The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 195 : Malam Yang Dingin.



Not Edited !


Terdengar suara tertawa yang amat nyaring. Tampak raut wajah sang remaja, yang mengaku jika dirinya adalah Arley, tengah terpingkal-pingkal melihat komedi kedua ayah dan anak tersebut.


Saat itu, Emaly dan ayahnya hanya memandang raut wajah Arley yang aneh, dan mendengar suara tertawanya yang terdengar beitu unik.


Bagaikan sebuah penyakit menular, suara tertawa Arley mampu memikat kedua orang tersebut untuk ikut tertawa bersamanya.


Pada akhirnya, ketiga orang itu pun tertawa bersama-sama.


.


.


.


***


.


.


.


Perjalanan berlanjut ….


Kala itu … Arley diangkut oleh si pedangang untuk ikut bersamanya menuju kota [Dorstom].


Perjalanan mereka masih sangat panjang, jika di tempuh dengan kereta kuda … mungkin akan sampai pada lokasi yang di tuju, sekitar dua-tiga minggu kurang.


Selama perjalanan, sang pedagang tidak bertanya banyak kepada Arley, dirinya hanya berdendang sembari menikmati suasana Alam.


Sedangkan Arley, dirinya tertidur pulas di dalam kereta yang tertarik oleh kuda kencana. Ia menikmati hidupnya secara maksimal.


Saat dirinya tertidur pulas, Emaly sesekali menjahili Arley dengan mencoret wajahnya dengan pensil arang, tetapi ketika dirinya lelah bermain bersama Arley, Emaly malah ikut tertidur di dekapan Arley.


Sang pedaang yang menyaksikan hal itu, hanya bisa tersenyum dengan ketulusan pada hatinya.


Lembah terlewati … hamparan rumput mulai tampak dari sudut pandang sang pengemudi. Sebab langit mulai menunjukkan tanda-tanda menjelang malam. Si pedagang memilih untuk menggelar tenda mereka, tepat di pintu masuk hamparan ladang rumput tersebut.


Ada sebuah palang kayu yang tertulis dengan bahasa [Hubert] di sekitaran situ. Hal ini menandakan bahwa di situlah batasan antar negara telah terbentang.


Batas antara negara [Exandia], dengan negara [Palanita].


“Hey Emaly! Arley! Ayo bantu aku membuat tenda!” ucap si pedagang kepada Arley dan Emaly, yang ketika itu seadng bermain suit.


Mendengar panggilan dari sang ayah, Emaly langsung keluar dari keretanya dan sesegera mungkin membantu sang ayah.


Arley pun mengikuti jejak Emaly, tapi ia tak tahu harus berbuat apa.


“Apa yang kalian lakukan …?” tanay Arle yang hanya berdiam diri.


“Ahh … aku lupa jika kau dalam kondisi lupa ingatan … maafkan aku, Arley. Kamu duduk aja di batu itu, sambil melihat dan pelajari apa yang sedang kami lakukan.” terang sang pemilik kereta kencana, kepada Arley.


Sesuai dengan perintah dari ayah Emaly, lantas Arley langsung mengikuti perintahnya tanpa bertanya untuk kedua kalinya. Dengan cermat Arley menatap apa yang mereka berdua sedang lakukan. Si ayah mendirikan tenda, sedangkan Emaly menyusun batu untuk api unggun.


Dalam waktu lima belas menit, segalanya telah selesai dengan sempurna.


Sebuah tenda dengan lebar tiga meter, dan sebuah api unggun yang cukup besar, telah tersusun rapi di hadapan Arley.


“Woow …!” ucap Arley sembari ia bertepuk tangan.


“Hehehe! Bagaimana? Apakah sekarang kau mulai melihat aku dengan pandangan yang baru?” tanya si pedagang kepada Arley.


“Emaly hebat …! Bagaimana kamu bisa membuat api secepat itu?” ujar Arley yang ternyata memuji Emaly.


Terjungkirlah sang pedagang yang salah sangka.


“Ayah … jele—” Kala itu, Emaly ingin mengejek ayahnya. Tetapi langsung ayahnya potong dengan berlagak sok keren.


“Baiklah, waktunya memasak!” ucap si pedagang, yang tiba-tiba berdiri dalam posisi sok keren dan memegang panci penggorengan.


“Ayah jelek, sok keren, menjijikkan …,” ucap sang anak, yang berkata terlalu jujur.


Seketika itu juga,sang ayah langsung pundung, dan ia terduduk memeluk kedua kakinya.


Arley yang melihat kejadian itu, lantas mengerutkan alisnya seperti sedang kasihan. Si pedagang pun menatap Arley dengan tatapan berharap. Apakah Arley paham apa isi hatiku saat ini? gumamnya dalam hati.


“Emaly, pertanyaanku tadi belum di jawab, bagaimana bisa kamu membuat api secepat itu.” Tetapi, tentu saja harapan sang pedagang hanya harapan palsu.


***


Makan malam pun berlangsung. Sang pedangang mengeluarkan daging kelinci yang ia dapatkan saat perjalannya melewati lembah tadi siang. Dengan lihai ia memotong daging tersebut menggunakan pisau dapurnya.


“Woow …,” gumam Arley dengan matanya yang bersinar-sinar.


Kali ini, si pedagang mengoseng-oseng daging kelinci itu dengan beberapa jenis sayuran, juga dengan beberapa cairan penyedap yang tersimpan di dalam botol.


Aroma sedap merebak naik ke udara. Perut Arley langsung bergeming kuat, tak sanggup menahan aroma sedap dari masakan si pedagang.


“Hahaha … bagaimana? Aku kerenkan pas memasak?” tanya si pedagang kepada Arley dan Emaly.


Lantas, dengan begitu hebohnya mereka berdua menganggukkan kepala, sembari menumpahkan liurnya—tak sanggup menunggu masakan siap.


Di atas sebauh kayu bundar, tersemat sebuah piring yang di atasnya terdapat daging kelinci liar, di goreng dengan olive oil, beserta sayuran yang singkron dengan rasa daging tersebut.


“Nah! Hidangan kita malam ini aku beri nama ‘Stir Fry Rabbit Meat’ dengan bumbu cinta!” ujar sang pedagang sembari ia melepaskan celemek masaknya.


“Selamat makaan!” Seperti tak mendengarkan perkataan si pedagang, Arley dan Emaly langsung saja menyantap makanan yang sudah di sediakan di piring mereka masing-masing.


“Ahh … mereka tidak mempedulikan aku,” gumama si pedagang, tetapi, karena Arley dan Emaly melahap masakannya dengan lahap, rasa lelahnya pun terbayar kontan saat itu juga. “Baiklah, Selamat makan.” Ucap si pedagang sembari ia melahap makannnya.


.


.


.


***


.


.


.


Makan malam telah usai. Emaly telah tertidur di dalam tenda, sedangkan Arley dan si Pedangan, saat ini masih di luar tenda—menatap langit malam yang tampak begitu terang.


Bintang-bintang berserakan di langit gulita, bulan tampak biru dengan sabitnya yang tajam. Ketenangan mulai merasuki hati Arley, yang sebenarnya belakagan ini ia tak pernah dapatkan.


“Arley … aku tahu kau lupa ingatan … tetapi, ada hal yang membuatku penasaran,” Dalam sunyinya malam, sang pedagang pun memulai pembicaraannya kepada Arley.


“Jika aku bisa menjawabnya, pasti akan aku jawab,” jelas Arley sembari ia menatap wajah si pedagang dengan senyuman tulus.


“Hmm … baiklah,” tutur si pedagang. “ini adalah pertanyaan yang sengaja aku tunda kupertanyakan kepadamu, tapi aku rasa, saat ini adalah waktu yang tepat untuk aku tanyakan hal ini.” ucap sang pedagang kepada Arley.


“Arley … hal apa saja yang kau ingat sejauh ini? apakah kau tahu, kau berasal dari mana?” tanya si pedangan dengan ekspresi serius.


Arley terdiam sejenak, ia tertunduk menatap tanah … sampai akhirnya ia menatap langit dengan polos.


“Aku … yang aku ingat hanyalah namaku seorang,” jawa Arley dengan wajah sedih. “kala itu, aku terbangun di sebuah hutan yang begitu lebat … ketika aku terbangung, aku hanya membawa baju ini, dan …,” sontak Arleye merogoh sesuatu dari dalam bajunya. “dan kayu putih ini …,” ia mengeluarkan tongkat sihir yang terlihat begitu apik.”


“Tongkat sihir …? Bolehkah aku melihatnya?” tanya si pedagang kepada Arley.


Lantas, Arley langsung memberikan tongkat sihirnya kepada si Pedagang. Terukir pada tangkai tersebut sebuah kalimat yang Arley tak tahu apa artinya.


“Mar … lin …?” ujar si pedagag, membaca kalimat tersebut. “sepertinya ini adalah inisial dari orang yang membuat tongkat sihir ini. Berbicara soal Marlin, di dunia ini hanya ada satu penyihir terkenal yang bernama Marlin … ahaha … apakah mungkin …? Tidak-tidak, ini pasti barang tiruan.” Ucap si pedagang pada dirinya sendiri.


Ketika itu, sang pedagang mengembalikan tongkat sihir putih tersebut kepada Arley. dengan tangan kanannya, Arley mengambilnya sembari ia mulai megelus-elus tongkat sihir tersebut dengan perasaan bahagia.


Si pedagang yang melihat tingkah laku Arley, seketika itu juga ia ikut tersenyum bersama Arley.


“Apakah kau menyukai tongkat sihir itu?” tanya si pedagang, sembari ia menyodok-nyodok api unggun, demi menaikkan suhu padanya.


“Aku merasa paling nyaman, ketika memandang tongkat ini, dan mengelus-elusnya,” jawab Arley dengan senyuman lebar. “oh iya, ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepada paman.” sebut Arley, yang kembali bertanya kepada si pedagang.


“Hm? Apa itu?”


“Sebenarnya … nama paman siapa …?”


“-He …?”


Di malam yang sunyi dan sepi … saat itu adalah malam yang paling dingin bagi Ayah dari Emaly.


Bersambung !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -