The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 96 : Curang



    Dendam.


    Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan dendam?


    Apakah dendam itu merupakan suatu perasaan yang menggebu-gebu ketika ingin menegakkan keadilan secara primitif?


    Atau, suatu keinginan yang keras, untuk membalaskan rasa marah juga benci terhadap orang lain?


    Serta melakukan suatu perbuatan yang dianggap berbahaya terhadap seseorang, dalam tindakan pembalasan untuk memenuhi hasrat diri?


    Ya, bisa jadi saja semua kalimat tersebut adalah kebenaran.


    Namun, yang dapat kita tarik kesimpulan darinya adalah ... perbuatan dendam tidak akan membawa karma yang baik kepada sang pelakunya.


.


.


.


***


.


.


.


    Kembali ke arena pertandingan.


    Kondisi lapangan arena sangatlah panas. Saat ini, Rubius dan Rahul saling membalas serangan mereka dengan bertubi-tubi.


    Sesekali Rubius dipaksa untuk menghindar, karena serangan Rahul yang meluncur bagaikan senjata mesin.


    Kaki Rubius berdetak begitu cepat, suaranya sampai menggema lumayan kencang ke telinga para penonton.


    "Hanya berlari saja yang bisa kau lakukan ha?" tantang Rahul sembari menembakkan bola api yang ia keluarkan dari ujung tongkat sihirnya.


    Namun, secara tiba-tiba Rubius merubah haluan larinya, ia menyodorkan tongkat sihir uniknya tersebut kehadapan Rahul.


    Sembari ia berlari dengan kencang, Rubius lalu meneriakkan mantra sihirnya dengan lantang.


    "Aero Shock!"


    Tampak bergulir dengan kencang, sebuah gelombang angin dahsyat yang mampu mementalkan batu raksasa.


    "Apa!? - ugh!" Rahul pun tak mampu menghindari serangan jangka luas tersebut.


    Namun ia berhasil membuat rongga di dalam putaran angin yang mengarah kepadanya itu.


    "Fire of Repulsion!"


    Rapal Rahul dengan lantang. Kemudian terbukalah rongga sebesar dua meter pada gelombang angin yang kala itu tengah menderu ke arah Rahul dengan ganasnya.


    Kali ini Rahul selamat dari serangan Rubius.


    Rubius hanya terdiam, ia memandang Rahul dengan tajam, tampak dari mata Rubius bahwa ia sangat dendam dengan apa yang rekan-rekan satu timnya itu, telah lakukan kepada dirinya.


    Lalu pertarungan sengit pun di mulai kembali.


.


.


.


***


.


.


.


    Saat ini, tampak Arley sedang memperhatikan dengan serius, segala pergerakan Rubius yang kala itu sedang dalam kondisi menyerang.


    Kemudian dari arah belakang Arley, datanglah Eadwig bersamaan dengan Aurum.


    "Arley, bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya Aurum yang pada saat itu tengah menutup wajahnya dengan mantel kuningnya.


    Mendengar panggilan tersebut, refleks, Arley melirik sedikit ke arah Aurum, lalu ia kembali memperhatikan pergerakan Rubius tepat di bawah mereka berdiri saat ini.


    "Aku baik-baik saja kak, untungnya aku mendapatkan pasokan air putih yang cukup banyak dari tim medis," jelas Arley dengan nada datar.


    Sejenak keheningan terjadi kembali, namun keheningan itu tak berlangsung dalam waktu yang lama.


    "Aku sesungguhnya cukup sedih dengan kondisi Rubius saat ini, semoga saja ia bisa cepat terbebas dari beban yang tengah mengujinya ...," ujar Eadwig untuk membuka percakapan.


    "Maksudnya? mengapa kau kasihan terhadap Rubius?" tanya Arley kepada Eadwig. Alis Arley pun naik sebelah, tanda bahwa ia tidak mengerti apa yang diucapkan Eadwig.


    "Sebenarnya, saat ini Rubius sedang dicurangi oleh rekan satu timnya sendiri." sejenak raut wajah Eadwig berubah menjadi kesal. "Lihatlah, kau pasti menyadari ada hal yang aneh dari gelagat Rahul," Eadwig menunjuk ke arah Rahul dengan jari telunjuknya.


    Dengan saksama Arley kemudian memandang Rahul.


    Arley memperhatikan gelagat Rahul yang saat ini, ia hanya berdiam di tempat ia berdiri, sambil dengan beruntunnya Rahul merapalkan mantra sihir tanpa terputus-putus.


    Namun, jika diperhatikan dengan jeli. Ada suatu hal lagi yang tampak cukup aneh dari tempat dimana Rahul berdiri.


    Ya, tepat pada lantai dimana Rahul berdiri, ada sebuah lingkaran sihir, yang tercipta karena bantuan orang lain.


    "-Ha?! lingkaran sihir?!" Arley cukup terkejut setelah menyadari akan hal tersebut.


    Dengan ekspresinya yang cukup cemas, lalu Arley memalingkan wajahnya menuju rombongan rekan-rekan tim Rubius, yang pada saat itu mereka berada di sudut lobby kaca monitor, bagian timur.


    "Licik!" ujarnya dengan tegas. Tampak wajah Arley memerah kesal, muncul urat marah dari batang lehernya.


    Mereka, rekan satu tim Rubius dan Rahul. Terlihat mereka tengah merapalkan sesuatu hal, dengan menyodorkan tongkat sihir mereka, tepat ke arah Rahul.


    Lantas, Arley langsung ingin menghampiri mereka dan membongkar aib tim tersebut untuk menghentikan pertandingan yang tidak adil ini.


    Namun tiba-tiba Eadwig menahan Arley. Ia memegang punggung Arley dengan kuat agar Arley tidak lepas dari genggamannya.


    "Jangan," cakap Eadwig sembari ia menatap mata Arley dengan serius.


    Saat itu juga Arley langsung paham apa yang Eadwig ingin sampaikan. Yang Arley  pahami adalah, Rubius bukanlah tipe orang yang ingin dikasihani.


    Karena mereka saling memahami hal tersebut, Eadwig langsung melepas genggaman tangannya terhadap Arley.


    Mereka akhirnya menatap kembali ke arah Rubius, yang kala itu, ia tengah berkeringat deras akibat Rubius tanpa berhenti dan tanpa rasa lelah, terus berlari memutari lapangan arena dengan sepenuh hatinya.


    "Kau benar Eadwig, aku paham maksudmu. Walaupun mereka bermain curang terhadap Rubius, tetapi pada pertandingan ini, Rubius lah yang akan meraih kemenangan,"


    Dengan pandangan serius, Arley menatap Eadwig yang kala itu sedang tersenyum lebar karena Arley memahami apa yang ia pikirkan.


    "Benar, syukurlah kau memahaminya!" ujar Eadwig sembari merangkul Arley dengan hangat.


    "Tetapi, mengapa Rubius bisa dikucilkan sampai seperti itu ya? dendam apa sebenarnya yang membuat mereka berempat membenci Rubius sampai segitunya?" tanya Aurum kepada Eadwig.


    Sejenak Eadwig terdiam, lalu ia memalingkan kepalanya ke arah rombongan tim "Green Gorgon". Wajahnya tampak kesal dan ingin rasanya ia menebas mereka berempat karena perbuatan curang yang mereka lakukan terhadap Rubius.


    "Aku mengetahui informasi ini dari Amy ...," terang Eadwig. " Rubius. Ia, dipilih oleh negaranya sebagai kapten tim, karena ia berhasil mengalahkan kapten tim yang seharusnya mewakili negara『Akhekh』, pada ajang turnamen ini."


    Tercenganglah Arley dan Aurum setelah mendengarkan kalimat Eadwig.


    "Kekalahan kapten tim, membuat seluruh anggotanya merasa kesal terhadap Rubius. Kalian pasti sudah tahu mengenai harga diri negara『Akhekh』yang begitu tersohor," Eadwig perlahan menjelaskan runutan masalah yang terjadi.


    "Karena harga diri mereka yang terbilang teralalu tinggi, tak ada satupun anggota tim, Green Gorgon, yang rela di pimpin oleh Rubius. Sebab utamanya karena Rubius adalah orang yang memiliki garis darah yang kurang baik. Maka dari itu, semenjak hari dimana Rubius menggantikan kapten tim yang terdahulu, ia selalu di-Bully oleh keempat orang tersebut,"


    Terdiam, mereka bertiga menatap Rubius dengan ekspresi sedih dari ketinggian arena.


    Demikian mereka bertiga hanya mampu menonton pertandingan yang sedang tampil di hadapan mereka kala itu


***