The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 207 : Varra & Keluarga Tomtom.



Not Edited !


Saat itu, sebuah paket telah tiba di depan pintu kamar Arley. di dalam kondisi yang senyap, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar nyaring masuk kedalam telinga sang remaja berambut merah.


“Yang Mulia Arley … pesanan anda sudah tiba.” Terdengar suara Roumand dari balik pintu kamar Arley.


Mendanak Arley langsung terkejut, dirinya tak menyangka jika Roumand akan mengantarkan paket pesanan Arley dengan cara yang unik seperti ini.


“Pak Rouman?” panggil Arley yang ketika itu ia membuka pintu kamarnya. Namun, di depan pintu Arley tak ada si manajer toko jahit, yang ada hanya sebuah koper cokelat yang tergelerak tepat di depan puntu Arley.


Penasaran dengan isi koper tersebut, lantas Arley langsung membuka koper, saat itu juga. Setelah ia membukanya, tersenyumlah Arley ketika ia melihat hasil kerja yang begitu indah.


***


Hari telah berganti menajadi malam. Varra masih tertidur lelap di atas kasur Arley. Sejenak, akibat suara pintu yang terbuka, tak sengaja Varra terbangun dari tidurnya.


Saat itu, betapa terkejutnya Varra ketika melihat Arley hanya berlapiskan handuk. Varra yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, dirinya langsung pura-pura tertidur sembari ia menyipitkan mata untuk mengintip Arley.


Akan tetapi, sesungguhnya Arley sudah mengetahui jika Varra saat ini sudah terbangun dari tidurnya. Dan saat ini Arley sedang tidak ingin bercanda ria.


“Varra …,” panggil Arley yang ketika itu sedang mencari baju yang akan ia kenakan.


Sontak, tubuh varra bereaksi saat Arley memanggilnya. Badannya terkejut bagaikan sengatan listrik yang voltasenya rendah.


“Sudah kuduga … Varra, mengintip itu tidak baik loh!” ucap Arley yang tak ingin Varra menjadi wanita tak benar.


“T-tapi kamu kan sudah lihat! P-p-punya-k-k-ku!” ujar Varra yang malu-malu mengatakan hal tersebut.


Saat itu, dalam hitungan detik, dengan cepatnya Arley sudah mengganti pakaiannya. Varra bahkan tak sempat melihat Arley melepaskan handugknya dari pinggang.


“Haah … bukankah aku sudah jelaskan? Aku enggak mengintip,” ujar Arley. lalu, saat itu Arley melemparkan sesuatu kepada Varra. “ini, kenakanlah, kau tak ada pakaian selain bajumu yang sudah terbakar itu kan?”


Ketika Varra melihat baju berwarna merah itu terlipat rapih di depannya, saat itu juga wajah Varra kembali memerah dan tampak sedikit mengeluarkan air mata bahagia.


“T-terima kasih, Arley …,” ucap Varra yang memeluk baju itu dengan dekap. "Owh, jadi ia mengambil bajuku, untuk mengukurnya," gumam Varra dalam hati. Tampak bahagia, Varra langsung memberikan rasa respek yang lebih tinggi lagi kepada sang pria berambut merah.


“Oh iya … aku sarankan kau mandi terlebih dahulu. Selepas ini, kita akan makan malam, bersama Paman Radits dan Emaly, di lantai bawah.”


Menjalankan perintah Arley, Varra pun saat itu langsung berlari menuju kamar mandi dengan selimut yang ia tarik untuk menutupi tubuhnya. Tentu saja, saat Varra berjak dari atas kasurnya, Arley menutup matanya agar ia tidak melihat lekuk tubuh Varra.


Beberapa saat telah belalu, Varra pun telah selesai membersihkan dirinya. Saat itu, ia langsung mengenakan baju yang Arley pesankan secara khusus di toko jahit Roumand.


Pintu kamar Arley pun terbuka, saat Arley melihat baju yang begitu cocok terpasang di badan Varra, tak sengaja wajah Arley ikut memerah sembari mulutnya segera berkata liar.


“C-cantiknya …,” ucap Arley tanpa segan-segan.


Lantas, Varra yang mendengarkan kalimat tersebut. Dirinya langsung tersipu malu sambil ia berjalan dan memperlihatkan setiap sisi baju tersebut.


Terpasang dengan indah, tiga jenis pakaian, yang dipadukan menajdi satu untuk sebuah disain yang tak pernah orang lain kenakan.


Pada bagian atas terpasang baju dasar berwarna pink, yang di sekitar kerahnya terdapat rumbaian kain berwarna putih. Berlengan setengah siku, yang pada ujung lengannya di jahit dengan rumbaian yang tampak menawan.


Pada bagian celana, Varra mengenakan rok yang membentang indah sampai batas lututnya, rumbaian bunga terdapat pada desain rok, yang hanya ada satu di dunia ini, sebab Roumand lah sang penekunnya. Lalu, sarung tangan putih yang menutupi kedua tangan sang wanita, yang melambangkan kesucian dan kewibawaan. Dan yang terakhir, clip aksesoris berbentuk kelinci, menghiasi rambut hitam kemerahan, yang telah menjadi ciri khas Varra.


Saat itu, Arley manampilkan ekspresi terkesimanya saat ia melihat kondisi Varra yang telah menggunakan pakaian tersebut, dalam kondisi rapi.


Ketika pertama kali Arley bertemu Varra, sangat sulit untuk melihat varra sebgaia seorang wanita, namun kali ini, Arley benar-benar mengakui bahwa Varra adalah seorang wanita tulen.


“Bagaimana?” tanya Varra untuk menggoda Arley. Padahal Varra tahu jika Arley sudah memujinya tadi.


Namun, Arley hanya terdiam malu untuk mengucapkan kalimat yang tadinya ia keluarkan secara cuma-cuma.


Melihat ekspresi Arley yang tak karuan, Varra terlihat semakin senang dan semakin ingin menggodanya. Namun, waktu malam semakin larut, dan jam makan akan segera habis. Saat itu, Varra memilih untuk menghentikan permainannya dan langsung menarik tangan Arley untuk turun ke lantai bawah.


Keluar lah mereka berdua dari dalam ruangan. Saat Varra dan Arley berjalan menuruni tangga menuju bar. Sontak, seluruh mata hanya bisa memandang Varra dengan takjub. Bagaimana mungkin, seorang gadis yang hanya memiliki tinggi badan, sekitar 155 cm, bisa memikat banyak orang.


Lantas, dari kejauhan Paman Radits dan Emaly melambaikan tangan mereka untuk mengundang Arley dan Varra, makan bersama mereka.


Tanpa basa-basi, mereka berdua pun langsung berlari menuju meja makan. Hidangan telah di pesan, dan saat ini hanya tinggal menunggu masakan jadi di masak.


“Kak Varra! Kakak terlihat sangat cantik!’ ucap Emaly yang tersenyum begitu imut.


“T-terima kasih …,” balas Varra yang sebenarnya ia masih belum mengenali Emaly dan paman Radits.


Menyadari jika Varra agak sedikit canggung, Paman Radits langsung mencoba mencairkan situasi dengan melakukan perkenalan terlebih dahulu.


“Varra!” panggil sang paman sambil ia menjulurkan tangan. “perkenalkan, nama saya, Radits Tomtom.” Ucap sang paman sambil tersenyum tulus.


“Sekarang aku-aku!” Lantas, kala itu Emaly ingin berkenalan dengan Varra. “Nama aku Emaly Tomtom! Adik dari Kak Arley Tomtom! Salam kenal, kak Varra Tomtom!” cakap Emaly yang ketika itu menginginkan Varra menjadi bagian dari keluarganya.


“E-eh?! T-tapi marga kakak bukan Tomtom, loh ….” Sedikit tersipu malu mendengar candaan Emaly, wajah Varra tampak memerah.


Tak menyia-nyiakan momen emas seperti ini, Paman Radits malah semakin menyudutkan Varra.


“Yaah! Kalau kamu bersedia menikahi Arley, besok aku bersedia mengurus pergantian namamu menjadi Tomtom!” ucap sang paman sambil ia mengelu-elus kepala Emaly.


“Paman!” bentak Arley, yang saat itu ternyata tak di sangka-sangka wajahnya ikut memerah.


“O-ooo?! Arley?! apakah kau baik-baik saja?! Aaa! Apakah kau juga setuju jika Varra mengganti namanya menjadi Tomtom?!” goda sang paman kepada sang remaja berambut merah.


“H-hentikan paman! Kau membuat Varra menjadi tidak nyaman, bukan?!” Tampak Arley mencari alasan untuk menghindari pembicaraan ini.


“Ara~ Varra atau dirimu yang merasa nyaman … ops! Maksudnya tidak nyaman! Ahahaha!” jawab paman Radits yang kali ini benar-benar membuat Arley sedikit kesal.


“Paaaammaaaan!” Keluarlah Aura aneh dari dalam tubuh Arley.


“A-arleey?! H-hey! Aku hanya bercanda loh! Ahahaha! Kau juga bercanda kaan!?” Sedikit ketakutan dengan ekspresi Arley yang terbilang serius, akhirnya sang paman menghentikan desakannya.


Syukurnya ,tak lama kemudian, hidangan makanan tiba di atas meja mereka. Malam itu, Arley dan Varra menyantap segala hidangan yang tersedia di atas meja, layaknya tiada hari esok, kecuali malam itu.


Bersambung ! ~


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -