The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 38 : Menaiki Pohon



Mata ini menatap kosong ke arah batang pohon yang ada di hadapan kami. Besar, tidak dapat di perkirakan berapa diameter nya.


 


 


Jika kita mencoba untuk melihat ke pucuk nya, maka, awan tebal akan menghalangi kita untuk bisa menerawang nya.


 


 


Sofie menenggak ludahnya sendiri, tampak tangannya menggeram, juga mulutnya terbuka sedikit.


 


 


"-Kak Sofie, apakah kau tahu sesuatu mengenai pohon ini?"


 


 


Ia tidak mendengar ucapanku, matanya terfokus pada pohon itu. Apakah suaraku terlalu kecil untuk di dengar?


 


 


"Kak Sofie!!"


 


 


Teriak ku untuk menyadarkan nya.


 


 


"-E-eh!!?! A-apa?"


 


 


Benar saja, dia tidak mendengar perkataan ku.


 


 


".. Haah... Apakah kakak tahu sesuatu mengenai pohon itu? (aku menunjuk pohon tersebut)"


 


 


"Aku sama sekali tidak mengetahui nya.. Mengapa pohon itu bisa ada di halaman rumah ku...?Padahal tadi sore masih belum ada..."


 


 


Aku mencubit dagu ku, kemudian aku mulai berfikir penyebab pohon itu tumbuh.


 


 


Tak berapa lama kemudian, Sofie teringat akan sesuatu.


 


 


"... Tapi... Kalau di lihat dari lokasi tumbuhnya... H-he? Jangan jangan... "


 


 


"Nah! Pasti kakak tahu sesuatu kan!?!"


 


 


"-I-iya... Tapi apa mungkin ya...? S-sebenarnya, tadi pagi aku baru saja kembali dari kota... Beberapa hari yang lalu, saat aku berada di kota. aku mendapatkan sebuah biji kecambah dari seorang nenek tua.. Aku kira biji itu tidak akan berguna. kemudian aku tinggalkan saja di sana (menunjuk ke arah pohon tersebut) T-tapi apa mungkin ya...? "


 


 


Sofie melirik ke arah ku, menyadari akan hal itu, ia merasa bersalah.


 


 


"[Plak~]" terpecik bunyian tepukan antara tangan kanan ku dengan wajah ku.


 


 


".. Haah... Sudah kuduka... "


 


 


Yap, siapa yang tidak tahu kisah ini, di dunia ku sebelumnya ada sebuah kisah yang mirip seperti kisah ini.


 


 


"kau tahu sesuatu Arley?"


 


 


Sofie kemudian duduk jongkok di hadapan ku. Tak perlu takut, ia mengenakan celana tidurnya.


 


 


"ya~ dahulu, dari tempat aku berasal, ada sebuah kisah mengenai pohon kecambah dan raksasa yang tinggal di atas awan.."


 


 


"Hee.. Raksasa ya..."


 


 


Otak Sofie tidak dapat menangkap Penjelasan ku secara langsung, kemudian keheningan terjadi, dan saat otaknya selesai mencerna hal tersebut, Sofie kembali terkejut.


 


 


"RAKSASA!?!"


 


 


Tertawa kecil, tak ada bosan-bosan nya aku memperhatikan ekspresi Sofie yang unik.


 


 


Kemudian aku langsung saja ke-kesimpulan nya.


 


 


Aku berjalan menuju pohon itu. niat ku sudah bulat, kalau menurut cerita dari dunia ku berasal sama dengan tempat ini, maka di ujung pohon ini ada dataran lain yang bisa di jelajahi.


 


 


"Arley, kau mau kemana? Apa yang mau kau lakukan?"


 


 


Aku menoleh ke arah Sofie dan kemudian menunjuk ke arah pohon itu.


 


 


"Mau menaikinya ~"


 


 


Ucap ku dengan polos. "-He?" Sofie hanya terpelongok dengan ucapan ku barusan, mungkin ia berfikir jika aku hanya bercanda.


 


 


Kami akhirnya berjalan menuju batang pohon tersebut.


 


 


"Pohon ini seperti maha karya... aku tidak percaya jika aku melihat pohon sebesar ini dengan mata kepala ku sendiri... Aku berharap nenek ku bisa melihat pohon ini juga sebelum ia meninggal.


 


 


Sofie berbicara sendiri ketika kami berjalan menuju pohon tersebut.


 


 


"Kalau aku boleh tahu.. Mengapa kau tinggal di rumah ini sendirian kak?"


 


 


Sofie tersenyum pahit. "Ini rumah nenek ku" sepertinya kepergian neneknya masih belum bisa ia lupakan sampai detik ini.


 


 


Sofie kemudian menceritakan kisah hidup nya.


 


 


"Dulu, waktu kedua orang tua ku masih hidup. Kami sekeluarga tinggal berlima di rumah itu."


 


 


Kepalanya tertunduk sembari menceritakan masalalunya.


 


 


"... Kami hidup bahagia di sana. setiap siang aku selalu bermain bersama ibuku, sedangkan nenek menunggu kedatangan ayah dan kakek sambil merajut kaus sweaters di depan rumah."


 


 


"... Seperti sudah menjadi rutinitas kami, hal ini selayaknya kami lakukan hampir setiap hari, bermain dan bekerja selayaknya orang-orang biasa. "


 


 


"... Rumah kami memang agak sedikit lebih jauh dari kota terdekat, tetapi ayah dan ibu sengaja memilih membangun rumah ini di tengah-tengah lahan yang kosong demi kenyamanan kakek dan nenek menghabiskan waktu tua mereka. "


 


 


"... Kami adalah keluarga yang super bahagia, saangaat bahagia. sampai-sampai aku tidak pernah melupakan moment itu Sedikit pun sampai detik ini. "


 


 


Aku melirik ke arahnya, wajah Sofie sangat ceria, lalu ia kembali pundung.


 


 


"... Namun.. Bagaikan mimpi buruk, kebahagiaan itu di renggut dengan paksa dari diriku... "


 


 


 


 


"... Suatu hari, kami sekeluarga melihat ada api yang besar membumbung dari arah kota, cemas dengan warga di sana, ayah dan kakek memilih untuk membantu warga di kota. Aku yang masih sangat kecil tidak mengetahui apa yang tengah terjadi."


 


 


"...Malam berganti pagi, ayah dan kakek tidak juga kunjung kembali. Aku, ibu dan nenek merasa cemas. Tetapi pada hari itu kami menunggu mereka kembali pulang sampai matahari terbenam kembali. "


 


 


"... Sampai akhirnya, setelah tiga hari kami menunggu. ayah dan kakek tidak juga kunjung kembali... Ibu dan nenek menjadi gelisah, mereka memutuskan untuk mengecek kondisi di kota. Tetapi ibuku tidak mengizinkan nenek untuk ikut dengannya ke sana. Akhirnya hanya ibu yang berangkat ke kota. "


 


 


"... lagi, kami di paksa untuk menunggu tanpa kepastian, kami menunggu sampai larut sore dan akhirnya ibu kembali. "


 


 


Sofie mulai meneteskan airmata, aku menjadi merasa bersalah.


 


 


Ingin aku mencegahnya untuk melanjutkan ceritanya, tetapi sebelum aku dapat mengeluarkan sepatah kata, Sofie kembali melanjutkan kisahnya, akhirnya aku kehilangan moment untuk menghentikan nya.


 


 


"... Kami sangat terkejut. Ibu kembali di antar oleh beberapa orang dari kota. Kondisinya sudah tidak bernyawa. aku tidak melihat kondisinya tetapi aku tahu bahwa tubuhnya telah hancur."


 


 


"... Kemudian orang yang mengantarkan ibu menceritakan segalanya kepada nenek, aku mendengar sedikit kejadiannya. Mereka di serang oleh segerombolan serigala Perak, Kota menjadi porak poranda dan tidak ada satupun orang yang menempati kota itu lagi. "


 


 


"... Na'as ayah dan kakek meninggal saat berusaha melindungi rakyat kota. Begitu juga dengan ibu. na'as ketika ibu sampai di kota, ia langsung bertemu gerombolan serigala dan mereka menyerang ibu.


 


 


"... Syukur nya jasadnya masih bisa di selamat kan. warga yang menemukan jasad ibu bergegas menghantarkannya ke rumah. Sore itu juga mereka memakam kan ibu tepat di samping rumah.


 


 


Aku mengintip sedikit ke samping rumah, dan benar, ada dua batu nisan tertancap di sana.


 


 


"kemudian aku hidup bersama dengan nenek sampai aku cukup dewasa, lalu beberapa minggu yang lalu ia meninggal..."


 


 


Sofie dengan matanya yang memerah, melihat ke arah makam ibu dan nenek nya.


 


 


Keheningan terjadi sejenak, udara segar malam hari berhembus dan menyingkap rambut Sofie yang halus dan lembut.


 


 


Kemudian aku memecah kesunyian itu dan kembali berjalan.


 


 


" Itu bukan urusan ku tahu~"


 


 


Ucap ku dengan nada yang normal. Tampaknya Sofie sedikit tersinggung.


 


 


"Hey! Bukannya kau tadi yang bertanya kepada ku-"


 


 


Belum selsai ia berbicara, aku memotong perkataannya, aku tidak ingin ia salah paham.


 


 


"Kak Sofie. Itu bukan urusanku. karena aku yakin walaupun kau sendirian di dunia ini, tuhan tidak sejahat itu untuk meninggalkan mu hidup sendiri tanpa teman dan sahabat."


 


 


Lalu Sofie menyadari sesuatu, wajahnya kembali berseri, matanya bergetar melihat ke wajah mungil Arley.


 


 


Sofie kembali tersenyum sambil memegang rambutnya yang terhembus angin malam.


 


 


" Lihat. kau sudah beberapa hari sendirian kan? Sekarang tuhan menumbuhkan pohon ini dan tiba-tiba aku bertemu dengan mu, ini lah yang mungkin di namakan takdir"


 


 


Sofie kemudian berlari mendekati ku.


 


 


"Hahaha kau tahu apa soal takdir bocah kecil!"


 


 


lalu ia mencubit pipi ku dengan gemas.


 


 


Aku berusaha menahan nya, tetapi tetap saja terasa sakit. "Aduh-aduh!! Kak Sofiee!!!" Ucap ku sambil berusaha melepaskan cubitannya.


 


 


"Hahaha!!~ terimakasih Arley, aku merasa lebih baik sekarang"


 


 


Ucap Sofie setelah puas mencubit pipi ku.


 


 


Dengan pipi yang memerah, aku mengelus nya dengan kedua tanganku dari sebelah kiri dan kanan, berusaha menghilangkan rasa sakit pada kedua pipiku yang memar akibat ulah Sofie.


 


 


Akhirnya kami sampai tepat di bawah pohon. maha dahsyat. Itu kalimat yang paling cocok untuk pohon raksasa ini.


 


 


Aku yakin di dunia ini tidak ada yang bisa menandingi betapa kokoh nya batang pohon yang masih berwarna hijau daun tersebut.


 


 


Telapak tangan ini memekar terbuka menjulur ke arah Sofie, kemudian dengan tangan satunya aku memegang erat tongkat sihir ku.


 


 


"Kakak Sofie, kau mau ikut?"


 


 


Ucap ku mengajak Sofie untuk melihat pucuk dari pohon ini.


 


 


"hm? Maksud nya apa Arley?"


 


 


Sofie masih tidak mengetahui jika dia akan ikut terbang ke pucuk tertinggi pohon ini.


 


 


Dengan polosnya ia menggenggam tanganku lalu aku langsung merafal kan mantra yang sering aku ucapkan.


 


 


"Gale Ventum~"


 


 


"Kau tidak serius mau memanjat pohon ini kan Arle- HYAA!!"


 


 


Pusaran udara tercipta. kami langsung terhempas terbang tinggi ke udara menuju pucuk pohon ini.


 


 


Sofie yang tak siap dengan kondisi ini berteriak sesaat, kemudian ia menutup matanya Karena takut.


 


 


"Kyaaaaaaaaaa!!!!  - ukh!"


 


 


Kami melesat bagaikan peluru, melesat cepat ke titik yang ingin di capai.


 


 


***