
Peperangan telah pecah. Setiap dua sampai tiga orang, berusaha melawan salah satu Komandan pasukan Raja Iblis yang tengah mengacaukan ibu kota『Lebia』.
Terdapat rentang kekuatan yang terbentang jauh di antara iblis-iblis ini dengan Regu Penyelamat. Beberapa dari mereka sangat kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan sang musuh.
Amylia Tsovinar Poseidon. Putri keempat dari negara kerajan『Atargatis』. Dengan kata lain, ia adalah anak keturunan dari Raja, Davy Njyord Poseidon.
Seluruh masyarakat kerajaan『Atargatis』memanggilnya sebagai titisan penyihir kuno. Penyihir air yang sempat menyelamatkan benua『Horus』dari gempuran Raja Iblis, jutaan tahun yang lampau.
Ya, penyihir yang mereka maksud adalah sahabat perjalanan dari pahlawan kuno, bernama『Lebia』.
Akan tetapi … ada sedikit kesalahan sejarah pada garis kehidupnya.
.
.
.
***
.
.
.
Kala itu, Turun seorang iblis dengan paras begitu elegan. Dirinya mengenakan pakaian serba hijau bermodelkan One Pices yang cukup ketat. Sengaja ia kenakan pakaian tersebut, agar membuat dirinya lebih cepat, dan lebih leluasa dalam bergerak bebas.
Karif ... demikian nama sang Elf.
Rambut melingkar-lingkar layaknya kue Croissant—menjuntai dan menutupi kedua bahunya. Bibirnya yang merah merona, membuat dirinya tampak cantik di mata setiap pria.
Namun, lawan sang Elf tidak kalah cantik dari dirinya.
Wanita berparas mempesona. Dengan rambut berwarna hitam kebiru-biruan, menjuntai panjang sampai pinggul. Poninya yang panjang, sering kali menutupi sebagian wajahnya. Demikian matanya yang terang bagaikan batu Sapphire, membuat perangai sang wanita tampak misterius dan menyihir setiap pria yang memandangnya.
Kali ini mereka berdua di tinggalkan sendiri untuk saling beradu kekuatan.
“Hey, bukankah kau bangsa Elf?” tanya Aurum kepada si iblis wanita.
Tak ada jawaban dari Karif. Dirinya memandang rendah Amylia dengan pandangan menghina.
“Apa kastamu pada rantai kehidupan manusia …?” Tiba-tiba sang Elf bernama Karif itu, bertanya dengan pertanyaan yang tidak biasa.
Walakin, Amylia sudah tahu mengapa sang Elf bertanya demikian.
Amylia adalah seorang penyihir. Sudah seperti kewajiban khusus pada dirinya untuk mengetahui segala sifat makhluk mitologi. Walaupun dirinya yang dahulu sempat tak mempercayai buku-buku tentang Makhluk Astral. Lantas dirinya tetap membaca buku-buku tersebut demi ilmu pengetahuan.
Apalagi buku itu berhubungan dengan Elf—sebuah bangsa yang paling sering tercatat dalam buku-buku mitologi. Dan seluruh penyihir sangat menginginkan darahnya. Sebab, anggota tubuh Elf memiliki material sihir yang begitu melimpah.
Ya, bangsa Elf adalah bangsa yang memiliki harga diri tiada tara. Bahkan hampir menyamai harga diri ras Naga, yang pada kasus kali ini, ras Naga telah punah sebab kerakusan bangsa Elf terdahulu.
Karena harga diri bangsa Elf yang begitu tinggi, mereka sampai berdebat panjang dengan bangsa Naga. Peperangan pun tak terhindarkan. Sampai pada Akhirnya, ras Naga harus dimusnahkan dari permukaan bumi『Soros』.
Dengan kata lain, mereka tidak mau bersosialisasi dengan sembarang individu. Orang itu harus memiliki kasta yang tinggi atau seorang bangsawan.
Tersenyumlah Amylia mendengar pertanyaan sang iblis. “Aku adalah Putri keempat dari kerajaan yang sudah kalian punahkan beberapa waktu yang lampau,” ujarnya dengan nada kesal.
Tersirat seringai puas dari wajah sang Elf. “Owh ~ Demikian kah? Kalau begitu, akulah yang akan membunuhmu. Wahai Tuan Putri yang malang.” Mendaratlah sang iblis pada permukaan kawah.
“Perkenalkan. Namaku adalah Karif. Putri tunggal dari kerajaan Elf terakhir di muka bumi『Soros』.” Sang Elf menjelaskan siapa dirinya. Geliatnya benar-benar seperti seorang bangsawan.
Demikian Amylia juga membalasnya dengan merunduk, ia menampilkan etika saat bertemu dengan bangsawan lain.
“Aku adalah Amylia. Amylia Tsovinar Poseidon. Putri keempat dari kerajaan『Atargatis』.” Dirinya memperkenalkan diri sembari mencubit, dan melebarkan roknya.
“Aah! ~ ternyat kau adalah putri dari kerajaan itu …,” celetuk sang Elf. Lalu ia memainkan rambutnya yang berwarna kuning susu. “Maafkan aku. Tapi diriku inilah yang meruntuhkan kerajaan itu kemarin sore,” ujar si iblis berparas cantik kepada Amylia.
Mendengar hal itu. Sontak, amarah Amylia langsung meluap-luap. Matanya melotot dan jantungnya berdebar sangat kencang, setelah dirinya mendengarkan kalimat tersebut.
Tak ada sepatah kata pun, yang keluar dari bibir merahnya. Air mata Amylia mengucur deras selepas dirinya menyadari kenyataan yang begitu pahit ini. Lantas, Amylia mengigit bibirnya sampai berdarah.
“Owh? ~ apakah aku tanpa sengaja menyinggung perasaanmu?” Tampak disengaja, Karif memancing amarah Amylia sampai pada puncaknya.
Bangkitlah Amylia dari bungkuknya. Kemudian ia menarik tongkat sihir yang tersemat pada pinggang kirinya. Dan ia menggenggam tongkat itu dengan sangat kencang. Sembari ia menaikkan tangan, ke hadapan wajahnya.
Mirip seperti orang yang akan bermain anggar.
“Tidak. Sama sekali tidak. Aku malah bersyukur bisa bertemu dengan orang yang ingin aku habisi saat ini juga,” utas Amylia dengan penuh amarah.
Seketika itu juga, Amylia merapalkan mantra yang sangat ia banggakan.
Teriaknya kencang. Tiba-tiba, seluruh pandangan sang Elf berubah menjadi gelap. Dirinya termakan ilusi yang begitu nyata, sebab mantra yang Amylia rapalkan.
“Ini …? Kabut …?” gumam si Karif, sembari ia melihat sekelilingnya.
Meluncurlah bola air—hendak menyerang pundak sang iblis wanita. Tetapi, dengan cepatnya ia menghindari serangan Amylia, dengan begitu lincah.
“Dia menghindarinya!?—” gumam Amylia dalam hati. Lalu tubuh Karif tak tampak kembali dari hadapan Amylia. “Kemana dia pergi!?”
Lantas, terdengar suara deruan angin dari sebelah kanan Amylia. Menolehlah dirinya akibat terkejut. Sontak, Amylia baru menyadari jika suara angin tersebut adalah suara angin terpotong—akibat terjangan kaki Karif, menuju sisi kepala bagian kanan Amylia.
Serangan yang Karif lontarkan tepat sasaran. Seketika itu juga wajah Amylia terkena serangan. Dirinya terpental sampai menembus keluar dari dalam kabut ilusi yang ia ciptakan.
Terhantamlah tubuh Amylia pada batu raksasa, yang tumbuh di sekitaran kawah.
Tertawa sinis. Sang Elf menikmati keadaan yang tengah ia kenyam. Sedangkan kondisi Amylia, dirinya berusaha menahan perih, sebab keteledoran yang ia perbuat.
Dirinya beruntung, kepalanya masih terpasang pada batang lehernya. Amylia tidak terkena serangan sang iblis secara mutlak. Ia sempat menghindar sedikit dari sepakan Karif. Namun, terpaan angin yang tercipta, membuat dirinya terpental dan babak belur seperti sekarang ini.
“K-keuh! Dia kuat sekali …!” ucap Amylia sembari meludahkan darah yang terkumpul pada mulutnya.
Bangkitlah Amylia, sembari dirinya berjalan sempoyongan ketempat Karif berada. Saat itu, Karif masih belum keluar dari kabut asap yang Amylia ciptakan.
Lalu, terangkatlah tongkat sihir yang Amylia genggam dengan tangan gemetar.
Seketika itu juga, ia melanjutkan sihir berantainya, yang sempat ia rapalkan juga kepada Arley, saat pertarungan terakhir mereka.
“Mermaid of Atargatis~”
Amylia merapalkan mantra sihir orisinalnya. Sontak, kabut yang tadinya menyebar, langsung mengumpul menjadi satu kesatuan. Ya, kabut itu berubah menjadi Monster Duyung, yang dahulu Arley pernah lawan.
“Ara~ betapa imutnya,” ucap Karif yang melihat perubahan bentuk sang Monster Duyung.
Tak berlama-lama, Amylia langsung memerintahkan monster buatannya itu untuk menyerang habis sang iblis. Bertubi-tubilah buntalan air tertembak dari dalam mulut sang monster.
Akan tetapi, tak ada satu pun serangan yang mengenai Karif.
“Segini saja? Ahh ~ aku kecewa.” Lantas, sang Elf mengambil sebutir batu, dan ia menyentil batu tersebut sampai membuat kepala sang Monster duyung hancur berkeping-keping.
“Mustahil!?” ucap Amylia tak sengaja.
“Ketemu ~ ternyata kau sembunyi di sana, wahai putri cantik.” Karif tiba-tiba berdiri tepat di belakang Amylia—yang tengah bersembunyi di balik batu.
Tertegun. Amylia tak mampu menggerakkan otot tubuhnya selepas telinganya mendengar suara sang Elf.
Apakah yang akan terjadi pada Amylia?
Bisakah Amylia melawan Karif pada pertarungan kali ini?!
Bersambung~
***
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!