
Riuh namun tampak sepi. Beberapa orang tengah membuat gerombolan mereka sendiri, dan aku melihat terdapat gerombolan orang yang sekiranya aku mengenali mereka. Ya, di sudut kiri bagian atas pada ruangan berbentuk pentagon ini, terdapat Eadwig, Amy, Aurum Stella, dan Rubius yang tengah berbicara mengenai suatu hal. Lalu aku berjalan menuju tempat mereka.
“Hey, jadi kalian akan melawan siapa?” tanyaku kepada mereka dengan pertanyaan yang ringan.
“Ah Arley! Kalau aku hanya akan melawan salah seorang dari tim Yellow Eagle, salah satu teman dari Aurum. Dan tampaknya pertandinganku tidak akan terlalu sulit,” cakap Eadwig seperti biasanya.
“Hey, perkataanmu seperti meremehkan timku wahai Eadwig sang pemberani,” cetus Aurum Stella dengan senyuman tipis pada bibirnya.
“Hahaha, kalian terlihat sangat tenang. tapi syukurlah, setidaknya apa yang aku rasakan sebelumnya hanya perasaanku saja.” ucapku dengan perasaan lega.
Tetapi tiba-tiba, mereka semua menatapku dengan tatapan tajam. Aku sedikit tersentak dengan pandangan mereka, namun beberapa saat kemudian Eadwig menanyakan pertanyaan yang tampaknya sudah mereka pendam semenjak kejadian saat aku menggunakan sihir.
“Arley, aku ingin bertanya kepadamu sedikit …” tanya Eadwig dengan pandangan serius.
“Gulp!~”
Aku hanya menelan ludah dalam-dalam. Keringat mulai menyucur perlahan, serta telapak tanganku dengan sendirinya mengeram seperti orang yang ketakutan. Ahh~ aku berharap pertanyaan yang akan Eadwig lontarkan adalah pertanyaan yang bisa aku jawab.
“Arley … sebenarnya kau ini penyihir atau kesatria? mengapa kau tampak begitu ahli dalam menggunakan pedang dan kenapa kau bisa menggunakan sihir?” tanya Eadwig dengan pertanyaan yang begitu dalam.
Aku hanya tertunduk diam, sesungguhnya aku belum bisa menjawab pertanyaan itu karena aku sendiri bingung akan menjawabnya bagaimana.
“A … aku~ belum bisa menjawab pertanyaan itu Eadwig, maafkan aku … namun sesungguhnya aku tidak ada niatan untuk menyembunyikan semua ini dari kalian semua. Ya, karena kita juga baru bertemu, jadi aku merasa ini bukan waktu yang tepat untukku bisa menjelasakan berbagai hal tentang diriku kepada kalian.” Tuturku dengan wajah memelas.
“Haah, baiklah. Kalau kau berkata demikian maka kasus ini tertutup sampai waktu yang engkau inginkan Arley~” ujar Eadwig dengan senyuman riangnya.
Demikian aku hanya tersenyum sambil menatap tinggi mereka semua, ternyata mereka bukanlah orang yang dengan remehnya merendahkan orang lain.
“Namun Arley, kau harus berhati-hati jika keluar sendirian. Kau tahu … coba lihat sekitarmu,” Eadwig menunjuk ke arah belakangku sambil menerangkan situasi yang sedang berlangsung. “Semenjak kau menyelamatkan Aslan, mereka memandangmu dengan pandangan iri dan dengki. Tampaknya mereka menyadari bahwa kau adalah kuda hitam dari negara『eXandia』ini,” jelas Eadwig kepadaku.
“K-kuda hitam? hahaha, aku tidak berpikir demikian … aku rasa ada orang yang lebih hebat daripada aku di pertandingan sebelumnya,” lalu aku menunjuk ke arah orang yang berdiri tepat di sudut kiri bawah pada ruangan pentagon ini. tepat di sudut tersebut, ada seseorang yang mengenakan jubah hitam dan menutupi sekujur tubuhnya dengan jubah hitam tersebut. “Itu, aku rasa orang itu lebih tangguh ketimbang aku,” jelasku kepada mereka semua tentang kondisi saat ini.
“Ah, peserta dengan nomor 777 itu? kalau tidak salah namanya adalah, Paroki. Menurut rumor yang beredar, ia mengantri dalam kondisi panas mengenakan jubah hitamnya itu. Lalu ia juga selalu meminta orang yang di belakangnya untuk maju terlebih dahulu agar ia bisa mendapatkan nomor pesertanya tersebut,” jelas Amy kepada kami semua.
“Paroki? hanya satu nama saja?” tanyaku kepada Amy. Namun kasus ini cukup menarik, apakah ia seorang budak atau orang yang dikucilkan oleh negara?
“Iya, hanya Paroki saja. Sekilas aku melihat namanya pada tabel akar di babak pertama tadi, dan aku sempat mendengar rumor yang beredar mengenai nama itu. yah itu semua berkat rekan-rekan timku,” Amy menunjuk ke arah rekan-rekan timnya yang berada di sudut kanan ruangan.
“Menarik … ini sangat menarik. Kalian tahu? di negaraku ini, orang yang menggunakan satu nama biasanya adalah orang yang dikucilkan negara, atau ia adalah budak,” ucapku sembari menjelaskan mengenai penggunaan satu nama pada negara ini.
“Benarkah demikian!?” sontak Amy terperanjat ketika mendengar penjelasanku. Tak hanya Amy, namun Eadwig, Rubius, bahkan Aurum pun demikian. Mereka cukup tercengang ketika mendengar penjelasanku.
Sejenak mereka semua melihat ke arah Paroki dan benar saja, tampak dari sudut ruangan, Paroki tengah memandangku dengan ganas. Namun karena kami semua memandang ke arahnya, sontak ia menyadari akan hal itu dan seketika itu juga ia berdiri dari kursinya dan pergi entah kemana.
“Ah, dia menyadari jika kita sedang menatapnya!” ucap Rubius dengan suara cukup terkejut.
“Kau benar, mengapa ia bisa seperti itu? hey Arley, apakah kau pernah membuatnya marah atau menyinggungnya?” Eadwig lalu bertanya kepadaku, dengan pertanyaan yang menjerumus sedikit ke ranah lelucon.
“Hey-hey, aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Apalagi aku baru tahu namanya setelah kak Amy menjelaskannya kepadaku … bagaimana bisa aku menyakiti perasaannya jika aku sendiri tidak pernah bertemu dengannya?” terangku kepada Eadwig, namun Eadwig malah memandangku dengan wajah yang tak percaya.
“Yah tapi bisa jadi saja kau menyinggung perasaannya, coba kita semua mengingat kejadian saat Arley menolong Aslan tadi. Saat kau menampilkan kemampuan menyihirmu di khalayak umum, aku rasa Paroki cukup tersinggung karena ada orang selain dirinya yang telah menjadi kuda hitam dari negara『eXandia』ini? bukankah demikian? aku merasakannya demikian loh,” Aurum memberikan pendapatnya yang terdengar sangat masuk diakal.
“Ahh! makanya dia langsung menghabisi lawan tandingnya hanya dengan waktu yang cukup instan? juga ia sempat menampilkan mantra sihirnya yang terlihat begitu dahsyat?! hmm aku rasa yang dikatakan Aurum cukup masuk akal,” tampaknya Eadwig menyukai perumpamaan yang dijelaskan Aurum.
Lalu mereka semua memandangku dengan tatapan “bagaimana pendapatmu” dan menekanku untuk segera melawan perkataan Aurum tadi.
“E-eh!? k-kenapa kalian malah menatapku seperti ini?!” aku tak dapat berkata-kata, dan aku pun sebenarnya sependapat dengan apa yang di utarakan oleh Aurum. “Haah, baiklah-baiklah, aku paham maksud kalian. Mungkin yang dikatakan kak Aurum ada benarnya. Jadi aku harus bagaimana sekarang?” tanyaku kepada mereka semua.
“Mungkin kau bisa menghampirinya dan bertanya langsung kepada Paroki. Dengan demikian bukankah semua perasaan syak wasangka kita bisa terbayarkan?” tiba-tiba Rubius memberikan sebuah pernyataan yang sangat memuaskan.
“Ohh! aku tidak menyangka perkataan itu bisa terbesit dipikiranmu wahai Rubius Oz!” dengan begitu semangat Eadwig menyetujui perkataan Rubius.
“Hey, bukankah kau memutarbalikkan namaku dengan mantra sihirku? Err namaku Rubius Zu, bukan Rubius Oz,” Rubius malah meladeni candaan Eadwig.
“Ah?! aa … haha. A-aku tahu itu Rubius! aku hanya bercanda, maafkan aku ya!” jawab Eadwig dengan tertawaan yang di paksakan. Aku rasa Eadwig benar-benar lupa nama belakang Rubius yang sesungguhnya.
Lalu aku merundukkan sedikit kepalaku sembari memikirkan apa yang di sarankan oleh Rubius. Sebenarnya apa yang di cakapkan oleh Rubius ada benarnya juga, jika ingin kesalah pahaman ini cepat untuk di selesaikan, sebaiknya aku langsung berbicara pada sumber masalahnya.
“Baiklah, aku akan mencoba berbicara langsung kepada Paroki mengenai semua hal ini!” dengan tegas aku menjawab pernyataan Rubius yang aku bisa tarik garis tebal padanya.
“Ohh! semoga kau baik-baik saja Arley!” ujar Eadwig dengan santainya.
Lalu mereka berempat menepukkan tangan mereka dengan sangat antusias, seperti mereka tengah memberikan aku semangat untuk meminta maaf atas apa yang tengah aku perbuat pada seorang kekasih yang telah aku sakiti sebelumnya. Err mengapa akhirnya bisa jadi seperti ini?
“Hey-hey! Kenapa kalian malah bertepuk tangan!” aku sedikit malu ketika diperlakukan sedemikian rupa. “Ahh! baiklah-baiklah! aku akan langsung menemui Paroki sekarang juga!” tegasku kepada mereka semua, sembari menahan rasa malu yang begitu penat.
Karena mereka masih terus-terusan menggodaku, saat itu juga aku pergi untuk mencari Paroki yang sekilas aku melihatnya tadi sedang pergi keluar dari ruang tunggu ini, menuju pusat perbelanjaan di sekitar pintu masuk gerbang stadion『El-Colloseum』.
Demikianlah awal mulanya pertemuanku dengan Paroki sang pendendam, entah apa yang akan terjadi nantinya, namun aku berharap agar semuanya akan berjalan baik-baik saja.
***