
***
Sang kakek menghilang tak menyisahkan jejak.
Sontak aku menjadi sangat terkejut dengan apa yang tengah terjadi, bagaimana mungkin kakek itu menghilang hanya dalam satu malam, aku langsung keluar dari selimutku.
Sesampainya di luar rumah, mataku langsung memandang lepas ke seluruh hamparan rumput tepat di perbatasan kota [Lebia] ini.
“(kakek … kemana kakek pergi …!?!)”
Perkara ini membuat aku jadi panik, padahal baru tadi malam sang kakek menawarkan aku tinggal di rumahnya, hal apa yang menyebabkan sang kakek meninggalkan aku sendirian di lahan kosong seperti ini?
Barang-barang aku bereskan, dengan sigap aku meruntuhkan bangunan yang aku rakit dengan sihirku sendiri, dan saat itu juga aku melontarkan sihir pamungkas ku dari kedua bibir ini.
“Gale Ventum!”
Mantra langsung aktif, angin membawaku terbang tinggi ke udara. Dari langit aku berusaha mencari dimana letak sang kakek berada, tapi tetap saja tidak ku temukan tanda-tanda bahwa sang kakek pergi meninggalkan ku.
Tidak ada bekas langkah kaki, atau rerumputan yang rusak, padalah kemarin hujan sangat lebat, bahkan sampai hari ini pun tanah yang basah masih menyisakan genanagan airnya.
“Kakek … mengapa kau menghilang seperti ini …”
Tak menyerah begitu saja, aku tetap mencari sang kakek ke seluruh penjuru dengan sihir udara yang ku gunakan.
***
Pagi berubah menjadi siang, siang tak lama menjadi sore. Sampai saat ini sang kakek tak juga ku temukan, nafasku mulai tersenggah-senggah, apa jangan-jangan sang kakek memang bukan manusia sejak awal? Apa jangan-jangan kakek itu adalah hantu?? Tidak-tidak … apa yang ku pikirkan, tidak mungkin aku bisa memakan santapan yang seorang hantu masak, erm … tidak bisa kan?
Sudah merasa lelah, kemudian aku turun dari atas langit, aku benar-benar kehilangan arah dan petunjuk untuk menemukan sang kakek.
“Haah … Huft … apa jangan-jangan sang kakek berada di dalam kota ….?”
Perasaan ku tiba-tiba menjadi ringan, aku memiliki firasat yang sangat kuat jika sang kakek berada di dalam kota. Waktu sudah mulai malam, aku memilih untuk bergegas menuju ke ibukota [Lebia] saat ini juga.
Kalau tak salah, kakek itu bilang jarak dari sini ke ibu kota bisa memakan waktu setengah hari ya? Tapi aku rasa bisa lebih cepat jika menggunakan sihir udara ku.
Tak berlama-lama, nafas aku hirup kembali demi mengumpulkan [Mana] yang sudah mulai menipis, lalu aku mengaktifkan sihir udara untuk yang kedua kalinya pada hari ini.
Tubuhku langsung terbang ke udara, demikian secepat udara aku terbang menuju tembok perbatasan ibukota [Lebia].
***
Matahari mulai terbenam, tampak ada beberapa prajurit perbatasan sedang menutup pintu gerbang masuk menuju kota [Lebia] .
“Tunggu, tunggu pak!! Saya mau masuk!! Jangan di tutup dulu pintu nya!!”
Teriakku untuk menghentika pintu agar tidak tertutup, kemudian aku turun ke dataran dan berlari menuju gerbang masuk tersebut.
Pintu berhasil di hentikan agar tidak tertutup, namun seorang pria menggunakan baju zirah perang keluar dari dalam gerbang yang hampir tertutup tersebut.
“Hmm …? Anak kecil? Hey dik, dimana ibu mu?”
“eh … erm … saya sendirian pak, saya ingin masuk ke dalam kota!”
Sang prajurit terdiam sejenak, tampaknya dia sedang berfikir akan sesuatu.
“Tunggu sebentar ya dik.”
Sang prajurit kemudian masuk kedalam perbatasan, sepertinya ia sedang melaporkan sesuatu kepada atasannya, perawakannya seperti ia sedang meminta maaf akan sesuatu dan ia di marahi oleh atasannya. Seusai itu, sang prajurit kembali kepadaku dengan wajah yang memucat.
“Ehm, maaf ya dik sepertinya kami tidak boleh menerima pendatang lagi saat ini, kalau adik mau besok bisa datang lagi di pagi hari ….”
“T-tapi aku tidak tahu harus kemana lagi pak prajurit ….”
Tentu saja aku shock, aku bingung harus berbuat apa, kalau di suruh menunggu, maka mau bagaimanapun aku harus membuat tenda di depan pintu gerbang ini.
“Maaf ya!! Aku tidak bisa melawan atasan!”
“Ah! Pak prajurit, Tunggu!!”
Kemudian aku di tinggalkan begitusaja oleh sang prajurit, walaupun ia tampak begitu merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi, perintah adalah hal yang mutlak, aku sangat paham akan hal itu.
Pintu gerbang tertutup dengan rapat, aku hanya terdiam menatap tingginya tembok yang sangat massive ini. Tingginya mungkin mencapai 500 meter? Entah lah, sejauh ini, bangunan ini adalah yang paling tinggi yang pernah aku lihat, bahkan ujungnya saja bisa menyentuh awan jika di perhatikan dengan jeli.
“Sialnya nasib ku … apa aku terbang saja ya masuk langsung ke dalam kota …? Agh tidak-tidak, kalau tertangkap aku bisa menjadi kriminal … uhh aku harus bagaiaman jadinyaaa!!”
Pusing melanda di kepala ku, refleks aku mengacak-acak rambut ku yang berwarna merah darah ini, rasanya tensi ku meninggi akibat kepenatan hari ini.
Namun sepertinya keberuntungan ada di pihakku malam ini.
Dari kejauhan terdengar suara hentakan kaki kuda, jumlahnya banyak sekali, refleks aku langsung menoleh ke belakang dan benar saja, ada rombongan prajurit yang entah dari mana asalnya, ingin masuk kedalam ibukota, saat itu aku berada tepat di depan pintu gerbang, jadi posisiku seperti menghalangi mereka ketika ingin masuk.
Lantas seseorang yang tampaknya komandan dari pasukan tersebut datang mendekati aku dengan kudanya yang memiliki warna kulit hitam mengkilat ter parkirkan tepat di samping kananku.
“Hey anak muda … kenapa kamu ada di depan sini?”
Wajah sang pria tidak dapat di lihat, ia mengenakan helm tempur yang sepertinya terbuat dari platinum atau jenis besi apa yang berwarna biru ke putih-putihan, ahh aku melupakan namanya, jadi kita skip saja hal ini.
“Sendiri di sini …? Tidak ada yang menemani? Jangan bercanda, tempat ini sangat berbahaya, monster dari berbagai arah bisa tiba-tiba menyerangmu, apa yang penjaga perbatasan pikirkan sampai tega membiarkan anak kecil menginap di tempat seperti ini ….!”
Nada suaranya meninggi, tampaknya paman ini sedikit marah akibat perbuatan penjaga perbatasan yang sangat tidak bijaksana.
Paman tersebut dengan kudanya mendekat ke pintu gerbang masuk kota, kemudian sang paman melirik ke arah rombongannya dan kemudian menggerakkan kepalanya seperti memberikan suatu kode.
Datanglah seorang pria lain yang menggunakan baju agak sedikit berbeda dengan sisa prajurit lainnya, sepertinya pakaian perang yang ia kenakan terbuat dari bahan perak, dia menghampiri sang paman kemudian dengan lantangnya ia berteriak, ia berteriak untuk menunjukkan identitas sang paman agar pintu gerbang ini bisa di buka saat ini juga.
“Buka Pintunya!! Yang mulia Gurmon Basilisk telah kembali dari medan pertempuruan!!”
Seketika itu juga pintu terbuka, perlahan bagaikan terputarnya kincir ria yang sangat amat lambat. Belum sepenuhnya terbuka, mereka para prajurit masuk dengan gagahnya, namun sebelum mereka masuk sang paman memerintahkan aku untuk ikut dengannya.
“Hey nak, ikutlah dengan ku ….”
Sang paman menjulurkan tangannya ke arahku dari atas kudanya, aku lalu meraih tangannya yang dilapisi baju zirah tersebut, dengan sekelebat mata aku tertarik olehnya dan tiba-tiba aku berada di atas kudanya. Ini menakjubkan, untuk pertamakalinya aku menaiki kuda yang sebesar ini!
Kami kemudian berjalan memasuki pintu gerbang yang tadi aku tidak bisa masuki, tampak wajah para prajurit perbatasan terlihat sangat pucat, namun ada satu di antara mereka yang terlihat biasa-biasa saja, yap ia adalah orang yang tadi memberitahuku bahwa aku tidak boleh masuk.
Sepertinya pria yang satu ini memiliki sifat yang periang, mungkin di kemudian hari aku bisa berbicara kembali kepadanya.
Namun mari sejenak kita abaikan hal yang terjadi beberapa saat yang lalu ….
“W-WHoaa!!! Apa-apaan ini … ini sangat menakjubkaaan!!!!”
Mataku tampak silau, Ini semua karena cahaya lampu yang turut menyinari seluruh sisi kota yang ada didalam batas tembok [Lebia], kalian pernah ke Disneyland saat malam hari? Yaa!! Ini sama persis kejadiannya dengan kondisi di taman rekreasi itu!!
Begitu aku memalingkan wajahku, kilauan lampu membuat aku sangat tertegun. Bar, toko aksesoris, Café, segalanya lengkap! Aku bisa membeli apapun di kota ini!! Belum lagi dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjuntai tinggi. Aku rasa mereka tidak memakai arsitektur ketika merakit bangunan-bangunan ini.
Bagaimana bisa bangunan seperti bola di bangun di atas pohon, Juga lihat ini, di atas langit sana ada berbagai macam toko jajanan yang berdiri di atas kaca, t-tunggu itu kaca kan!?! Bagaimana bisa mereka memasang kaca di atas ketinggian seperti demikian?
Benar-benar dunia yang penuh dengan misteri. Tentu saja aku terdiam melihat seluruh keindahan yang ada di depan mataku, seperti hal-hal ini seluruhnya adalah objek yang tidak bisa masuk di akal ku.
Lalu tak berapa lama kemudian sang paman menurunkan aku dari atas kudanya.
“Nah, sampai di sini saja ya nak … ada tugas yang harus aku selesaikan secepatnya ….”
“Unn!! Terima kasih banyak paman, aku tidak akan melupakan jasa paman sampai kapanpun ….”
Selepas aku di turunkan dari kudanya, sang paman pergi meninggalkan aku, ia memasuki kota yang penuh dengan kerumunan masyarakat, namun sejenak ketika ia memasuki kerumunan itu, secara tak terperintah mereka para masyarakat merunduk dan memberikan jalan kepada sang paman, benar-benar kota yang unik dan aneh…
***
Malam ini aku tidak memiliki tempat untuk tinggal, dan jika aku berkeliaran di waktu malam seperti ini, aku hanya akan menimbulkan kerusuhan di tengah kota, maka dari itu aku kembali ke tembok perbatasan untuk menanyakan ke pria yang tadi.
Pria yang menegurku saat aku masih di luar tembok barusan.
Tak susah untuk mencarinya, ia langsung terlihat ketika aku sampai di tembok perbatasan.
“Erhm … paman!!”
Teriakku kepada sang pria, refleks si pria langsung melihat ke sumber suara dan ia berlari ke arahku.
“Ohh kamu bocah yang tadi kan? Syukurlah kamu bisa masuk.” Senyum sang pria yang tak aku kenali ini. “Ada apa dik, Apa kamu membutuhkan sesuatu?”
“Saya butuh tempat istirahat ermm … kalau boleh tahu nama paman siapa ya?”
“Hmm panggil saja Jack, teman-temanku semuanya memanggilku demikian.”
“ahh kalau begitu paman Jack, aku butuh tempat untuk bermalam, apakah ada tempat yang bisa aku gunakan? “
Kemudian Jack mencubit dagunya, ia berfikir sejenak, apakah ada tempat yang bisa di gunakan malam ini.
“Kalau kau mau sih … di sana ada kandang kuda ….”
Jack menunjuk ke sebuah bangunan yang posisinya sangat dekat dengan gerbang pintu masuk. Tentu saja ia hanya bercanda.
“Ohh tidak apa-apa paman, aku bisa tinggal di mana pun kok”
"He ...? Kamu serius ....?"
"hm ...? Paman serius juga kan ....?"
"Serius kamu mau tinggal di kandang kuda ....?!?"
Sejenak terjadi keheningan, namun tampaknya sang paman terlalu meremehkan aku. Hahaha wajahnya terkejut ketika aku mengatakan, "Iya", kepada sang paman.
Lalu dengan terpilihnya tempat tinggalku malam ini, aku memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhku yang sudah lelah dan hancur lebur ini diatas jerami yang biasa para kuda memakannya.
Jack hanya menunjukkan lokasi di mana aku bisa tidur. Selepasnya ia meninggalkan aku dan membiarkan aku tinggal di kandang kuda yang kosong tersebut.
Hari ini cukup melelahkan, kepergian sang kakek membuatku sedikit pundung, namun tujuan utama aku ke sini bukanlah hal itu, ya, aku harus bisa menemukan Misa Albertus secepatnya ….
***