
Not Edited!
Terbaring di dalam sebuah kamar yang asing, perlahan Arley kembali membuka kedua matanya dengan perasaan terheran-heran. Ia mengusap kedua matanya seketika itu juga, dan dengan cepat ia bangkit dari kasurnya, untuk melirik ke seluruh penjuru ruangan.
“Di … dimana ini? bukankah tadi …?” gumamnya sendiri, tampak terlihat kebingungan dengan kondisi yang tengah berlangsung.
Tubuh Arley tampak penuh terbelit perban, mulai dai lehernya, tubuhnya, juga kepalanya. Demikian ada sebuah plaster luka, tertempel pada wajahnya.
“Sepertinya pertarungan yang tadi, bukanlah sebuah mimpi,” ucap sang remaja sembari ia menatap fokus kedua telapak tangannya yang masih tampak hitam.
Namun, tak lama kemudian, masuklah seorang wanita ke dalam kamar yang serba putih itu. “Ah! Arley, kamu sudah bangun?!” ucap sang wanita berambut hitam kemerah-merahan itu.
“Varra, apa yang sebenarnya terjadi?!” Bergegaslah Arley berdiri dari kasurnya, lalu ia menghampiri sang gadis dengan wajah yang cemas. “Dimana paman Radits? Emaly?!” gusarnya dengan ekspresi kalut.
Tersenyumlah Varra sambil ia menepuk kedua pundak Arley. “Tenanglah, semuanya sudah terselesaikan.” Kemudian Varra mendorong Arley untuk kembali duduk di atas kasur berselimut putih itu. “Paman bersama Emaly berada di lantai atas, mereka sedang berbicara tentang masalalu.”
“Lantai bawah? Kita berada di mana memangnya?” tanya Arley sambil ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Kita masih di toko besi, tapi ruangan ini berada di lantai bawah, dari ruangan etalase toko di atas.”
“Begitu rupanya ….” Sejenak Arley terdiam, ia mencoba untuk mengingat kejadian terakhir, sebelum diriya terpingsan. “Kalau tidak salah … ada seorang wanita yang datang, dan menghajar Paman Radits, dan Paman Foss. Setelah itu, dia menyentil kepalaku, sampai aku terpingsan.” Lantas, Arley mantap Varra dengan pandangan berntanya. “Varra, kau tahu apa yang terjadi, selepas diriku terpingsan?”
Mengangguklah Varra, lalu ia menarik kursi yang berada di dekat meja, yang terpasang di sebelah kasur Arley. Sang remaja wanita pun duduk pada kursi itu, sebelum akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi, selepas Arley terpingsan.
“Pada awalnya, aku bersama Emaly merasa begitu ketakutan saat pertempuran itu terjadi. Kami berlari ke luar ruangan untuk menyelamatkan diri kami. Tetapi, tiba-tiba datang seorang wanita berambut panjang, yang ia menanyakan apa yang sedang terjadi. Setelah aku menceritakan, bahwa sedang terjadi pertempuran di dalam toko, ia langsung berlari ke dalam toko, dan tiba-tiba suara pertarungan berhenti.” Jelas Varra, lalu ia berusaha mengatur napasnya sebelum melanjutkan cerita.
“Lalu … saat itu aku merasa cukup aman, makanya aku masuk ke dalam ruangan. Ketika aku melihat ke dalam ruangan, ternyata Paman Radits, dan Paman Foss sudah tergeletak di atas lantai, sedangkan sang wanita, tampak menggendong dirimu, dan ia membawamu ke ruangan ini, Arley.”
Bangkitlah Varra dari kursinya, lalu ia menarik tangan Arley untuk berdiri.
“Setelah itu, Wanita itu langsung merawatmu dan menyuruhku untuk merawat Paman Radits dan Paman Foss.”
“M-Mengapa ia yang merawatku? Kalau tidak salah … kondisi Paman Radits, dan Paan Foss lebih parah di bandingkan diriku, bukan?”
“Entahlah, tetapi, ia berkata, setelah dirimu sadar dan sudah kembali tenang. Aku harus membawamu ke ruangan toko, nanti wanita itu yang akan menjelaskan segalanya, kepadamu.”
Sejenak Arley terdiam, ia berfirasat ada sesuatu yang tak beres di sini. Namun tak ada cara lain, ia tahu, jika dirinya hanya terdiam di kamar itu, maka ia tak akan mendapatkan jawaban yang di inginkan.
“Bawa aku ke tempat Paman Radits, dan Emaly.” pinta Arley kepada Varra. Tersenyumlah Varra, yang kemudian dirinya menggiring Arley, menuju keluar dari dalam kamar tersebut.
Akan tetapi, sebelum Arley sempat keluar dari dalam kamar serba putih itu, matanya langsung mengarah secara otomatis, ke atas meja, yang posisinya berseberangan dengan kasur tidurnya tadi. Di sana, terdapat pedang hitam, yang sempat menjadi permasalahan tadi.
“Itu kan …?" gumamnya dalam hati. Lantas, setelah jarak di antara pedang itu dan Arley terpaut lima meter, tiba-tiba pedang itu menghilang bagaikan debu, dan secara ajaib, pedang hitam itu langsung tergenggam di telapak tangan kiri Arley. “Ha!?—” teriak Arley, tampak terkejut saat kejadian itu terjadi.
“Ada apa Arley?” Seketika itu juga, Varra terhenti dari langkahnya, ia cukup heran, mengapa Arley berteriak secara tiba-tiba.
“I-ini ….” Arley menunjukkan tangan kirinya, yang ketika itu menggenggam sebilah pedang berwarna hitam, kepada Varra.
Varra langsung tampak kebingungan juga, keringat dingin keluar dari wajahnya. “Mungkin, Paman Foss dan wanita itu tahu sesuatu tentang pedang ini. Sebaiknya kita langsung menghadap ke tempat mereka,” ujar Varra, memberikan saran kepada Arley.
Arley pun menjawab dengan anggukan kepalanya. Seketika itu juga mereka berdua langsung berjalan menuju lantai atas, tempat di mana, ruang toko berada.
***
Sesampainya di ruangan toko, tampak paman Radits beserta Foss dan wanita yang ia tak kenal, terlihat sedang bercanda tawa. Ketika itu, Emaly tengah di pangku oleh wanita berambut panjnag, dan hitam pekat itu.
Saat Arley dan Varra keluar dari balik pintu, yang terpasang di belakang kasir, mereka langsung bertatap wajah dengan sang wanita.
“Ahh~ sudah bangun ternyata, syukurlah kau baik-baik saja!” ucap sang wanita, dengan suara yang cukup lantang.
Tampak jika wanita ini adalah wanita yang ekspresionis, bertenaga, dan selalu ceria. Ia bukan tipe orang yang suka untuk di pimpin.
“Ohh! Arley! kau sudah bangun lagi ya!” teriak paman Radits, yang ketika itu ia langsung bangkit dari kursinya.
“M-maafkan aku, karena telah merepotkan anda, nyonya …,” tutur Arley, sembari ia merundukkan kepalanya, demi memberikan rasa terima kasih formalnya, kepada sang wanita.
“Sudah-sudah, aku tidak suka suasana yang kental seperti ini! Nah, Ayo mari duduk di sini!” Tunjuk sang wanita, ke arah set meja makan, yang terpasang di depan kasir toko. Sebelumnya, set meja makan ini tidak ada di ruangan toko. Tetapi, mungkin sengaja sang wanita pasang meja itu di ruangan ini, untuk menyambut tamu-tamu atau kerabat dari sang pemilik toko.
Tanpa basa-basi lagi, Arley dan Varra langsung duduk pada kursi yang telah di persiapkan. Sejenak, saat Arley berjalan menuju meja makan, Foss, paman Radits, dan wang wanita, menatap tajam ke arah tangan kiri Arley, yang menggenggam pedang hitam tersebut. Wajah mereka tampak masam dan terlihat tidak senang dengan kondisi saat ini.
Arley pun kembali mengeluarkan keringat dinginnya. Ia sempat menenggak ludah keringnya, sebab ia tak tahu harus berbuat apa. Ketika itu, Varra dan Arley pun akhirnya sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
“Jadi, Apa yang kau bisa jelaskan kepadaku, Tom? Mengapa hal ini bisa terjadi?” tanya sang wanita kepada paman Radits, sedangkan Arley hanya menatap bingung ke arah sang paan.
Menolehlah sang paman, menatap anak angkatnya, lalu ia tampak sedikit cemas degan perkataan yang akan ia ucapkan. Terhembuslah napas panjang dari mulut sang paman, sebelum Akhirnya membuka pembicaraan mengenai hal ini.
Namun, kali ini, Kale-lah yang menghembuskan napas panjangnya. Ia menggaruk kepalanya dengan ekspresi kesal.
“Aah! Kenapa hal ini harus terjadi secepat ini, padahal aku juga belum mempunyai anak! Ini semua karena kecerobohanmu, Foss!” cetus sang wanita, ke arah sang pria berwajah gorila. Namun, sang pria tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya bakan tampak ketakutan ketika sang wanita memarahinya.
“A-anak …?” gumam Varra yang mengira, dirinya salah mendengar.
Mendengar ucapan Varra, si wanita langsung melihat ke arah kedua remaja ini. “Oh ya! aku lupa memperkenalkan diriku kepada kalian berdua.” ucap sang wanita, sambil ia mengelus kepala Eamly. “Perkenalkan, Namaku adalah, Prinatalia Kale. Seperti yang kalian duga, aku adalah istri dari pria jelek ini! Hahahaaha!” jelasnya dengan begitu ceria.
Sontak, seketika itu juga, Varra langsung terbangun dari kursinya, dan ia berteriak cukup keras sebab rasa terkejutnya yang tak bisa terbendung. “M-mustahil! Bagaimana mungkin, seorang Gorila menikah dengan bidadari secantik dirimu!?” pekik Varra tanpa ia sadari.
Tersipu malu, wanita berama Kale langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Varra. “Kau terlalu jujur! Tapi aku suka sikapmu itu! Ahahaha!”
Menyadari jika dirinya terlalu berlebihan dalam bereaksi, Varra langsung duduk di atas kursinya dengan wajah yang memerah padam. Saat dirinya sudah duduk di atas kursi, tiba-tiba pandangan Varra teralihkan ke arah Arley. “Hmm …? Arley?” panggil Varra, yang ketika itu menatap wajah aneh Arley.
Tampak wajah Arley yang kelopak matanya terbuka lebar. Namun, retinanya tampak memcuat layaknya ikan mati.
“H-He?! A-ARley?!” Tegur Varra sambil menggoyangkan punggung Arley. Namun saat dirinya menggoyangkan punggung Arley, tiba-tiba tubuh Arley langsung terjatuh ke arah samping dan membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu terheran-hera.
“P-Pingsaaaaann?!” teriak Varra, yang menyadari, jika saat itu juga Arley terpingsan di tempat.
Namun, beberapa saat kemudian Arley terbaung dari pingsannya, dan ia langsung duduk kembali di kursinya. “Ah, m-maafkan aku …,” gumamnya dengan wajah yang masih tercengang.
“K-kau tidak apa-apa Arey?” Tampak jika Varra masih mencemaskan Arley. saat itu Varra mendekatkan kursinya ke arah Arley, untuk merawatnya lebih intens.
“Aahh! Kau hapir saja mencopotkan jantungku, anak muda!” ucap Kale dengan ekspresi leganya.
“Kau baik-baik saja, kan, Arley?” tanya paman Radits, yang juga tampak cemas.
“U-um, aku baik-baik saja!” jawab Arley. Akan tetapi, saat itu, Varra tak sengaja mendengarkan gumaman Arley, yang berbisik pada dirinya sendiri.
“A-Arley …?” tanya Varra dengan lembut, tetapi tampaknya Arley tak mendengarkan ucapan Varra.
“Mustahil, aku pasti bermimpi … hahaha, gorila menikah dengan seorang bidadari, aku pasti benar bermimpi … hahaha~” gumamnya dengan suara yang begitu pelan.
Lantas, saat itu juga, Varra menyadari, jika yang membuat Arley pingsan tadi bukanlah sebab kondisi tubuhnya, melainkan rasa terkejut Arley, sebab dirinya menyadari jika Kale telah menikah degan Foss.
Sontak, saat itu juga Varra langsung memukul kepala Arley dengan kencang.
“A-aw!? V-Vara, ada apa?! Kenapa kau memukulku?!” tanya Arley, yang terlihat begitu bingung dengan sikap Varra.
“Enggak apa-apa!” ucap Varra yang terlihat begitu kesal. “Hauh~ tampaknya aku menaruh rasa cemas yang salah kepada Arley. Anak ini, ia memiliki kepolosan yang di luar dugaanku, mungkin tingkat kepolosannya hampir setara dengan tingkat kebodohan?” Kali ini, tampak Varra yang berguma dalam hatinya sendiri.
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------