
Not Edited!
Di dalam hutan yang lebat, berdiri seorang wanita dengan jubah kuning terpasang pada tubuhnya. Dirinya terdiam mengamati sekeliling hutan dengan ekspresi sangat serius.
Entah bagaimana dirinya bisa berada di dalam hutan kota. Tetapi, kala itu dirinya sedang mengejar salah seorang iblis yang tubuhnya sangatlah kecil.
Ya, iblis yang sang wanita kejar adalah iblis dari ras Pixie. Makhluk bertubuh kecil, dengan kedua sayap tertanam pada belikatnya. Setiap kali sang pixie terbang, tertinggal serbuk cahaya melayang di udara.
Kala itu, wanita berambut cokelat yang sudah kita kenal dengan nama Aurum, memandang serius keseluruh penjuru hutan untuk mengetahui kemana sang pixie menghilang saat ini.
“Kau mau bermain, petak umpet, denganku? Wahai iblis mungil?!” ujar Aurum demi memprovokasi sang iblis imut.
Lantas, dari sebuah dahan pohon, terlihat butiran debu cahaya jatuh dari padanya. Aurum yang menyadari akan hal tersebut, langsung menghampiri pohon tersebut. Kemudian ia menyentuh pohon itu menggunakan telapak tangannya.
Tak terjadi apa pun. Hanya pohon saling bergoyang sebab terhembus angin sajalah, yang Aurum bisa rasakan.
“Aneh … aku yakin sekali tadi ada serbuk cahaya dari arah pohon ini …,” gumam Aurum dengan notasi suara halus.
Berputarlah tubuh Aurum menuju bagian lain dari hutan. Kemudian, ia berjalan menjauhi pohon yang dirinya sentuh tadi sembari mencari posisi sang iblis mungil berada.
Beberapa langkah setelah Aurum bergeser—menyetuh batang pohon tersebut, tiba-tiba saja batang pohon itu bergerak dan mengantam tubuh sang wanita berambut coklat, dengan batangnya yang keras dan kuat. Entah bagaiamana, pohon itu bisa bergerak layaknya makluk hidup.
“KYAA!” Sembari berteriak kencang menahan sakit, terhempaslah raga Aurum dari posisi ia berdiri kala itu. Tubuhnya terguling-guling menuju sudut Selatan hutan sambil dirinya mengais tanah demi menghentikan gesekan tubuhnya dari atas bumi.
Setelah dirinya berhasil berhenti dari serangan pohon tersebut, terdengar suara tertawaan yang cukup mengerikan, sebab Aurum tak tahu dari mana sumber suaranya.
Menjulurlah tongkar sihir aurum untuk mengantisipasi segala macam kendala. “Keluar kau!” teriak Aurum yang menanti serangan selanjutnya.
“Hmm ~ kau cukup tangguh juga nanon.” Puji sang Pixie yang keberadaannya entah di mana. “Namaku adalah Helena nanon, kalau boleh tahu nanon, siapakah namamu, wahai manusia cantik nanon?” tanya sang suara yang tak tahu dari mana sumbernya.
Suara itu hanya menggema dari rongga-rongga hutan layaknya teriakan seseorang dari dalam ruang yang kosong.
“N-nanon …?” Sekilas Aurum tak mengerti kata akhir yang di ucapkan oleh sang Pixie, tapi dia memilih untuk tak menggubris hal tersebut. “Aurum, Namaku adalah Arumum Stella Regalius …,” jawab Aurum kepada sang Pixie.
Lantas, suara sang pixie tak terdengar kembali untuk beberapa saat, sampai akhirnya suara si pixie terdengar tepat di sebelah kuping Aurum. “Regalius nanon?” ucapnya dengan suara lucu.
“HUWAA!” karena begitu terkejut melihat sang Pixie, Aurum terjatuh menghantam bumi, dengan bokongnya yang pertama kali mendarat pada permukaan tanah.
“Haah, manusia sangatlah lemah nanon. Mengapa karena mendengar suara orang lain saja sudah bisa membuatnya terkejut nanon … aku kecewa nanon,” ucap sang Pixie yang kembali terbang menggunakan sayapnya
Sejenak, tak terlihat aura kejam dari arah sang pixie, getaran yang terlihat hanya keharmonisan dan ketentraman.
“Apakah benar kamu adalah salah satu pasukan raja iblis? Aku tidak bisa menyangka makhluk cantik sepertimu adalah seseorang yang jahat …?” tanya Arurum sambil ia berdiri dan menatap serius sang peri.
“Wahai manusia nanon~ mulutmu pandai berbicara juga nanon. Walaupun aku kecil seperti ini, tapi aku adalah tetua suku dari ras Pixie terbesar di bumi[Soros]nanon. Dengan kata lain nanon, aku ini adalah orang yang penting nanon!” Sambil menaruh kedua tangannya di pinggang, dan membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Aurum, pixie tersebut mulai berceramah kepada sang wanita berambut cokelat.
Sejenak Aurum memiringkan kepalanya, kemudian dengan pemikirannya yang kritis, Aurum mulai berdebat dengan sang Pixie.
“Aku dari tadi mendengar kalimat Iblis, iblis, dan iblis dari kalian. Sebenarnya apa sih yang di maksud iblis? Bukankah kalian hanya makhluk hidup seperti kami para manusia? Dari mananya kalian bisa di panggil iblis?” cetus Aurum dengan begitu kritisnya.
Sejenak sang pixie menatap Aurum dengan serius, kemudian ia memegang dagunya sambil berpikir keras. “Emmm, aku juga tak tahu nanon. Tapi … kami semua yang berasal dari dua belas ras besar nanon, ditugaskan raja iblis untuk menyerang manusia nanon. Karena manusia sudah berlaku jahat pada kami di masa yang lampau nanon.” Kali ini Sang Pixie mulai menjelaskan apa yang ia dapatkan dari sang empu permasalahan.
Aurum menyadari jika ada suatu hal yang tak beres di sini. Demikian ia mulai menggali informasi dari sang Pixie.
“Jadi … nama iblis yang tersemat pada kalian, itu hanya karena kalian adalah salah satu pasukan dari raja iblis?” tanya Aurum kepada si iblis imut.
“Hey! Aku bukan pasukan biasa nanon! Itu kurang ajar namanya nanon. Tapi kau benar, karena kami adalah salah satu pengikut raja iblis nanon, maka nama panggilan iblis akan tersemat pada individu tersebut nanon.”
“Kalau begitu, jika ada manusia yang bergabung dengan pasukan raja iblis, bukankah itu berarti, dirinya juga akan di panggil sebagai iblis?”
Tersenyumlah Aurum mendengar ucapan Helena, “Kalau begitu, jika kalian keluar dari pasukan raja iblis, bukankah kalian hanya Pixie biasa?”
Terdiamlah sang Pixie mendengarkan ucapan Aurum, dirinya tak menyangka jika hal itu bisa di lakukan. Sang Pixie memegang dagunya, dan tampak berpikir dengan sangat serius.
“Kalau boleh tahu, dendam apa yang kalian tujukan kepada kami, para manusia?” tanya Aurum kepada sang Pixie imut, sembari Aurum kembali duduk dan bersandar di sebuah batang pohon.
Berputarlah sang Pixie mengelilingi Aurum sembari menyebarkan butiran debu cahayanya.
“Dari informasi yang kami dapatkan nanon, Manusia telah berkhianat dengan seluruh ras kecuali manusia nanon. Demikian Raja Iblis ingin membalaskan dendam kami semua kepada manusia yang sudah berkhianat kepada kami nanon …,” Helena dengan alis yang tapak mengkerut tajam, menceritakan tujuan mereka menghancurkan benua [Horus].
Kali ini Aurum yang memandang langit sore, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi sembari mengingat-ingat kisah yang Arley ceritakan kepada dirinya, subuh tadi.
“Kalau tidak salah … bukankah pihak manusia dan pihak ras lainnya sudah menandatangani perjanjian untuk tidak saling menyerang?” Aurum masih tak mengerti di mana letak kesalahan umat manusia. “Kalaupun umat maunisa pernah bersalah atas perbuatannya di masa lalu, aku memohon maaf atas segala hal yang leluhur kami telah lakukan kepada kalian, wahai Pixie cantik.” Jelasnya dengan menjulurkan telapak tangannya kepada Helena.
Helena terdiam seribu kata, ia tak tahu harus berbuat apa. Demikian ia malah menduduki telapak tangan Aurum akibat kelelahan.
“Aku tak tahu jika manusia adalah orang yang pemaaf nanon,” ucapnya sambil tertunduk bingung.
“Ya ~ tidak semua manusia adalah orang jahat, ada juga yang baik seperti aku, dan rekan-rekanku lainnya.” ujar Aurum kepada Helena.
“Kalau begitu, aku maafkan nanon!” dengan riangnya, sang Pixie menyentuh telapak tangan Aurum, kemudian Aurum menggoyangkannya seperti lambang sebuah salaman.
“Hey, bukankah itu berarti bangsa Pixie telah berkhianat dengan raja iblis?” cetus Aurum yang ternyata ingin menjebak Helena.
Menggembunglah pipi Helena dengan begitu polosnya, setelah mendengarkan kalimat Aurum tadi. “Biarkan saja nanon! Aku sebenarnya sudah muak dengan segala perintah tidak masuk akal tante iblis yang satu itu nanon!” sembari ia melipat kedua tangannya, Helena memalingkan pandangannya dari Aurum sebab kekesalan yang ia pikirkan kembali.
Aurum tertegun bingung dengan ucapan Helena. “Tante?!” ujarnya dengan wajah tercengang.
Semabri pertempuran tengah berkecamuk di tempat lain. Dalam waktu yang bersamaan, Aurum membuat tali pertemanan dengan salah satu bekas Komandan Utama Pasukan Raja Iblis.
Siapakah yang di maksud tante oleh Helena? Dan apa hubungannay dengan penyerangan ini!?
Bersambung! ~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!