
Terdiam lemas, tubunya mengkerucut seperti orang yang menanggung beban begitu berat. Kakinya ia peluk dengan kedua tangannya, lalu kepalanya ia sembunyikan di antara lutut kaki dan dadanya. Aku tak dapat bersuara kepadanya, hanya menatap pilu yang bisa kulaksanakan.
Namun jika dibiarkan begitu saja, aku takut Rubius akan berjalan di tempat yang salah. “Hey. Ini aku kembalikan.” Aku julurkan tangan ini sembari mengembalikan tongkat sihir yang berlapis tulang hewan tersebut.
Terangkatlah kepala Rubius. Ia menengadah ke arahku sembari menunjukkan wajahnya yang sedih. Kami saling bertatapan, namun kami berdua hanya berdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Sekilas kepala Rubius turun sedikit kebawah sambil ia melihat tangan kananku yang memegang tongkat sihirnya.
“Ah, ini tongkatku.” suaranya terdengar begitu rapuh, seperti orang yang baru saja selesai menangis. Lalu Rubius mengelap kedua matanya mengenakan lengan kanannya, dan setelah itu kemudian ia mengambil tongkat sihir yang aku berikan kepadanya. “Terima kasih banyak …” ucapnya dengan suara yang sangat kecil.
Ahh~ sungguh, aku tidak mengerti pola pikir pria satu ini. sebelumnya ia memiliki hawa membunuh yang begitu mengerikan, namun saat ini ia hanya terlihat seperti orang yang sering dibully. Sebenarnya ada apa dengan dirimu wahai Rubius Oz?
Duduklah aku di hadapannya . seketika itu juga Rubius terkejut, ia tidak menyangka jika aku akan duduk tepat di seberang dirinya. Wajahnya menampilkan ekspresi kebingungan namun aku hanya memberikan senyuman tipis kepada pria berambut hitam ini.
“Hey, aku ingin bertanya sedikit padamu. Itu, tongkat yang kau pegang itu, kau dapatkan dari mana Rubius?” pertanyaanku terbilang dangkal. Namun aku yakin tongkat ini bukanlah tongkat sihir biasa.
“Ahh~ Ini …? K-kebetulan tongkat sihir ini aku sendiri yang membuatnya. kakek yang merawatku saat ini adalah seorang pengrajin tongkat sihir, dan ia mengatakan kepadaku bahwa aku akan menjadi penerusnya. Demikian aku bekerja begitu keras untuk bisa mewarisi teknik dan racikannya.” Tampil senyuman hangat dari wajah Rubius yang masih lebam akibat rasa sedihnya.
Dia membuatnya sendiri?! Ini menakjubkan! Aku kira tongkat itu ia dapat dari seseorang, namun setelah aku mendengar bahwa tongkat itu ia rakit sendiri, aku sangat ingin berteman dengan pria yang satu ini!
“Wow! Menakjubkan! Aku tidak tahu jika kau adalah pengrajin tongkat sihir, kualitas tongkat ini sangatlah luar biasa! heh~ mungkin suatu hari aku ingin kau membuatkan aku sebuah tongkat sihir yang spesial hanya khusus untuk diriku.” Lalu aku menjulurkan tangan kananku kepada Rubius. “-Perkenalkan, namaku Arley, Arley Benedict!” aku memperkenalkan diri kepada Rubius.
Mata Rubius melihat ke arah telapak tanganku, pada awalnya ia terlihat ragu untuk menyalaminya, namun beberapa saat kemudia ia mengambil telapak tanganku dan saat itu juga aku mengayunkan tangan kami berdua. “Rubius. Rubius Zu Vermithrax” jelas Rubius dengan mata kami yang saling memandang.
“Salam kenal wahai Rubius!” Menyengirlah bibir ini karena aku sangat senang ketika menemukan sahabat baru. “Rubius, aku ingin bertanya kepadamu. Kenapa kau menyerang Aslan sampai ia bisa separah itu? Apakah kau menyimpan dendam kepadanya? ” tanyaku sembari melepas jabatan tangan kami.
“Tidak!! aku sama sekali tidak ada niatan untuk menyakiti Aslan sampai sejauh itu! aku hanya ingin mencoba sihir yang baru saja aku racik pada pertandingan kami tadi. tetapi setelah aku merapalkannya, segalanya tampak menjadi kosong dan hampa.” Wajah Rubius berbuah menjadi pucat. Tampaknya ia mengatakan hal yang sejujurnya.
“Menguji coba sihir? apakah yang kau maksud mantra sihir『Elium?』, aku tidak tahu jika ada orang yang bisa menyatukan dua elemen dalam satu mantra (Kecuali aku).” ucapku sambil sedikit bergumam pada kalimat akhir.
“Heeh~ ternyata kau juga tahu mengenai sihir『Elium』. Mengesankan, aku kira kau hanya anak kecil biasa yang mencoba-coba ikut seleksi ini, Arley.” Tampaknya secara perlahan Rubius mulai membuka dirinya kepadaku.
“Hmm, jangan remehkan aku Rubius, Hehe! -oh ya, aku punya satu pertanyaan lagi mengenai sihirmu. Ngomong-ngomong dari mana kau mempelajari mantra sihir『Elium』itu?, siapa orang yang mengajarimu?” ya, aku cukup heran dari mana Rubius bisa mempelajari sihir serumit ini.
“Maksudmu mantra sihir Thunder of Oz?. Ah jika kau menanyakan mantra itu, mungkin kau tidak akan percaya padaku. Sebenarnya mantra itu aku sendiri yang menciptakannya. Thunder of Oz, adalah Original Magic milikku seorang.” jelas Rubius kepada diriku. Dia tampak sedikit bangga dengan penjelasannya yang terdengar rumit.
“Kau yang membuatnya sendiri?! Waw, itu sangat menakjubkan. Dari mana kau mempelajari semua itu? apakah di tempat kau berada semua orangnya sama sepertimu Rubius?” aku sangat tertarik dengan pembahasan ini. Tampaknya pembicaraan kami bisa menjalar lebih dalam.
Namun seketika itu juga, terdengar panggilan dari Michale yang akan segera memulai pertandingan ke-150 pada seleksi tahap kedua di babak pertama ini. “Heyy ayo segera naik ke atas kaca! Kita akan segera memulai pertandingan. Ah iya, untuk peserta selanjutnya, di mohon untuk tinggal saja di arena ini!” Jelas Michale kepada kami semua.
Demikian perbincangan kami berdua harus ditunda. Berdirilah aku dari posisi duduk, lalu aku berpamitan dengan Rubius yang saat ini sedang menocba memasukkan tongkat sihirnya kedalam jubah hijau yang ia kenakan. “Hey aku duluan ya~ tampaknya kita harus melanjutkan perbincangan ini di lain waktu” jelasku kepada Rubius.
Lalu Rubius ikut bangkit dari duduknya, tampak wajahnya kembali menyeringai senang, namun sekilas semua orang menatap ke arah kami dengan tatapan sinis dan dengki. “Jangan hiraukan mereka. Biarkan saja mereka menatap ke arah kita semau mereka, yang terpenting kita terus berusaha untuk masuk kebabak selanjutnya.” aku mencoba menyemangati Rubius yang sebelumnya mulai tampak murung kembali.
Beberapa kali Rubius menganggukkan kepalanya dan akhirnya kami pun kembali naik ke atas kaca untuk melihat pertarungan selanjutnya.
Aku menarik sebuah kesimpulan. Sampai saat ini, aku menyadari bahwa Rubius adalah orang yang memiliki sifat Introvert yang begitu akut. Dilain pihak ia tidak menyukai kekerasan, namun jika ia terusik maka sifat sadisnya bisa lebih dominan dibandingkan sifat pendiamnya. Inilah sebabnya ia tidak suka dijahili oleh orang lain atau menjahili orang lain.
***
Kemeriahan kembali terjadi, para penonton saling bertepuk tangan dan berteriak gembira karena pertandingan akan dimulai kembali.
Tampak dibawah sana ada dua orang kandidat yang terlihat sudah siap untuk memulai pertarungan mereka. Yang satu adalah salah seorang wakil dari negara『Simbad』dan yang satunya adalah wakil dari negara『eXandia』. Wakil terakhir dari negara『Simbad』adalah “Polonala Pantyhouse” yang ia merupakan salah seorang rekan tim dari Eadwig saat ini.
“Berjuanglan Polonala!” teriak Eadwig menyemangati rekan satu timnya.
Lalu wakil dari negara『eXandia』adalah orang yang tidak aku kenal. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, dan ia mengenakan jubah hitam pekat, yang jubah tersebut menutupi sekujur tubuhnya, sampai-sampai aku tak dapat melihat kulitnya orang itu, seujung kuku pun.
“Pritt!!~”
Peluit dibunyikan, tanda bahwa pertandingan telah dimulai. Namun suatu kejadian yang benar-benar diluar nalar terjadi dihadapanku! setelah peluit ter-tiupkan, saat itu juga pertandingan usai! Lebih cepat dari pada pertarunganku, atau pertandingan Eadwig!
Apa yang sebenarnya telah terjadi?!
Saat peluit selesai berdering. Terdengar suara wanita berteriak kencang merapalkan mantra sihir yang tampaknya sihir tersebut adalah "Original Magic" yang mirip, namun memiliki perbedaan『Elium』 dengan yang dimiliki Rubius!
“Ice Age!~”
Seketika itu juga, mantra sihir es menggelegar menghentikan segala pergerakan yang ada di atas arena. Seisi arena membeku dengan munculnya bongkahan es raksasa yang timbul secara tiba-tiba. Bahkan es tersebut berhasil memecahkan kaca yang kami tempati saat ini. salah satu bagian terbesarnya menjulang ke atas tepat di hadapanku!
Ya! tepat di hadapan perutku! Seperti orang ini sebenarnya memang sudah membidikku sebelum ia rapalkan mantra uniknya itu!
“Priiitt!~ Pertandingan selesai!!”
Lagi, telah berkumandang peluit penutup acara pada babak pertama di seleksi tahap kedua ini. Demikian pada babak ini, para peserta telah tersisihkan menjadi setengah bagian.
Namun saat ini aku masih tidak percaya dengan kejadian yang ada di depanku!, jika kita perhatikan lagi, batu es ini hanya berjarak setengah meter dari perutku. Lalu aku melihat kearah orang yang merapalkan sihir ini.
Saat itu, tanpa disengaja mata kami saling berpapasan.
“Deg!!”
Jantungku langsung berdegup kencang! ya, sangat mengerikan, aku sangat terkejut ketika melihat ke mata orang itu. Dari pancaran matanya, aku melihat sebuah pandangan dendam yang tampak begitu menusuk hati.
"Hey! apa yang sudah aku lakukan sampai-sampai orang ini melihatku dengan tatapan itu?! apakah sebenarnya aku telah berbuat suatu kesalahan, sampai-sampai aku membuat orang ini begitu marah? " bisikku dalam hati, karena aku tak ingin berurusan dengan manusia yang satu ini.
Saat itu juga sekujur tubuhku berkedik merinding. Ini seperti sebuah tanda, bahwa roda takdir baru saja kembali berputar para porosnya, yang sebelumnya roda tersebut sempat terhenti.
Siapakah sosok orang tersebut? Mengapa ia ingin membalas dendam denganku? didalam gunda-gulana ini, tidak ada satu orang pun yang mengetahui sebab hal ini bisa terjadi, kecuali orang berjubah hitam itu sendiri. Ya aku merasakannya demikian.
***