
Hening dan genting, dua kalimat itu yang bisa mencerminkan kondisi ku saat ini.
Saat ini di depanku ada seorang pria yang bisa saja membunuh seorang gadis wanita tanpa segan-segan, dan di belakang ku ada seorang gadis yang berusaha melarikan diri dari aksi balas dendam yang ia sendiri tidak tahu apa sebabnya.
Kondisi yang sangat semrawut, tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, aku merasa ada bagian dari diriku yang akan hilang jika aku meninggalkan gadis ini begitu saja.
“Kau …?! Hey bocah, bukan kah kau sudah di bunuh oleh Trimol? Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri jasad mu berada di dalam gerobak mayat itu, bagaimana mungkin …!?!”
Ucap pria bernama Pastel sambil ia memasang kuda-kuda siap tempur. pedang yang tipis dan berbilah dua tersebut di todongkan ke arah ku sambil ia mengkeram kuat gagang pedang yang terbuat dari besi dengan kedua tangannya.
Tidak mau kalah aku juga ikut menodongkan tongkat sihir ku yang berwarna hitam ke arah sang paman, sedangkan sang gadis masih dalam kondisi tertahan dan di bekap oleh kedua orang prajurit yang ku kira mereka adalah post guard dari rumah mewah ini.
Tapi ini tidak baik … jika aku menyerang si Pastel bisa-bisa wanita itu akan di jadikan tameng oleh mereka, kalau begitu …
Sejenak aku melirik ke belakang para prajurit penjaga yang menyekap sang gadis, di belakang mereka ada genangan air yang entah dari mana asalnya, aku sangat beruntung, ya, aku bisa menggunakan air tersebut.
“Percutiens Aquae! ”
Seketika warna bajuku berubah. dengan cekatan aku mengibas tongkat sihir ini ke arah para prajurit tersebut. Air yang ada di belakang mereka dengan cepat menyembur bagaikan peluru tumpul yang menghujam ke kepala para prajurit tersebut.
Beruntung nya kepala mereka terlindungi dengan helm besi. Walaupun demikian saking kuatnya serangan tersebut membuat helm mereka penyok bagaikan alumunium yang di pukul dengan palu.
Tubuh kedua prajurit tersebut ambruk ke depan, sedangkan sang wanita selamat tak terluka, syukurlah, sekarang aku bisa fokus pada pria bernama Pastel ini.
Terlihat dari wajah Pastel, matanya terbuka lebar bagaikan ia tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi, namun tidak hanya berdiam diri, tampaknya Pastel telah memiliki rencana yang cukup matang untuk mencegah terjadinya hal-hal yang akan menggagalkan rencananya.
“Cepat hubungi pihak kepolisian!! Rumah kita telah di susupi oleh orang tidak di kenal!”
Teriak sang pria yang memiliki kumis tebal tersebut, cih sialan jika seperti ini kami tidak bisa melarikan diri begitu saja … kalau aku membawa wanita ini lari, yang ada malah aku akan di tuduh sebagai penculik.
Aku harus mencari cara yang tepat untuk pergi dari tempat ini ….
“Paman … aku terkesan, tidak ku sangka kau akan menghubungi pihak kepolisian untuk membereskan kami. Tapi bukan kah kau melakukan kesalahan? Bagaimana jika kakak ini melaporkan mu kembali dengan tuduhan penculikan, lagipula aku hanya anak kecil, jadi mana mungkin mereka percaya jika aku akan membawa kerusakan di rumah mu ini bukan?”
“Hehehe … apa kau tidak tahu dengan yang namanya kekuatan uang? Segalanya bisa di beli dengan uang wahai bocah ingusan.”
Sial! sudah ku duga dia akan menyuap kepolisian … ini buruk! Ini benar-benar sangat buruk! Aku tidak ingin berkutat dengan pihak berwajib, aku harus menyelesaikan semua ini sebelum kepolisian datang.
Aku kembali menodong kan ujung tongkat sihir ini ke arah Pastel, juga mempersiapkan mantra apa yang harus aku rapal kan selanjutnya. di kota seperti ini, aku tidak bisa secara mendadak membunuh seseorang tanpa sebab.
Dilihat dari berbagai sisi, untuk keluar dari tempat ini hanya ada satu jalan yang bisa aku tempuh, yaitu dengan membuat paman ini pingsan ditempat dan membiarkan anak gadis ini menjelaskan segalanya ke pihak kepolisian, jika demikian, aku harus bertarung dengannya.
Tiba-tiba entah mengapa bibir ini menyeringai lebar tak terkontrol, dan jantungku berdebar dengan kencang, aku merasakan kebahagiaan yang tak seharusnya aku merasa senang dengan perasaan ini. Ya, aku merasakan kebahagiaan ketika aku sedang dalam kondisi bertarung antara hidup dan mati.
Genangan air di belakangku masih terkumpul banyak, sekali lagi aku mengaktifkan sihir air untuk menyerang sang paman yang sudah dalam kondisi siap tempur.
Namun tampaknya sang paman dapat membaca gerak gerikku sebelum aku sempat mengarahkan tongkat sihir ini ke arah genangan air. dengan cepat ia melompat dan menghunuskan pedang panjang nan tipisnya itu ke kepalaku tanpa ragu-ragu.
“Percutiens Aquae !!”
Namun tentu saja aku tidak menyerah begitu saja, sihirku aktif dan air yang ada di genangan tersebut berubah bentuk menjadi sebilah pedang yang bisa aku gerakkan sesuai imajinasiku sendiri.
Aku arahkan tekanan air ini untuk menyerang sang paman, namun dengan mudahnya Pastel membelah sihir airku seperti pisau membelah kertas. Jarak kami semakin mendekat ditambah pedang yang di gunakan Pastel adalah pedang yang cukup panjang dari pedang biasanya
Tidak ada yang bisa ku pikirkan secara runut lagi, aku hanya berusaha untuk menarik air yang sudah terbelah dua akibat serangan pastel sebelumnya. Niat ku pada awalnya adalah untuk menggunakan air ini sebagai pengecoh agar Pastel merasa takut atau terintimidasi ….
Namun aku tidak menyadari jika baju yang ku gunakan berubah warna menjadi biru muda, ketika aku menarik genangan air tersebut dan membuat lingkaran pelindung di depan ku, tiba-tiba air ini berubah menjadi keras dan solid. Namun pada saat ini aku belum paham akan hal ini.
H-huh? Aku tidak bisa melihat …? Apa yang terjadi, mengapa segalanya terlihat kabur dan berkabut? T-tunggu mengapa tiba-tiba tubuhku merasakan hawa yang amat dingin?!
Tiba-tiba terdengar suara besi yang saling beradu tepat di depan ku, refleks aku melompat mundur dan berhenti sempurna di depan sang gadis berambut perak itu, kalau tidak salah paman ini memanggilnya “Vanilla?” yap, Vanilla sang gadis berambut perak.
T … Tembok es!?! Apa yang tengah terjadi, w-Woa!? Baju ku berubah menjadi biru muda, jangan-jangan… [Elium!?!] aku bisa menggunakan elemen campuran tanpa menggunakan batu sihir ?!? menakjubkan!! Ini benar-benar menakjubkan!!
Setelah aku melompat mundur, aku baru menyadari sebab mengapa aku tidak bisa melihat dengan jelas, ya, air yang aku kendalikan dengan sihir beberapa saat yang lalu telah berubah menjadi tembok es yang sangat dingin dan tebal.
“Kamu! Apakah ini semua kamu yang melakukannya?!”
Vanilla tiba-tiba menepuk punggungku, tentu saja aku refleks melihat kebelakang dan yang aku dapatkan adalah wajah sang gadis yang berbinar-binar akan pengetahuan.
“errr … i-iya kak ... tampak nya begitu … tapi aku tidak tahu mengapa aku bisa melakukannya … ini pertamakalinya aku melakukan ini.”
Namun pembicaraan kami terpotong dengan datangnya Pastel ke arah kami sambil berjalan memutari tembok es tersebut. Aku dengan sigap kembali ke kuda-kuda bertarung dengan menyodorkan tongkat sihir ini ke arah Pastel.
Namun ekspresi wajah Pastel terlihat cukup terkejut.
“T … tidak mungkin, Sihir Es?! Mengapa anak ini bisa menggunakan sihir es?! Di dunia ini hanya beberapa orang saja yang bisa menggunakan sihir campuran, lalu mengapa boca sekecil dia mampu melakukan hal seperti ini …?!”
Awalnya Pastel hanya terfokus memandang tembok es yang tak sengaja aku ciptakan, namun tiba-tiba matanya berubah tajam dan memandang kejam ke arahku.
“Ini tidak bisa di biarkan, Anak seperti mu sangat berbahaya jika di biarkan hidup, Sudah ku putuskan, saat ini juga kau harus mati agar kau tidak menyusahkan kami ke depannya!”
Tunggu dulu, kami? Apa maksud kalimat paman itu barusan? bukankah kata kami itu di sematkan untuk beberapa orang atau golongan?!
Secepat kilat sang paman melompat langsung ke arah aku dan Vanilla, namun kali ini aku tidak dapat menghindari serangannya yang amat cepat tersebut, aku tidak dapat melihatnya dengan kedua mata ini, gerakannya bagaikan sambaran petir.
“BLAAaAaaarrr!!” Tubuh mungil ini terhantam ke tembok semen yang ada di belakangku, hancur tak berbentuk, bebatuan yang ada di belakangku menjadi remuk bagaikan mie mentah yang di pukul dengan kedua tangan, lalu bagaimana degan tulang-tulang ku? Entahlah, saat ini aku sedang tidak bisa merasakan apapun, yang ku rasakan hanyalah aku tidak bisa bernafas.
Namun belum selesai di situ saja, mataku juga kali ini tidak dapat melihat pergerakan pria tersebut. aku melirik ke arah dimana Vanilla berdiri, namun di sana tidak ada seorangpun selain Vanilla sendiri. Aku menoleh kekiri dan kekanan dengan cepat, namun tetap saja aku tidak menemukan sang paman yang barusan saja menendangku dengan sepatu kulitnya.
Dimana?! dimana keberadaan paman berkumis tebal tadi?! Aku tidak bisa menerima serangannya sekali lagi!, yang ada aku bisa mati jika aku terkena serangannya yang sangat kuat ini!
Namun tiba-tiba tubuh Pastel muncul di hadapanku tanpa mataku bisa mengikuti pergerakannya, tangan kanannya memegang pedang tipis yang bilahnya terlihat sangat tajam, lalu di angkatlah pedang tersebut dengan posisi pedang yang menukik ke bawah dan di arahkan ke kepalaku.
Apakah pria ini benar-benar akan membunuh ku?!
“Bocah yang malang … seandanya saja kau tidak bertemu kami hari ini, mungkin kau masih bisa hidup di kemudian hari dan menjadi penyihir yang hebat … sayang sekali nasib berkata lain.”
Dengan mata yang dingin dan kejam, pria itu tanpa segan-segan menghujam mata pedangnya tepat di kepala ku yang mungil ini. Bagaikan waktu berjalan lambat, aku bisa melihat hujaman mata pedang itu mengarah ke tengah hidungku, ah … aku benar-benar mati kali ini, ya aku mati untuk yang kedua kalinya ….
“Jrash! “
***