The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 114 : Pertarungan Antar Sahabat.



not edited!


Seleksi tahap kedua pada babak kelima telah usai.


 


 


Kali ini para panitia sedang menyiapkan arena pertandingan untuk puncak acara.


 


 


Para panitia yang memiliki elemen tanah, dengan lihainya mereka mengukir arena pertarugan yang tampak sedikit berbeda dari lapangan yang biasa digunakan oleh para peserta sebelumnya.


 


 


Mereka merubah bentuk lapangan pertandingan menjadi bulat dan sedikit mengkerucut kedalam tanah. Bentuknya agak mirip dengan arena gasing.


 


 


Saat ini, telah terpilih lima orang kandidat terpilih, yang layak untuk di adu diatas kanca pertandingan.


 


 


Menurut hasil data dari tabel status yang Michale lakukan untuk pengambilan data, menunjukkan bahwasanya lima orang inilah orang yang paling terkuat pada tahun ini, dan layak untuk mengikuti babak final.


 


 


Kelima orang tersebut adalah, Arley, Eadwig, Rubius, Misa, dan Perry.


 


 


Saat ini, kelima orang tersebut sedang berada di ruang tunggu para peserta, atau yang sering di sebut dengan ruangan pentagon.


 


 


Ya, mereka yang pada awalnya menunggu pertandingan pertama di ruangan pentagon, kali ini untuk babak final mereka harus menggunakan ruangan ini lagi untuk menunggu perintah panitia agar mereka bsia bertanding di babak final.


 


 


Sembari mereka menunggu panggilan dari Michale, Eadwig pun membuka pemicaraan kepada Arley.


 


 


“Hey, apakah kau bisa mendengarku Arley?” tanya Eadwig yang berada di sudut utara atas ruangan pentagon.


 


 


Saking sepinya kondisi ruangan saat ini, suara Eadwig pun bisa langsung kedengaran di telinga Arley.


 


 


“Ya, tentusaja,” jawab Arley sambil melihat kearah Eadwig.


 


 


“Tak kusangka ruangan ini bisa sampai sekosong ini, jika aku mengingat hari pertama pertandingan, rasanya seperti mustahil percakapan seperti ini bisa terjadi,” dari sudut selatan bagian kanan bawah, Rubius melontarkan kalimatnya dengan suara cukup keras.


 


 


“Haah, aku juga tak percaya bisa mencapai batas ini,” dari sudut sebelah kanan atas, Perry berbicara dengan suara sedang.


 


 


Sontak saat itu juga Arley, Rubius dan Eawdig memandang bingung kearah anggota tim Amylia yang hanya tinggal dia yang tersisa di ajang turnamen ini.


 


 


“Pfft! Hahaha!” secara serempak, Arley, Rubius dan Eadwig tertawa lepas karena komentar Perry yang terdengar rancu.


 


 


“Hey, apa yang kalian tertawakan!” tegur Perry yang wajahnya memerah, “Hentikan! Atau kalian bertiga akan aku laporkan kepada Kapten Amy!” ancamnya dengan wajah memerah.


 


 


Seketika itu juga mereka bertiga terdiam, lalu mereka mencoba menahan tawanya karena takut menyakiti perasaan Perry.


 


 


Keheningan pun terjadi kembali. Lantas, sejenak Arley melirikkan matanya karah kebelah kanan atas ruangan pentagon ini.


 


 


Di tempat Arley melirikkan matanya, terdapat seorang wanita yang memandang dirinya dengan kejam. Ya, ia adalah Misa.


 


 


Karena ia selalu di tatap dengan intens, Arleypun akhinrnya mencoba untuk membuka percakapan dengan Misa.


 


 


Mengarahlah kepala Arley menuju kearah Misa, lalu ia membalas tatapan Misa dengan tatapan normal.


 


 


“H-hey, kak misa …,” tegurnya kepada Misa yang saat ini penampilannya sangat berubah dibandingkan 8 tahu yang lalu.


 


 


Namun Misa tidak menjawab pertanyaan Arley, ia haya memandang tajam kearah Arley dengan tatapan dendam.


 


 


Tak menyerah begitu saja, Arley mulai melontarkan pertanyaan lanjuta.


 


 


“Apa kabar kak Misa … sudah lama ya kita tidak bertemu,” ucap Arley sembari memaksakan senyumannya kepada Misa.


 


 


Kala itu, RUbius dan Eadwig yang melihat hal ini, langsung meneklan ludan mereka berdua karena kecanggungan yang terjadi diantara Arley dan Misa.


 


 


Namun saat ini Arley tidak mempedulikan Eadwig dan RUbius. Lagi, ia mencoba membuka percakapan kepada Misa.


 


 


“K-kak? Apakau kau mendengarku?” sekali lagi Arley meanyakan pertanyaan kepada Misa.


 


 


Bergeraklan kepala Misa mengahap sudut timur, karena ia sudah tidak menggunakan tudungnya lagi, maka rambut misa yang berwanra biru gelap tersebut, menutupi wajahnya yang tampak terlihat lebih dewasa dibandingkan 8tahun yang lalu.


 


 


 


 


Selepas kalimat itu terlontarkan, Misa kembali tidak mempedulikan Arley.


 


 


Percakapan mereka pun berakhir, Arley merasa ia tidak bisa melakukan percakapan dengan Misa sebelum ia memenangkan pertandingan ini.


 


 


Dilema mulai merebah keseluruh perasaan Arley, ia tahu jika pertandingan ini selesai, maka masalah yang lebih besar akan tiba.


 


 


Karean ia ingin tidak memikirkan masalah lebih besar itu menghampirinya saat ini, maka Arley kembali berusaha melupakan masalah tersebut, ia berusaha untuk tetap fokus ke pertandingan yang ada di depannya.


 


 


***


 


 


Waktu yang di tunggu-tunggu telah tiba, dengan suaranya yang begitu keras, Michale memanggil kelima kandidat untuk bergegas masuk kearena pertandingan yang telah usai di renovasi.


 


 


Keluarlah kelima kandidat dengan penuh percaya diri.


 


 


Saat itu juga Arley, Rubius, eawdih, dan Perry. Tampak terkejut selepas mereka melihat Arena pertandingan yang baru.


 


 


Bentuknya seperti parabola yang tertanam di bawah tanah. Bergegaslah mereka berempat berjala menuju arena tersebut.


 


 


Setelah kelima kandidat berhasil masuk kedalam arena pertandingan, Michale akhirnya mengumumkan peraturan yang harus di turuti saat pertandingan  berlangsung. Namun sebelum itu, tentu saja ia akan memeriahkan acara dengan


 


 


“Selamat siang wahai para hadirin sekalian! Apakah kalian masih bersemangat di hari terakhir turnamen kita ini!” teriak Michale menggelegar.


 


 


“WAAAaaaa!” ketika itu juga, teriakan para penonton mengisi penuh gemuruh didalam arena pertandingan.


 


 


“Okay, bagaimana dengan kalian berlima?!” tunjuk Michale kepada kelima finalis turnamen ini. Namun tentu saja tidak ada dari mereka yang berteriak seperti yang Michale harapkan.


Berdecak lah bibir Michale, karena apa yang di harapkannya dari kelima finalist, tidak terpenuhi, namun ia kmebali memeriahkan acara dengan sifatnya yang perinag itu.


 


 


“Wahai kelima finalis! dengarkan peraturan yang akan aku ucapkan dengan baik,” sejenak Michale tampak jika Micahle tengan berusaha untuk merogoh secarik kertas dari dalam kantung baju jasnya, “Ah ini dia!” ucap Michale selepas ia mendaparkan apa yang ia cari.


 


 


“Para hadirin dan kelima finalis sekalian! Peraturan yang akan digunakan dalam turnamen penutup pada har ini adalah!” lagi Michale mengambil jeda di tengah-tengah penyampaiannya, “tetap lah bertahan sampai darah penghabisan!” terang Michale dengan hebohnya.


 


 


Namun tapaknya Eadwig tidak mengerti ucapan Mciahle, “Sebentar pak!” ucap Eadig sambil mengangkat tangan kanaknya, “Maksudnya apa ya pak? Jadi kami harus bertahan sampai kapan?” dengan lugunya Eadwig menanyakan hal tersebut.


 


 


Michale pun tampak sedikit terkejut, sebetulnya ia juga tak tahu bsia sampai kapan pertandingan ini akan berakhir, maka dari itu ia menjawab pertanyaan Eadwig dengan jawaban yang sangat hambar.


 


 


“y-yaa, sampai tersisa dua orang di antara kalian,” jawab Michale sembari ia melirik kearah lain. Sengajaa Michale melakukan hal tesebut, sebab utamanya karena ia tak paham mau jawab apa.


 


 


Tetapi reaksi yang Eadwig berikan malah cukup berbeida dari yang Michale harapakan.


 


 


“Baguslah kalau begitu! Dengan demikian aku bisa membantai mereka berempat dan mengambil hadiah tersebut bukan?!” Dengan kalimatnya tersebut, saa itu juga, keempat peserta lainnya merasa terprovokasi.


 


 


mereka yang berada di dekat Eawdig saat itu juga langsung melompat mundur dari dekatnya. Tampaknya tensi pertempura mulai berkobar.


 


 


Michale yang mendapati apa yang terjadi dilapangan saat ini, sangatlah manark. maka dari itu ia kembali bersemangat dan langsung memulai pertandingan.


 


 


“okay, terserah kalian menterjemahkan apa! Tapi inilah waktunya kalian bertandng. Lets the battle ! begin!” teriak Michaled engan suaranyan yang nyaring tersebut.


 


 


Dan saat itu juga, pertempuran hebat antara para sahabat terjadi.


 


 


***


 


----------------------------------------------


 


 


Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


And Happy Reading Guys!