
Berdiri tegap, memandangi sisi luar dari gedung yang sudah hancur pada sebagian sisinya. Arley yang sudah melepaskan rasa amarahnya, perlahan warna bajunya kembali menjadi putih, dan saat itu jugalah dirinya terjatuh lemas, sembari menyadari atas apa yang baru saja ia lakukan.
“A-aku … mengapa aku melakukan hal ini …,” gumam Arley , yang kemudian menatap telapak tangannya yang memiliki kulit hitam tersebut.
Dan saat itu juga, sang paman berhasil meraih kembali kontrol tubuhnya. Mendekatlah sang paman ke pada anak angkatnya, dan saat itu, dirinya langsung duduk pada siku kakinya, serta memegangi kedua belah punggung Arley dengan kedua telapak tangannya.
“Hey! Kau baik-baik saja?! Yang barusan kau lakukan tadi, apa itu sebenarnya?!” ucap sang paman, dengan penuh tanda tanya.
“A-aku … tidak tahu paman. Aku hanya merasa sangat marah, dan ingin meluapkan perasaan ini kepada pria itu. Hanya itu saja,” jawab Arley, yang kelimatnya itu masih menimbulkan misteri.
“Tapi … syukurlah kau masih baik-baik saja. Apakah ada bagian tubuhmu yang tersa sakit?!”
Ketika sang paman menanyakan hal itu, Arley menggelengkan kepalanya dengan kondisi lemas. Demikian, mereka berdua pun kembali berdiri, dan kali ini, mereka mengamati setiap sisi dari ruangan tersebut.
Kondisi kehancuran sangatlah parah. Kaca jendela yang terpasang besar di ruangan itu, telah hancur semua. Sisi lantai di depan mereka pun, separuhnya sudah runtuh jatuh ke tanah.
“Mengerikan … aku masih tak mengerti, kau mendapatkan kekuatan ini dari mana,” ucap sang paman, sambil mengelus kencang rambut Arley. “tapi aku bangga kepadamu, mulai saat ini, gunakanlah kekuatanmu ini untuk menolong orang lain.”
“Tentu saja, paman.” jawab Arley, yang saat itu, dirinya juga masih belum menyangka, jika semua ini adalah hasil karya tangannya.
Namun, tiba-tiba, tak sengaja Arley dan paman Radits, melihat ada seseorang yang terbang mendekat ke arah mereka.
“Ada yang datang!” Sang paman pun kemudian menarik pedang pisau bertempurnya, sembari, ia juga mengeluarkan pedang berperangnya untuk bersiap-siap.
“Dia … ternyata masih hidup.” Ketika itu, Arley menyadari, jika orang yang terbang menju ke arah mereka saat ini, adalah pria Butler yang dirinya sempat serang tadi.
“Dia masih hidup?!”
“Sepertinya begitu, paman. Orang ini bukan sembarangan manusia, berhati-hatilah, Paman!”
Mereka berdua berdua terlihat sudah siap, untuk menerima tamu yang akan datang menghampiri mereka.
Bilah pedang sudah di arahkan ke arah pria tersebut, akan tetapi, ketika pria itu datang kembali memasuiki ruangan itu, betapa terkejutnya paman Radits beserta Arley.
Di tubuh pria itu, ada sebuah luka besar yang menebas sampai ke dadanya. Akan tetapi, bagaimana bisa, pria ini bergerak bebas seperti ini.
Penampakan aneh ini, membuat paman Radits menjadi segan melawan pria berabut klimis yang satu itu.
“Berani-bernainya … berani-beraninya kau menyakiti tubuhku yang agung ini!” ucap pria itu dengan ekspresi tersenyum mengerikannya. “atas namaku sendiri, Hi Jyaku Berlinton, aku bersumpah akan memusnahkanmu dari muka bumi ini!”
Akan tetapi, saat pria itu sedang berteriak dengan hebohnya. Tanpa aba-aba, pama Radits langsung menebaskan pedangnya, untuk membuat pria itu hilang kesadaran.
Namun, pria bernama Berlinton ini tidak pingsan semudah itu. Dirinya masih bisa terbang menggunakan mantra sihirinya, walaupun tubuhnya telah penuh dengan luka.
“Eek?! Kau ini manusia aneh!” celetuk paman Radits, yang kemudian melompat kembali menuju dataran lantai empat.
Berlinton pun tertawa, dan entah apa yang membuatnya tertawa pada saat itu. Tetapi, Arley tampak tidak tertarik denga alasan mengapa pria Butler itu bisa tertawa lepas seperti itu.
“Paman, aku serahkan pria itu kepadamu, ya.” Lantas, Arley memilih, untuk segera memasuki pintu, yang pada saat itu ditunjuk oleh Berlinton, jika keberadaan Melliana tengah ada di balik pintu tersebut.
“Hoi! Jangan mengacuhkan aku!” Namun, Berlinton tak ingin membiarkan Arley berlalu begitu saja. Dengan cepat ia membidik Arley dengan tongkat sihirnya. Akan tetapi, paman Radits pun bergerak cepat.
Dirinya, langsung hadir di punggung belakang Berlinton, dan saat itu juga, dirinya menebas punggung Berlinton tanpa segan-segan.
Dan karena hal tersebut, Arley pun berhasil memasuki pintu pada ruangan di sebelah Timur Laut tersebut. Ia dengan cepat membuka pintu pada ruangan itu, akan tetapi … ketika ia melihat kedalam ruangan itu, Arley lagi-lagi dibuat shock atas apa yang ia lihat kala itu.
Dirinya memandang, ada banyak wanita yang tergeletak di ruangan tersebut. Namun, ketika itu, Arley langsung menemukan keberadaan Melliana yang tertidur lemas di atas kasur ukuran King Size tersebut.
Sejenak Arley terdiam membeku, ia tak ingin pikirannya mengacaukan tujuannya datang ke lokasi ini. Saat itu, Arley melihat ke sekeliling dalam ruangan pengap itu, hampir tak ada oksigen yang tersisa pada ruangan ini, seperti, baru saja terjadi kerja keras yang berlangsung di dalam ruangan pengap itu.
Bergeraklah Arley memasuki ruangan itu, dan meninggalkan Berlinton, untuk bertarung melawan paman Radits.
Saat dirinya pertamakali menginjakkan kaki di dalam ruangan tersebut, Arley tak menemukan ada tanda-tanda keberadaan Verko.
Yang ia temukan saat itu, hanyalah Melliana, yang mengenakan pakaian supertipis, tengah tergeletak di atas kasur kamar tersebut.
Arley langsung berlari menuju kasur itu, sempat, dirinya melewati beberapa wanita yang juga mengenakan pakaian serupa dengan Melliana.
“Kak Mell!? Kau tidak apa-apa!? Hey, kak Mell!” ucap Arley, yang ketika itu berusaha membangunkan Melliana.
Namun, di saat Melliana terbangun dari tidurnya, ia tampak seperti orang mabuk keras. Dirinya menggeliat, dan ia juga sempat menyerang Arley.
Akan tetapi, karena Arley lebih kuat dari Melliana, tentu saja Arley bisa menahan dorongan Melliana.
“Kak Mell?! Kau baik-baik saja?!” Lalu, ketika Arleu berusaha mencari air putih demi menyadarkan Melliana, saat itu, Arley kembali di kejutkan, oleh kosongnya botol ramuan, yang sempat ia bikin dan ia jual kepada Verko.
Arley pun langsung menyadari, jika, seluruh wanita yang ada di ruangan itu, telah di tenggakkan minuman perangsang itu, demi memuaskan Verko.
Kembali … darah Arley mulai mendidih layaknya air dipanaskan.
“Kak … apakah kakak baik-baik saja …?” Arley kembali bertanya, namun kali ini dengan nada serius.
Saat itu, Melliana pun terdiam, dan ia mulai menangis pada punggung Arley.
“Maafkan aku Arley … maafkan aku … tubuh ini, telah kotor ditangan orang lain …,” gumam Melliana, yang sontak, dirinya memeluk tubuhnya sendiri dan seperti menahan jijik.
Benar saja, Amarah Arley kembali memuncak. Padahal, beberapa saat yang lalu, Arley baru saja melepaskan seluruh amarahnya ke pada Berlinton.
“Verko … kau … DASAR BIADAB!”
Ucapan Arley itu pun di dengaro oleh salah seorang waniya, yang tergeletak di lantai kasur. Wanita berabut pirang itu bangkit, lalu ia menyandarkan kepalanya di sisi pojok kasur, sambil menatap Arley dengan wajah lesu.
“Jika kau mencari Verko~ orang itu sudah tidak ada di sini. Semenjak suara ledakan yang terakhir terjadi, dia kabur melalui pintu rahasia,” cakap wanita itu, sambil membelai rambutnya.
“Kau … siapa?” tanya Arley, yang kemudian, ia menggulung tubuh Melliana dengan prei putih yang menutupi kasur di kamar itu.
“Tak perlu tahu siapa aku, tetapi, wanita yang kau panggul itu masih aman. Verko belum sempat mengotori tubuhnya, tapi ia mungkin sudah mengotori hati wanita itu dengan perkataan.”
Arley pun beranjak pergi menuju keluar dari ruangan itu. ia keluar melewati pintu yang tadi dirinya lewati.
“Terima kasih … petunjukmu sangat membantu, wahai Kakak Cantik.” Ketika itu, dengan dinginnya Arley meninggalkan sang wanita berambut pirang. Lantas, wanita itu pun tersipu malu, ketika Arley memanggilnya dengan panggilan tersebut.
“Kakak cantik, ya …,” gumam wanita itu, sambil ia mengenang masal lalunya. “seandainya saja aku masih suci, mungkin aku akan sangat bahagia jika anak itu memanggilku dengan sebutan itu.” Dan walaupun wania berambut kunging ini berkata demikian, tetapi, dirinya cukup tersipu malu, atas apa yang Arley sebutkan kepada dirinya tadi.
“Anak yang menarik~” ucap wanita itu, sambil melihat ke arah pintu keluar.