
Malam hari …
Waktu telah kembali, pada saat di mana Arley baru saja selesai mendengarkan seluruh alasan Cipi, mengapa ia meminta Arley untuk memusnahkan Verko dari muka bumi [Soros] ini.
“Jadi begitulah kisahnya ….” Demikian, Cipi yang telah selesai menceritakan kisahnya, terlihat cukup sedih, sembari ia menggenggam kain pada baju yang ia kenakan.
Namun Arley tak berkata apa-apa. Wajahnya tak dapat dipandang sebab ruangan di dalam kereta ini sangatlah gelap.
Yang dapat Cipi ketahui saat itu … hanyalah, bagian Wajah Arley yang menoleh ke arah Melliana.
Lantas, Arley tiba-tiba berdiri dari duduknya, dan kemudian, ia menggendong Melliana pada kedua lengannya, dan bergegas pergi dari kereta tersebut.
Cipi yang mengira Arley tak tertarik dengan ceritanya, seketika itu juga langsung bangkit dan ingin menghentikan Arley.
“T-Tunggu!? Apakah kau benar-benar tidak akan membantuku?!” ucapnya dengan nada yang begitu terdesak.
Seketika itu juga langkah Arley terhenti. Saat itu, Cipi hanya bisa melihat punggung ARley, sebab pencahayaan mereka hanya berfokus pada mantra sihir cahayanya CIpi saja.
Akan tetapi … ketika Arley memutarkan wajahnya untuk menoleh ke arah Cipi, seketika itu juga Cipi langsung melangkah mundur karena rasa takut yang ia rasakan saat ARley memandangi dirinya dengan wajahnya itu.
Wajah Arley penuh dengan kerutan otot, giginya tampak menggeram kuat, dan matanya yang hijau, terlihat begitu mengintimidasi bagi siapapun yang melihatnya.
Benar-benar seperti binatang buas ….
“Kalau tidak salah … namamu, Cipi, bukan?” gumam Arley dengan nada suara dinginnya. “akan aku terima dengan baik, alasanmu itu. juga, aku berjanji … jika aku akan menghabisi orang itu, bahkan tepat di depan matamu … Cipi!”
Sontak, Wajah Cipi langsung memerah … seketika itu juga ia menangis sejadi-jadinya di tengah malam yang gulita.
Tak ada lagi rintik hujan, suara siapa pun akan menggema bila berteriak di tempat yang sesunyi ini.
Betapa Leganya Cipi, saat ia mendengarkan ucapan Arley kala itu. Waktu untuk memburu Verko sudah tidak lama lagi, dan dirinya sangatlah senang, sebab Loise akan terbebas atas kerja keras dirinya.
Di dalam kabut malam selepas hujan … Arley menghilang tertelan olehnya. Hanya teriakan Cipi saja yang menjadi penghantar bagi Arley dan Melliana.
.
.
.
***
.
.
.
Pukul tiga pagi ….
Embun tebal masih berkeliaran di sekeliling desa [Uaccam].
Saat itu, paman Radits dan Varra, masih belum mengistirahatkan tubuh emreka, sebab menunggu kehadiran Arley yang terlampau lama.
Mereka merasa sangat cemas, sebab Arley tak kunjung pulang semenjak penculikan itu terjadi.
“A-apakah Arley baik-baik saja, ya, Paman …?” Dengan suara yang begitu gemetaran dan gagap, Varra berusaha memecah kecemasannya dengan membuka omongan.
“Tenang saja, kita semua tahu seberapa gilanya kekuatan Arley,” ujar paman Radits, untuk meringankan beban cemas Varra kepada Arley. Akan tetapi, tentu saja sang paman juga meraskan kecemasan yang setara, dengan apa yang Varra rasakan saat ini.
Sedangkan mereka para orang dewasa beserta Varra, masih sadarkan diri, untuk menunggu kedatangan Arley kembali ke rumah reot ini.
Benar saja, tak berapa lama kemudian, paman Radits mendapatkan Firasat, jika keberadaan Arley sudahlah tidak jauh.
Lantas, sang paman langsung berlari menuju pintu depan dan berdiri terdiam pada halaman depan rumah tersebut.
“Paman?! Ada apa!” Begitu pula dengan Varra. Dirinya menganggap sikap sang paman sangatlah Aneh, mengapa tiba-tiba sang paman malah beranjak ke depan rumah dan berdiri terdiam, di dalam kabut yang tebal itu.
“Arley akan segera datang ….” Tersenyumlah sang paman, sembari ia mengeluarkan keringat dinginnya—berharap jika dugannya tepat sasaran.
Dan tentu saja dugaan sang paman benar! Dalam waktu lima menit, tiba-tiba, paman Radits beserta Varra, berhasil mendengarkan jejak kaki Arley yang menapak pada rumput kering.
Namun, tebalnya kabut menghalangi mereka untuk berlari mengejar Arley, sebab itulah, sang pama beserta Varra, hanya menunggu kedatangan Arley dengan penuh rasa cemas.
Sapai akhirnya, yang mereka harapkan pun tampak di depan matanya. Wajah pucat Arley, dengan rambut merahnya, beserta mata hijaunya yang bersinar, saat mendapatkan pantulan cahaya.
“Arley!” Demikian, seketika itu juga, paman Radits beserta Varra pun langsung melompat untuk memeluk Arley.
Kecemasan mereka berdua langsung sirna, saat tubuh kedua orang ini memeluk hangat badan Arley, yang ketika itu tengah meggendong Melliana pada lengannya.
“A-ah! Aahaha, apa yang kalian lakukan? Betapa rindunya kalian dengan diriku ini.” ujar ARley, yang kala itu sengaja melontarkan beberapa kalimat candaannya.
“Bodoh-bodoh-bodoh!” ucap Varra, yang ketika itu menangis sambil memeluk Arley. “kau tahu betapa cemasnya aku menunggumu pulang! Tapi … tapi aku bersyukur kau kembali pulang dalam kondisi bernyawa, terima kasih … teriama kasih karena sudah pulang dengan selamat, Arley!” Degan kalimat hangatnya itu, Arley pun tersenyum dengan tulus, dan sempat melupakan amarhnay untuk sejenak.
Rasa cemas telah hilang, Rindu pun telah sirna. Sang paman beserta Varra, kemudian menarik Arley untuk segera masuk kedalam rumah tempat mereka menginap saat itu.
Arley tampak kesusahan saat dirinya di tarik masuk kedalam rumah. Namun, sesampainya ia di dalam rumah, Jasmin pun langsung menangis, karena mengetahui jika anak gadisnya masih dalam kondisi baik-baik saja.
Tentu saja sebelumnya Arley sempat menjelaskan hal itu kepada Jasmin, jika Melliana tidak dalam kondisi yang berbahaya, dan dirinya haya pingsa akibat shock saja.
Dengan begitu, Melliana pun digeletakkan pada kasur kamarnya. Pada malam itu, sang ibu menemaninya tidur, sedangkan Arley, Varra dan paman Radits, mereka masih ingin berbicara mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Duduklah ketiga orang ini di ruangan tengah. Lantas, Arley menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya.
“Kau berhasil mengalahkan ‘Party Leader’ mereka?! Woah, kau memag hebat, Arley. Tak ada yang aku ragukan dari Skill bertempurmu!” ucap paman Radits, sambil menepuk punggung Arley.
Varra pun hanya tampak tersenyum, tapi di dalam hatinya, ia merasa begitu bangga memiliki teman yang sangat hebat seperti Arley. Terlebih, orang itu adalah orang yang ia cintai.
“Tapi, Paman … ada hal yang aku harus ceritakan kepadamu, dan ini … akan berpengaruh pada misi kita yang akan datang ….” Dan secara tiba-tiba, raut wajah Arley langsung berubah, 180 derajat. Tampak begitu sedih dan muram, juga merasa kesal, secara bersamaan.
Awalnya, paman Radits terdiam saat ia melihat raut wajah Arley. “Arley ….” Sang paman belum pernah melihat ekspresi Arley yang seperti ini, maka dari itulah ia agak bingung harus berbuat apa.
Tetapi, pada Akhirnya, sang paman memberanikan diri untuk bertanya, sebab mengapa Arley bisa sampai seperti ini.
Diusapnyalah Rambut Arley, untuk menenangkan si remaha berambut merah itu. “Kisahkanlah, nak. Aku hadir di sini, untuk mendengarkan tanggapanmu.”
Lantas, setelah Arley mendengarkan apa yang sang paman ucapkan, langslung lepaslah rasa beban yang ia sempat simpan, karena keinginannya untuk menghabisi Verko ketika mereka bertemu degan dirinya.
“Baiklah paman … kalau begitu ….” Demikian, ARley menceritakan apa yang ia inginkan, dan alasan mengapa ia harus melakujan itu.
Pada saat itu, kabut mulai menghilang sembari mata hari terbit … dan terbitnya matahari kala ini … bersamaan dengan terbukanya mata kedua orang, yang baru saja mendengarkan kisah yang Arley sampaikan kepada mereka berdua.
Dan ketiak matahari sudah menampakkan keseluruhan tubuhnya, saat itu juga, dua kalimat perintah terucapkan dari mulut sang paman,
“Arley … Laksanakan!” Ucap sang paman, yang ketiak itu menunjukkan ekspresi marahnya, atas apa yang terjadi pada Cipi juga keluarga Lapis.