
Aroma manis menyelimuti kami dari segala penjuru, aku mengamati dengan saksama, di atap rumah ini terdapat lampu yang berasal dari [Elemental Orb].
Lalu tembok rumah yang berwarna putih ini, aku rasa ini adalah coklat putih yang di keraskan, lalu kursi dan meja ini, semua terbuat dari coklat dan Wafer.
Selepas mengamati setiap penjuru, lalu aku terfokus pada wanita yang mengenakan mantel yang menutupi seluruh tubuhnya, tingginya mungkin sekitar dua meter, dari sini saja aku sudah tahu jika sang wanita bukanlah dari bangsa manusia.
Sofie duduk dengan tenang di samping ku, sesekali dia bersenandung ria menikmati suasana hangat ini.
"Aku baru ingat, bukan kah kak Sofie ingin menjadi pembuat Roti? Pantas saja kakak sangat menikmati seluruh cemilan di tempat ini."
"Hmm aku terkesan dengan memori mu Arley, hahaha makanya aku dari tadi hanya mencicipi segala jenis manisan ini"
Beberapa saat kemudian, sang wanita yang menutupi kepalanya dengan mantel tersebut membawakan kami tiga buah cangkir teh hangat dan roti Oval (mirip dengan France bread) yang di taburi gula pasir di atasnya.
"Nah ayuk kita makan dulu ~"
Sang wanita tersenyum riang, tampaknya dia juga menikmati kondisi seperti ini.
Sang wanita duduk di sebuah kursi tepat di hadapan kami, lalu dia mengambil secangkir teh yang telah di buat nya tadi.
"Ngomong-ngomong, kenapa di waktu yang sedemikian larut ini, kalian bisa berkeliaran di tengah hutan? Pastinya kalian punya alasan kan mengapa hal ini bisa terjadi?"
Ucap sang wanita sambil menikmati teh ber aroma Jasmin di cangkir keramik berwarna putih susu tersebut.
Lalu Sofie tanpa aba-aba, ia memakan roti oval tersebut, tampak dari wajahnya ia sangat menikmati moment-moment ini.
"sebenarnya kami berniat untuk pergi menuju kota kak..., ahh maafkan aku kak, aku belum memperkenalkan diri, nama ku Arley, Arley Gormik. dan teman ku yang satu ini bernama Sofie, Sofie Redhood"
Sang wanita menunjukkan ekspresi yang tidak biasa, ia seperti mengetahui sesuatu selepas aku memperkenalkan diri.
"Ara.. Gormik? Hmmm sudah lama aku tidak mendengar marga itu. Kapa terakhir aku mendengar nya ya...?"
Ucap sang wanita sambil mengingat-ingat. aku sangat terpanah dengan senyumannya, wajahnya sangat mulus dan putih kulitnya bagaikan susu.
Tanpa aku sadari wajah ku mulai memerah akibat tersipu dengan kecantikan sang kakak.
"Arley, perkenalkan, nama kakak adalah Lily, Lilyana Orange."
"Ah.. Kak Lily ya.. Nama yang cantik"
Lily kemudian tersenyum lembut, hal itu membuat ku salah tingkah, aku mengalihkan pandangan ke tembok kosong sebelah kiri. Lalu aku mulai mengajukan pertanyaan kembali agar kondisi tidak mengeruh.
"ehmm, kalau boleh tahu, kakak bukan dari bangsa manusia kan..?"
Lalu Lily terdiam sambil memandang heran ke arah ku, dia seperti terkesan dengan deduksi yang baru aku lontarkan.
"Fufufu, kau anak yang menarik Arley, bagaimana kau bisa tahu?"
Lalu sang wanita membuka penutup kepalanya, gemilang bagaikan sutra yang lembut. Rambut Lily memantulkan cahay lampu, warnanya sama seperti namanya, kuning Oranye, begitu juga dengan matanya, di samping itu, kuping nya menunjukkan identitas yang paling mencolok.
"Ahh, sudah ku duga, kakak dari bangsa Elf-"
"Burrffpt!!!" Sofie memuncratkan air teh nya dari dalam mulut, ia tampak sangat terkejut ketika melihat wajah Lily.
"k-k-kakak seorang Elf!!?! HEEEE!!! Aku kira bangsa Elf sudah punah ratusan tahun yang lalu!!?!"
Sudah punah? Beribu pertanyaan langsung hinghap di benakku, untuk dunia yang memiliki sihir aku tidak ragu jika tidak hanya bangsa manusia yang mendiami dunia ini, namun untuk punahnya suatu kaum, aku baru kali ini mendengarnya.
"Kak Sofie? Benarkah itu!!?!"
Tanya ku ke pada Sofie, lalu aku melirik ke arah Lily dengan wajah cemas, aku berharap ia tidak menganggap kami manusia yang ingin memburu nya.
"Benar Arley... Aku pernah mendengar jika para petualang sesekali bertemu dengan bangsa Elf, tetapi mereka langsung di tuduh penipu karena bangsa Elf sudah ratusan tahun yang lalu di bumi hangus kan..."
Aku langsung terkejut setengah mati, di buru? Di bumi hangus kan? Apa-apaan ini, mengapa bangsa yang hampir mirip dengan manusia ini bisa di Genosida seperti itu? Se-brengsek apakah manusia di zaman dahulu.
Lagi, aku melirik ke arah Lily, ia tidak banyak menampilkan ekspresinya, lalu beberapa saat kemudian ia tahu jika aku memandang wajahnya, namun ia hanya tersenyum hangat kepada kami.
"Apa pun yang terjadi di masa lalu, semua itu hanyalah tinggal kenangan, aku tidak menaruh dendam dengan siapapun yang membuat kehancuran pada masa itu..."
"ermm kalau boleh tahu... Kakak sudah hidup berapa tahun...?"
"Arley!! Kamu tidak sopan!! Menanyakan umur seorang wanita itu tidak baik tahu!!"
Walaupun demikian, Lily tampak gembira dengan kondisi yang seperti ini, ia beberapa kali tertawa ringan seperti menikmati Kondisi riang di malam hari ini.
"Tidak apa-apa Sofie, hmmm kalau tidak salah, aku sudah berumur... Sepuluh... ribu tahun...?"
"SE-SEPULUH RIBU TAHUN!!!?!"
Serentak aku dan Sofie berdiri dari kursi kami, air teh yang ada di salam mulut Sofie mengalir deras keluar, sepertinya Sofie sampai lupa menelan teh yang baru saja ia coba untuk minum.
"Ara.. Mungkin tidak sebanyak itu sih..."
"a... Ahaha... Kak Lily bercanda ya rupanya..."
"hmm.. Mungkin sekira 900 tahun..?"
"ITU SAMA SAJAA!!"
Lagi, ucap kami serempak kepada wanita bernama Lilyana itu.
"fufufu! Ekspresi kalian sungguh menarik"
Aku dan Sofie kemudian terdiam dan tersipu, wajah tertawa Lily sangat menawan, air matanya yang keluar tipis dari kelopak mata yang berwarna merah jambu, membuat Lily terlihat lebih anggun.
"Oh~"
Serentak aku dan Sofie mengeluarkan kalimat yang kami sendiri tidak menyadari akan hal itu.
***