
Terdiam membisu … Arley menatap dalam, pada kedua bola mata Cipi yang terlihat begitu hitam dan hampir tak berhasrat untuk melakukan apa pun, kecuali ambisinya saat ini.
Sontak, Arley langsung menarik tangan kanannya, dan melangkah mundur untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan.
Cipi pun tersadar atas apa yang dirinya lakukan tadi. Sejenak, harapan yang ia beriakn kepada Arley, langsung runtuh berhamburan, bagikan domino yang telah di susun rapi, kemudian ditumbangkan secara paksa oleh seseorang.
“Apa yang membuat dirimu tidak puas dengaku …? Aku rasa, wajahku cukup cantik, dan jika kau mau lebih, aku memiliki dua bola ini.” Tiba-tiba, Cipi yang sedang dalam kondisi kalut, langsung membuka perban penutup dadanya, dan membuat kedua bola itu terlepas dari sangkarnya.
Arley langsung terkejut lepas, ia dengan cepat memalingkan pandangannya dari sisi Cipi.
“Bodoh! Apa yang kau lakukan!” jerit Arley, yang wajahnya kembali memerah.
“Hee … sepertinya kau tidak menolak akan hal ini.”
Demikian, Cipi mulai mendekat ke arah Arley, sambil menawarkan dirinya kepada sang remaja berambut merah.
Namun, lagil-lagi … bukannya kalimat itu membuat Arley senang, ucapan yang Cipi lontarkan, malah ber efek terbalik dari apa yang ia harapkan.
Arley langsung tampak kembali kesa, dan menggeramkan kedua sisi giginya dengan kencang.
“Dasar Bodoh!” Sontak, Arley yang kepalang kesal, untuk sejenak membaringkan tubuh Melliana di atas tanah, dan dengan sejentik kekuatannya, ia menampar Cipi, untuk menyadarkannya kembali.
“Sudah aku katakan bukan! Jika tubuhmu lebih mahal daripada bumi dan lautan!”
Bentak Arley kepada Cipi.
Cipi kembali terdiam, ia memegangi wajahnya yang merah, sambil berpikir keras, mengapa Arley menolak dirinya.
Tetapi, Cipi pun malah mengamuk kepada Arley. Ia mendorong Arley ke belakang, dan membuat tubuh sang remja berambut merah itu terbaring di atas tanah.
Sambil menggenggam jubah putih Arley, Cipi kembali menangis sejadi-jadinya di atas tubuh Arley.
“Kau-lah yang bodoh! Dasar pria yang tidak peka! Aku memang sengaja menjual diriku kepada dirimu! Mau itu dunia, atau tata surya sekalipun! Diriku ini akan aku berikan kepada siapapun, jika ia bisa membunuh lelaki sialan itu!” Jerit Cipi, sambil menjambak-jambak jubah putih Arley.
Kembali, Arley meliha tatapan depresi Cipi di kedua bola matanya. Ia tak mengerti, Cipi sampai sebegitunya ingin membunuh pria yang dirinya maksud, dan bahkan sapai ingin memberikan dirinya kepada orang yang bisa melakukannya.
“Aku bukanlah orang kaya, dan aku tak memiliki harta sepeser pun! Jika kau lebih menginginkan uang, besok aku akan menjual tubuh ini untuk mengumpulkan sebukit uang yang kau inginkan!”
Lantas, saat Arley mendengar kalimat Cipi yang penuh kedepresian itu, seketika itu juga Arley menjolak tubuh Cipi, dan menjauh darinya. Arley menyeret tubuhnya mundur, untuk memberi jarak diantara dirinya dengan Cipi.
“Tenang, Hey, tenang dulu … baiklah, aku mengerti. Berikan aku alasan, mengaka aku harus membunuh pria itu,” ujar Arley, untuk mendengar lebih lanjut, alasan mengapa Cipi sampai seperti ini.
Wajah cipi pun langsung mengembangkan senyumnya. Harapan yang ia cari-cari sejak dulu, saat ini seperti sebuah bom, yang tepat meledak di hadapannya.
Seketika itu juga, Cipi langsung memeluk Arley dengan dekapnya, dan berteriak heboh, layaknya ia menemukan harta terpendam yang berjumlah sangat banyak.
“Terima kasih! Aku sangat berterima kasih kepasamu! Wahai Rambut Merah!” ucap Cipi, yang memeluk erat Arley pada dadanya.
“A-Ahhk!” Arley yang sadar atas hal itu, mau tak mau harus terpendam di antara dua bola yang saling memantul.
Dirinya ingin segera mendorong Cipi, tapi ia takut salah sentuh, dan lebih memilih berteriak di bandingkan mendorongnya.
“Aku mengerti! Maka dari itu, cepat lepaskanlah aku! Kalau tidak, aku akan pergi meninggalkanmu!” teriak Arley, yang ingin segera lepas dari surga duniawi ini. Tapi tentu saja dirinya belum sadar, jika hal ini adalah suraga duniawi.
“A-ah! M-maaf!” Lantas, Cipi langsung melepaskan pelukannya terhadap Arley, dan melangkah mundur sambil memendam malu.
Wajah mereka berdua saat itu, tampaklah begitu merah, layaknya kulit lobster yang telah direbus matang.
Sejenak Arley berpikir keras, sambil mengamati tangannya yang hitam, ia berpendapat liar, mengapa ia menolak hal itu, padahal ia juga menginginkan hal tersebut.
“A-apakah yang sebenarnya terjadi dengan diri ini …?!” gumam Arley dalam hati, sambil mencoba mengalihkan perhatiannya.
Sejenak waktu berjalan tanpa ada suara … lantas, karena rasa prihatin Arley kepada Cipi, saat itu juga ia mematahkan egonya, untuk bertanya langsung, apa yang membuat Cipi sampai se melankoli, seperti ini.
“Baiklah, jelaskan kepadaku,” tanya Arley, yang kala itu memilih berjalan, dan kembali memeluk Melliana pada kedua lengannya.
Cipi pun mengunci kancing bajunya, di saat itu, ia mulai menceritakan kronologis mengapa ia ingin orang yang dia maksud untuk dibunuh.
“Satu tahun yang lalu …,” jelas Cipi terhadap Arley.
Lantas, kisah itu pun diceritakan secara rinci, kepada Arley.
***
Tujuh belas yang lampau ….
Di sebuah Desa, yang berada pada bagian Timur benua [Horus], tepatnya, pada desa [Tiome]. Sebuah desa yang mengutamakan Agrikultur-nya, dan pemasok gandum terbesar, untuk kota [Azurat Zlanat] juga sekitarnya.
Pada desa tersebut, hiduplah seorang bangsawan kaya, yang begitu dermawan juga rendah hati.
Warga desanya sangat mencintai sang bangsawan, bahkan, untuk setiap musimnya, mereka memberikan hasil panen mereka kepada sang bangsawan, untuk memberikan penghormatan tertinggi mereka, kepada orang yang sudah membangun desa mereka, sampai semakmur ini.
Mereka adalah Keluarga Cladea. Keluarga bangsawan yang dipimpin oleh seorang wanita, dan lebih mengutamakan anak perempuan untuk meneruskan warisan mereka.
Vione Cladea, adalah kepala dari keluarga tersebut. Dirinya sudah ditinggal mati oleh sang suami, ketika ia masih mengandung putri pertamanya, dan itu sudah tiga puluh tahun yang lampau semenjak masa ini.
Saat itu, putri pertama Cladea, sudah menjadi wanita yang cantik juga serupa dengannya.
Jika mereka berjalan di kota secara bersamaan, maka orang-orang akan mengira, jika Vione dan anaknya, adalah saudara kembar.
Namun, pada suatu hari, di saat anak Vione sedang berbelanja sendiri di kota [Azurat Zlanat], tiba-tiba dirinya menghilang tanpa kabar. Dan tepatnya sembilan bulan kemudian, tiba-tiba sang anak kembali dalam kondisi yang penuh luka, juga dalam kondisi mengandung besar.
Tentu saja Vione terlihat begitu shock dengan kondisi sang anak. Apa gerangan yang membuat anaknya yang dikira telah tiada, malah kembali dalam kondisi seperti ini?
Sang anak pun menceritakan segalanya kepada sang ibu. Pada malam itu, ia menjelaskan, jika dirinya diculik oleh, Verko Jianno, anak bangsawan tertinggi yang memimpin kota [Azurat Zlanat].
Dirinya di paksa untuk menikahi Verko, dan melayani para tamunya sampai mereka puas. Lantas, anak Vione yang bernama Panna tersebut, meyakini, jika anak yang ia kandung, adalah anak dari Verko itu sendiri.
Tentu saja, setelah mendengar cerita sang anak … Vione langsung menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka, jika anak semata wayangnya akan menjadi seperti ini, dan terlihat begitu menderita.
Demikian, tepat satu hari setelah kembalinya Panna, pada malam itu, Panna melahirkan anak yang dirinya benci, juga cintai secara bersamaan.
Namun, ketika proses melahirkan, terdengar suara keriuhan dari arah desa. Vione yang kala itu menemani masa bersalinnya Panna, sempat mengintip keluar jendela, dan menyadari, jika desa mereka diseorang oleh pasukan tentara, yang memiliki bendera kota [Azurat Zlanat].
Seketika itu juga, tiba-tiba ada seorang lelaki, yang memasuki ke kediaman Cladea denga paksa. Tentu saja Vione terkejut, dan mengira jika lelaki itu adalah pria suruhannya Verko.
Tetapi, orang itu bukanlah orang suruhan Verko, melainkan, dirinya adalah Alan, yang sudah tidak menjabat sebagai seorang prajurid, dan memilih untuk menjadi seorang pencuri demi mewujudkan jalan hidupnya.
Vione yang tak mengetahui hal itu, hampir saja bertarung melawan Alan. Utungnya, Panna yang telah selesai bersalin, berhasil menghentikan mereka, karena pertarungang itu hampir terjadi di dalam ruangan tidur Panna.
Sang anak menjelaskan, jika Alan-lah yang membebaskan Panna, sampai dirinya bisa kembali berada di rumah keluarga Cladea saat ini.
Vione pun meminta maaf kepada Alan, dan bertanya kepadanya, apa yang sedang terjadi di desa saat ini.
Alan menjelaskan, jika saat ini Verko sudah menyuruh seluruh bala tentaranya, untuk menyerang desa [Tiyome], untuk membunuh Panna, beserta anaknya.
Verko tak ingin, jika anak yang di kandung Panna, tumbuh besar dan mewarisi harta warisannya. Manusia rakus yang satu ini, bahkan bersedia menghancurkan satu buah desa, hanya untuk membunuh anak semata wayangnya.
Mendengar hal tersebut, Vione yang merupakan bekas kesatria berpangkat jendral, saat itu juga langsung turun ke medan pertempuran, dan langsung menghadapi kekacauan ini, seorang diri.
Namun, umur tak bisa membohongi kondisi fisik. Ketika itu, Vione terbunuh saat pertempuran itu terjadi. Sedangkan Panna, dirinya berhasil dibunuh sendiri oleh Verko, dan saat itu, dirinya sedang menggendong seorang bayi laki-laki, yang merupakan anak dari salah seorang pembantu pada rumah mewah mereka.
Verko mengira, jika bayi itu adalah anaknya, akan tetapi, anak Verko yang sesungguhnya, adalah seorang wanita yang telah di bawa lari oleh Alan, pergi menjauh menuju bagian Barat dari benua Horus.
Dan setelah kejadian itu, Alan bersumpah pada dirinya sendiri, jika ia akan menyelesaikan misi hidupnya, lalu akan membunuh Verko dengan kedua tangannya sendiri.
Sebelum Panna menyuruh Alan membawa anaknya pergi, ia menjelaskan, nama dari anaknya tersebut adalah, Mona Cladea. Namun, Alan lebih memilih untuk menyembunyikan nama dari anak tersebut, dengan menamainya dengan nama, Cipi.
Dengan demikian … mereka berdua berhasil selamat dari petaka itu, dan tinggal di kota [Rapysta] sampai enam belas tahun lamanya.
Dan selama enam belas tahun tersebut, Alan terus menjadi kaki tangan Verko, untuk melunasi janjinya kepada sang bangsawan korup.