The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 55 : Penculikan



« [Universitas Kependetaan Quostienta] »


Saat ini aku berada di depan pintu gerbangnya, pintu besi tralis yang terlihat cukup kuno ini membentang lebar menutupi pintu masuk ke dalam universitas [Quostienta]. Aku hanya menatap halaman depat universitas ini, terlihat di samping kanan pintu gerbang universitas tampak ada batu yang terukir dengan Alphabeth latin “Quostienta University of Cleric”.


Jika aku lihat dengan saksama, universitas ini tampak seperti universitas pada umumnya, hmmm mungkin mirip dengan Universitas Harvard di Inggris raya kali ya? Tampak di bagian depan kampus ini terdapat taman kampus yang membentang luas, beberapa pepohonan dan juga berbagai jenis bunga tertanam di setiap sudut taman tersebut.


Kemudian jika kita lihat lebih jauh, sekitar 300 meter dari pintu gerbang, terdapat bangunan kampus yang terlihat cukup kuno, walaupun demikian tampaknya kampus ini di rawat dengan cukup baik, bisa di pastikan bangunan ini tampak masih segar dengan melihat cat merah tua yang tergores di seluruh lapisan temboknya, mungkin cat nya baru di ganti sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu … entah lah.


Kalau jenis bangunannya seperti kastil eropa kuno berpadu dengan perpustakaan Clasic yang bisa kita temui dimanapun. Saat ini aku cukup tertarik untuk bersekolah di tempat ini.


Dari dalam tas dimensi yang ku ikat di pergelangan pinggang, aku menarik buku [PROTOCOL] yang didalamnya terselip surat undangan untuk bersekolah di Universitas ini.


“Baiklah, mungkin ini adalah pilihan yang terbaik untuk ku ….”


Namun belum sempat aku mengambil buku tersebut, terdengar pekikan seorang wanita dari jarak yang kurasa lumayan jauh.


Spontan aku langsung memandang kearah sumber suara dengan penuh tanda Tanya.


“Suara apa itu, sepertinya tadi aku mendengar teriakan seorang wanita!? Tapi dari mana asalnya?”


Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas berlari menuju arah timur dari posisiku sekarang, di sebuah gang perumahan yang ada di sekitar komplek Universitas [Quostienta], tampak ada segerombolan pria yang akan melakukan tindakan Asusila pada seorang wanita yang aku rasa dia masih seorang pelajar.


“Apa yang kalian lakukan …!? Tolong lepaskan aku!!” Teriak sang wanita dalam keadaan panik.


Tetapi para pria yang berjumlah 6 orang tersebut tidak menggubris perkataan sang wanita, dengan sigap mereka memegangi kedua tangan dan kaki sang wanita, kemudian mereka mengikat sang wanita dengan kebat, dalam hitungan menit mereka berhasil membawa kabur sang wanita.


Namun tidak segampang itu wahai para penculik! Kalian melakukan sebuah kesalahan yang fatal, yaitu membiarkan aku mengamati perbuatan keji kalian.


Berusaha untuk bergerak lebih cepat dari biasanya, aku mengeluarkan tongkat sihir kemudian melantunkan mantra yang aku sangat hafal di luar kepala.


“Gale Ventum~”


Dengan cepat aku terhempas ke udara dengan kecepatan yang cukup tinggi, benar, aku berusaha untuk memantau mereka yang sedang melarikan diri, penculikan seperti ini biasanya memiliki komplotan yang sudah teroganisir dengan baik, ya setidaknya ini hasil pengalaman dari profesiku sebelumnya, jadi aku tahu betul pola pikir mereka.


Ya ini adalah tanda-tanda yang tidak baik, tampaknya organisasi yang menampung penculik-penculik ini adalah organisasi yang cukup besar, para pelaku penculikan ini bisa dengan leluasa melakukan aksi mereka, padahal kondisi saat ini masih dalam keadaan sore hari yang terang. aku terus memantau mereka, sampai akhirnya mereka berhenti di aliran sungai yang berada pada bagian bawah jembatan penghubung antara kota dalam, dan kota luar. Tepat di bawah jembatan itu terdapat sebuah gorong-gorong yang cukup besar.


Aku turun ke tempat tersebut, dan berusaha untuk mengendap-ngendap masuk kedalam gorong-gorong tersebut. Kondisinya gelap gulita, namun aku masih bisa melihat secara sekilas walaupun sangat susah untuk berjalan dalam kondisi seperti ini.


Dari dalam gorong-gorong tersebut kemudian terdengar suara pembicaraan antar beberapa pria, sepertinya saat ini aku telah sampai di markas para rombongan penculik tadi ….


“Hey, apa kau yakin dengan identitas anak ini Tomas ….? Kau tidak salah ambil kan? ”


Terdengar suara seorang pria yang intonasi nadanya cukup berat. Aku tidak tahu siapa yang berbicara karena aku sedang berusaha untuk bersembunyi di balik tembok gorong-gorong pembuangan air yang sepertinya kondisi lokasi ini berada di bawah tanah.


Ada seperti ruangan kecil di bawah sini, dan tampaknya mereka menggunakan ruangan itu untuk merancang segala tindakan kriminal mereka.


“Tentu saja boss, tidak salah lagi, anak ini adalah anak dari si ******** Lucas Novolski, kami tidak mungkin salah menculik anak yang sangat mencolok ini, pokoknya segala susunan rencana kita sudah sempurna seperti yang boss perintahkan semalam …”


“Hmmm, baiklah kalau begitu malam ini juga kita antarkan paket ini ke lokasi yang Client perintah kan.”


Aku melirik ke lokasi ruangan tersebut, tampaknya pria yang yang berintonasi berat pada pita suaranya ini adalah pimpinan dari gerombolan penculik tadi, dugaan ku benar, penculikan ini adalah penculikan yang di rencanakan, dan sepertinya “Client” yang mereka maksud adalah orang yang menjadi dalang penculikan ini.


Tampaknya sang wanita dalam keadaan tak sadarkan diri, hmmm jumlah mereka saat ini ada sebelas … tidak mereka ada dua belas orang, biasanya jika aku berhadapan dengan oang sebanyak ini aku memilih untuk menyelamatkan diriku sendiri, tapi kali ini aku berbeda dengan diriku waktu itu.


Dalam kondisi yang hening tiba tiba berdecak kaki ini memecah genangan air dari aliran air kotor yang berlinang di gorong-gorong ini.


“Siapa itu!!” tentu saja mereka semua langsung refleks mengeluarkan senjatanya, namun setelah mereka mengetahui bahwa aku adalah seorang bocah ingusan, mereka langsung menurunkan kewaspadaan mereka.


Namun mereka melakukan kesalahan yang kedua, yap, tidak seharusnya mereka menurunkan kewaspadaan walaupun hanya kepada seorang anak kecil.


Saat itu aku menyeringai jahat kearah para penjahat itu.


Tampaknya hari ini jiwa maniak bertempur ku akan kembali bergejolak ….


***