
Didalam ruangan yang sempit juga gelap gulita, aku hanya bisa mendengar suara cetikan air yang terjatuh ke lantai, suasana masih hening, tampaknya mereka para penculik ini masih belum sepenuhnya menyadari keberadaan ku.
“H-hey dik … kamu kok bisa ada di sini …?”
Utas sang Boss yang nada suaranya berdengung tebal di gorong-gorong ini, perangainya sedikit aneh, rambutnya belah tengan dengan postur tubuh yang cukup berisi namun porsi tubuhnya terlihat jangkung, lehernya tampak tebal menyesuaikan kondis tubuhnya yang cukup berisi, walupun tubuhnya berisi, tampaknya pria ini memiliki otot yang cukup terlatih, hal ini bisa kita perhatikan dari otot lengannya yang cukup kekar.
Bagaimana dengan anak buahnya? Hmmm tidak tampak lebih kuat dari para Algojo yang Pilak sewa (Ark sebelumnya). baiklah aku akan menghabisi mereka semua tepat di gorong-gorong ini sekarang juga.
“Maaf kan aku Paman, namun aku rasa malam ini paman-paman sekalian yang ada di sini, tidak akan bisa bertemu tuan Client seperti yang paman Boss sebutkan”
Mereka awalnya tampak terheran-heran, namun beberapa saat kemudian mereka menyadari bahwa aku adalah sebuah ancaman untuk mereka.
“Paman tahu kenapa? Karena paman semua akan bertemu tuan dokter terlebih dahulu sebelum bertemu tuan Clinet.” Cetus ku sambil menodong mereka dengan tongkat sihir.
“Heh….Hehehe, Hahahaha!! Hey bocah, Siapa yang mengirim mu kesini? Apakah kau utusan dari Lucaz untuk menyelamatkan anak nya …? Dimana bala tentara mu? Apa jangan-jangan kita sudah terkepung dari luar … cih dasar Lucas sialan!, dari mana dia tahu rencana ini, Siapa yang berani-beraninya membocorkan rencana ku ....?!”
Lalu sang pria mengeluarkan tongkat sihir yang ada di sakunya, seketika ia menodongkan tongkat sihir itu ke arah salah satu anak buahnya yang memiliki gigi tonggos, kalau aku ingat-ingat pria ini adalah pria yang membawa anak perempuan itu ke tempat ini.
“Fire Dart!”
Dari ujung tongkat sang boss tiba-tiba muncul api yang terlontar cepat bagaikan peluru. api itu tertembak sampai menembus ke kepala anak buahnya tersebut. Ini pertama kalinya aku melihat orang lain menggunakan tongkat sihir sebagai sarana bertarung berada tepat di hadapanku, sejujurnya aku cukup terkejut dengan moment ini.
Tubuh sang bawahan langsung terbujur kaku di lantai semen, darahnya seketika merembes keluar dari bekas tembakan peluru api yang melubangi kepalanya. Tampak, kawan-kawan nya yang lain terlihat ketakutan, mereka saling melihat satu dengan yang lainnya, lirikan mata mereka seperti saling menuduh dan melontarkan masalah.
“Hei paman, apa yang kau lakukan dengan anak buahmu sendiri, bukankah mereka bawahan mu yang selalu mengikuti setiap langkah dan perintah dari mu? Seharusnya kau lebih menjaga loyalitas mereka daripada membunuh mereka tanpa ampun seperti ini.”
Lalu pria itu meludah ke aliran air yang ada di samping kanannya, perlahan sang pria berjalan mendekat ke arahku begitu juga dengan para bawahannya yang mengikutinya dari belakang, para bawahan ini mengeluarkan senjata-senjata yang mereka gunakan untuk berbuat tindak kriminal.
“Nak … dunia ini lebih kejam dari yang kau perkirakan, kau berusia berapa? Delapan? Sembilan? Seharusnya kau berada di rumah dan tidak menggubris kami di sini, nah, tapi ini semua bukanlah kesalahan mu kok, kematian mu di sini adalah salah mereka yang ada di luar sana,” sang Boss sengaja mengeraskan suaranya untuk menantang orang yang (dikiranya) ada di luar. “Hey kalian yang di luar sana! Dengar, anak ini sekarang tawanan kami! Jika ingin dia selamat biarkan kami keluar saat ini juga! Serta siapkan kereta kuda untuk kami pergi dari tempat ini!”
“Huh!? Apa mereka sebohon ini untuk meninggalkan anak kecil sepertimu untuk di bantai begitu saja?” Sang boss berjalan dengan santai ke belakangku, dia mencoba mengecek ke luar ruangan yang jaraknya sekitar lima meter dari tempat ku berdiri saat ini. dengan kata lain dari ruangan ini kita bisa langsung melihat keluar ke-arah jembatan.
Namun terkejut bukan main, sang boss melihat kondisi di luar gorong-gorong dalam keadaan hampa, kosong tak ada sebiji makhluk pun di luar sana.
Hanya modal seringaian di bibir, aku kemudian menodongkan tongkat sihirku ke para bawahan orang tersebut. Baju yang ku kenakan langsung berubah menjadi warna biru, kemudian aku mengaktifkan [Elementium] air yang sudah lama tidak aku gunakan.
“Percutiens Aquae~”
Bagaikan sayatan pisau yang tajam, air kotor yang aku pijak berubah menjadi sebilah pisau yang lebar, lalu aku gerakkan tongkat sihir ini ke arah para bawahan yang berjarak lima meter di depan ku, seketika itu juga tubuh mereka terkena serangan tersebut, terhempas, tubuh mereka menabrak tembok namun kondisi badan mereka tidak terluka parah, hanya sayatan tipis tampak melukai tubuh mereka. Namun kesadaran mereka terlepas akibat hentakan yang cukup kuat tadi.
“Kau, siapa dirimu sebenarnya. bisa melakukan hal seperti ini di umur mu yang masih belia, kau bukanlah manusia normal …” ucap sang pria yang saat ini sedang menodongkan tongkat sihirnya ke arah ku. “ Apa tujuanmu melakukan hal ini kepada kami ? ini semua bukan lah urusanmu kenapa kau ikut campur dalam hal yang seharusnya kau tidak berkecimpung di dalamnya, apakah karena uang? Atau kau mau di anggap pahlawan?”
“Aku bukanlah orang yang receh seperti itu, Boss, aku hanya melakukan hal yang menurut hati ku benar”
Aku melirik kebelakang sambil menyeringai sadis di hadapannya.
“Tidak, aku melakukannya, karena aku suka~.” Ucap ku sambil berbalik badan ke-arah paman Boss yang bertubuh jangkung tersebut.
“Jleb!~” namun dadaku langsung terasa kebas, tampaknya ada benda asing bersemayam di dadaku saat ini, mataku melotot bingung memandang wajah sang Boss.
Lalu sang boss tiba-tiba membalas seringaian kejam ku sambil memeletkan lidahnya ....
Seketika itu juga aku ambruk berlumuran air comberan.
***