
Not Edited!
Merebak teriakan para monster yang ingin masuk ke dalam ibu kota. Saat mereka menginjakkan kaki untuk masuk ke dalam perbatasan antara pintu masuk dengan kota bagian dalam, kala itu juga sihir Marlin dan Uskup Steven lagsung melenyapkan mereka.
Terkadang ada yang mampu meloloskan diri mengelabuhi kedua kakek tua tersebut. Akan tetapi, beberapa dari mekera yang berhasil kabur, berakhir sama dengan rekan-rekannya yang ingin mencoba masuk ke dalam perbatasan.
Bagaikan sebuah takdir, mereka para monster yang berkeliaran di dalam kota, entah bagaimana, selalu saja bertemu dengan salah satu anggota regu penyelamat yang Eadwig susun.
Nyawa para monster itu pun melayang dengan cepat ketika mereka berpapasan dengan salah satu anggota regu penyelamat.
***
Jauh di sudut Utara, Ibu Kota [Lebia]
Saat ini, seluruh warga kota [Lebia] telah berkumpul di dalam bunker yang telah aktif beberapa saat yang lampau. Tepatnya, ketika ledakan sihir yang Rubius ciptakan—berhasil menggetarkan bumi dan membuat sedikit kehebohan di sekitaran Istana Kerajaan [eXandia].
Saat itulah pintu menuju bawah tanah terbuka lebar.
Pintu tersebut muncul tepat di depan gerbang pintu masuk istana kerajaan. Dari bawah tanah, sebuah bangunan selebar sepuluh meter, dan tinggi lima meter, tiba-tiba bangkit layaknya lift yang terangkat ke atas sebab kekuatan sihir.
Seluruh pandangan menatap kejadian unik tersebut. Mereka yang terlahir di zaman kedamaian, merasakan jika hal seperti ini merupakan hal yang baru, tetapi bagi mereka yang hidup di zaman peperangan, merasakan hal ini sebagai sebuah kenangan buruk yang terulang kembali.
Kaula muda merasakan ketertarikan untuk masuk ke dalam bunker tersebut. Tetapi, bagi mereka yang sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun, para tetua ini secara paksa kemali menginga masa-masa suram yang terjadi pada waktu setengah abad yang lalu ….
Ketika itu … tidak warga biasa, rakyat jelata, bahkan para bangsawan. Mereka semua berkumpul pada satu ruangan untuk menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.
Sebuah ruangan kosong yang kala itu hanya bermodalkan cahaya dari [Elemenal Orb] ber-elemen Api. Lebarnya sangat besar, luas dari ruangan kosong itu sekitar, lima kali lima kilometer. Mungkin ruangan itu hampir meliputi seluruh istana kerajaan, walaupun luas istana kerajaan tampak lebih besar di bandingkan ruangan kosong ini.
Pandangan orang yang masuk ke dalam bunker tersebut sangatlah dangkal. Sebab [Elemental Orb] yang sudah sangat berumur, menyebabkan pencahayaannya terlihat muram.
Mau tak mau, mereka semua terpaksa menunggu di ruangan pengap tersebut, sampai pertempuran di di atas selesai.
Dilain pihak, dari depan pintu masuk bunker, tampak Trevor tengah menatap kosong ke sisi Selatan pintu masuk ibu kota [Lebia].
Mendekatlah Jack untuk menanyakan kondisi teman satu timnya tersebut. “Kau baik-baik saja, Trevor?” tanya Jack sembari ia menepuk punggung sebelah kiri Trevor.
Melihatlah Trevor ke sumber suara secara refleks. “Ah, aku baik-baik saja, tapi … bagaimana dengan kondisi, yang mulia Eadwig beserta teman-temannya …?” Ketika itu, wajah Trevor terlihat sangat cemas.
Lantas, Jack kembali memberi Trevor semangat, agar dirinya bisa bertindak rasional di dalam kondisi yang genting seperti saat ini.
“Tenang saja, ingat … bukankah mereka memiliki Arley? kau lihat sendiri kan? Seberapa luar biasanya kekuatan anak itu?”
Terdiamlah Trevor memandang Jack, ia berpikir untuk sejenak sampai akhirnya ia kembali menampilkan senyuman tulusnya.
“Kau benar, terima kasih atas semangatnya.”
Saat pembicaraan mereka selesai, terdengar dari kejauhan sautan suara wanita, yang kedua orang itu kenal betul siapa sang pemilik suara.
“Oii! Bisakah kalian membantu kami …?!” teriak Perry yang tampak menggotong salah satu rekan timnya.
“Ah!? Perry?! Tim-Blue Whale?!” Menyadari jika rekan satu regunya sedang dalam kondisi tak normal, Trevor langsung berlari dengan niatan untuk membantu mereka berempat. Begitu juga dengan Jack, dirinya langsung mengikuti Trevor tanpa perintah lanjutan.
.
.
.
***
.
.
.
Kembali ke medan pertempuran.
Lebih tepatnya, ke sudut Selatan, lokasi dimana Arley sedang megintrogasi kedua iblis yang tengah menculik sosok seorang wanita, dan memasukkannya ke dalam karung beras.
Kala itu, Arley sudah mengetahui jika orang yang berada di dalam karung tersebut, adalah salah satu orang yang sangat ia kasihi.
Benar, orang itu adalah, Lily the Half-Elf.
Wajah Arley yang tadinya tampak ceria, ketika menyadari jika Lily-lah yang sedang diculik dalam kasus penculikan ini, langsung merubah emosi Arley menjadi sangat buruk.
Pertanyaan terakhir pun ia lontarkan, sebelum dirinya berniat menghabisi kedua iblis yang tampak sedang merencanakan sesuatu itu.
“Hey … ini adalah pertanyaan terakhirku. Apakah Raja Iblis yang memerintahkan kalian untuk menculik Lily …?” tanya Arley dengan suara yang terdengar begitu berat.
Matanya melotot, tampak pantulan cahaya menyinari retina Arley, yang menyebabkan cahaya pada matanya, menampilkan sorotan lampu hijau benderang. Terlihat seperti mata Arley bersinar sebab kemarahannya.
Ifrit dan Zorman langsung merinding ketika menatap mata Arley. Kala itu, ifrit mengira jika dirinya akan mati jika ia tidak menjawab pertanyaan dari remaja bermata hijau ini.
“Benar … Tujuan kami datang ke benua ini, adalah untuk mengambil Lily kembali, dan membawanya kepada Raja Iblis …,” ucap Ifrit sembari ia menenggak ludahnya. “ini semua … merupakan perintah langsung dari Raja Iblis ….”
Mendongak kepala Arley—menatap langsung wajah Ifrit dengan penuh emosi kemarahan. Ifrit yang melihat hal tersebut, mengucurkan keringat dingin serta berpikir keras dan mencari cara untuk melarikan diri dari lokasi tersebut.
“Makhluk yang bodoh … ya … betapa bodohnya kalian. Hanya untuk menculik seorang wanita saja, kalian harus mengerahkan pasukan sebanyak ini … apa yang raja kalian pikirkan …,” cakap Arley yang ketika itu, entah bagaimana seperti ada gelombang aneh yang meluap dari tubuhnya. Rambut dan pakaian Arley tampak melambai seperti tertiup angin, menjuntai ke atas. Padahal ketika itu, tidak ada angin yang menyapu ke lokasi mereka.
Ifrit tersenyum pahit saat dirinya melihat reakasi kesal Arley, ia tahu jika misinya kali ini tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, walaupun mereka membawa seluruh pasukan dan bala tentaranya.
“Raja kami melihat sebuah ramalan …!” teriak Ifrit degan kencang. “ia tahu … jika misi kami kali ini tidak akan mudah untuk di laksanakan. Maka dari itu, ia mengerahkan seluruh kekuatannya hanya untuk mengembalikan wanita satu ini ke sisinya ….”
Mendengar ucapan Arley, Ifrit menyadari jika ada sebuah kejanggalan yang terjadi. Kala itu, Ifrit langsung menoleh ke karung yang berisi Lily.
“Wanita ini tidak mejelaskan apa pun kepadamu …?” ucap Ifrit dengan wajah yang tercengang.
Arley hanya terdiam seribu kata, wajahnya masih tampak kesal, tetapi keringat dingin juga mulai bercucuran sebab rasa penasaran yang melanda pikirannya.
“Pfft!” Tak sengaja Zorman tertawa kecil ketika melihat ekspresi Arley.
“Zorman!” bentak Ifrit yang tak ingin kondisi mereka semakin sulit.
“WAhahaha …! Maafkan aku Ifrit … tapi, aku tidak menyangka wanita lucah ini tak menceritakan apa pun kepada orang yang ingin menyelamatkannya!” Zorman memegangi perutnya sambil tertawa lepas.
“DIAM ZORMAN!” Lagi, Ifrit membentak Zorman dengan penuh amarah. Wajar Ifrit bertindak demikian, ia tahu jika Arley akan sangat marah jika Zorman berkata hal yang lebih dari ini.
Zorman yang mendengar bentakan Ifrit, langsung kembali ke sikap normalnya. Hanya decakan bibir yang sang iblis biru itu bisa lakukan, sebab rasa kesalnya terhadap sang Jin. Ia merasa enggan dipimpin oleh Ifrit sang Raja Jin.
Lantas, ketika itu, Zorman memikirkan suatu hal yang amat jahil. Tampak senyuman liciknya untuk menjatuhkan Ifrit dari pangkat kepemimpinannya.
“Oi … bocah. Tahu kah kau mengapa Raja iblis sangat menginginkan wanita ini …?” cakap Zorman sambil ia tersenyum licik.
Arley tersentak ketika mendengar ucapan Zorman. Ketika itu, dirinya langsung tahu jawaban Zorman sebab Arley menggunakan mantra pembaca pikiran. Wajahnya langsung memerah padam selepas apa yang Zorman beberkan.
“Kuaahaha! Kau pasti tahu! Kau sudah membaca pikiranku bukan!” Dengan begitu semangatnya, Zorman mulai membeberkan informasi yang seharusnya rahasia, hal ini ia sengaja lakukan untuk menarik amarah Arley.
“ZOOORRMAAAN!” Kali ini Ifrit tidak main-main ingin meluapkan amarahnya kepada Zorman. Melompatlah Ifirit untuk memukul wajah mengesalkan iblis incubus tersebut, akan tetapi, segalanya sudah terlambat. Mulut Zorman lebih cepat bergerak dibandingkan kecepatan serangan Ifrit.
“Iya … kau benar Arley …! Wanita ini akan mengandung anak keturunan dari yang mulia Raja iblis kami!”
Sontak, selepas Zorman usai mengucapkan kalimatnya tersebut, kepalan tangan ifrit langusn menghajar pipi sebelah kanan sang incubus tak beradab itu.
Terpental tubuh Zorman sampai berguling beberapakali menghantam tanah. Ifirit yang memukul kepala Zorman dengan seluruh kekuatannya, langsung menghelakan napas lelah, juga mengucurkan keringat panasnya.
Tetapi, setelah Ifrit menyadari ada sebuah fenomena aneh di samping kanannya, batang leher Ifrit dengan cepat menoleh ke tempat di mana Arley berdiri. Mata Ifrit langsung melotot lebar, apa yang ia takutkan, kali ini benar-benar terjadi.
“S-sial …!” gumam Ifrit dengan tubuhnya yang berkeringat deras.
Kala itu, Emosi Arley sangat tidak terbendung. Tiba-tiba saja sebuah pasir hitam mulai keluar dari seluruh tubuhnya, berpuar mengelilingi tubuh Arley bagaikan orbit perputarannya.
Ifrit sudah tahu jika Arley akan berubah menjadi sebuah monster yang mengerikan, informasi ini sudah ia dapatkan sebab ramalan raja iblis. Dan hal inilah yang sebenarnya Ifirit ingin hindari.
Lantas, dengan matanya yang terbuka lebar, Arley langsung berniat untuk menghancurkan seluruh iblis di muka dunia ini. Untuk yang pertama, ia akan memusnahkan Ifrit sebagai permulaannya.
Tongkat sihir yang Arley genggam, langsung ia bidikkan menuju ke kepala Ifrit. Kemudian, dengan suara yang samar, Arley langsung merapalkan mantra penghancur masal, dengan suaranya yang ganda.
“Particula Vastabat—”
Akan tetapi … sebelum Arley menyelesaikan mantra sihirnya, tiba-tiba saja sebuah serangan dadakan meluncur cepat, mengentikan serangan yang akan Arley lontarkan.
“Adipiscing Aqua!”
Rapal seorang wanita, yang ketika itu jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Arley berdiri. Lalu, tebasan Air dengan begitu cepat mengenai tongkat sihir yang sedang Arley genggam erat.
Terpatahlah tongkat Sihir Arley menjadi dua. Seketika itu juga, tongkat pusaka yang Arley pinjam dari Rubius, berubah bentuk menjadi rongsokan.
Mata Ifrit melotot lebar ketika melihat kejadian tersebut. Demikian, ia langsung memalingkan kepalanya menghadap ke wanita yang merapalkan mantra tersebut.
“L-Lubrica …?!” ucap Ifrit yang tak menyangka jika Lubrica sang Succubus telah berada di hadapannya.
Kala itu, Sebuah ledakan dahsayat terjadi akibat mantra sihir Arley gagal di laksanakan dengan benar.
Apakah yang akan terjadi dengan Arley?! Bisakah ia memenangkan pertarungan ini tanpa tongkat sihrinya?!
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------