The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 250 : Pertemuan Cipi & Loise (Part 1)



Mendidih darah merah Arley pada nadinya. Matanya melotot, dan perasaanny sangat kesal terhadap Verko.


Di sisi lain ... Cipi masih menceritakan kepada Arley, alasan mengapa ia ingin Verko di musnahkan dari muka bumi [Soros] ini.


“Sebenarnya ... aku tak sengaja bertemu dengan Loise pada malam itu. Secara tak sengaja, aku sempat tertangkap oleh orang-orang bayaran Verko, untuk mencari wanita malam, yang akan disewakan di Kasinonya.”


“Kau?! Apakah berarti kau sudah ...?!—” belum selesai Arley berbicara, saat itu juga, pembicaraannya dipotong langsung oleh Cipi.


“—Tentu saja aku masih suci!” bantah Cipi, dengan wajahnya yang merah membara. “malam itu, untungnya aku bertemu dengan Loise, yang masih bersiap-siap ingin melayani tamunya.”


Di dalam rintikan hujan yang mulai berubah deras, untuk sejenak, Arley meminta Cipi untuk memindahkan posisi pembicaraan mereka.


“Tunggu dulu, sebaiknya kita pindah tepat. Aku tidak ingin Melliana sakit gara-gara hujan ini.”


Menerima masukan dari Arley, kala itu, mereka berdua memilih untuk berbicara di dalam kereta kuda, yang posisinya sempat terbalik, sebelum pada akhinya Arley membenarkan posisinya menjadi tegak lurus kembali.


Lantas, keempat kuda yang sempat terpingsan tadi, Arley lepaskan tali kekangnya, dan menaruh mereka di pinggiran jalan serta membiarkannya bebas.


Seusai menaruh keempat kuda itu di pinggir jalan, Arley kemudian kembali masuk ke dalam kereta kayu, yang juga telah bersandar di pinggir jalan, sebab sang remaja sengaja memindahkannya ke posisi tersebut.


Tampaklah badan Melliana beserta Alan, tergeletak di sisi yang berseberangan dalam kondisi masih tak sadarkan diri.


Di dalam situasi ini, Arley kemudian meminta Cipi untuk melanjutkan kisah, mengapa dirinya bisa bebas saat ia sempat tertangkap oleh kaki tangan Verko saat itu.


.


.


.


***


.


.


.


Kurang lebih ... satu tahun yang lalu.


Pada malam hari itu, Cipi sedang berjalan sendiri di sudut pinggiran kota [Rapysta].


Alan yang tengah menjalankan perintah langsung dari Verko, kali ini sengaja meninggalkan Cipi seorang diri, sebab ia tahu jika misi kali ini akan sangat berbahaya untuk wanita remaja seperti Cipi.


Cipi yang selalu mempercayai hidupnya kepada Alan, saat itu hanya bisa menerima apa pun perintah yang pria berambut panjang itu berikan kepada dirinya.


Naasnya, di saat Cipi ingin membeli makan malam untuk mengganjal perutnya yang lapar ... tak sengaja, orang-orang suruhan Verko sedang melakukan pengintaian untuk mencari wanita baru, yang bisa dipekerjakan padai Kasino baru milik Verko.


Saat itu Kasino ini masih merupakan bisnis gelap, belum secara terang-terangan diperkenalkan ke masyarakat umum, dan Verko juga masih sering menyogok aparat agar bisnisnya berjalan lancar di kota tersebut, sebelum akhirnya, izin perdagangannya di berikan langsung oleh walikota [Rapysta] pada saat itu.


Cipi yang tertangkap, kemudian di bawa ke ruang pemilihan wanita, yang berada di ke kediaman Verko kala itu.


Lokasinya tak seberapa jauh, dari rumah kecil yang sempat menjadi Kasino gelap miliknya.


Lantas, di saat Cipi tengah diperiksa oleh salah seorang wanita yang menjadi tim kesehatan bagi wanita malam Kasino Verko tersebut, kala itu, secara tak sengaja Loise bertatap wajah dengan Cipi.


Loise yang telah diberitakan oleh kakak tirinya mengenai asal usul Cipi, langsung menyembunyikan Cipi bersama dirinya, pada kamar rias yang juga berfungsi sebagai ruang pelayanan bagi para pelanggannya.


Di ruangan itulah, Loise memperkenalkan dirinya, juga menceritakan asal usul Cipi yang sesungguhnya.


Dan pada malam itu juga, Cipi tidak mungkin bisa keluar dari ruangan tersebut, sebab banyaknya tamu yang telah hadir, di saat dirinya bersembunyi pada ruangannya Loise.


Jika Kasino digunakan sebagai tempat berjudi, rumah mewah milik Verko saat ini, diperuntukkan olehnya sebagai tempat hiburan malam, khusus bagi kaum pria yang ingin melepaskan keringatnya secara nikmat.


Pada moment ini jugalah ... Cipi harus melihat, betapa beratnya tugas Loise yang harus menggunakan tubuhnya untuk bertahan hidup sampai detik ini.


Hati Cipi hancur ... namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, selain mendengarkan kisah Loise seusai ia bermain keringat dengan beberapa pria yang ia layani saat itu.


***


Pintu dengan kencang tertutup, dan Loise tampak begitu tergesa-gesa sambil menggengam tangan Cipi yang juga ikut basah akibat berkeringat, sebab berlari cukup kencang.


“Kau baik-baik saja?” tanya Loise, yang masih belum mengenakan makeup-nya.


Cipi pun menganggukkan kepalanya, sambil melihat sekeliling ruangan itu dengan intens.


Ruangan yang penuh dengan warna merah, dan gorden mahal berbentuk rumbai bunga. Tampak begitu mempesona, dan moodnya sangat lembut bagi mereka yang berada di dalamnya.


“I-ini ...?”  ucap Cipi.


Lalu, Loise tersenyum, sambil menarik Cipi untuk duduk di atas kasur tidur ukuran, King Sizenya, kala itu.


“Tenanglah, aku tahu siapa dirimu. Perkenalkan, aku adalah Loise, Loise Lapis,” jelas Loise kepada Cipi.


“Lapis?!” Lantas Cipi terlihat cukup terkejut saat mendengar nama belakang milik Loise. “Sama dengan nama belakang Kak Alan ...,” ucapnya dengan nada pelan.


“Aku adalah adik tirinya,” ungkap Loise, sembari ia memasang bedak pada dirinya, tepat di depan kaca rias yang bersebelahan langsung dengan kasur tersebut.


Cipi terdiam sambil meratapi wajah cantik Loise, wajahnya memerah sedikit sembari mengagumi kecantikan dirinya.


“Cantiknya ...,” gumam Cipi tanpa di sengaja.


Loise yang mendengarkan perkataan Cipi kala itu, lantas langsung tersenyum manis, sembari memberikan ungkapan rasa terimakasihnya kepada Cipi.


“Terima kasih~ kamu juga cantik, kok. Apalagi kalau kamu di rias menggunakan bedak ini. Mau coba pakai?”


Seketika itu juga, Cipi langsung menggelengkan kepalanya dengan kencang. Pada saat itu, dirinya sempat curiga, jika ia akan dijadikan sebagai wantia malam juga oleh Loise.


Lantas, Loise hanya tersenyum lebar sambil melanjutkan merias dirinya dengan indah.


“Mungkin kamu masih belum di umur yang ingin mempercantik diri, ya, Cipi? Hahaha, tapi, nanti ... jika kamu bertemu dengan pria yang sangat kamu cintai, pasti kamu akan memiliki perasaan untuk ingin mempercantik diri seperti ini.”


“Apakah Kak Loise juga merias diri untuk bertemu dengan pria yang Kakak cintai?” tanya Cipi dengan begitu polos.


Ketika itu, Cipi masih belum mengetahui ... jika Loise adalah wanita pekerja malam. Wajah Loise pun berubah muram dengan senyuman terpaksa pada bibirnya.


“Tidak ... untuk kasus pada pribadiku, mungkin ... aku tidak akan pernah bisa mencintai seorang pria lagi, sampai diri ini berubah menjadi tanah.”


Cipi yang masih bingung dengan ucapan Loise, kemudian secara spontan langsung menanyakan sebabnya.


“Kenapa ...?” ujarnya dengan polos.


Kala itu ... dengan wajah yang penuh kesedihan, Loise manatap muka Cipi dengan sejuta penyesalan, terpasang pada ekspresinya.


“Tubuh ini ... sudah muak dengan sentuhan pria. Aku tidak tahu lagi harus hidup dengan cara bagaimana ... jika bukan untuk membuat Kak Alan bertahan hidup, mungkin, saat ini aku sudah bunuh diri bersama dengan ibuku.”


Sekejap, di saat Cipi melihat ekspresi kelam yang Loise tampilkan, dirinya langsung menyadari, jika Loise sudah melewati beribu-ribu penderitaan yang lebih perih di bandingkan dirinya selama ini.


Ekspresi dingin Loise membuat hati Cipi tercabik-cabik, layaknya kulit basah domba, yang ditarik paksa menggunakan rarusan paku padanya.


“A-apa yang telah terjadi ...?” tanya Cipi kepada Loise.


“Cipi, sekarang, umurmu sudah menginjak berapa tahun?”


“L-Lima belas ...,” jawab Cipi, terhadap pertanyaan Loise tadi.


“Begitu, ya ... berarti, sekarang kamu sudah cukup umur untuk mendengarkan kisah ini ....”


Suhu udara pun berubah menjadi dingin, Saat Loise mengubah posisi duduknya dan ia menarik kursi riasnya itu, mendekat ke arah Cipi, sambil menggenggak kedua tanga si remaja wanita berambut cokal tersebut.


“Waktu itu ....” Dengan penuh kehampaan yang terpancar dari kedua bola mata Loise—Cipi pun juga ikut membalas genggaman tangan si wanita malam tersebut.


Dirinya bisa merasakan getaran yang amat kencang, di saat Loise memulai kisah masa lalunya itu. Dengan sekali tenggakan liur yang dalam, Cipi mempersiapkan hatinya untuk mendengar kisah yang Loise ingin sampaikan.