
Not Edited !
Perjalanan menggunakan kaki pun kembali dilakukan. Paman Radits tampak memimpin di bagian paling terdepan. Pada dekapan sang paman, terdapat Emaly yang terlihat begitu bersemangat dengan pemandangan yang ada di sekitarnya. Kerumunan masyarakat membuat Emaly langsung melupakan permasalahan yang sebelumnya dilanda oleh keluarga Tomtom.
Emaly yang menyiratkan senyuman cantik pada wajahnya, menunjuk setiap tenda penjual makanan, sembari ia mengomentari aroma dari setiap makanan pada masing-masing kedai. Tak ada rasa cemas apa lagi beban pada wajah si imut Emaly. Paman Radits pun, dengan bahagianya meladeni Emaly. Untuk sejenak, ia berhasil melupakan kejadian yang menyibukkan pikirannya. Ini adalah hal yang bagus.
Sedangkan di belakang mereka berdua … tampak Arley dan Varra, mengikuti langkah kaki sang paman dengan tatapan pundung.
Kedua remaja ini masih belum bisa melupakan apa yang telah terjadi di, ‘Toko Besi Otot Kembar’. Arley berjalan sambil merunduk, sedangkan fokusnya terbelah pada jari kelingking sebelah kirinya. Terlihat jelas cincin berwarna hitam mengkilat, dengan ukiran yang ia tidak kenali, menjadikan daya tarik tersendiri dari perhiasan satu ini.
Berkali-kali Arley menghelakan napasnya, tetapi ia masih belum bisa menutupkan penat di dalam pikiran.
Di posisi sebelah kanan Arley, ada Varra yang berjalan bersebelahan dengan si remaja berambut merah itu. Varra pun juga sedikit melamun saat ia berjalan, fokusnya tertitik pada wajah Arley yang tampak begitu lesu.
Banyak kejadian yang menimpa diri Arley pada hari ini, tentu saja pada saat ini ia akan merasa sangat kelelahan.
“Hey, Arley,” saut Varra untuk membuka obrolan dengan si remaja pria. Tetapi Arley tidak menjawab Varra, entah sebab suara si remaja wanita yang terlalu kecil, atau karena pikirannya yang sedang kalut. Namun saat itu, Arley hanya terus berjalan dengan memandangi kelingking kirinya.
Akibat Arley yang terus melamun saat berjalan di keramaian, insiden pun hampir terjadi pada dirinya. Ketika itu, ia hampir saja menabrak seorang pria yang sedang berjalan lurus di depannya.
“Arley!” Untungnya, Varra yang menyadari akan hal itu langsung menarik lengan kanan Arley dengan kencang.
Tersadarlah Arley dari lamunannya. Dirinya terkejut dengan apa yang Varra lakukan, wajahnya terperanga menatap arah depannya, dan Arley langsung menemukan jarak di antara dirinya dengan orang yang berjalan di depannya tadi, ternyata sudah sangatlah tipis.
“Whoa!~” ucap si remaja berambut merah, yang tampak sedikit terkejut dengan keadaannya. Untungnya ia berhasil mengelak dari tabrakan yang tak terduga.
Si pria terlihat melabuhi Arley dan Varra di belakang pundak mereka. Pria tersebut juga terlihat sedang begitu asik berbicara dengan temannya, maka dari itu, ia juga juga tampak tak memperhatikan sekitarnya, sama seperti Arley.
Akibat dari kejadian tadi, bungkusan kain hitam yang Arley genggam dengan tangan kanannya, sempat terjatuh ke tanah. “M-maafkan aku.” Menyadari jika dirinya salah, Arley langsung meminta maaf kepada Varra, kemudian segera dirnya memberikan rasa syukurnya kepada sang sahabat, dengan menolehkan pandangan lesunya, ke arah wajah Varra.
“Kau tak apa-apa?” tanya Varra, yang ketika itu langsung mengambil kain hitam Arley, yang sempat terjatuh tadi. Ukuran kain itu cukup besar, sekitar setengah meter, menggembung layaknya balon. Dan entah apa yang ada di dalamnya, tetapi kain itu cukup ringan di bandingkan dengan ukurannya.
“Ya, aku tak apa-apa,” jawab Arley. Lalu ia kembali mencoba untuk mengambil bungkusan hitamnya itu.
Akan tetapi, Varra tak membiarkan Arley untuk membawa bingkisannya lagi, ia malah menjauhkan tangan kanan Arley dari bungkusan hitamnya tadi, dan menyembunyikan benda tersebut di belakang tubuh kecilnya.
“E-ehm, V-Varra?” Arley tampak bertanya-tanya dengan apa yang si remaja wanita lakukan.
“Aku saja yang bawa! Ini akan sangat berbahaya jika kau masih melamun seperti tadi lagi!” ucapnya dengan nada tinggi. “aku tahu kau masih memikirkan kutukan kunci itu. Dan sebenarnya, aku pun sedikit takut dengan benda itu … tapi mau bagai mana lagi? Semuanya sudah terlanjur. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berpikiran positif.” jelas sang remaja wanita, yang kata-katanya seperti sebuah cambukan keras untuk Arley. “sudah cukup berpundung-pundungnya! Ini tidak seperti dirimu, Arley!” ucap Varra, dengan seringaian terpaksa.
Arley yang menyadari kesalahan pada dirinya, langsunglah ia merubah pola pikirnya untuk keluar dari lingkaran yang menggelapkan pandangannya.
“Kau benar,” tutur Arley, dan tiba-tiba tangan kanan Arley langsung hinggap di atas kepala Varra—seketika itu juga ia menggosok lembut rambut hitam sang remaja wanita. “Sekali lagi … terima kasih, Varra.” Imbuhnya sekali lagi.
Kulit wajah Varra langsung memerah layaknya udang rebus. Secara otomatis, kepala Varra kemudian menukik ke bawah, seperti tak mampu menahan berat dari tangan Arley. Ia tak bisa berkata-kata, bibirnya bergetar akibat perbuatan Arley kepadanya.
Di saat momen hangat ini terjadi, tiba-tiba paman Radits menolehkan batang lehernya ke belakang. Saat itu, ia langsung melihat apa yang Arley lakukan kepada Varra, dan menanyakan apa yang sedang mereka berdua lakukan.
“Hm? Arley? Varra? Apa yang kalian lakukan?” Pertanyaan itu keluar dengan encernya. Jelas paman Radits tak tahu apa yang sempat terjadi sebelumnya.
Kondisi menjadi senggang senejak. Arley juga tiba-tiba menghentikan tangan kanannya, ia merasa sedikit malu ketika paman Radits melihat dirinya, melakukan hal itu kepada Varra. Sontak, tangan kanan Arley langsung naik tinggi ke atas langit, dan Arley langsung bertingkah kikuk, tidak seperti biasanya.
“A-a-aa! T-tidak paman!” ucap Arley dengan kata-kata berantakannya. “e-eh? A-Apanya yang tidak, ya? Kok aku begini?!”
Namun, wajar saja Arley menjadi salah tingkah dengan sikapnya sendiri. Sampai detik ini, ia masih tak tahu apa yang ada di dalam isi hatinya, rasa malunya itu, entah datang dari mana, dan mengapa ia harus malu di saat orang lain melihat kejadian ini. Ia masih bertanya-tanya akan hal itu sampai detik ini.
Kecanggungan yang Arley lakukan pun menular kepada Varra. Mereka dengan liarnya melihat ke segala penjuru kota, untuk mengurangi rasa kikuk mereka.
“Yah, sudahlah~” ucap sang paman, dengan senyuman tipis, nan liciknya. Tampak jika paman Radits tidak terlalu mementingkan hal itu, walaupun sebenarnya sang paman mengerti apa yang membuat Arely bertingkat seperti itu. “dasar pria yang enggak peka,” cibir si paman dengan suara yang sangat pelan, dan ia menutup mulutnya saat mengatakan hal itu, tentu saja dengan perasaan, ingin menjahili Arley.
“Nah, kalian berdua! Sekarang lihatlah bangunan yang berdiri di depan kita!” Lantas, tiba-tiba paman Radits mengalihkan pembicaraan dengan topik utama mereka.
Tangan kanan paman Radtis, tampak mengangkat tinggi ke atas, dirinya seperti ingin menunjukkan sesuatu kepada Arley dan Varra. “Selamat datang, di Guild resmi, kota [Dorstom!]” ujar sang paman dengan begitu semangatnya.
Ketika itu, kecanggungan Arley dan Varra, langsung teralihkan ke sebuah bangunan, yang terlihat begitu megah dan besar. Bangunan ini adalah bangunan terkokoh, di bandingkan bangunan yang berdiri di sekitarnya.
Jika di sandarkan dengan istana negara, mungkin bangunan Guild pada kota [Dorstom], tampak kalah tipis dengan bangunan istana.
***
Kota [Dorstom].
Kota ini bukanlah ibu kota dari kerajaan [Palanita]. Melainkan, kota [Dorstom] adalah kota yang tegak bersebelahan dengan ibu kota [Palma].
Kerajaan [Palanita], sebenarnya kerajaan ini sudah tegak cukup lama di tanah Utara. Lamanya berdiri kerajaan [Palanita] ini, juga membuat beberapa sejarah yang cukup panjang bagi ibu kota yang sempat berdiri baginya.
Negara kerajaan ini, sudah beberapa kali mengganti ibu kota mereka, sebab hal yang begitu panjang, dan bersifat politik. Namun, untuk saat ini, Ibu Kota kerajaan [Palanita], berdiri tepat di sebelah benteng kota [Dorstom]. Ibu kota itu memiliki nama, [Palma].
Kota Dorstom, dahulu adalah sebuah kerajaan yang bernama [Dorstom]. Akan tetapi, akibat kota ini mengalami kekalahan saat berperang dengan kerajaan [Palanita], maka mereka harus memilih untuk menyerah, dan menyatukan kedua negara mereka, secara damai.
Atas kepemimpinan Ratu yang bijaksana, Ibu kota [Palma] dan kota [Dorstom], pada saat ini menjadi salah satu negeri yang cukup makmur, walaupun ada beberapa sisi gelap yang amat gulita.
Kota [Dorstom] dan ibu kota [Palma]. Berdiri bersebelahan, dan benteng kedua negara ini saling bertabrakan, demikian kedua negara ini, jika di lihat dari atas langit, akan membentuk pola angka delapan yang sangat masyhur, bagi masyarakat kotanya.
Kota ini sangat kental dengan kekastahannya. Bagi mereka yang hidup dengan harta menengah ke bawah, maka mereka akan tinggal di kota [Dorstom]. Dan bagi mereka yang memiliki pola hidup mewah, maka mereka akan tinggal di dalam kota [Palma].
Rata-rata, orang yang tinggal hidup di kota [Palma], adalah mereka yang memiliki darah Bangsawan. Juga, para pedagang yang terbilang sangat kaya.
Ya, warga kota [Dorstom], lebih memilih kepemimpinan yang di lakukan oleh Guild kota, di bandingkan kepemimpinan sang Ratu, yang terbilang rancu dan tak kenal pri kemanusiaan. Walaupun, sebenarnya ada dalang dan kambing hitam di balik kebijakan itu semua.
Demikianlah, sejarah kota [Dorstom], yang terbilang cukup gelap dan merana.
***
Berdirilah Arley di depan meja resepsionis. Saat ini, Arley dan rombongannya sedang menunggu panggilan dari si penjaga meja.
Mata Arley menoleh dengan begitu perlahan. Hatinya sangat gembira, ia tak menyangka jika Guild di kota ini, adalah sebuah bangunan yang terbilang elegan dan bersahaja. Ukiran-ukiran moderen, dan foto-foto para Adventurer kelas Special, terpajang di atas dinding, dengan bingkai amat besar dan mencolok.
“Uwah~” gumam Arley yang memaksakan batang lehernya untuk menoleh ke langit-langit bangunan.
“Oi, awas lehermu sakit.” Lantas paman Radits menegur Arley sebab perbuatannya itu.
Beberapa saat kemudian, datanglah seorang wanita, dengan baju seragam yang cukup ketat bagi penggunanya. Belahan buahnya terlihat begitu mencolok, serta wajah cantik dari si wanita, sangatlah mencuri perhatian dari para petualang yang hadir di dalam bangunan ini.
“Terima kasih karena telah menunggu,” ujar sang penjaga meja dengan senyuman anggunnya. “untuk tuan, Arley, berkas yang anda inginkan sudah kami buat. Anda hanya tinggal memberikan cap jempol anda di bagian sini.” Ketika itu, si wanita penjaga meja, menunjukkan Arley tempat dimana ia harus mengecapkan jari jempolnya, untuk mendapatkan data dari garis-garis jarinya.
Arley pun, dengan polosnya lagsung memberikan jari jempolnya kepada si wanita penjaga meja. “Erm, di sini mba?” ucap Arley, dengan senyuman tulusnya.
Namun, tiba-tiba jempol Arley yang mengambang tepat di atas kertas putih itu, langsung saja di tekan oleh sang wanita penjaga meja. Sontak, jempol Arley langsung terasa sedikit sakit, seperti tertusuk oleh sesuatu. “Aw!?” teriaknya dengan suara yang di tahan. Ingin si remaja langsung menarik jari jempolnya, akan tetapi, si wanita berbaju ketat itu tak melepaskan jari jempol Arley, dan ia terus menahan jempol Arley sambil memaparkan senyuman genitnya.
“E-ehm, K-kak?” Arley yang merasa bingung, tentu saja ingin bertanya, mengapa ia tak boleh melepas jempolnya. Tetapi, sebelum ia berhasil menanyakan pertanyaannya itu, si wanita malah melepaskan jempolnya dan langsunglah ia melihat lembar kertas yang Arley miliki tadi.
“Yap! Sempurna!” Lantas, si wanita memutarkan lembar kertas itu sambil ia menunjuk ke bagian kotak, berisi cap jempol Arley, dengan bercak merah padanya. “Maaf, ya. Sebenarnya aku menahan jempolmu tadi, karena ingin mendapatkan sempel darah ini, juga agar darah yang keluar cukup banyak dan menyebar dengan sempurna.” Selesai penjelasannya itu kepada sang remaja, si wanita langsung memberikan berkasnya tersebut ke rekan yang berdiri di belakangnya.
Bergegaslah wanita yang berdiri di belakang si penjaga resepsionis itu berlari ke suatu tempat. Sedangkan Arley dang rombongannya, masih harus mengisi satu berkas lagi, yaitu berkas milik Varra.
“Baiklah, selanjutnya, nyonya Varra. Silahkan,” undang si wanita berbaju ketat itu ke pada Varra.
Namun, kali ini perlakuan yang si wanita penjaga resepsionis itu berikan kepada Varra, cukup berbeda dengan yang ia berikan kepada Arley. Saat Varra mengecapkan jempolnya, ia hanya menahannya untuk sebentar, dan darah yang di dapatkan pun tidak terlalu banyak. Hanya sebatas Formalitas.
“HA?!” gumam Varra yang tampak kesal. Sejujurnya Varra tahu, jika wanita berbaju ketat ini, sedang menggoda Arley dengan berbagai cara. Sedari saat mereka masuk ke dalam Guild ini, wanita berambut coklat itu langsung mengincar Arley, dan sedikit mencuekkan Varra.
“Tuan Arley, mohon tunggu sebentar ya! Sesaat lagi kita akan memberikan alat tes kemampuan, dan semuanya akan beres.” Lagi-lagi, si wanita resepsionis berbicara dengan Arley, dengan kedua tangannya menggenggam tangan kanan si remaja, dengan begitu leluasaya.
Varra yang melihat hal itu, langsung mendecakkan bibirnya, dan ia tampak cukup cemburu atas perlakuan sang penjaga meja terhadap Arley.
Di sisi lain, tampak paman Radits hanya menatap mereka bertiga dengan tertawaan yang ia coba untuk menahannya. Sambil menggendong Emaly, ia mencoba untuk menulup mulutnya, agar tertawaannya itu tidak keluar secara liar.
Beberapa saat kemudian, dua buah bola kecil pun datang diantarkan ke atas meja resepsionis. Bola bening, dengan sebuah kayu penyangga pada bagian bawahnya, juga terdapat sebuah ukiran hitam, menjelaskan bahwa bola itu adalah, [Appraisal Orb], yang akan menentukan, kedudukan Arley dan Varra untuk Guild ini.
“Nah, Tuan Arley, Silahkan taruh tangan kanan anda di atas batu ini.” ucap sang wanita resepsionis, sambil ia tersenyum genit.
Akan tetapi, wajah Arley lagsung berkeringat deras. Seperti ia tahu benda apa yang ada di hadapannya itu. Bukan sebab ia tahu benda apa yang ada di hadapannya itu, yang membuat Arley berkeringat. Tetapi, seperti ada sebuah tembok penghalang pada ingatannya, yang membuat benda itu terasa sangat mengenang dalam hatinya.
Seketika itu juga, Arley langsung memegang dadanya. Suhu tubuhnya langsung memanas, dan isi kepalanya semakin mengguncang. Ingin rasanya Arley memuntahkan isi perutnya, tetapi ia memilih untuk menahan semua itu, sebab tak ingin merepotkan paman Radits dan Varra lagi.
“A-Arley?!” Melihat sikap Arley yang cukup aneh, paman Radits dan Varra, langsung menahan tubuh Arley, agar dirinya tak terbanting ke tanah. Si wanita resepsionis pun menjadi cukup panik. Dan keriuhan sedikit terjadi di depan meja layanan itu.
Apakah yang terjadi dengan Arley? dan akan kah ia baik-baik saja?
Bersambung …!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------