
Langkah kaki saling bertepik. Kuda kereta berlari cepat untuk menjaduh dari daerah itu. Arley mengeluarkan senjanya, beberapa serangan ia tangkis, kemudian ayunan keras di lancarkan untuk melumpuhkan sang lawan.
Dari dalam kereta, tampak Varra menyodorkan tongkat sihirnya, dan ia merapalkan mantra sihir dengan suara lantang.
“Fire Bolt!”
Dari ujug tongkat sihir milik si remaja wanita, muncul bola api berukuran sedang, dan saat itu juga terlempar menuju ke gerombolan, Robin Cat. Sekumpulan kucing pencuri, yang sering melakukan aksinya, untuk merebut barang berharga dari orang-orang yang melintasi daerah kekuasaan mereka.
Demikian, bola api yang Varra rapalkan, berhasil mengenai beberapa kucing pintar itu, serta membuat mereka lari kocar-kacir.
Arley pun tertinggal, berdiri sendiri, tanpa ada musuh yang berniat melawannya. “He?” Dia pun terpelongi bingung, dengan kondisi yang sedang bergulir.
“Arley! Cepat kembali!” Demi memecahkan perasaan bingung dalam pikiran Arley, paman Radits langsung memberikan perintah langsung kepada sang remaja berambut merah itu. “Jika kita berlama-lama di sini, mereka akan kembali!”
Mendengar ucapan itu, Arley langsung berlari, melesat kencang mengejar laju kereta, yang sudah melangkah jauh di depannya. Namun, Lari Arley lebih cepat dibandingkan laju kereta kuda itu. beberapa saat saja, Arley sudah sampai kembali di kereta kayu tersebut.
“Uhh~ Mereka benar-benar penakut. Setelah berusaha menyerang kita, mereka malah kabur seperti itu.” Terdengan dumelan Arley, yang sebenarnya ingin bertempur melawan apa pun.
“Bukankah itu hal yang baik? Menghindari pertempuran, adalah kunci panjang umur.” Jelas Varra. “Itulah yang, Jorge Stone, katakan, di dalam bukunya.”
“Mmm~ Tapi aku ingin memukul sesuatu,” ujar Arley, yang masih mendumel sendiri.
Lalu, Eamaly pun bercuit tentang Arley ingin memukul sesuatu. “Kalau begitu, kenapa kak Arley tidak pukul pohon itu saja!” dengan lugunya ia berkata demikian. Emaly tak tahu apa yang ia katakan, namun, ia hanya ingin berbicara kepada kedua kakaknya, layaknya orang-orang dewasa lainnya.
Arley dan Varra pun tertawa sebab itu, kemudian, mereka berdua langsung memeluk Emaly, sebab gemasnya kedua remaja itu pada si adik.
Paman Radits pun masuk ke dalam Obrolan. “Hey, kalian! Coba lihat ke depan!” Mendengar panggilan si paman, Arley, Varra, beserta Emaly, langsung menjulurkan kepala mereka keluar, menuju bagian depan dari kereta dagang itu.
Tepat di depan mata mereka, berdiri sebuah kota, yang tak memiliki benteng. Tetapi, kota itu di kelilingi oleh rumah-rumah, yang tampak mewah, dan terlihat begitu megah. “Wooow! Kereen~” kalimat itu pun keluar secara otomatis dari bibir Arley, Varra dan Emaly. Dari jarak yang jauh itu, mereka melihat sebuah bangunan yang amat sangat besar, bentuknya seperti istana, tetapi bangunan itu berwarna hitam dan ada banyak lampu terpasang di setiap sisinya.
“Kita sudah sampai~” ucap sang paman. “tapi tujuan kita bukan kesana. Mulai dari sini, kita akan pergi ke sisi Utara dari kota [Rapysta] itu.” Berjalan beberapa waktu, Kereta kuda keluarga Tomom pun sampai di perempatan jalan, dan mulai dari sini, mereka bergerak, menjauh ke sudut Utara.
Saat itu, paman Radits dan Arley merasakan sesuatu yang ganjal dari bangunan super tingi itu. mereka merasakan ada hal yang menjijikkan terjadi di sana. Akan tetapi, melihat mereka tak menghampiri kota itu, Arley dan paman Radits, memilih utuk mengunci mulut mereka, demi tak berkecimpungan dengan perasaan aneh itu.
***
Selang setengah hari, dari saat ketika kereta kuda keluarga Tomtom berhasil menemui kota [Rapysta]. Kali ini, paman Radits dan keluarganya berhasil sampai ke lokasi yang benar-benar mereka tuju.
“Kita sampaaii!” teriak paman Radits yang sangat berbahagia ketika ia melihat desa ini.
Ya, mereka telah sampai dengan selamat di desa yang penuh dengan ladang padi dan peternakan ini. Desa yang terlihat cukup makmur denga nama yang dikenal banyak orang, yaitu, desa [Uaccam], atau yang dikenal dengan julukan, desa Sapi.
[Uaccam] adalah bahasa setempat, yang artinya Sapi. Kenapa mereka menamakan desa mereka, sebagai desa sapi? Karena mata pencaharian utama mereka adalah, segala olahan yang bersumber dari sapi. Mulai dari dagingnya, susunya, kulitnya, bahkan kotorannya pun bisa menjadi olahan pupuk, yang akan menyuburkan ladang gandum mereka.
Selain itu, desa [Uaccam] juga terkenal dengan oleh-oleh khas desa mereka. Yang paling populer adalah, Ice Cream, dan Keju U-Cyam.
Desa ini cukup unik, mereka memiliki satu kota tersendiri, dan lahan mereka terbagi di sekeliling kota tersebut. Kota ini tidaklah besar, mungkin hanya berkisar satu kilo meter saja. Sedangkan besar lahan peternakan dan ladang gandum mereka, bisa sepuluh kali lipat dari lahan kota mereka sendiri.
Namun, ada satu orang yang memilik memisahkan diri dari orang-orang kota. Bukan karena ia di kucilkan, tetapi sebaliknya, ia sengaja memisahkan diri, karena ia ingin orang-orang sekitarnya bisa mendapatkan keuntungan yang lebih darinya.
Tujuan paman Radits saat ini, adalah berkunjung ke rumah orang itu. mereka harus menempuh waktu setengah jam lagi, sampai akhirnya mereka berhasil sampai ke rumah yang di tuju.
Tetapi setengah jam bukanlah waktu yang lama untuk Arley dan keluarga Tomtom. Di rasa dari jarak perjalanan mereka, waktu setengah jam, rasanya sama dan mirip seperti waktu lima menit, ketika mereka dalam kondisi normal.
“Emaly, Arley, Varra. Ini rumah yang kita tuju!” Dan setengah jam pun telah berlalu begitu saja. Mereka sudah sampai di tempat yang di bicarakan. Sebuah peternakan yang cukup jauh dari pemukiman warga, dan berdiri sebuah rumah kecil, di sudut peternakan tersebut.
Kereta kuda sang paman pun memasuki pekarangan rumah itu, dari jauh, terlihat ada seorang anak laki-laki, yang mungkin berumur sekitar enam sampai sembilan tahun, berdiri di depan rumahnya.
Saat anak itu melihat kereta kuda keluarga tomtom memasuki pekarangan rumahnya, sang anak pun langsung berlari, masuk kedalam rumah, dan berteriak memanggil ibunya.
“MAaa!” teriak si anak dengan suara lantang. Bahkan Arley beserta rombongannya, mampu mendengarkan suara si anak.
Kereta telah di parkirkan di samping rumah. Tanpa perintah dari sang paman, Arley langsung melepas seluruh ikatan kuda, dan melepaskan kedua kuda itu pada lahan lepas tersebut. Namun, kuda-kuda itu tak berlari liar. Mereka hanya berdiri tegap di samping rumah, dan sesekali menjilati wajah Arley. Di lain sisi, Varra dan Emaly, sesuai dengan perintah paman Radits, mereka mengangkut sebuah peti kayu, yang berisi bahan-bahan pokok dan sedikit uang emas di dalamnya.
“Permisi!” Ketika itu, Paman Radits berteriak memanggil sang pemilik rumah. Namun, tak ada satu orang pun yang keluar dari dalam rumah. “Selamat sore, permisi!” sekali lagi sang paman berteriak dengan suara yang lebih lantang.
Di saat sang paman sedang menunggu sang pemilik rumah, Varra dan Emaly tampak sudah selesai mengangkut barang bawaan mereka. “Paman, ini di taruh di mana?” tanya Varra kepada sang paman.
“Ah, taruh di depan rumahnya saja” jawab sang paman. Lantas, Varra bersama Emaly, kembali mengangkat kotak itu dan menaruhnya di depan rumah.
Ketika mereka berdua menaruh kotak itu di depan rumah, tak sengaja Varra melihat seorang wanita tua, mengintip dari dalam rumah. “Ah! Selamat sore,” sapa Varra kepada wanita tersebut.
Perempuan itu pun sejenak terdiam, dan ia terperanga saat melihat orang yang berdiri di depan pintunya. “Tom?!” ucap si wanita, dan kemudian ia berlari kencang dan langsung memeluk paman Radits.
“Jasmin! Ahaha! Lama tak jumpa!” Saat si wanita datang memeluknya, paman Radits pun langsung membalas dengan hal yang sama. Ia melakukan hal itu dengan perasaan riang gembira. Akan tetapi, tiba-tiba paman ada perasaan ganjil di situasi itu.
“Jasmin …?” Dan benar saja, wanita bernama Jasmin itu pun, mengucurkan air matanya dengan hebat.
“Tom … ohh Tom, tolong kami …,” ucap si wanita.
Mendengar kalimat Jasmin yang begitu gemetaran, paman Radits langsung menyadari, jika ada hal yang salah di sini.
“Jasmin … Carl, ada di mana sekarang?” Sontak, ketika sang paman menanyakan hal itu. Wanita itu pun berhenti menangis, namun ia langsung menorehkan mukanya ke hadapan wajah sang paman.
Sang paman langsung terkejut. Jasmin ternyata bukan berhenti menangis, tetapi ia menahan suara tangisannya, akan tetapi, air matanya tetap mengalir walaupun ia menahan tangisan itu. “Tenanglah … tenanglah … coba ceritakan segalanya padaku.” Ketika itu, sang paman sudah tahu jika informasi apa pun yang akan ia dengarkan, akan secara perlahan mengoyak hatinya. Tetapi, walau bagaimana pun hatinya terkoyak, paman Radits tidak akan meninggalkan teman yang kesusahan.
Atas permintaan Jasmin, masuklah mereka semua ke dalam rumah, sebuah rumah yang tak terlalu megah, tapi cukup luas. Memang jika di lihat dari luar, rumah ini tampak kecil. Namun, saat mereka masuk kedalamnya, rumah ini ternyata cukup luas dan tinggi.
Situasi saat ini masih sangat redup. Jasmin yang duduk di depan paman Radits, masih berusaha menahan tangisannya, agar ia bisa menceritakan permasalahan yang terjadi.
Beberapa menit mereka menunggu si wanita untuk berhenti menangis, mungkin kondisi ini terjadi selama lima belas menit. Tetapi, saat itu, perasaan yang Arley alami bersama rekan-rekannya, waktu lima belas menit di dalam sitauasi ini, sama seperti berdiam diri dalam kondisi normal selama lima jam.
Namun keberuntungan berada di pihak Arley. di saat situasi tak kunjung berubah, datanglah seorang wanita berambut coklat, masuk ke dalam rumah.
“Aku pulang~” ucap si wanita, yang ketika itu masih melihat ke kereta kuda paman Radits. “Ma, itu kereta siap—” akan tetapi, saat si wanita melihat ibunya menangis, seketika itu juga ia menghentikan ucapan yang ingin ia lontarkan tadi. “Ma!?” berlarilah wantia itu, dan ia langsung memeluk ibunya dengan penuh rasa kasih sayang.
“Kalian! Jangan-jangan kalian orang suruhan pria jahanam itu ya?!” sontak, wanita berambut coklat itu malah marah-marah kepada paman Radits beserta keluarganya. “Keluar kalian! Sudah kami bilang, kami tidak akan menjual lahan ini!” Ketika itu, si wanita menjolak-jolak paman Radits untuk segera pergi keluar dari rumahnya.
“Aaa! N-nona! Tunggu sebentar, sepertinya anda salah paham!” Paman Radits yang ingin menjelaskan situasi mereka saat itu pun menjadi susah memberitahu mereka. Di cermati dari kondisi saat ini, Arley sempat berpikir, bahwasanya, situasi keluarga ini benar-benar sedang dalam kondisi yang amat begitu kusut.
“Mell! Hentikan! Mereka bukan bahawan pria itu!” Lantas, ibu dari wanita yang bernama Mell itu pun menghentikan perilaku anaknya. “Mereka ini adalah teman akrab ayahmu!” ucapnya dengan tegas.
Saat itu, wanita bernama Mell itu pun langsung menghentikan perbuatannya. “E-eh?! Mereka bukan suruhan orang itu!? Tapi kenapa Mama menangis?!” tanya Mell kepada ibunya.
Sang ibu pun langsung menjelaskan kondisi yang terjadi sebelumnya. “Aku tadi hanya terbawa situasi. Pria ini, dia adalah, Radits Tomtom. Orang yang membiayai seluruh ladang ini, dan memberikan hak ini semua kepada keluarga kita,” ucap sang ibu. “berkat dialah, cita-cita ayahmu bisa terwujud.”
Lantas, Mell langsung terpelongo saat ia mendengar kalimat ibunya. Menolehlah ia menatap wajah sang paman, akan tetapi, sang paman hanya tersenyum sambil mengeluarkan keringat dinginnya.
“Maafkan aku!” Merasa sangat bersalah atas perbuatannya, Mell pun langsung memohon ampun kepada orang yang berjasa bagi keluarganya itu.
“Jasmine, ini anakmu?” kemudian, sang paman langsung bertanya mengenai identitas wanita satu ini.
Mengangguklah sang ibu. “Benar, anak ini adalah anak pertama kami. Namanya, Melliana Polka. Sedangkan yang satunya.” Jasmine pun menunjuk anak bungsunya, yang bersembunyi di ruangan sebelah. “anak laki-laki kami, Joshua Polka.” Imbuhnya.
“Begitu ya …,” ucap sang paman, lalu ia mengelus rambut Melliana, sebagai tanda pengampunannya.
Setelah kejadian ini, Kondisi pun mencair. Mereka bertujuh, duduk di kursi pada ruang depan.
“Jasmine, bisakah kau menjelaskan kepada kami, apa yang terjadi?” tanya sang paman dengan nada suara yang cukup sedu.
Jasmine pun, ketika itu hanya termenung, tampaknya ia sedang memikirkan kalimat apa yang akan dirinya katakan.
“Kejadian ini, bermula pada saat lima bulan yang lalu …,” ucap Jasmine, yang mulai berani bercerita. “Saat itu, ada seorang pria kaya yang tiba-tiba datang, dan membuka kasino di kota [Rapysta]. Pria itu, dengan harta yang ia miliki, dirinya membangun sebuah tempat perjudian terbesar di benua ini. Dan berkat dirinya, kota [Rapysta] menjadi kota moderen seperti saat ini.” sejenak Jasmin berhenti berbicara, ia mengelap air matanya, dan kembali menceritakan runutan masalah.
“Namun, petaka mulai datang bermunculan setelah dirinya berada di puncak rantai kekuasaan. Walikota ia suap, masyarakat ia jadikan budak, segalanya ia lakukan untuk menjadi penguasa absolut, di negeri itu.”
Paman Radits beserta rombongannya pun langsung terkejut-kejut. Mereka tak menyangka, jika di balik kemegahan kota yang tampak moderen seperti itu, memiliki mimpi buruk di belakangnya.
“Kemegahan kota itu, mau sehebat apa pun atau sebusuk apa pun mereka, kami kira tidak akan berimbas penting bagi desa ini. Akan tetapi, dugaan kami salah.” Mata Jasmin, saat itu mulai menampung air mata kembali. Ia tak bisa berkata-kata untuk sejenak, namun, berkat Melliana, sang ibu bisa mendapatkan kekuatan berbicaranya lagi.
“Satu bulan yang lalu, tiba-tiba pria itu datang ke rumah ini bersama seluruh algojonya. Mereka ingin membeli seluruh lahan peternakan kami. Alasan mereka melakukan itu, karena lahan kami adalah yang paling dekat dengan kota [Rapysta], tapi, sesungguhnya, kami tahu, jika kepala desalah yang menyarankan orang-orang itu utuk membeli lahan ini. Tampaknya, seluruh warga desa menyetuji akan hal itu. Aku tak tahu sebabnya, tapi aku rasa, mereka semua sudah di suap oleh si pria kaya itu.”
Jasmin, kemudian menatap wajah paman Radits dengan begitu sedih.
“Tentu saja suamiku tak mengizinkan hal itu! Mereka bahkan sempat memukuli suamiku dengan liciknya, tapi saat itu, suamiku berhasil membalas mereka semua, dan memulangkan orang-orag rakus tersebut, kembali ke ruah mereka masing-masing.”
“Akan tetapi, dua minggu yang lalu … mereka tiba-tiba datang kembali kerumah ini.” Jasmin kali ini tak bisa menahan kembali air matanya, dengan begitu sedu ia berusaha melanjutkan kisahnya. “mereka … para bedebah itu, mereka kembali degan tubuh suamiku yang tak bernyawa lagi!”
Melototlah mata paman Radits dengan begitu amarahnya, namun kisah belum selesai.
“Saat mereka membawa suamiku kembali pulang, mereka langsung memintaku untuk menandatangani surat pembelian lahan, tetapi aku menolak hal tersebut. Lantas, mereka tiba-tiba mengeluarkan surat palsu yang di sana terdapat jari jempol suamiku, tertulis bahwa, suamiku telah berhutang kepada mereka, sebesar satu juta Gold. Dan jika kami tidak bisa membayar hutang itu sampai akhir pekan ini … maka ….” Jasmine pun menoleh ke arah anak gadisnya. “maka, Mell akan mereka jual, menjadi pekerja dunia malam.”
Kala itu, setelah paman Radits mendengar seluruh cerita Jasmine. Meledaklah Amarah sang paman. Ia tiba-tiba berdiri tegap dan urat di seluruh tubuhnya mengeras hebat.
“P-paman!?” Arley yang baru pertama kali melihat hal ini, dirinya merasa sangat ketakutan.
“Arley, Tampaknya kita akan segera menggunakan senjata-senjata kita,” ujar sang paman menutup pembicaraan mereka sore hari itu.