The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 217 : Enmity & Black Sword.



Not Edited!


Tersusun dengan rapi setiap perlengkapan Adventurer di hadapan Arley dan Varra, berbagai macam senjata dapat mereka lihat dengan jelas, berdasarkan bagian dari tempat tersusunnya peralatan. Ada Pedang, Lance, Trisula, Tameng, bahkan tongkat sihir pun di jual di toko ini.


Kemudian, jika di lihat pada sisi paling utara dari ruangan ini, terdapat baju besi dan peralatan perlindungan diri, untuk mempertahankan diri saat pertarungan terjadi. Mulai dari Helm, Sarung tangan besi, Baju besi, Pelindung kaki, bahkan celana besi pun tersusun di ruangan itu.


Demikian banyak variasi dari jenis dan bahan yang di inginkan. Apakah itu bahan kulit, besi, sisik hewan, dan bahkan yang berbahan kayu pun tersedia.


“Hmm, apakah aku memilih baju dulu, atau senjata dulu ya?” gumam Arley yang bingung memilih perlengkapannya. Lantas, tak sengaja ia melihat Varra yang dengan cerianya memilih baju jubah penyihir, juga topi kerucut yang memiliki enchantment di dalamnya.


Datanglah Arley mendekati Varra. “Kau sudah menemukan yang di inginkan?” tanya sang pria berambut merah.


Menolehlah Varra melihat ke arah Arley, lalu ia menggelengkan kepalanya sebagai penanda bahwa ia juga sama bingungnya dengan orang yang bertanya. “Belum … pilihan bahannya sangat banyak, dan Enchatment yang terpasang pada mantel-mantel ini juga beragam. Huuh, apakah aku harus fokus pada status penambahan kekuatan, atau sebagai support, ya?”


Lalu Arley juga melihat mantel-mantel berbagai warna itu sembari ia melihat keterangan yang tertulis pada bagian kertas, tertempel di dalam jubah tersebut.


“Jubah katun, Enchantment: Rising Health Power, and Mana.” ucap Arley yang membaca kertas penjelasan. “kalau yang ini … Magic Power +15, & Magical Resistance. Ternyata banyak pilihannya.” Melihat Varra yang begitu asik memilih jubah sihirnya, Arley langsung tersenyum saat ia melihat seringai indah sang wanita pendek. “Sebaiknya aku kembali memilih senjataku,” gumam Arley, yang kala itu langsung membiarkan Varra memilih pakaiannya sendiri.


Kembalilah Arley melihat berbagai macam senjata tajam. Ia mulai memikirkan senjata apa yang paling cocok untuk di gunakan, pertama ia melihat etalase kumpulan pisau, dengan lekukan pada bilahnya. “Ini yang biasa di pakai oleh, Assasins. Aku rasa, aku tak begitu cocok jika bertarung menggunakan pisau,” ucapnya dalam hati, sambil ia memutar-mutar pisau berwarna perak tersebut.


Berlanjut ke pilihan selanjutnya. Arley langsung di suguhkan oleh berderetnya lima senjata sekaligus. Senjata itu tergeletak berbanjar di atas meja kaca yang terlihat begitu mahal. Mulai dari bagian paling kiri, terdapat kapak hitam yang bertangkai kulit hewan, lalu di lanjutkan pada sebelah kanannya, terdapat senjata gada yang berduri pada bagian gelembungannya, kemudian terdapat Rapier, Spear, dan yang paling kanan adalah Two Handed Sword yang terlihat begitu indah dan tampak mahal.


Arley menggaruk-garuk pipinya saat ia melihat berbagai macam senjata yang terjejer di depannya, tetapi ia tetap saja tak tertarik dengan jenis-jenis senjata yang ketara jelas bagian mahalnya.


Namun, secara tak sengaja mata Arley tersudut pada bagian paling kanan di ruangan itu. Bagian paling siku, pada belahan tenggara ruangan yang serba putih dan kaca ini. Tepat di sudut ruangan, hanya pada bagian itu sajalah yang tampak muram dan kotor. Beberapa kotak kayu terjajar kumuh untuk mencadangkan perlengkapan tangan kedua dari petualang yang telah gugur dalam peperangan, atau pun senjata rongsokan yang didapat saat berpetualang.


Senyum Arley langsung mengembang, dirinya berlari menuju sudut tersebut untuk melihat senjata yang ingin ia gunakan. Instingnya mengatakan, jika pada bagian tersebut ada senjata yang dirinya sedang cari. Lngsunglah Arley membongkar tumpukan senjata, yang saling bertindihan dalam sebuah kotak kayu yang terlihat reot.


Mulai dari pentungan godam, sampai sarung tinju yang terbuat dari besi, juga bersatu pada bagian itu. Dengan telitinya Arley membongkar satu per satu senjata yang tertumpuk pada kotak pertama, dari tiga kotak yang terjajar menempel di sudut tenggara toko ini.


Dari tempat kasir, Fosse tampak terkejut ketika ia melihat Arley memilih lokasi tersebut untuk memilih senjata yang akan di gunakan. Namun dirinya tak bereaksi banyak saat sang remaja memilah senjatanya. Fosse hanya melanjutkan obrolannya bersama paman Radits sambil menunggu kedua remaja ini selesai memilih peralatannya.


“Anak ini … dia memiliki sense yang bagus,” gumam Fosse dengan ekspresi absurdnya. Mau bagaimanapun Fosse berpenampilan serius, tetap saja ia akan tampak aneh jika orang lain melihat ekspresi itu.


“H-hoi, apa yang kau pikirkan, Fosse …?” tanya Paman Radits yang cukup terkejut melihat ekspresi tersebut.


“Tom, Dari mana kau mendapatkan bocah lelaki itu …? Aku cukup tertarik kepadanya,” ucap Fosse yang terdengar seperti ingin merayu Arley.


“Bodoh, Aku tak akan membiarkan Arley terjerumus ke jurang yang sama denganmu,” balas paman Radits, ketika ia salah paha dengan pertanyaan sang Gorila gemulai.


Dipukullah kepala Paman Radits oleh Fosse, sebab paman Radits malah bercanda di waktu yang serius. “Hey! Aku bertanya serius. Kau tidak menculik anak bangsawan atau semacamnya kan?!” cetus sang pria berwajah Gorrila degan galaknya.


“A-Aw!” teriak paman Radits menahan sakit. ”ya, enggaklah! Kisahnya cukup kompleks, tapi yang pasti, saat aku menemukan Arley, ia telah lupa ingatan.” Sambil mengusap-usap kepalanya, Paman Radits kemudian memperhatikan Arley yang ketika itu mencuri perhatian Fosse. “Memangnya ada apa, Fosse?”


Sang pria berwajah Gorila itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menenggak ludah untuk melembabkan lehernya. “Kau tahu … toko yang aku buat ini, adalah toko senjata terbaik yang ada di kota ini.”


“Tentu saja aku tahu, makanya aku membawa mereka ke sini, bukan? Kalau tokomu adalah toko barang rongsokan, mana mungkin aku mau mengunjungi toko ini.”


“Seluruh senjata yang aku jual di toko ini juga bukanlah sebarang bahan, rata-rata material yang aku gunakan adalah berbahan anti rusak seperti: Mythril, Diamond, Alumpus Orion Metal, atau pun Galat Platium.” Lalu, tiba-tiba Fosse menunjuk Arley dengan jari telunjuknya. “Tetapi, di tokoku ini, juga menyediakan peralatan sampah yang sengaja aku taruh di seberang sana.”


Paman Radits menatap serius ke tempat Arley berdiri, yang saat itu, dirinya tampak sedang sangat serius mencari senjatanya. “Lalu apa yang membuatmu berat hati? Biarkan saja ia mencari senjata yang ia inginkan. Mungkin ia sadar diri, jika dirinya masih terlalu muda untuk menggunakan senjata mahal.”


Terkejut mendengar informasi tersebut, paman Radits langsung menoleh ke wajah Fosse dengan berbagai pertanyaan. “O-oi … jangan bilang senjata yang kau maksud adalah senjata itu?!”


Mengangguklah Fosse seperti ia menyetujui pemikiran paman Radits. “Benar, itu adalah senjata yang kita temukan beberapa belas tahun yang lalu, bersama dengan pria itu.” Keluarlah keringat dingin pada pori-pori wajah Fosse, begitu juga dengan wajah paman Radits yang memikirkan hal yang sama dengan Fosse. “Untuk saat ini, mari kita lihat saja apa yang anak itu akan lakukan, jika sense pemilihan sejatanya sama dengan orang itu, aku menaruh curiga dengan anak ini.”


Tertelanlah ludah kering, pada tenggorokan paman Radits. “Bukankah seharusnya senjata itu di buang jauh-jauh dari kota ini? Itu kan perintah yang aku berikan padamu, mengapa kau masih memilikinya?”


“Panjang ceritanya. Semenjak pria itu wafat, banyak orang yang menginginkan senjata itu. Kau tahu sendiri, pedang ini bukan replika atau benda takhayul. Makanya aku membawa senjata itu ke toko ini, selain aku bisa langsung merawatnya, juga bisa membasmi orang-orang yang menginginkannya.”


Wajah paman Radits langsung memerah, ia tampak begitu marah dengan perkataan Foss tadi. “Kalau kau berani melakukan itu pada anakku, saat itu juga aku akan menghabisimu.” Ancam paman Radits yang ketika itu langsung menutupi telinga Emaly, agar sang balita tak mendengar percakapan mereka berdua. Tentu saja Emaly tampak kebingungan dengan apa yang ayahnya lakukan pada dirinya.


Foss juga tak pandang bulu dengan ucapan paman Radits. Wajahnya langsung memerah seperti orang yang juga tampak begitu marah. “Biarkan takdir yang menjawab …,” gumamnya dengan kerutan pada alis—tampak menukik ke bawah begitu tajam.


Tiba-tiba, mereka berdua mendengar suara Arley yang terbetik gembira, datang mendekat ke arah mereka berdua, dengan sebilah pedang pada tangannya. “Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, Paman,” utas sang remaja, yang kala itu membawa sebilah pedang tipis, dengan corak hitam legam pada setiap sisinya. Sedangkan Varra masih berada cukup jauh di belakang Arley, namun ia juga telah selesai memilih peralatannya.


Foss dan Paman Radits tampak begitu kaget, saat melihat apa yang Arley sudah genggam di kedua tangannya.


Sontak, seketika itu juga kedua pria tua itu langsung saling menatap tajam, pada mata di antara mereka berdua. Sebuah perubahan yang cukup drastis, yang tadinya mereka berdua tampak begitu akrab, secara tiba-tiba, hanya dikarenakan sebilah pedang, mereka berdua berniat untuk saling menghancurkan satu dengan yang lainnya.


Apakah paman Radits dan Foss akan bertarung sebab hal yang ambigu ini? Apa yang sebenarnya kedua orang ini sembunyikan?!


Bersambung!.


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------