The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 90 : Kebohongan Publik.



Tubuhku bergetar. Angin menderu kencang di suasana sepi hutan kota. Perlahan awan mendung berkumpul dan menutup suasana hari yang tadinya selalu cerah.


Pada kedua mataku ini, yang aku lihat hanya tatapan keriput Paman Albion yang memandang cemas wajahku. Sesekali ia berkedip untuk menanti kalimat apa yang akan aku sampaikan kepada beliau.


Namun aku tak bisa berkata-kata. mulutku hanya terbuka gemetaran. Juga pita suara ini tertahan semu pada kerongkongan kering yang tertempel pada rongga leherku.


Sejenak aku menelan ludah untuk mengurangi tensi tubuh yang perlahan menurun akibat fungsi otak secara cepat mengeluarkan hormon depresi.


"S-sebentar paman, aku tidak mengerti apa yang ingin Paman sampaikan. Paman berkata bahwa benua ini akan hancur esok malam? bagaimana bisa paman mengetahui hal tersebut?" sesungguhnya aku masih tidak percaya dengan kalimat Paman Albion barusan.


Namun tiba-tiba Paman Albion berdiri pada kedua kakinya. Ia menatap syahdu bangunan istana kerajaan yang jaraknya hanya tinggal 200 meter dari posisi kami saat ini.


"Lihatlah ke sana," sang Paman menunjuk ke arah gerbang kerjaan yang tampak sepi. "Bukankah ada yang tampak aneh dari kondisi kerajaan kita saat ini?" jelas beliau dengan tubuh gemetaran


"A-aneh?" sekilas aku melihat sekeliling gerbang kerajaan yang tampak sepi. Aku mencerna pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang paman. Lalu aku melihat bahwa, memang tepat di pelataran istana, tidak ada satupun orang yang menjaga disana.


"Kosong!? mengapa kondisi kerajaan tampak begitu sepi!? bukankah seharusnya penjagaan istana kerajaan harus di perketat, karena kelima raja sedang berada disana saat ini juga?" ucapku dengan suara lantang. Sontak mulutku langsung dibungkam dengan telapak tangan Paman Albion.


"Sstt ... tenang," bisik sang paman sambil menaruh jari telunjuknya pada bibirnya sendiri. "Saat ini, kondisi istana memang sedang kosong. Tidak ada satu prajurit pun yang menjaganya, kau tahu sebabnya?" tanya sang Paman dengan gelisah.


Lalu aku menggelengkan kepalaku dengan kencang. Aku benar-benar buta akan hal ini.


"Syukurlah kau tidak tahu sebabnya. Karena aku tidak akan menjelaskan hal itu kepadamu," sang paman lalu melepaskan tangannya dari mulutku.


"Paman tidak mau memberitahu aku sebabnya? lalu mengapa Paman peduli denganku serta menyuruhku untuk keluar dari kota ini? bukankah sebaiknya semua yang paman ucapkan lebih baik tertanam didalam benak Paman sendiri saja? jika pada akhirnya tidak ada suatu hal pun yang bisa aku lakukan untuk paman di kemudiannya? " aku dibuat semakin bingung. Kalau ia enggan memberitahu aku sebabnya, mengapa beliau memberitahu aku mengenai hal ini?


Saat itu wajah sang Paman langsung berpaling ke samping kanan untuk menghindari tatap mata denganku. Terlihat jika ia sedang memikirkan suatu hal.


"Aku hanya bisa menyampaikan satu hal lagi kepadamu Arley." sontak wajah sang paman kembali menjadi serius, dan terlihat ada tatapan harapan dari mata beliau. "Penyebab utama dari seluruh kegaduhan ini adalah, karena kedua hadiah yang diberikan lima raja untuk kedua pemenang turnamen yang tengah berlangsung saat ini!" lagi, sang paman berbisik ke arah kuping kiriku, namun ia berbisik dengan nada yang cukup tegas.


"Deg!"


Jantungku kembali melompat kencang. Aku semakin bingung dengan kondisi yang terjadi saat ini, namun tiba-tiba sang paman berdiri dari duduknya, dan ia tampak bersiap-siap untuk pergi meninggalkan aku.


"Ini sudah hampir 10 menit. Aku rasa hanya itu yang bisa aku sampaikan. Ingat! pada malam hari ini juga, setelah pertandingan usai. Kau harus pergi dari kota ini menuju benua yang berada di ufuk utara!" tegas sang Paman dengan keringat dingin yang berkucur deras.


"T-tapi paman?!" aku membantah beliau dengan halus, namun belum selesai aku mengucapkan kalimat yang tengah aku susun, sang paman memotong pembicaraanku.


"Tidak ada tapi-tapi! sekali lagi dengarkan! saat ini juga, aku akan berangkat menuju laut selatan. Jika kau ingin selamat, pergilah menuju ufuk utara dan pergilah ke benua baru untuk bertahan hidup disana!" sang Paman memarahi aku dengan sentakan suara yang kejam. Namun aku tahu mengapa beliau bisa se-marah ini.


"Aku paham paman. Tapi maaf, aku tidak akan mengikuti perintah Paman!" demikian aku juga tegas mencekal perkataan Paman Albion.


"A-apa?! kau sudah gila?! hey Arley, aku sedang tidak bercanda saat ini!" Paman Albion kembali memarahi aku. Namun aku tidak gentar.


Aku membalikkan tubuhku ini menghadap ke arah stadion『El-Colloseum』. Dengan berani aku memberikan salam perpisahan kepada sang paman.


"Tidak Paman, aku yakin dan percaya dengan perkataanmu. Namun aku tidak bisa meninggalkan kota ini begitu saja. Saat ini, aku sedang terikat sumpah, dan jika aku melawan sumpah itu, maka aku tidak akan hidup dengan tenang." perlahan aku berjalan menuju ke arah stadion.


Sontak sang paman hampir mengejarku, namun sebelum sempat ia melangkahkan kakinya, aku membalas amarahnya dengan optimisme yang pasti.


"Paman Albion!" bentakku kepada beliau, lalu aku melirik sedikit ke arah dirinya yang tengah dirundung pilu. "Tenanglah Paman, setelah aku memenangkan turnamen dan seleksi ini. Aku akan langsung terjun ke laut selatan dimana Paman akan berada," ucapku dengan senyuman tipis.


"A-Arley!? Kau sudah gila ya?! Hey tunggu! Arley! HEY ARLEY!" teriak sang paman dengan suaranya yang keras. Namun tetap saja aku tidak mempedulikannya.


Aku terus berlari sampai akhirnya aku tiba di arena stadion. Saat ini tepat 10 menit telah berlalu, dan kondisi di alun-alun stadion mulai kembali normal walaupun masih tampak ramai.


Kembali aku berlari menuju pintu masuk stadion bagian barat. Lalu bergegas aku masuk ke ruang tunggu para peserta, yang pada saat itu, ternyata seluruh peserta pertandingan sudah berkumpul di dalamnya.


Tentu saja tujuan utamaku untuk menanyakan sebab mengapa orang bernama Paroki itu marah kepadaku, dan aku ingin meminta maaf kepadanya, tidaklah tercapai.


Sesampainya aku di dalam ruangan berbentuk pentagon ini, Eadwig, Amy, Rubius dan Aurum telah berkumpul dan mereka semua tengah memegang bungkusan makanan yang tampaknya telah habis isi dari dalam bungkusan tersebut.


"Arley! kesini!" teriak Eadwig dengan suara lantangnya.


Kemudian bergegaslah aku menghampiri rombongan dengan kostum yang berbeda warna itu sambil tertunduk lemas. Ya, sampai saat ini masih terpikirkan olehku, tentang seluruh hal yang Paman Albion sampaikan kepadaku tadi.


"-Hm? kau tidak apa-apa Arley?" tanya Aurum sambil memandang wajahku. Sontak aku terkejut akan hal itu dan saat itu juga aku berusaha untuk melupakan apa yang sang Paman Albion ucapkan padaku.


"A-ah! aku tak apa-apa, hanya merasa sedikit lelah saja," ucapku sambil memejamkan mata, dan tampaknya keringat dingin keluar dari pori-pori wajahku.


"Hey benarkah demikian?! aku tidak ingin melawan orang yang sedang sakit loh," Amy memegang kepalaku dengan santainya, demi mengecek suhu tubuhku. Tentu saja aku terkejut, namun aku tidak bisa menolak tangan sang putri dengan semena-menanya.


"Hahaha, aku tidak apa-apa kok kak Amy. Hanya sedikit lelah karena tidak dapat menemui orang bernama Paroki itu." aku mencoba mengalihkan perhatian mereka semua.


"Ah itu Paroki~" ujar Rubius sembari menunjuk ke arah pintu masuk arena.


"Iya, tapi sepertinya sudah terlambat. Saat ini, aku sudah tidak punya waktu untuk berbicara kepadanya lagi." jelasku dengan nada yang cukup gemetaran.


Tampak mereka semua memperhatikan aku dengan pandangan curiga. Lalu dengan tajamnya Eadwig langsung menanyakan hal yang paling sulit untuk aku jawab.


"Apa yang terjadi Arley, aku tahu kau sedang menyimpan suatu hal yang sangat penting," cetus sang Pangeran kerajaan『Simbad』dengan tajamnya.


Keheningan terjadi sesaat, namun kali ini aku terselamatkan oleh suara Michale yang menggelar dari luar ruangan.


"Hey para hadirin sekalian! kembali lagi ke acara kedua pada festival hari perdamaian dunia ini!~" demikian, kemeriahan terjadi di dalam arena pertandingan.


"Gulp! ~"


Dengan begitu kuat aku menelan ludah. Lalu aku berpikir sejenak dengan apa yang baru saja terjadi padaku.


"Eadwig, aku tidak bisa sampaikan apa yang baru saja aku terima saat ini. Tetapi, nanti malam, Setelah pertandingan selesai. Aku ingin kalian semua datang ke toko roti 'Sofie' untuk mendengarkan persoalan yang sangat penting," lalu aku bergerak menuju pintu masuk lapangan arena untuk menutup pembicaraan ini.


"Ya untuk saat ini, mari kita fokus bertanding!" ujarku kepada mereka semua.


Kami pun akhirnya memasuki arena pertandingan, dan pada saat ini juga, aku berpikir untuk menyelesaikan seluruh pertandingan ini secepat mungkin.


Ya, mungkin dengan keberadaan mereka berempat, negara ini bisa di selamatkan!


***