The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 249 : Awal Timbulnya Perasaan Kesal.



Kurang lebih … enam belas tahun telah beralalu, semenjak dihancurkannya desa [Tiyome] dari permukaan bumi [Soros].


Ketika itu … Cipi telah memasuki usia lima belas tahun, dan sampai saat ini, dirinya masih menemani Alan ke mana pun mereka pergi.


Segala misi yang Alan lakukan, juga setiap penderitaan hidup yang mereka alami. Kedua orang ini lewati dengan suka cita, tanpa mengeluh walau terasa begitu berat.


Dan, suatu hari, sebuah kejadian secara mendadak menggoyahkan hati Cipi, untuk tidak melakukan misi yang diperintahkan langsung oleh Verko Jianno kepada mereka.


Kejadian itu, adalah titik putar dari kehidupan Cipi juga Alan, sampai pada akhirnya, mereka dibawa oleh takdir untuk bertemu dengan Arley beserta keluarga Tomtom.


Apakah yang sempat terjadi kepada cipi, sebelum mereka bertemu langsung dengan Arley?!


.


.


.


***


.


.


.


Kembali, ke tempat dimana Arley baru saja mau mendengarkan kisah hidup Cipi.


Namun, saat itu langit sudah berubah warna … awan tampak mendung, dan suhu udara mulai mendingin.


Walaupun begitu, Cipi beserta Arley masih saja duduk di perbatasan bibir hutan pemisah, antara kawasan kota [Rapysta], dengan bagian luar garis kekuasaan pemerintah kota.


“Satu tahun yang lalu …,” ucap Cipi, yang ketika itu mulai menyandarkan tubuhnya pada batang pohon pinus.


Lantas, Arley pun melakukan hal yang sama terhadap Melliana. Dirinya membaringkan Melliana pada pohon yang tumbuh di seberang tubuh Cipi. Sedangkan diri Arley sendiri, Ia duduk bersila di tengah jalan, sebagai pemisah antara Melliana dengan Cipi.


“Tidak … tuju belas tahun yang lalu ….” Dan sebelum Cipi menjelaskan runtutan permasalahannya kala itu, ia malah menjelaskan sejarah hidupnya kepada Arley, untuk merincikan, mengapa ia sangat ingin membunuh Verko.


Kemudian … Cipi mulai bercerita mengenai masa lalunya kepada Arley. Namun, ia tak menjelaskan Nama-nama dari orang yang terlibat dengan Verko ataupun Alan. Dirinya hanya menjelaskan, jika Alan sebenarnya masih menyimpan dendam terhadap Verko, karena adik beserta ibu tirinya telah dijadikan budak kamar tidur, dengan begitu kejinya.


Beberapa puluh menit telah berjalan ketika Cipi menceritakan masa lalunya. Namun, di langit yang terlihat mendung, hujan juga tak kunjung jatuh dari langit.


Yang tampak, hanyalah langit lepas mulai berubah menjadi gelap seiring malam menjemput.


Semakin Arley mendengar kisah yang Cipi ceritakan, maka semakin tenggelam Arley dalam perasaan marahnya.


“Setelah Kak Alan membawaku lari, demikian kami bisa hidup tenang dari kejaran Verko,” ucap Cipi untuk menutup kisah panjangnya itu.


Sejenak suasana hening kembali terjadi. Kondisi canggung terasa begitu tak nyaman untuk kedua belah pihak.


Lantas, Cipi pun mulai menarik napasnya dalam-dalam, kemudian, menceritakan sumber permasalahan dirinya, yang pernah terjadi satu tahun lalu.


“Akan tetapi … aku baru tahu informasi ini sekitar satu tahun yang lalu, saat diriku ini pertama kali bertemu dengan pria keji itu.”


Arley sedikit terkejut, ia mengira jika Cipi sudah mengetahui hal ini semenjak dahulu kala.


“Tunggu dulu ... mengapa kau baru mengetahui hal itu belakangan ini? Apakah Paman ini tak memberitahumu apa pun?” ucap Arley, sambil menunjuk ke tubuh Alan yang tergeletak di depan kereta kuda.


“Aku tahu mengapa ia tak ingin menceritakan hal ini. Lagi pula ... aku mendengarkan kisah ini dari adiknya Kak Alan.”


Arley mulai kembali terdiam sambil memperhatikan apa yang Cipi ingin ucapkan.


“Sekitar satu tahun yang lalu ... secara tak sengaja aku bertemu dengan wanita itu. Ia bernama Loise ... wanita berambut hitam, lurus panjang, juga lembut sehalus sutra.” Sejenak, Cipi berhenti melantunkan kisahnya, ia tertunduk lesu sambil mengingat kembali, apa yang ia kenang waktu itu.


“Loise adalah wanita yang paling cantik, yang pernah aku temui di muka bumi [Soros] ini. Rambutnya yang hitam kelam, tampak berkilap layaknya langit cerah di malam hari. Wajahnya yang putih, tampak begitu mulus layakya putih susu.”


Sejenak Cipi menoleh ke arah Arley, lalu ia membandingkan warna kulit Loise dengan sang remaja berambut merah.


“Tapi, Loise tak sepucat dirimu. Ia memiliki kulit yang cantik juga indah, err ... kau tampak seperti seorang mayat,” jelas Cipi, sambil menatap jijik Arley.


“Aku sering mendengar hal itu, tapi aku sudah terbiasa.” Arley hanya menjawab pertanyaan Cipi dengan senyuman terpaksanya, sambil memasang posisi duduk, dengan tangan kirinya menahan ke belakangang, dan kaki kanannya ia tegakkan, sedangkan tangan kanannya ia taruh di tempurung kaki kanannya untuk beristirahat sejenak.


Cipi pun tertawa saat mendengar ucapan Arley. Lalu, ia melanjutkan kisahnya.


“Loise ini ... ia adalah istri ke dua, dari lima puluh istri yang Verko miliki.”


Ketika itu, setelah Cipi memberi tahu jika Verko memiliki istri yang sangat banyak, Arley lagsung memasag posisi duduknya menjadi tegap kembali, dan mendengarkan kisah Cipi dengan serius.


“Kau tahu? Sebenarnya, seluruh istri Verko adalah budak pekerja malam, yang sengaja Verko jual di Kasinonya. Sebab mengapa ia pindah ke kota [Rapysta], adalah, karena ia sudah menikahi seluruh anak dan istri bangsawan di kota [Azurat Zlanat]. “


Tiba-tiba, di saat Cipi menjelaskan hal tersebut, langit mulai merintikkan hujannya dengan perlahan. Namun, Cipi saat itu sempat mengeluarkan tongkat sihirnya, dan ia merapalkan sesuatu dari mulutnya, untuk memberi penerangan kepada mereka semua.


“Glow”


Rapalnya, sambil mengayunkan tongkat sihir ke atas udara. Timbullah sebuah cahaya, dan menggantung di atas pohon pinus yang Cipi sandari.


Sontak, cahaya tampil cukup terang, sampai menyinari sekitar sepuluh meter ke seluruh penjuru wilayah hutan.


“Dari informasi yang aku dapat, kota [Azurat Zlanat], saat ini sudah tidak memiliki bangsawan, bahkan tak ada satu orang bangsawan pun yang tersisa. Walaupun begitu, seluruh masyarakatnya masih hidup dengan sejahtera, bahkan lebih makmur dari sebelumnya.” Lanjut Cipi yang menjelaskan kisahnya.


Arley sejenak bangkit dari duduknya. Lalu ia membuka jubah putihnya, dan menutupi tubuh Melliana agar tidak kedinginan akibat terkena hujan.


Setelah itu, Arley kembali ke tengah jalan dan mendengarkan kembali kisah Cipi.


“Lanjutkan,” ucap Arley, yang ekspresinya tampak begitu datar.


“Dan menurut Loise ... sebab mengapa Verko pergi meninggalkan kota [Azurat Zlanat] dan malah datang ke kota [Rapysta], adalah untuk mewujudkan cita-citanya, ingin menciptakan Kasino terbesar yang pernah ada di benua [Horus].”


“Ya, aku pernah mendengar hal itu ... mengerikan, betapa rakusnya orang ini ...,” ucap Arley, sambil mengelus dagunya.


Cipi kembali terdiam ... sebenarnya, ia sedari tadi ingin menjelaskan hal ini kepada Arley, tapi ia tak punya waktu untuk menceritakannya.


“Se-sebenarnya ... aku ingin menyapaikan kisah ini kepadamu,” jelas Cipi sambil memalingkan wajahnya dari si remaja berambut merah. “tapi ... aku takut, jika aib Kak Alan akan tersebar kepada orang yang kurag tepat.”


Mendengar ucapan Cipi, Arley langsung menajamkan alis matanya.


“Aku tidak memaksamu untuk menceritakan segala hal ... kisah masa lalumu tadi saja, sudah cukup untuk menjadi alasan, mengapa aku harus menghabisi Verko dari muka bumi ini,” ucap Arley, yang kemudian menatapi pedang putihnya.


Cipi kemudian tersenyum, kali ini ia yakin jika dirinya tak salah meminta bantuan seseorang.


“Tidak, aku akan menceritakannya,” imbuh cipi, yang kemudian melanjutkan ceritanya. “sebenarnya ... Loise, wanita yang menjelaskan segala hal ini kepadaku, adalah adik tiri Kak Alan, yang sempat di culik oleh Verko bersama ibu kandungnya.”


Mata Arley langsung melotot, dan darahnya mulai mendidih di saat ia mendengar, jika Loise adalah adik tiri dari Alan, yang sempat dipermainkan oleh Verko beberapa belas tahun yang lalu.