
Berlari bagaikan angin … bahkan sempat menembus gelombang udara yang bertiup di sore hari itu.
Kaki Arley terus berpacu dengan lawan tandingnya, yang saat ini adalah empat ekor kuda, dengan sebuah kereta kayu yang keempat hewan itu tengah tarik dengan kencang.
Terlihat, jika kecepatan lari Arley tak kalah kencang dengan keempat kuda tersebut, bahkan, semakin lama jarak di antara mereka semakin menyempit.
Tubuh seorang pria, tampak dipikul oleh Arley. Tak terasa baginya … ia hanya seperti membawa kantung kulit hewan, berisikan kapas yang sedikit basah.
Akan tetapi, sepanjang hidupnya baru kali inilah Arley di paksa lari dengan kecepatan penuh seperti ini.
Napas tersengal-sengal, jantung berdebar kencang, bahkan kulitnya basah akibat keringat yang bercucuran.
Kulit pucat Arley tampak begitu bugar, walaupun warna padanya mirip seperti kulit seseorang yang sudah tak bernyawa.
Setelah kejar-kejaran terjadi selama setengah jam lebih, pada akhirnya, jarak di antara Arley dan kereta itu, hanya bersisa lima jengkal saja.
Akan tetapi, jarak antara hutan perbatasan kawasan Barat benua [Horus] sudah tampak di depan mata.
Tak berlama-lama, dengan seluruh kekuatan yang tersisa pada kakinya, Arley lalu melompat kencang ke arah depan kereta, dan kembali mencegat kuda-kuda itu dari posisi berlari mereka.
“Gah!” Cipi pun langsung terkejut saat Arley muncul di depannya secara tiba-tiba.
Sontak, keeempat kuda itu langsung memberhentikan paksa laju larinya, dan mereka pun berjatuhan bahkan sampai membalikkan kereta kayu yang mereka tarik dengan kencang.
Dalam kondisi gaduh, Cipi kontan terpental dari atas kursi kemudinya, dan menghempas dirinya sampai naik ke atas sebuah pohon pinus.
“Aaaak!” Teriakan kencang langsung bergeming di waktu sore hari itu.
Kuda sudah terkapar di hadapan Arley, dan untungnya, Arley berhasil mengindar saat kuda-kuda itu mengalami kecelakaan ketika mereka terkejut atas keberadaan sang remaja berambut merah tersebut.
Tubuh Alan lalu ditaruh, tepat di depan tubuh keempat kuda yang tengah terkapar itu. Sementara Arley, ia berjalan menuju ke dalam kereta kayu yang telah terbalik, dan mengeluarkan Melliana dari dalam kereta tersebut, untuk segera di bawa pulang ke desa [Uaccam].
Saat Areley pertama kali masuk ke dalam kereta tersebut, dirinya langsung menemukan tubuh Melliana yang sudah babak belur, dan terpingsan di dalamnya.
“I-ini …,” gumam Arley, saat dirinya melihat kondisi rubuh Melliana.
Betapa marahnya ia, ketika dirinya melihat luka di sekujur badan Melliana. Dengan perasaan kesal, Arley pun menggendung tubuh Melliana pada kedua lengannya, dan segera mungkin keluar dari dalam kereta tersebut.
Tapi tampaknya belum selesai sampai di situ saja. Di saat Arley membawa tubuh Melliana keluar dari kereta tersebut, tiba-tiba Cipi menegur Arley, dan memintanya untuk tidak membawa pergi Melliana.
“Hoi! Jangan bawa dia pulang! Perempuan itu harus kami bawa pulang, untuk menyelesaikan permasalahan kami!” ujar Cipi, yang tak melihat kondisi perasaan Arley saat itu.
Lantas, dengan kejinya, Arley langsung menatap tajam Cipi, yang kala itu tengah berusaha turun dari pohon Pinusnya.
Tatapan mencekam, langsung menusuk hati paling dalam Cipi, bahkan sampai tahap membuat tubuhnya menggigil ketakutan.
Seketika itu juga, Cipi langsung terjatuh dari pohon pinusnya, dan dirinya terkapar tak karuan di atas tanah berumput hijau. Untungnya ia jatuh di atas tanah yang gembur, setidaknya, tak ada bagian pada dirinya yang terluka.
“Hey, apakah kau yang menyakiti kak Melliana?” tanya Arley dengan kejinya.
Sontak, Cipi yang mendengar pertanyaan Arely, langsung saja bangkit dari tidurnya, dan ia lagsung menjawab dengan sebuah gelengan kepala.
Lalu, Arley menunjuk tubuh Alan, yang tergeletak di seberang badannya, dengan di halangi oleh keempat kuda jantan tersebut.
“Kalau begitu … apakah pria ini yang membuat kak Melliana sampai seperti ini?” ujar Arley, untuk yang kedua kalinya.
“T-tidak! Bukan kami yang melakukannya! Kelompok Fruga-lah yang menyakiti wanita itu!” ujar Cipi, untuk membela dirinya dan Alan. “kami bahkan meminta kelompok Fruga, untuk tidak menyakiti kakak itu!”
“Fruga …?”
Arley termenung saat mendengar hal tersebut, lalu, ia melihat ke arah Alan sambil menatap si pria berponi panjang itu, dengan pemikirannya yang panjang.
“Pria ini, entah mengapa, aku seperti melihat diriku padanya …,” bisik Arley, di dalam hatinya sendiri.
Keheningan terjadi sesaat, lalu, Cipi pun mulai mendapatkan keberaniannya kembali, ketika tubuhnya sudah mulai merasa baikan.
“Apakah kau benar-benar mengalahkan Kak Alan secara sportif?” tanya Cipi dengan wajah termenung.
“Tentu saja … dia pria yang tangguh,” jelas Arley, yang kemudian berjalan ke arah desa [Uaccam] untuk bersegera pulang. “Dia adalah satu-satunya pria, yang membuat jantungku berdebar kencang saat pertarung tengah terjadi. Rasanya, jika aku tidak berhati-hati dalam waktu sedetik saja, maka, akulah yang akan dikalahkan olehnya.”
“Huh~ Tentu saja … Kak Alan adalah bekas prajurit di masa jabatannya. Seharusnya, kau-lah yang di kalahkan olehnya. Tapi tampaknya, memang di atas langit … masih ada langit yang lebih luas.” Ketika itu, Cipi terus memandangi lantai yang ada di hadapannya. Ia sempat tersenyum tipis, tapi dirinya sudah tak tahu harus berbuat apa lagi.
Arley pun langsung melaju saja di hadapannya, tanpa memandang lebih dalam, ke situasi yang kedua orang ini alami.
Akan tetapi, di saat Arley berhasil melintasi Cipi, tiba-tiba, anak berambut coklat tersebut langsung menghentikan Arley, dengan menggenggam pergelangan kaki sang remaja berambut merah.
“Kau … apakah kau bisa lebih kuat lagi, dari yang kau lakukan saat melawan Kak Alan tadi?” tanya Cipi, dengan tatapan penuh kepasrahannya.
Arley pun langsung terdiam di dalam langkahnya. Ia menatap Cipi dengan tatapan kosong, tetapi, saat dirinya melihat wajah Cipi yang tampak meminta bantuan, saat itu juga jiwa Arley tak bisa membiarkannya begitu saja.
“Jika kau mau membayar upah sebukit emas kepadaku, mungkin aku bisa membunuh seratus ekor, Diamond Bear, dalam sekali tebasan.” Demikian, Arley yang tak bisa membiarkan orang yang terlihat kesusahan, langsung saja tersenyum lepas, sambil menjawab pertanyaan itu denga penuh candan.
Arley mengira, jika dirinya bisa menghibur Cipi dengan kalimatnya itu. Tetapi, reaksi yang ia dapatkan malah berbanding terbalik.
Saat itu juga … kedua kelopak mata Cipi langsung mengalirkan air mata. Wajahnya memerah, bagaikan nyawa baru saja masuk ke dalam tubuhnya.
“Kalau begitu! apakah kau bisa membunuh seseorang untukku?! Aku mungkin tidak akan bisa membayarkan seguung emas untukmu. Tapi! Aku akan memberikan tubuh ini, hanya untukmu saja!”
Lantas, seketika itu juga, Cipi langsung bangkit dari posisi tengkurapnya, dan menarik legan baju Arley sambil menangis gerus. Wajahnya merah padam, tapi ekspresinya seperti melihat cahaya harapan terhadap kemampuan Arley.
Air matanya tak bisa berhenti, dan jika diperhatikan dengan saksama … Cipi sebenarnya adalah seorang wanita cantik berambut pendek, yang bagian dadanya diperban menggunakan kain putih, untuk menutupi identitasnya itu.
Arley yang menyadari akan hal itu, langsung menjolak tubuh Cipi, dan secara tak sengaja membuat dirinya terbentur ke batang pohon pinus, tempat ia terjatuh tadi.
“K-kau wanita?!” tanya Arley dengan wajahnya yang memerah.
“A-apakah tidak c-cukup …?”
Arley yang awalnya merasa malu saat Cipi menawarkan dirinya, saat itu juga, rasa malunya langsung berubah menjadi kesal. Seketika itu juga, Arley langsung menarik kerah baju Cipi dan berteriak kencang di hadapannya.
“Kau …! Kau kira harga tubuhmu hanya semurah itu!?” pekik Arley dengan penuh kekesalan. “ingat, wahai wanita bodoh! Tubuh seorang wanita itu, lebih mahal dari pada bumi dan lautan!”
Seketika itu juga, setelah Arley membentak dirinya … bukannya merasa berasalah, melainkan, Cipi merasa lega atas apa yang Arley ucapkan.
“Kalau begitu … maukah kau menerima permintaanku? Kau sendiri tadi bilang, jika diriku lebih mahal dari bumi dan lautan, bukan?” Kemudian, Cipi yang tersender di batang pinus tersebut, langsung menarik lengan kanan Arley, dan menggenggamnya cukup kencang, walaupun dirinya dalam kondisi gemetaran.
Si remaja berambut merah pun cukup terkejut, saat Cipi melakukan hal itu kepadanya.
“K-kau?!”
Namun Arley kehabisan kata-kata, karena situasi yang Cipi alami saat ini, ternyata lebih genting dari apa yang Arley bayangkan.
“Aku mohon … Aku ingin kau membunuh seseorang,” ucapnya sekali lagi, dengan tatapan depresi dan bercampur penuh harapan.
Sekilas … Arley yang melihat lebih dalam ke arah mata Cipi, menemukan sebuah pandangan gelap, yang memberikan sebuah perasangka, jika apa yang Cipi ingin katakan, adalah hal yang harus ia dengarkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.