
not edited !
Agresi militer, adalah suatu upaya dan daya untuk menghancurkan suatu wilayah.
Tujuan utamanya adalah untuk merebut daerah tersebut dan dijadikan wilayah bagi orang yang melakukan penyerangan.
Sejenak Arley memasang raut wajah serius dengan mulut terbuka sedikit sambil menatap tajam Misa yang tengah berada di hadapannya.
“Kau … pernah bertemu raja iblis?!” dengan kepanikan yang arley buat sendiri, ia berusaha menggali informasi dari Misa.
“Entahlah, tapi mungkin tante itu mengenalinya,” jawab misa setengah hati. Karena ia merasa sedikit bosa, misa pun memperhatikan jari kuku tangan kirinya seperti anak yang malas mendengar perkataan orang tua
“Tante siapa?!” dengan tegas Arley menghentakkan kaki kirinya sebab ia tak sabar mengetahui orang yang Misa sebutkan.
Namun Misa tak menjawab pertanyaan Arley, ia hanya terdiam sembari menodongkan tongkat sihirnya ke arah Arley.
“Hey bisakah kita cepat menyelesaikan urusan ini? aku ingin segera mati,” jawab Misa dengan sangat cuainya.
Sekilas, Arley kembali melihat dari kedua mata misa, terpancar cahaya kuning keemasan yang terlihat tidak normal.
“Mungkinkah?!” Arley mulai menduga-duga jika keadaan Misa saat ini sedang dalam pengaruh sihir seseorang.
Dia kemudian kembali memasang kuda-kuda tempurnya untuk cepat membuat misa lelah dari pertarungan ini.
“Aku harus segera menyadarkan kak-Misa, jika ini dibiarkan, waktu akan segera habis sampai penyerangan itu tiba!” ucap Arley dalam hati kecilnya.
Saat ini, Arley sedang bertarung dengan waktu. Namun di realitanya, Misa sangatlah sulit untuk dikalahkan.
Jika Arley hanya menggunakan sebilah pedang, kemungkinan besar, sampai subuh pun pertarungan ini tidak akan selesai.
Namun tidak ada cara lain, hanya dengan kekuatan tekad, Arley akan berusaha mengalahkan Misa sekuat tenaganya.
Menggenggamlah tangan Arley dengan begitu kencang, kemudian ia mengangkat pedang panjangnya tersebut ke arah Misa yang kali ini, Misa tampak kembali serius selepas ia melihat Arley mulai bergerak untuk melawannya.
“Kau mau bermain kembali?” dengan sempoyongan misa berjalan menuju Arley. ia berlagak seperti orang yang tengah ambuk berat.
“Tch!” berdecaklah bibir Arley sembari ia mulai berlari menuju ke arah Misa.
Arley mulai dengan brutalnya menebas Misa yang saat itu tampak seperti ia tidak berniat untuk melawan Arley yang menggunakan pedangnya.
Menguaplah Misa saat Arley mencoba untuk mencelakainya,”sampai kapan mau begini?” tanya misa dengan mata yang tertutup saat ia menghindari serangan Arley.
“Apa!?” tentu saja Arley terkejut, ia tidak memahami bagaimana bisa, seorang Misa mengelak dari serangan yang Arley tebaskan kepadanya dalam kondisi mata Misa tengah terpejam.
Melihat kondisi seperti ini tidaklah membuahkan hasil yang bagus, Arley mencoba berfikir bagaimana ia bisa mengalahkan Misa.
Terhentilah langkah Arley setelah beberapa menit ia terus menebaskan pedangnya.
“Sudah selesai?” tantang Misa yang kelihatan sudah bosan dengan serangan Arley.
Sejenak Arley berpikir dengan sangat intens, ia mencoba untuk mensimulasikan berbagai cara yang bisa ia lakukan demi menghentikan pergerakan Misa.
“Mungkinkah aku harus menggunakan cara itu?” gumam arley dalam hatinya.
Namun belum selesai ia berfikir, tiba-tiba saja Misa melantunkan mantra sihirnya untuk menyudahi semua ini.
Dengan di arahkannya tongkat sihir yang Misa pegang kearah Arley, saat itu juga, mantra sihir yang sudah masyhur di mata para penonton, kembali tampil degan keindahannya.
“Ice Age!”
Rapal Misa dengan begitu dahsyatnya. Seketika itu juga seisi Arena yang berbentuk lingkaran ini langsung berubah menjadi mangkuk bersisi es tawar.
“Sial!” teriak Arley sebelum ia berubah menjadi remahan pada es tersebut.
Membekulah segalanya, yang tersisa hanya Misa dan Perry, namun kondisi Perry sangat tidak memungkinkan untuk melawan Misa, kakinya gemetaran dan wajahnya penuh dengan linangan air mata.
“Apa kau juga akan melawanku?” tanya Misa sembari menyodorkan tongkat sihirnya kearah Perry.
Kala itu mereka berdua berada di pinggir Arena, tampaknya Misa memang sengaja tidak membekukan pinggiran arena tersebut, agar ia bisa berjalan padanya.
“Arley!” teriak Perry dengan senyuman yang kembali pada wajahnya.
Meliriklah Misa kearah belakangnya, tampak wajah lawannya yang sangat sulit ia kalahkan tengah dalam kondisi terbakar dengan api berwarna hijau.
Ternyata, dari dalam batu es yang Misa ciptakan tersebut, Arley mampu melelehkannay dengan mantra sihir yang ia dapatkan ketika ia melawan Amylia.
“Incendium Mortem! ”
Teriak Arley sembari menebas kencang sekelilingnya.
Saat itu juga, gundukan es yang tadinya memenuhi seisi arena sampai memunjak keatas langit, langsung saja terbelah menjadi dua bagian yang terpisahkan.
Lewatlah Arley dengan menenteng pedang berlapis hijau pada tangan kirinya, sedangkan warna bajunya berubah menjadi warna merah.
Berdetak jantung Misa dengan jebat, wajahnya memerah seperti orang yang sedang jatuh cita.
“Oh Arley!” teriak misa dengan begitu gembira. Dia membuka tangannya seperti orang yang meminta pelukan, namun ia sadar jika dirinya tak bisa melakukan itu. “Ah! aku tidak boleh!” ucap Misa yang kemudian memeluk dirinya sendiri dengan gelisah.
Arley kemudian menatap tajam Misa dengan garangnya, “Kesinilah kau Misa!” tampak wajah Arley begitu kesal dan ia sudah tidak lagi menaruh respek kepada Misa, saat ini juga Arley tidak akan memanggil misa dengan panggilan kakak lagi.
Namun bukannya kesal, Misa malah semakin kasmaran dengan apa yang Arley lakukan terhadapnya.
Dengan sekali entakkan kaki, Misa melompat deras ke arah depan bagaikan peluru yang baru saja di tembakan dari pelatuknya.
Terlihat kali ini jika Misa sangat bahagia dengan perlawanan yang Arley berikan.
“Hey Arley~ sebelum kita mati bersama, ayo kita bermain sebentar!”
Seketika itu juga misa berlari secara zigzag, ia mencoba untuk mengalihkan pengelihatan Arley untuk mengecohnya.
Namun apa yang Misa lakukan, tidak membuat Arley pengelihatan Arley teralihkan, bahkan Arley mampu melihat seluruh pergerakan Misa dalam kondisi lambat.
“Aneh … mengapa aku merasakan kekuatan yang begitu dahsyat muncul dari dalam diriku?” arley berbicara dalam hatinya, “Dan juga, dari mana aku tahu mantra sihir itu?” saat itu juga ia melihat genggaman tangan kirinya yang tengah memegang gagang pedang.
“Kau lihat kemana!” lalu, serangan kejutan masuk lewat sebelah kanan Arley.
Misa mencoba menendang kepala Arley dengan sepatunya, “HUH!?” namun rencana Misa berhasil digagalkan Arley.
Dengan hanya tangan kanannya, Arley mampu menggenggam sepatu bisa yang hampir mengenai kepalanya.
Dilemparkannyalah tubuh Misa itu ke sebelah barat arena dengan hanya sekali ayunan.
Namun, bagaikan meriam, tubuh Misa langsung trertanam pada cekungan arena yang bentuknya seperti mangkuk ini.
“Ugh!?” Misa masih terheran-heran dengan kondisi Arley yang tampak lebih kuat dari kondisinya saat melawan Amylia.
“Kau!” tunjuk Misa selepas ia bangkit dari jatuhnya, “Mengapa kau bisa begitu kuat!?” teriak misa dengan sekencang-kencangnya.
Namun, saat itu Arley baru tersadar, jika selama ini, bukan dirinya lah yang bertambah kuat, namun pedang yang ia genggamlah yang membuat dirinya kuat.
“I-ini … apa ini?!” Arley melihat ke dalam bola kristal yang tertanam pada tangkai gagang pedangnya tersebut.
Saat itu, dari dalam bola tersebut, tampak seperti ada sebuah lambang yang Arley sepertinya pernah lihat 8 tahun yang lalu.
***
----------------------------------------------
Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!
Always be Happy
And Happy Reading Guys!