
Malam telah tiba, suara perabotan dapur yang saling berbenturan mampu terdengar sampai ke ruang tengah. Arley bersama paman Radits, dan anak bungsu Jasmine, tengah duduk bersama di dalam ruangan yang hanya berisi, sebentang tikar dan sebuah kendi pada bagian pojokannya.
Ruangan ini, memang biasanya digunakan oleh keluarga Polka, untuk berkumpul bersama, oleh seluruh perangkat keluarganya. Tujuan utamanya adalah, agar makan malam dan sarapan pagi mereka, bisa berjalan harmonis dan tidak ada jarak di antara satu dengan yang lainnya.
Tampak Arley bersama paman Radits tengah mendiskusikan suatu hal. Di sisi lain, Joshua, anak bungsu dari Jasmine, dirinya tak mempedulikan sekitarnya, ia hanya bermain bola bekel yang terbuat dari kayu, dan terkadang ia melempar bola itu ke dinding, kemudian menangkapnya kembali.
“Bagaimana menurutmu, Arley?” tanya sang paman. “apakah rencana ini, masuk akal menurutmu?” Lalu sang paman menatp Arley dengan begitu serius.
Arley tidak langsung menjawab pertanyaan si paman, ia diam sejenak, sambil mencerna apa yang sang paman jelaskan kepadanya. “Menyerang Kasino itu, dengan menyusup ke dalamnya, lalu, menghabisi, si pria hidung belang, itu, secara diam-diam?” ucap Arley, yang mengulangi perkataan sang paman. “bagaimana, ya. Aku rasa … rencana ini terlalu simpel, dan jika paman mengatakannya seperti itu, segalanya terdengar sangatlah mudah untuk diselesaikan.” Kemudian Arley menggaruk kepalanya, sebab ia tak tahu harus berkata apa.
“Betul kan?! Kita pasti bisa! Dengan kemampuan, menyusupku, dan kemampuan, berpedangmu, aku yakin kita bisa membongkar kedok pria jahanam itu!” cakap sang paman, tampak begitu geram dengan pria yang sedang mereka bicarakan.
“Ah, tapi paman … bukankah ada cara lain yang lebih bersahabat? Seperti …,” gumam sang remaja, sambil ia menengadahkan kepalanya, tampak seperti sedang berpikir.
“Seperti?” imbuh si paman.
“Ehm ... kita datang ke sana, lalu, kita menawarkan produk yang mampu menggirukan mereka, dan di saat mereka terikat kontrak dengan kita, maka kita bisa memutar balik kan keadaan sesuka kita? Oh, iya, tentu saja kontraknya berisi hal-hal yang mampu menjerumuskan mereka, bagaimana, Paman?” jelas Arley kepada sang paman.
“Hm, membalas pemerasan, dengan pemerasan, ya?” ucap paman Radtis, sambil ia mengelus-elus dagunya. “Kalau kita bermain dengan cara itu, tentu saja kita tidak akan perlu susah-susah mengeluarkan darah dalam menyelesaikan perkara ini. Tapi … barang seperti apa yang akan kita tawarkan kepada mereka? Membuat barang yang seseorang sangat inginkan, bukanlah sesuatu hal yang singkat untuk dicari, loh."
“B-Benar juga ….” Terdiamlah Arley untuk sejenak, begitu juga dengan paman Radits. Mereka berdua, berpikir keras untuk mencari jalan keluar yang sekiranya tepat.
“Sepertinya, cara pertama memang jalan satu-satunya,” gumam sang paman, yang tak tahu harus memilih cara apa lagi.
Lantas, secara bersamaan, muncullah Varra, Emaly, Jasmine, dan Melliana, yang datang dari arah dapur, ke ruangan tengah.
Masing-masing dari mereka, tampak membawa piring-piring besar yang berisi makanan lezat dan menggiurkan selera. Piring-piring itu dihidangkan di atas karpet yang membentang lebar, pada ruang tengah tersebut. Dan, menu makan malam hari ini pun tersaji dengan sempurna.
Namun, pandangan Arley tiba-tiba teralihkan pada sebuah botol berwarna putih. “I-Ini …?” celetuk Arley, yang menunjuk botol keramik putih, dengan jari telunjuknya.
“Ah~ ini namanya, Arak Susu 'Milk Wine'. Minuman ini khusus untuk orang dewasa, ya.” jelas Melliana kepada Arley.
Kemudian, berdirilah Arley dengan perasaan yang meledak-ledak. “Ini dia!” teriaknya dengan begitu semangat.
“Eh?!” Sontak, orang-orang yang berada di sekitar sang remaja, ikut terkejut mendengarkan teriakannya.
Lantas, tiba-tiba Arley berlari keluar dengan sangat terburu-buru, sembari ia membawa pedangnya. “Aku pergi sebentar Paman! Aku sudah tahu produk apa yang akan kita tawarkan!” jerit sang remaja, yang kala itu, langsung menghilang dari ruang tengah.
“P-produk …?” tanya Jasmine, yang terheran-heran dengan apa yang si remaja itu katakan. Si wanita paru baya itu pun, menoleh ke arah paman Radits. Berharap, ia mendapatkan jawaban dari tindakan yang Arley perbuat tadi. “Tom?” tanya Jassmine.
“A-Ahahaha! A-Aku pun tak tahu,” ujar sang paman, sambil ia mengeluarkan keringat dinginnya, dan kedua alis yang terangkat ke atas.
Sekilas, Varra tampak sangat cemas, dengan kepergian Arley yang sangat mendadak. Ia pun malah ikut-ikutan pergi, untuk mengejar si remaja berambut merah itu. “Aku akan pergi mengejarnya!” ucap Varra, yang langsung bergegas beranjak, sambil menangkap tongkat sihirnya, dan berlari menuju pintu keluar.
“Varra!” panggil Melliana. “Tidak baik untuk seorang anak perempuan bepergian selarut ini!” Melliana pun berdiri dari tempatnya, namun, ia langsung dicegat oleh paman Radits.
“Mell,” seru sang paman, sambil ia memegangi lengan si gadis cantik tersebut. “mereka berdua adalah orang yang tangguh, biarkan saja mereka.” Lantas, sang paman tersenyum tipis, dan memasang wajah yang begitu percaya diri, seperti menunjukkan, bahwa apa yang dia ucapkan bukanlah pembelaan semata.
Melliana pun, akhirnya terpaksa untuk duduk kembali. Ia termenung sejenak, memikirkan apa yang sang paman ucapkan kepada dirinya. “T-Tangguh?” ujar Mell, dalam hatinya sendiri.
“Okey, sebaiknya kita makan duluan saja! Nanti mereka tinggal menikmati sisanya.” Seketika itu juga, sang paman langsung menyantap makanan, yang tersaji pada malam hari ini. Juga tak lupa, ia menyuapi Emaly, yang saat itu tak terlalu memedulikan kedua kakaknya.
Jasmine dan Mell, tampak mereka berdua saling menatap. Ibu dan anak tersebut, cukup bingung dengan situasi yang tak pernah mereka hadapi ini. Lantas, Jasmine pun tertawa, kemudian ia memegangi pundak sang gadis, dan berkata. “Yuk, kita makan dahulu saja.” Sambil mengambil piring yang bersih, dan memberikannya kepada Melliana.
Si gadis pun menganggukkan kepalanya, kemudian, ia ikut tersenyum sembari mulai menyantap makanan yang masih terasa begitu hangat.
.
.
.
***
.
.
.
Di malam yang cerah itu. Angin bertiup cukup lembut, langit gemilap, berputar sangat lamban, serasa waktu berputar, sangatlah langsam. Tak ada awan, yang menghalangi pandangan siapa pun, terhadap langit luas itu. Triliunan bintang tampak begitu cantik, bercahaya, menghiasi luasnya angkasa ... demi mengundang makhluk malam, untuk memandangi dan menikmatinya.
Cahaya rembulan turun ke bumi, menyinari si remaja pria, yang tampak mencari sesuatu pada peterakan sapi yang terhampar luas itu. Ia berjalan ke sana dan kemari, menoleh ke kiri dan ke kanan, dan fokusnya hanya tertitik pada rerumputan, yang tumbuh lepas, di lahan tersebut.
Dari kejauhan, datanglah Varra menghampiri Arley, ia berjalan santai sambil memperhatikan tingkah lakunya si pria bermata hijau, untuk mengetahui, alasan mengapa ia pergi keluar selarut ini. Awalnya Varra sedikit cemas dengan kondisi Arley, tetapi, cerahnya langit, membuat suasana hati Varra menjadi sangat berbahagia.
“Hey~” panggil Varra kepada Arley. “apa yang kamu sedang lakukan?” Datanglah si remaja wanita, mendekat ke arah Arley, dengan bagian lengan kirinya, ia genggam menggunakan telapak tangan, pada posisi belakang pinggang.
Mendengar panggilan tersebut, Arley pun langsung menoleh ke arah Varra. “Oh? Varra? Kamu ternyata yang memanggilku." Menyadari jika Varra telah menghampirinya, sejenak, Arley tertawa sendri, dan ia memilih untuk menghentikan pencariannya, demi meladeni si wanita remaja. "Maafkan aku, karena sudah membuatmu cemas,” ucap Arley, yang kemudian berdiri tegap, dan ia menghadap ke Arah Varra. “Aku sedang mencari Jamur,” jawab Arley atas pertanyaan Varra yang pertama.
“J-Jamur? Ha?" Varra terdiam sejenak. "jamur?!” tanya ia sekali lagi. Tentu saja Varra mendapati jawaban Arley, terdengar sedikit Absurd. Bagaimana tidak? Di waktu selarut ini, mengapa Arley masih menyempatka diri, untuk mencari sebuah jamur? Apakah ia sangat ingin memakannya? Setidaknya, itulah yang Varra cuit kan, dalam benaknya.
“Ya, Jamur,” tutur Arley. “kamu ingat misi kita, saat membersihkan lahan peternakan, yang sudah ditinggalkan pergi oleh pemiliknya?”
“Oh, Quest membajak lahan?” imbuh Varra.
“Benar, Quest yang itu!" tunjuk Arley dengan semangat. "ketika itu, aku tak sengaja menemukan jamur berwarna biru langit. Kulit luanya tampak sedikit transparant, dan kelihatan sangat indah.”
“Kamu mengingatnya?” tanya Arley. “nah! Jamur itulah yang sedang aku cari, Jamur Rodentia.”
Setelah menjelaskan apa yang ia lakukan di lahan peternakan ini, pada malam hari. Arley kemudian mulai kembali melirik ke sebelah kiri dan kanannya. Sedangkan Varra, ia masih menatap wajah Arley, yang terlihat sangat antusias. “Mau kamu apakan jamur itu?” ucap Varra.
Saat itu, Arley hanya tersenyum lebar, bahkan sampai menampakkan gigi putihnya dan apik itu. Arley pun menaruh jari telunjuknya, di depan bibirnya yang pucat itu, kemudian ia berkata. “Ini adalah rahasia para lelaki~” imbuh Arley dengan sedikit terkekeh.
Wajah Varra pun langsung tampak memerah. Ia tak tahu harus berkata apa, dirinya benar-benar bingung dengan tingkah laku Arley, beserta rencananya yang tidak jelas. Tetapi, yang jelas, rupa Arley saat itu, benar-benar mendebarkan hati Varra, sampai-sampai, mampu memanaskan wajah cantik Varra, yang sebelumnya sangatlah terasa dingin, menjadi begitu merah, layaknya kepiting rebus.
Namun, Arley tak melihat kejadian itu, ia hanya fokus pada pencariannya saja. Sedangkan Varra, ia tampak merundukkan kepala, agar Arley tidak melihat wajahnya, yang telah memerah padam. Kesunyian mulai terjadi di antara mereka berdua. Si Arley fokus pada dirinya sendiri, dan si Varra termenung dalam delusinya sendiri.
Lantas, tak lama setelah kesunyian merambah keduanya. Arley pun berhasil, menemukan apa yang dirinya cari-cari, sedari tadi. “Ah! Ini dia!” pekik Arley, yang menemukan jamur berwarna biru itu, dalam kondisi tanpa disengaja. Sontak, saat mendengar suara Arley yang cukup gegar, hal ini membuat Varra tampak begitu terkejut. Sang wanita berambut hitam kemerahan itu pun kembali tersadar, dari dalam dunia delusinya.
"E-eh?!" cakap Varra, yang menoleh ke kiri dan kekanan, untuk mengetahui, apa yang telah tejadi.
Jamur itu, tumbuh di kotoran hewan yang telah membatu. Warnanya yang sangat mencolok, membuat jamur ini tidak terlalu susah untuk ditemukan. Akan tetapi, karena jamur ini sangatlah beracun, orang-orang tidak mau memetik, apa lagi memakannya.
Namun, di balik mematikannya jamur ini, tersimpan rahasia yang amat menguntungkan. Arley yang mengetahui khasiat dari jamur itu, pada malam hari ini, langsung saja ia memetiknya, dan membawanya kembali pulang, ke rumah keluarga Polka.
Lantas, akibat adrenalin yang menggebu-gebu, Arley pun langsung bertindak, menggunakan instingnya. “Ayo kita pulang!” Saat itu, ia langsung saja menggenggam tangan Varra menggunakan tagan kanannya, sedangkan tangan kiri Arley, ia fungsikan untuk menggenggam jamur itu.
Pada saat itu, Varra benar-benar dimanja oleh imajiansinya sendiri. Ia tak bisa berkata-kata apa pun. Yang dirinya lakukan, hanyalah menikmati setiap detik yang ia luangkan bersama Arley, sampai mereka masuk kembali, ke dalam rumah keluarga Polka.
***
Waktu berjalan sangat cepat. Sampailah kedua remaja itu di dalam rumah keluarga Polka. “Aku pulang!” teriak Arley yang sudah berada di dalam rumah.
“Selamat kembali~” imbuh paman Radits, kepada Arley dan Varra.
Ketika itu, Varra sudah tersadar dari dunia delusinya. Mungkin lebih tepatnya, ia memaksakan diri, untuk kembali, menjadi seperti semula. Tampangnya sangatlah dingin dan datar, padahal, beberapa waktu yang lalu, wajahnya begitu merah dan tidak karuan.
Kemudian, tampak jika sang paman telah usai menyantap makanannya. Bahkan, Emaly pun telah tertidur, di atas pangkuan sang ayah. “Bagaimana, Arley? kau menemukan apa yang dicari?”
Sejenak, Arley terdiam, lalu, ia menganggukkan kepalanya, sebagai tanda, bahwasannya ia telah berhasil menemukan apa yang dirinya telah cari tadi. “Ya! Aku menemukannya.” Diangkatnyalah jamur itu, tepat di hadapan sang paman.
“Ja-Jamur Rodentia?!” Lantas, sang paman tak bisa menahan suaranya, ia berteriak cukup kencang dan hampir membangunkan Emaly.
“Emmh~” Emaly pun tampak sedikit tersadar dari tidurnya, namun, ia kembali tertidur, sebab orang-orang yang ada di sekitarnya, mencoba untuk menahan napas, agar Emaly tak jadi terbangun.
Mereka yang berada di sektiar sang paman pun, tampak sedikit panik. “Ssstt!” bisik Arley, Varra, Melliana, dan Jasmine, kepada paman Radits.
“Ma-maaf!” ujar si paman, sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Lalu sitauasi kembali memanas. Sang paman mendehamkan tenggorokannya, untuk mengontrol suara yang akan dirinya keluarkan. “Mau kau apakan jamur beracun ini, Arley? jangan bilang … kau ingin menjual senjata racun kepada mereka?” tanya sang paman, yang terlihat tak setuju dengan apa yang Arley lakukan.
“Bukan begitu paman, ehm, a-anu ….” Ketika itu, Arley tampak sedikit segan untuk memberikan masukannya kepada sang paman. Menyadari jika ia tak bisa menceritakan hal ini di depan keluarga Polka dan Varra, Arley pun mendekat ke pamannya, dan ia berbisik dengan suara yang super kecil. “B-Begini paman …,” ucap Arley.
“Ya …?” Kemudian sang paman menanti penjelasan anak asuhnya.
“Dengan jamur ini … kita bisa membuat obat kuat, dan ramuan perangsang wanita.” Dengan suara yang malu-malu, Arley akhirnya mampu mengucapkan apa yang ia maksudkan.
Wajah sang paman pun langsung memerah padam. “H-he?!” gumamnya. “A-Arley … dari mana kau mempelajari hal ini? Aku tak ingat membesarkanmu menjadi anak yang mesum seperti itu …!” Ingin sang paman memarahi Arley, tetapi wajahnya tidak sependapat dengan keinginan hatinya. Terlihat, jika sang paman cukup tertarik dengan pembicaraan ini.
Arley pun menyiku sang paman, seperti tahu apa yang ayah angkatnya itu ingin ucapkan. “Sebenarnya, ini semua terjadi sebab kebetulan,” jelas Arley, dengan bisiknya yang ingin memberi tahu sang paman. “Beberapa minggu yang lalu, aku tak sengaja menemukan jamur ini di sebuah peternakan. Aku kira, jamur ini hanya jamur cantik yang bisa jadi hiasan rumah. Akan tetapi, tak sengaja aku bertemu dengan, Kak Litta, yang Ateliernya muncul secara tiba-tiba di hadapanku.” Sejenak Arley berhenti berbicara, ia gunakan momen ini untuk mengambil napas, dan melihat sekelilingnya.
Saat itu, Varra, Jasmine, dan Melliana tampak memandang curiga, atas pembicaraan Paman Radits dengan Arley.
“Apa yang kalian biskkan?” tanya Jasmine kepada Arley dan paman Radits.
“Ah! Y-ya!?” Arley pun sedikit terguncang, ketika wajahnya langsung bertatapan dengan Jasmine.
Kemudian, paman Radits langsung mengkover Arley, sebab ia tahu jika rencana mereka yang ini, akan berjalan baik, dalam misi kali ini. “Jassmine! Serahkan ini kepadaku!” ujar sang paman, yang langsung menggendong Emaly, dan membawanya bersama Arley, pergi dari rumah itu, melalui pintu depan.
Arley pun kemudian mengambil kesempatan di sini. Ia melarikan diri bersama paman Radits, menuju tempat yang lebih sepi dan tersembunyi.
Berjalanlah sang remaja dan si pria paruh baya itu, ke belakang kereta dagang, yang mereka parkirkan di samping rumah. Sesampainya di sana, Arley dan paman Radits sepat melirik ke kiri dan ke kanan, untuk meyakinkan diri, jika tidak ada yang sedang memantau mereka.
“Nah, lanjutkan!” Merasa sudah Aman, dengan wajah girangnya, sang paman kemudian meminta Arley untuk melanjutkan percakapan mereka tadi.
Berbisiklah Arley kepada sang paman, untuk menjelaskan apa yang ia dengar dari Litta, si Alchemist, yang sempat menyelamatkan mereka, saat Emaly sedang sakit parah. “Ketika itu, aku pun memilih untuk masuk ke dalam Atelier-nya Kak Litta, dan memintanya untuk mengidentifikasi jamur ini.” ketika menjelaskan hal ini, Arley menunjukkan jamur tersebut ke arah Pamanya.
“Lalu, ketika aku menunjukkan jamur itu kepadanya, Kak Litta, tiba-tiba tersenyum sendiri, dan berkata: Hey, Arley, dari mana kamu mendapatkan jamur itu? Sekarang kamu sudah mulai nakal ya. Demikianlah yang Kak Litta katakan saat pertama kali aku menunjukkannya jamur ini. Tentu saja, saat itu, aku tidak tahu apa-apa tentang khasiat jamur ini. Lantas, saat aku menanyakannya, Kak Litta malah menjelaskan kepadaku, secara panjang dan lebar, mengenai manfaat utama, dari Jamur Rodentia, ini.” Jelas Arley.
Sang paman langsung terdiam, matanya terbelalak lebar. Sambil mengelus-elus dagunya, ia terus menatap jamur itu dengan penuh ambisi.
“Ini bisa bekerja dengan baik!” Tiba-tiba, sang paman terlihat begitu antusias dengan rencana Arley. “Tidak hanya sama pria hidung belang itu, aku yakin, ramuan ini akan terjual sangat laku, jika kita perdagangkan di kota [Dorstom!].” Ketika itu, sang paman agak membenarkan sedikit posisi tidur Emaly, agar sang anak bisa lebih nyaman beristirahat. “Arley, kau jenius ...! Ini namanya, melempar satu batu, untuk membunuh dua burung!” ujar sang paman dengan suara yang super pelan, kemudian, ia menggosok-gosok kepala Arley sebab rasa bangganya kepada sang remaja pria.
Arley pun merasa cukup bangga dengan idenya tadi. Ia yakin, jika ramuan ini akan bisa membuat pria hidung belang itu, akan bersujud di dean mereka berdua, hanya untuk mendapatkan ramuan yang satu ini.
Ya, semenjak malam itu, Arley dan paman Radits, memastikan misi mereka kali ini, Yaitu, menumbangkan kekuasaan, si pria hidung belang. Dan membebaskan keluarga Polka, dari kejahatan pemerasan yang mereka lakukan kepadanya.
“Kita akan tendang, bokong pria hidung belang itu, keluar dari dataran ini!” imbuh sang paman, yang menatap ke sisi Barat, untuk melihat cahaya terang—terpancar dari lampu-lampu kota [Rapysta]. Tekat mereka sudah bulat, yang di butuhkan, hanya tinggal menjalankan misi ini dengan baik.
Akan tetapi ….
“Nah, Arley! Buatlah ramuan itu dalam waktu dua hari!” celetuk sang paman dengan begitu sadisnya. Ia bahkan tak memberikan Arley jedah, untuk menegosiasi waktu tenggangnya.
“E-EH!?—” Arley yang tak tahu-menahu tentang bagaimana cara membuat ramuan ini, harus menyelesaikannya dalam waktu dua hari. Awalnya ia mengira, jika dirinya memiliki waku, sekiranya satu minggu, untuk menemukan racikan dari ramuan yang mereka bicarakan tadi.