The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 117 : Asal Usul Misa (Bagian 1)



not edited!


Misa Albertus, atau yang lebih dikenal sebagai Misa.


 


 


Ayahnya adalah seorang bangsawan kelas bawah, berasal dari keturunan kerajaan yang meminta kepada pihak kerajaan untuk tidak menjabat di pusat kerajaan.


 


 


Albert Albertus namanya, pria tua berumur 48 tahun yang hanya memiliki seorang anak wanita.


 


 


Albert sangat mencintai Putrinya tersebut, istrinya yang sakit-sakitan harus membuat dirinya menjadi pribadi yang mandiri.


 


 


Mulai dari merawat misa semenjak kecil, sampai mengajari misa untuk menjadi wanita muda yang telaten.


 


 


Namun karena ia terlalu memanjakan misa, terbentuklah pribadi misa yang tomboy dan pemberani.


 


 


Disamping dirinya melepaskan tanggung diri dari hiruk-pikuk masalah gelar dan tahta, Gelar Baron yang tersemat pada namanya tersebut membuat Alber harus mengurusi segala kepentingan daerah kekuasaannya agar kehidupannya di desa tersebut menjadi nyaman dan terkendali.


 


 


Albert adalah orang yang sangat mencintai perdamaian.


 


 


Dilain pihak, karena karena kesibukannya untuk bekerja, Albert mau tak mau selalu membawa Misa berkeliling desa demi ketentraman desa durga.


 


 


Misa yang kala itu selalu melihat ayahnya bekerja untuk kemaslahantan warga desa, terinspirasi olehnya untuk melakukan hal yang sama.


 


 


Terbentuklah cita-cita Misa yang mulia, ia sangat ingin memajukan desanya yang sangat di cintai oleh ayahnya tersebut.


 


 


Mulai dari kecil Misa sudah belajar bebagai hal, mulai dari belajar membaca, sejarah negara, sejarah desa, memasak, berdansa, dan hal lainnya yang berhubungan dengan darah kebangsawanannya.


 


 


Misa tidak pernah mengeluh, karena belajar adalah salah satu hal yang ia sukai. Namun ada satu hal lagi yang lebih ia cintai.


 


 


Ya, ia sangat mencintai seni menyihir.


 


 


Pertama kali ia melihat ilmu sihir adalah saat ia berumur 7 tahun, kala itu ayahnya membawa Misa berkeliling desa.


 


 


Saat mereka berada di ladang sawah, Misa melihat banyak sekali orang-orang yang menggunakan sihir air untuk menyirami tanaman mereka.


 


 


Ketertarikan misa terhadap ilmu sihir, membuat dirinya lebih tekun mempelajari ilmu sihir daripada hal lainnya.


 


 


Keluguan dan keberaniannya sangat duikenal oleh masyarakat desa, ia adalah anak yang sangat di favoritkan oleh warga desa.


 


 


Ia tak pernah malu di khalayak umum, juga tak pernah takut untuk melakukan kegiatan kotor seperti bertani dan beternak.


 


 


***


 


 


Beberapa tahun telah berlalu, saat itu umur misa baru saja menginjak 11 tahun.


 


 


Suatu hari, ketika Misa tengah dibawa oleh ayahnya ke gereja desa. Tak sengaja ia melihat Arley yang kala itu umurnya masih berusia 3 tahun.


 


 


Namun, di umur yang masih belia seperti itu, Misa dikejutkan dengan perilaku Arley yang cukup unik.


 


 


Saat itu, ketika pertama kali Misa melihat Arley, tampak Arley sedang membaca buku yang tebal di kursi kayu pada aula gereja.


 


 


Ia sangat tertarik degan diri arley. Ia merasa gemas dengan tubuh arley yang kecil, namun tengah memegang buku yang ukurannya sama dengan diri arley.


 


 


Ingin rasanya Misa menghampiri arley, namun, kali ini misa entah mengapa merasa malu dan tak segan menghampirinya.


 


 


Waktu terus berjalan.


 


 


Semenjak hari itu, setiap harinya pasti misa mencuri-curi waktu untuk melihat ARley. entah itu dia pergi kegereja, atau menemuinya di sawah, bahkan di aliran sugai desa yang berada di dekat rumah Misa.


 


 


Hal itu teris Misa lakukan hanya untuk memuaskan rasa penasaran di hatinya.


 


 


Namun lambat laun, kegiatan itu harus misa hentikan, karena banyaknya kegiatan yang lebih penting harus di pelajari misa demi mewujudkan cita-citanya, akhirnya misa tak pernah bertemu dengan Arley lagi sampai kejadian di gereja itupun terjadi.


 


 


Kurang lebih satu tahun telah berlalu semenjak misa memantau Arley untuk yang terakhir kalinya.


 


 


Suatu hari, pada saat misa sedang belajar didalam kamarnya, misa di datangi oleh ayahnya karena pada hari itu ayahnya mendapat informasi jika desa mereka akan kedatangan uskup agung dari ibu kota.


 


 


Tujuan mereka datang ke desa [durga] adalah untuk mencari talenta muda yang akan di sekolahkan di ibukota.


 


 


Mengetahui hal tersebut, misa langsung bergegas pergi ke gereja desa atas saran ayahnya. Hari itu, dengan hati yang berdebar-debar misa merasa begitu bahagia.


 


 


Disamping ia bisa bertemu dengan Arley, Misa juga berpikir jika ia bisa mendapatkan beasiswa yang di ucapkan oleh ayahnya tersebut.


 


 


 


 


Niatnya kala itu adalah mengikuti tes tersebut, dan langsung pulang. Tetapi, secara tiba-tiba saja Misa dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka kencang dari arah belakang podium aula.


 


 


Wajahnya langsung berseri-seri ketika ia menatap Arley tiba di hadapannya. Wajahnya memerah dan ia tampak begitu bahagia.


 


 


Tuntas sudah tujuan dia datang ke gereja desa pada saat itu.


 


 


Tes pun berlangsung, dan ia mendapatkan surat undangan tersebut. Tetapi ia masih belum puas untuk menatap Arley, demikian Misa berdiam diri di pojok aula gereja demi memandang arley sepuas-puasnya.


 


 


Demikian kejadian itu pun terjadi, dimana saat Arley memegang [Apprisal Orb], saat itu juga ledakan cahaya terjadi.


 


 


Karena shocknya Misa melihat kejadian itu, tubuhnya bergerak sendiri. Ia berlari tanpa perintah dari otaknya menuju ke arah Arley.


 


 


Sebisa mungkin ia mencari keberadaan Arley, didalam ruangan yang sudah penuh dengan cahaya tersebut.


 


 


“tarik tanganmu!” teriak misa untuk mencari keberadaan arley.


 


 


“Ha?!” ucap Arley yang kala itu tak mendengar kalimat misa.


 


 


Sontak, setelah misa mengetahui keberadaan Arley, ia langsung berlari kearah Arley dan berusaha membantunya.


 


 


“Trk tanganmu!” sekali lagi misa berusaha mencari keberadaan arley yang waktu itu sebenarnya sudah berada di depannya, namun jarak mereka masih terlalu jauh, karena hal tersebutlah misa ingin mengetahui seberapa jauh lagi ia harus berjalan kearah Arlet.


 


 


“APA!?” teriak arley yang masih tak mampu medengar panggilan misa.


 


 


Seketika itu juga, saat misa yakin di mana keberadaan Arley. berlarilah ia sekencang-kecanngnya demi mendorong tubuh Arley.


 


 


“TARIK TANGANMU!” sekali lagi misa berteriak.


 


 


Namun saat itu misa tak menyangka jika sebenarnya Arley sudah berada di depannya. Tertabraklah tubuh Arley sampai mereka berdua terjengkang di tanah.


 


 


Saat itu juga, cahaya yang arley ciptakan langsung meredup. Dan terselamatkanlah arley pada saat itu juga.


 


 


Ketika segalanya telah kembali normal. Misa terkejut ketika menyadari jika arley berada di dekapannya, saat itu juga ia bangkit dari tindihannya terhadap arley, dan ia membalikkan badan untuk menutupi wajahnya yang berubah menjadi meerah padam.


 


 


“Terima kasih,” ucap Arley untuk memberikan rasa syukurnya kepada Misa.


 


 


Namun misa tak tahu harus menjawab apa, wajahnya yang merah dan percakapannya yang pertamakali bersama arley, saat itujuga ia hanya mampu mengeluarkan satu buah kalimat.


 


 


“Tak perlu,” ucapnya sambil segera pergi dari gereja itu.


 


 


Jantung misa sangat berdebar-debar. Wajahnya memerah dan ia sangat bahagia karena bisa berbicara langsung dengan Arley.


 


 


Demikian malam harinya ia tak bsia tertidur karena selalu terbayang Arley.


 


 


Lima bulan berlalu, saat itu Misa harus pergi dari desa yang sangat ia cintai, demi mewujudkan cita-citanya menjadi sarjana penyihir dan kembali kedesa untuk memakmurkan seisi desa.


 


 


Dihari saat misa harus pergi, sejujurnya ia sedikit sedih karena harus meninggalkan orangtua, desanya, juga Arley.


 


 


Namun pada hari itu juga kesedihan itu lagsung berubah menjadi kebahagiaan.


 


 


Saat ia akan pergi meninggalkan desa, tanpa sengaja ia menemukan Arley sedang berada di pinggir sungai yang posisinya sangat dekat dengan rumah Misa.


 


 


Seketika itu juga jantungnya kembali berdegub kencang dengan kebahagiaan. Berhentilah keretanya di samping Arley.


 


 


Dengan jantungnya yang berdegup begitu kencang dan pikiran Misa yang tak bisa berpikir jerni. Saat itu juga tanpa sengaja misa memanggil Arley dengan warna yang pertama kali ia lihat.


 


 


***


 


 


 


----------------------------------------------


 


 


Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


And Happy Reading Guys!