
Not Edited!
Satu bulan telah berlalu … semenjak penyerangan Raja Iblis yang meluluh lantakan benua [Horus], dan berniat menghabisi umat manusia, telah gagal di lancarkan.
Pada bagian utara benua [Horus], di sebuah lembah yang mengaliri air sungai jerni dan murni. Terlihat seorang remaja dengan baju yang compang-camping, tengah meminum air dari sungai tersebut.
Rambutnya merah panjang, matanya hijau, dan tangannya terlihat hitam, layaknya luka bakar yang tak dapat di sembuhkan.
Dirinya tampak bersemangat, walaupun hidupnya sangat rumit, tetapi ia menjalani harinya dengan penuh keceriaan.
“Ah~ Hari ini airnya sangat segar … apakah akan ada keberuntungan yang datang kepadaku? Apakah hari ini aku akan mendapatkan daging lagi?” gumam sang remaja dalam benaknya.
Tiada hari tanpa berburu, jika ia lapar, maka sang remaja akan langsung mencari ikan ataupun hewan kecil yang bisa dia tangkap.
Membuat api juga merupakan suatu hal yang sulit baginya. Kala itu, saat hujan turun dengan lebatnya, sang remaja berdiam diri pada sebuah gua yang berpapasan langsung pada sebuah sungai. Gua tersebut terbentuk tepat di pinggiran sebuah tebing, dan semenjak ia menemukan gua tersbut, sang remaja tak pernah meninggalkannya, sampai hari ini. Lantas, saat hujan yang mengguyur bumi dengan lebat itu tak kunjung berhenti, sang remaja merasa kedinginan dan sangat membutuhkan kehangatan.
Beruntungnya terdengar suara dentuma petir, menyambar tepat di depan gua. Terbakarlah sebuah pohon, bahkan sampai tumbang dan terbelah-belah menjadi ranting-ranting kayu yang berapi.
Ketika itu, sang remaja dengan cepat memungut api itu dan menaruhnya di dalam gua. Dan sampai saat ini, api itu terus di jaga oleh sang remaja agar tidak mati, dan akan terus membakar sarapan dan makan malamnya, sampai api itu berhenti berkobar tanpa di sengaja.
***
Pada suatu malam, Sebuah insiden terjadi …
Ketika itu hujan lebat kembali terjadi. Namun, kali ini hujan yang terjadi tampak lebih deras daru hujan-hujan yang pernah terjadi sebelumnya.
Kekita itu, sang remaja tengah tertidur pulas di dalam guanya. Saat dirinya terlelap di dalam tidur yang kosong, tiba-tiba air sungai tampak naik akibat hujan yang semakin deram menambah volume pada kubik air di sungai tersebut.
Matilah api unggun yang sang remaja telah jaga selama ini. Namun sang remaja masih terlelap dalam tidurnya.
Semakin lama volume air semakin meninggi. Sampailah air itu ke naik ke atas tempat tidur sang remaja, yang jaraknya sekitar setengah meter dari lantai.
Kasur yang terbuat dari batu alami, dan di lapisi dedaunan itu, lantas terbawa air dan membuat sang remaja langsung terbangun dari tidurnya.
“Sial?! Banjir?!” saat sang remaja tersadar dari tidurnya, matanya hanya dapat melihat luapan air yang semakin meninggi.
Berlarilah ia keluar dari dalam goa tersebut. Susah payah ia gerakkan kedua kakinya di dalam genangan air, tapi usahanya membuahkan hasil yang setimpal. Beberapa saat kemudian, sang remaja berhasil keluar dari dalam rumah sesaatnya.
Lantas, dirinya kembali di kejutkan oleh kejadian yang sangat absurb. Seluruh pandangannya hanya bisa melihat derasnya aliran air yang menghanyutkan seisi lembah. Sontak, sang remaja langsung memanjat tebing yang ada di samping guanya.
Dengan susah payah ia memanjat tebing itu dengan seluruh tenaga yang tersisa.
Berjam-jam ia memanjat tebing itu dengan susah payah. Jika ia lengah sedikit saja, maka tubuhnya akan terjatuh ke bawah, dan akan hanyut dalam aliran sungai. Akan berakibat sangat fatal baginya untuk melakukan kesalahan, walaupun itu sangat kecil.
Namun, usahanya kembali membuhakan hasil. Setalah enam jam ia memanjat tebing pada lembah tersebut, dirinya berhasil keluar dari bencana yang hampir menimpa dirinya.
Kala itu … matahari telah sampai di ufuk horizon bagian timur. Wajah lelah sang remaja, tampak menatap kagum matahari yang naik ke atas langit.
“Indahnya …,” gumam sang remaja, sembari ia terjatuh ke arah belakang, dan kembali tidur sebab rasa lelah yang mulai terasa pada sekujur tubuhnya.
.
.
.
***
.
.
.
Matahari telah terbit tinggi di atas langit.
Saat itu … telah lewat sebuah kereta kuda yang membawa barang-barang dagangan, untuk berangkat menuju kota [Dorstom], pada kerajaan [Palatina].
Sebuah kerajaan yang sangat kecil, dan memisahkan dirinya dari persatuan negara-negara utama di benua [Horus].
Kereta kuda yang ketika itu lewat di atas sebuah lembah, tengah di supiri oleh seorang pria, yang dirinya adalah seorang pedagang yang akan mengundi nasib di kota [Dorstom].
“Ayah! Di sana ada orang yang terpingsan!” teriak anak sang pria yang saat itu tak sengaja melihat jasad seorang remaja.
“Ehh … Emaly, berbohong itu tidak baik loh~” Tetapi, tampaknya sang pria tidak mempercayai kalimat dari anaknya sendiri, yang bernama Emaly.
“Tapi ayah! Aku berkata jujur! Lihat ke sebelah kiri!” ucap sang anak sambil ia menunjuk tubuh sang remaja, yang saat itu telah sangat dekat jaraknya dengan kereta kuda mereka. Tubuh Emaly pun hampir terjatuh saat dirinya menunjuk orang yang ia maksud.
“Waaa! Emaly!” Lantas, sang ayah yang melihat hampir terjatuh dari kereta kudanya, seketika itu juga ia menarik kekang kudanya, dan menghentikan laju perjalanan mereka.
Turunlah sang pria melihat kondisi sang anak. Beberapa kali ia mengejcek baju dan beberapa anggota tubuh sang anak, yang berusia sekitar empat sampai lima tahun itu, untuk memastikan jika kondisi sang anak saat ini masih baik-baik saja.
“Syukurlah …,” gumamnya dengan lega selepas dirinya yakin kondisi sang anak baik-baik saja. “Emaly! Kamu tidak boleh bermain-main seperti itu! tindakan kamu tadi sangat berbahaya, bagaimana jika kamu terjatuh dari atas kereta dan ayah tidak mengetahuinya? Memagnya Emaly mau di tinggal pergi ayah sendirian di tengah jalan seperti ini?” ucap sang ayah, yang menceramahi anaknya.
Menggelenglah kepala sang anak untuk sesaat, lantas, dirinya kembali ke topik utama mereka.
“Tapi Ayah! Lihat, aku tidak bohongkan! Di sana ada kakak yang sedang terpingsan!” Kembali, Emaly menunjuk tubuh orang yang ia maksud.
Pria tersebut pun memutar kepalanya … saat itu, ketika ia memandang tubuh sang anak, terkejutlah ia seperti orang yang baru saja melihat mayat.
“Ayah, Posenya menjijikkan tahu,” komen sang anak yang tak segan-segan berkata jujur.
“Oi, jangan terlalu jujur!” ujar sang ayah.
“Tapi, kan Ayah sendiri yang menyuruh Eamly berkata jujur.”
“Ah, iya … maafkan Ayah …,”gumam sang pria. “Tapi … apakah orang ini benar-benar telah mati …?” Ketika itu, sang pria kembali berdiri normal, dan berjalan mendekati tubuh sang remaja.
Perlahan ia mendekati bedan si remaja, saat sang pria berjalan mendekati tubuh tersebut, ia sempat mengambil ranting yang tergeletak di tengah jalan. Lalu, semsampainya ia di samping tubuh si remaja, sang pria dengan sedikit perasaan takut, menusuk-nusuk tubuh sang remaja mengguakan ranting pohon tersebut.
Sejenak tubuh sang remaja bereaksi saat sang pria menyenggolnya dengan tongkat kayu tersebut.
“Dia masih hidup …!” ucap sang pria dalam hatinya.
Namun, tiba-tiba … tubuh sang remaja lagsung bangkit dari tidurnya, dan mengejutkan sang pria seketika itu juga.
Sang remaja langsung terbangun dari posisi tidur ke posisi terduduk. Sontak, si pria pedagang tersebut, langsung terjungkal ke belakang sebab ia sangat tercengang menyadari jika si pria ternyata hanya tidur belaka.
“Waa!” teriak sang pria.
“Ayah jelek … posenya menjijikkan …,” kembali sang anak mengomentari pose sang ayah, yang terjungkir kebelaknag,
“Emaly! Jangan terlalu jujur!” ujar sang ayah sembari ia dengan cepat kembali pada kedua kakinya.
“Tapi kan Ayah yang menyuruhku untuk berkata jujur.”
“Ah, iya … maafkan aku,” ucap sang pria sembari ia membungkukkan tubuhnya. Rutinitas ini pun sering terjadi di antara keduanya.
Lalu … sang remaja yang menatap kejadian itu, langsung berbicara dengan suara paraunya.
“Kau siapa …,” tanya sang remaja sembari ia mengusap mata kirinya.
“Hey! Tidak-tidak! Seharunya itu pertanyaanku!” bentak sang pria sembari ia membanting ranting pohon yang ia genggam. “kamu … kenapa kamu tertidur di pinggir jalan seperti ini …?” tanya sang pria yang terduduk jongkok, demi melihat tubuh sang anak.
“Ah …,” lantas, sang remaja mulai mengingat kembali mengapa ia bisa berada di sana.
Keheningan terjadi untuk sesaat. Wajah sang pedagang tampak bekeringat menanti jawaban dari sang remaja, mengapa dirinya bisa tertidur di pinggir jalan. Apakah karena ia di culik seseorang, atapu karena ia melarikan diri dari sesuatu … sang pria sudah siap dengan segala kemungkinan dari penjelasan yang akan sang remaja terangkan.
Lalu … di jawablah pertanyaan si pedagang oleh sang remaja.
“Aku …,” ucap sang remaja. Saat itu, sang pedagang menelan ludahnya dalam-dalam. “Aku … namaku Arley,” jawab sang remaja yang ternyata menjawab pertanyaan pertama sang pedagang.
Seketika itu juga sang pedagang kembali terjungkir ke belakang, dirinya tak menyangka jika Arley akan menjawab pertanyaannya yang pertanya.
“Ayah … Posenya—” Belum selesai sang anak menyelesaikan kalimantany, sang ayah langsung memotong kalimat Emaly.
“Posenya gak kerennn kaaan?!” ucap sang ayah kepada si anak.
Sejenak sang anak terdiam. Lalu ia kembali membalas candan sang ayah.
“Iya, Ayah benar!” tersenyumlah sang anak mendengar jawaban sang ayah.
Lalu, tiba-tiba si remaja bernama Arley tersebut, malah tertawa melihat komedi kedua ayah dan anak ini. dirinya tertawa terbahak-bahak sembari ia mengeluarkan air mata.
Ketika itu, sang pedagang dan anaknya, hanya bisa menatap Arley dengan beribu pertanyaan. Siapakah sebenarnya remaja satu ini?
Bersambung!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -