucapnya sambil melepas gendongan Arley.


 


 


Tentu saja Arley langsung terjatuh ke tanah dan menghantam tulang ekornya yang kemudian rasa ngilunya sampai ke ubun-ubun.


 


 


"Aww!! Kak Sofiee!! Kakak sengaja ya!!"


 


 


"Hahaha!! Tunggu lah di sini Arley, aku akan bergegas mengumpulkan ranting dan dedaunan agar malam ini kita tidak mati kedinginan."


 


 


Sofie dengan lincahnya pergi berlari mencari ranting kering dan beberapa daun yang aman untuk di gunakan sebagai alas tempat tidur mereka malam ini.


 


 


"Hee.. dia memalingkan pembicaraan...huft... Baiklah, selagi Kak Sofie pergi aku akan membuat sesuatu..."


 


 


Saat itu, Arley telah merencanakan suatu hal yang sudah sejak lama ia ingin coba praktek kan, yap, membangun rumah dengan menggunakan sihir tanah.


 


 


Kondisi tubuhnya telah lumayan membaik, Arley dapat berdiri pada dua kakinya kembali seperti biasa.


 


 


Arley kemudian mengeluarkan tongkat sihirnya dan ia mencoba mengingat sihir apa yang dapat mengendalikan dan menempah bumi dengan sesuka hatinya.


 


 


"Kalau tidak salah... Ah iya~"


 


 


Arley memejam kan matanya, lalu kemudian ia mengucapkan mantra yang telah lama ingin ia sebutkan.


 


 


"Bats!" berubah warna baju Arley menjadi coklat, lalu kemudian mantra itu terucap dari kedua katub bibirnya.


 


 


"***Terra Informibus\~***"


 


 


Tiba-tiba tanah di depan Arley menggumpal keluar membentuk batu bulat nan besar.


 


 


Batu itu muncul bagaikan gelembung busa yang ditiupkan dari ujung sedotan.


 


 


Kemudian dengan kokoh gelembung itu terdiam pada poros bumi yang keras ini.


 


 


Arley kemudian menggerakkan tongkat sihirnya bagaikan composer yang sedang memandu alunan musik yang bermain dengan harmonis.


 


 


Penggunaan sihir tanah dalam membangun suatu objek adalah sebuah tantangan terhadap penggunanya, dimana ia harus memainkan sihirnya sambil berimajinasi di dalam kepalanya.


 


 


Benda apa yang harus ia buat dan berbentuk apa objek yang akan dia ukir.


 


 


Kurang lebih, hal ini sama saja dengan seorang seniman yang menempah sebuah patung, tetapi dengan menggunakan alat berupa tongkat sihir.


 


 


Arley dengan gembira nya ia mengukir setiap sisi bebatuan tersebut, ia mengelilingi bebatuan itu dengan sangat detail.


 


 


Beberapa saat kemudian ia berhasil membentuk bagian luarnya.


 


 


Tampak bangunan berbentuk rumah dengan lebar 5x5 meter dan tinggi kurang lebih 3 sampai 4 meter


 


 


Setelah usai menempah bagian luarnya, Arley kemudian menempah bagian dalam rumah dengan kembali mengayunkan tongkat sihirnya.


 


 


Ia mengkonstruksi bangunan ini dengan gembiranya.


 


 


***


 


 


Kemudian beberapa menit telah berlalu, Sofie kembali ke aliran sungai tempat ia meninggalkan Arley.


 


 


"Arley aku kemba!!?! -"


 


 


Terdiam seribu bahasa, Sofie sejenak berfikir bahwa ia tersesat di dalam hutan dan sampai ke titik sungai yang berbeda.


 


 


"(H-ha?! Sepertinya tadi aku tidak melihat ada bangunan ini.. Jangan-janhan aku tersesat!!?! Tidak!! Bagaimana dengan kondisi Arley!!?! )"


 


 


Sofie tampak panik, di tengah-tengah aliran sungai ia membalikkan badan dan langsung berlari kembali ke seberang Aliran sungai.


 


 


Namun Arley yang mendengar suara Sofie dari dalam rumah yang ia telah usai membangunnya. Ia kemudian memanggil Sofie dari dalam rumah tersebut.


 


 


"Ahh kak Sofie!? Selamat kembali kak!!"


 


 


Sontak Sofie yang hampir sampai ke bagian seberang sungai terdiam pada posisinya.


 


 


 


 


"Bagaimana kak dengan rumah kemah kita?"


 


 


"... H-HE?! INI KAMU YANG BANGUN ARLEY?!"


 


 


Sofie tercengang, ia bahkan tidak dapat berfikir dengan jerni lagi, akhirnya Sofie yang telah yakin bahwa ia tidak tersesat langsung berjalan kembali melintasi aliran sungai untuk bisa kembali berkumpul dengan Arley.


 


 


Kayu ranting dan beberapa rerumputan yang ia berhasil dapatkan langsung terjatuh di depan rumah tersebut, lagi-lagi ia hanya terpelongo melihat rumah yang tiba-tiba muncul ketika ia tinggalkan Arley sejenak.


 


 


"Hey Arley.. Sebenarnya kamu ini siapa sih..."


 


 


Timbul pertanyaan-pertanyaan seputar Arley di benak Sofie, ia semakin tertarik dengan keberadaan Arley yang tiba-tiba mengeluarkan sihir yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


 


 


"Okaaay!! Waktunya mencari makan malam!!"


 


 


"Arleeyy!! Kau mengalihkan pembicaraan yaa!!"


 


 


Kemudian Arley berlari menuju aliran sungai yang mengalir tenang, ia dengan sengaja mengganti topik pembicaraan dengan Sofie.


 


 


Saat itu Sofie tidak menekan kembali topik yang ia tanyakan kepada Arley, ia membantu Arley mencari makan malam di aliran sungai tersebut, yap, malam ini mereka akan memakan ikan bakar yang segar.


 


 


***


 


 


Api unggun telah terbakar, asapnya perlahan membumbung ke atap rumah dan keluar dari cerobong rumah yang Arley telah rancang sebelumnya.


 


 


Tertancap tiga buah tangkai yang di atasnya tertusuk ikan sungai segar, kayu tersebut di tanam tepat di pinggir perapian.


 


 


Ikan tersebut di bakar tanpa ada bumbu penyedap yang lain, kemungkinan besar rasanya akan hambar dan sedikit gosong.


 


 


Arley dan Misa menunggu panggangan ikan sungai tepat di atas kasur mereka, kasur tersebut terbuat dari tanah dan di lapisi dedaunan yang empuk.


 


 


Dedaunan tersebut di temukan oleh Sofie ketika ia mencari kayu ranting untuk membuat api unggun malam hari ini.


 


 


Ukuran daun tersebut cukup besar, dan uniknya daun ini tebal dan empuk bagaikan sponge cuci piring.


 


 


Tentu saja ketika memetiknya, Sofie memasukkan nya kedalam kantung dimensi yang kami temukan di reruntuhan kota langit.


 


 


Kondisi ruangan ini seperti ruangan pada biasanya, pintu masuk kami berhadapan dengan sungai yang berjarak lima meter dari tepi sungai.


 


 


Lalu perapian tepat berada di seberang pintu yang tertempel dengan dinding, dan cerobong asap menjukur naik ke atas rumah untuk mengeluarkan asap yang tidak di butuhkan.


 


 


Sedangkan kasur tidur Arley dan Sofie berada di sudut kiri dan kanan ruangan, Kasur Sofie berada di sudut Kiri sedangkan kasur Arley berada di kanan ruangan.


 


 


Selepas dari ini semua, mereka merasa senang bisa tidur di dalam ruangan yang nyaman.


 


 


***


 


 


Kondisi agak hening karena Arley dan Sofie sudah sangat lelah dengan segala kejadian dan kerja keras mereka pada hari ini.


 


 


"Clotak-Clotak!" terdengar degan jelas, beberapa kayu yang dibakar melompat keluar dari tempat perapian. kehangatan yang di buat oleh api ini membuat Arley dan Sofie semakin mengantuk.


 


 


Namun aroma ikan yang mulai tercium kuat, membuat perut mereka berdua bergejolak hebat dan seketika itu juga mereka berdua terbangun dari tidur ayamnya.


 


 


"... Tampaknya ikannya sudah masak kak..."


 


 


Ucap Arley dengan lemas.


 


 


"... Unm... Aroma nya lumayan juga ya..."


 


 


Sofie sambil menguap mencoba untuk bangun dari kasur nya.


 


 


Kemudian ia mengambil ikan yang posisinya paling dekat dengan dirinya.


 


 


"Kress!" di gigit daging ikan yang sudah masak dengan sempurna itu, dagingnya yang krispi di luar dan manis di dalam membuat siapapun yang memakannya kembali menjadi bertenaga.


 


 


Mata Sofie terbuka lebar dan ia dengan lahap memakan ikan yang ukurannya lumayan besar itu.


 


 


Dibarengi dengan Arley, ia juga melahap ikan yang terbakar sempurna itu. Mereka dengan lahap nya menghabiskan enam tusuk ikan bakar hanya dalam hitungan menit.


 


 


Enam potong ikan tersebut telah ludes tak bersisa, bahkan tulang-tulangnya pun telah habis menjadi cemilan mereka berdua.


 


 


Sedikit kekeringan, tenggorokan Sofie terasa serat, ia akhirnya membuka pintu dan menuju ke sungai untuk menenggak Air sungai yang amat jernih tersebut.


 


 


"Arley kau mau juga!?"


 


 


Teriak Sofie dari pinggir sungai, namun tampaknya Arley sudah kembali tertidur di atas ranjangnya, ia tidak membalas satuan Sofie.


 


 


"hmm baiklah, dia tampak kelelahan..."


 


 


Sofie menciduk air dengan daun yang berbentuk seperti mangkuk, lalu ia menenggak air tersebut.


 


 


Air tersebut habis dalam lima tegukan yang dalam.


 


 


Usai dia meminum Air tersebut, Sofie menghanyutkan daun yang ia gunakan, dan ia mencoba bergegas kembali ke dalam rumah.


 


 


Namun tiba-tiba Sofie di kejutan oleh hal yang memuat ia menjadi tidak mengantuk lagi.


 


 


"Gasp!!?!" nafas nya tersedak di kerongkongan, langkahnya terperanjat mundur.


 


 


Sofie melihat dari aliran sungai yang tadi ia minum, terdapat sebuah cairan yang tampak bersinar terang, di tengah malam yang amat sunyi ini, sebuah cairan mengalir dengan anehnya di tengah sungai.


 


 


Sofie yang masih setengah tidur itu beberapa kali menyapu matanya dengan kedua lengan tangannya. terkejut bukan main, air itu bukanlah ilusi setengah tidurnya, spontan ia langsung terbirit-birit masuk kedalam rumah.


 


 


"Arley-Arley!! Hey bangun!! Di luar!! Diluar ada kejadian aneh!!! Hey bangun!! ARLEY!!"


 


 


Arley lalu terbangun dari tidurnya karena terkejut dibangunkan oleh Sofie. Mereka berdua kemudian bergegas melihat ke lokasi kejadian dan benar saja, Cairan itu semakin lama malah semakin melebar.


 


 


Tampaknya cairan itu berasal dari aliran hulu sungai atau dari sumber tinggi air sungai ini berasal.


 


 


"I-ini!!!?!"


 


 


Sontak Arley dan Sofie terdiam pada kedua kakinya sambil menganalisis apa yang tengah terjadi.


 


 


***