The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 269 : Rencana Tiga Fase!



Pasukan musuh sudah berada di perbatasan kota. Bola-bola api pun mulai ditembakan menuju ke arah kota. Akan tetapi, rencana yang Arley bentuk, saat ini sedang dijalankan oleh Alan juga paman Radits.


Saat itu, dengan gagah beraninya Arley berdiri sendiri di depan ratusan ribu manusia yang ingin menghancurkan kota [Rapysata].


Sejenak, mereka semua tampak bingung, mengapa hanya ada seorang remaja saja di sana. Diamana bala tentara lawan dan kenapa pintu kota tampak sepi.


Pertanyaan itu terus bergulir dibenak pasukan musuh, dan tidak ada rasa curiga ketika penyerangan ini teradi begitu saja.


“Lihat! Di sana ada seorang remaja pria! Apa yang ia lakukan sendirian di sana?!” ucap salah seorang prajurit musuh, yang ketika itu terus berlari, sebab orang yang ada di belakangnya tak kunjung berhenti.


Akan tetapi, tiba-tiba pergerakan musuh langsung berhenti mendadak. Sebuah perintah tampak dikibarkan oleh sang pemimpin pertempuran.


Pria itu bertubuh kekar, dan jenggotnya sangat tebal. Selain itu, baju Armor perangnya juga lengkap dengan ornamen berwarna kuning terpasang pada cat merahnya.


Pria itu pun melangkah maju, lalu ia mendekati Arley untuk mencari informasi yang lebih jelas.


“Siapa kamu, kemana bala tentara kalian?!” tanya pria itu, sambil memegang pedang raksasanya.


Arley hanya diam. Ia diam sambil menatap tajam ke arah pria berbadan bongsor tersebut.


“Tidak ada,” jawab Arley dengan dinginnya.


Lantas, pria itu pun terjut, ia pun langsung mengambil kesimpulan, jika kota ini telah di tinggalkan.


Namun, sebelum pria itu berbalik badan, Arley pun menambahkan kalimatnya untuk memancing suasana panas.


“Tidak ada yang membutuhkan prajurit perang, jika lawannya hanya kalian saja,” cerca Arley, yang kemudian mengeluarkan bilah pedangnya untuk menantang kapten lawan.


Tersenyumlah pria berbadan bongsor dan berjenggot tebal tersebut.


“Heh~ ucapanmu sangat berani, tapi apa yang kau bisa lakukan dengan hanya seorang diri.” Dan Ketika ucapan pria itu baru saja selesai.


Tiba-tiba, Alan datang secara mendadak. Ia datang dari atas langit dan tak ada yang menyadari akan kehadirannya kala itu.


Sang kapten pasukan musuhpun cukup terkejut, ia tak menyangka jika orang yang membantu remaja itu akan datang dengan cara yang unik.


“Berdua?!” gumam pria tegap itu, sambil menatapi gerak-gerik kedua pria ini. “Tidak … mereka ini bukanlah lawan yang remeh, dengan menunjukkan keberanian merka saja di depan kami, sudah menunjukkan kualitas bertempur mereka.”


Saat itu, Alan terlihat membisikkan sesuatu kepada Arley, dan selepas ia usai membisikkan hal yang ingin di sampaikan. Wajah Arley langsung berubah menjadi tajam dan dingin.


Ya, amat sangat dingin. Bagi siapa pun yang menatap ekspresi tersebut, mereka pasti akan meraskan, waha dingin yang keluar dari tubuh Arley, datang dan menyambar diri mereka.


Itulah apa yang sang kapten tim lawan rasakan pada saat itu.


“Tidak! Orang ini kabar buruk, aku tidak bisa membiarkannya hidup!” Lantas, seketika itu juga, tiba-tiba paman Radits datang dari arah langit juga, dan ia langsung memukul pria berbadan tegap itu, tepat di wajahnya.


Terpentallah pria itu sampau kembali ke tempat rekan-rekannya. Dan dalam satu kali pukulan itu saja, dirinya langsung terpingsan dan hidungnya berlumuran dengan cairan merah.


“Ahahaha! Rasakan itu!” teriak sang paman, yang ketika itu dirinya langsung mengeluarkan pisau dan pedang tempurnya.


“Serahkan semuanya kepadaku!” jawab sang paman, yang ketika itu, kalimatnya sudah tidak sampai lagi menuju Arley. Tapi, setidaknya perasaan sang paman bisa di terima oleh sang remaja berambut merah tersebut.


Sampai sejauh ini, rencana Arley berjalan dengan sempurna. Sebab dikalahkannya kapten kompi musuh, kondisi prajurit lawan terlihat tak karuan dan mereka cukup takut sebab tak ada yang memimpin.


Pesan beruntun pun harus di sampaikan satu per satu menuju ke bagian paling belakang, pesan yang mengisahkan, jika kapten yang memimpin peperangan ini, telah dikalahkan dalam satu kali pukulan saja.


Berita ini memang sebuah kabar buruk bagi tim lawan, apa lagi, pergerakan informasinya sangatlah lamban, sebab jumlah prajurit yang di bawa terlalu banyak.


Di sinilah renjaca Arley berjalan baik.


Kala itu, Arley dan Alan sudah berada di posisi paling belakang dari barisan pasukan musuh. Rencana pertama sudah di laksanakan, maka, saat ini meraka memasuki fase kedua dari rencana ringan ini. yaitu menemukan Verko.


Namun, Fase kedua pun sudah diraih dengan sempurna dalam waktu dekat. Semua ini berkat kemampuan pencarian Informasi Alan yang sangat luar biasa.


“Dimana kereta mereka?” tanya Arley, yang saat itu tengah duduk di atas sebuah ranting pohon, untuk melihat keseluruhan dari pemimpin peperangan ini.


“Di sana kereta kencananya, Kereta yang di tarik oleh dua belas kuda jantan, dan memiliki warna cat hitam,” tunjuk Alan, untuk memberitahukan keberadaan Verko.


“Bagus, sekarang kita ke tahap tiga.”


Saat Arley memberitahu Alan, jika mereka mulai melaksanakan fase terakhir dari misi mustahil ini. ketika itu juga, Arley beserta Alan langsung mengembangkan bibir mereka, seperti mendapatkan ekstasi dari apa yang akan mereka lakukan saat ini.


“Bagaimana kau bisa memikirkan rencana sematang ini, Arley? tidak mungkin kau memikirkan rencana menakjubkan seperti ini hanya dalam waktu satu hari, bukan?” tanya Verko, yang saat itu sedang menunggu momen yang mereka berdua tengah tunggu.


“Tidak, aku bahkan tidak memikirkannya. Diri ini hanya mengikuti kata hatinya saja, dan aku rasa, cara ini adalah cara terbaik untuk membuat orang lain jera atas perbuatan buruk yang tak mestinya di contoh.”


Saat itu, Kalimat Arley pun merasuk lekat ke dalam hati Alan.


“Kau anak yang luar biasa, Arley. Hahaha~ sekarang, jika kau meminta Cipi untuk menjadi budakmu sekali pun, aku bisa merelakan hal tersebut,” imbuh Alan, yang kala itu merasa sangat senang dengan kepribadian Arley.


“Jangan berkata bodoh, Aku tidak akan memperbudak seseorang hanya karena alasan permintaan seperti ini.”


“Tidak Arley, bagi kami, melenyapkan Verko dari muka bumi adalah suatu kewajiban. Dendam yang tertanam dilubuk terdalam hati kami, sudah tak bisa diajak kompromi lagi.”


Ketika itu, Alan mengerenyuh jantungnya, ia masih merasa, jika apa yang ia rasakan saat ini masih terasa sakit di dada.


“Aku tahu itu.” Lantas, Arley pun memegang dadanya, dan ia juga menggeram baju hitam yang terdapat pada bagian dalam jubahnya. “Aku juga sempat merasakan hal itu, tapi … semakin aku berpikir keras, aku mendapatkan suatu pandangan, jika mata rantai dendam harus di putuskan saat ini juga.”


“Dan moment ini adalah waktunya,” imbuh Alan, yang saat itu mulai kembali tersenyum, atas pengaruh Arley kepadanya.


Arley pun menganggukkan kepalanya, ia sepakat dengan apa yang Alan ucapkan tadi.


Kemudian, aba-aba yang ditunggu pun terjadi. Suara teriakan yang amat riuh dari arah depan, perlahan merambat menuju ke belakang barisan, dan membuat keriuhan yang tak bisa di atur dengan satu komando sekalipun.


“Ayo kita beraksi!” Lantas, ketika Arley mengucapkan aba-abanya, Alan pun menganggukkan kepalanya untuk segera menjalankan rencana yang ia dapat mandatkan dari Arley.


Apa rahasia di balik rencana tiga fase ini? dan apakah rencana ini akan berjalan lancar?!