
Mata Arley perlahan terbuka, dirinya mulai menyadari jika pertemuannya dengan Litta bukanlah sebuah mimpi semata. Kemudian, Arley menggeliatkan tubuhnya dengan tenaga yang telah pulih kembali.
Saat itu, tubuh Arley sudah benar-benar bugar selepas dirinya tidur selama enam jam tanpa dibangunkan sedikit pun.
“Ah! Aku ketiduran,” ucap Arley, yang kemudian mengusap wajahnya menggunakan lengan bajunya.
Litta yang tengah duduk di atas kursi kasirnya, tampak tidak ada yang berubah dari kondisi ketika ia duduk di hadapan Arley sedari awal, namun, tak sengaja sang remaja berambut merah itu mencium aroma yang begitu lembut dan manis.
“Hm? Sampo?” ujar Arley dengan spontan.
Lantas, wajah Litta langsung memerah, dan ia pun menutupi wajahnya menggunakan buku yang sedang ia baca kala itu. Arley menyadari, jika Litta baru saja selesai mandi, saat dirinya tertidur tadi.
“Ah, maafkan aku kak. Tampaknya aku sudah terlalu lama berdiam diri di toko ini.”
Setelah mengucapkan permohonan maafnya, Arley tak sengaja sempat melirik pada sebuah buku yang terlihat cukup tebal, tergeletak tepat di atas meja, tempat ia tidur tadi.
“Buku ini …?” tanya Arley kepada Litta.
Untuk menanggapi pertanyaan sang remaja berambut merah, sikap Litta langsung berubah 180 derajat, dari yang awalnya malu-malu, dengan instan ia berubah menjadi wanita pekerja yang suka membantu orang lain.
“Iya, itu adalah buku yang kamu cari,” jelas Litta, yang kemudian itu langsung menutup buku bacaannya. “Kamu bisa menemukan resep obat kuat itu di dalam buku ini.”
Buku itu memiliki sampul berwarna hitam, dan pada bagian dari sampul tersebut, ia menggunakan kulit hewan sebagai bahan utamanya.
“Terima kasih banyak, Kak Litta!” ucap Arley, setelah dirinya mendapatkan buku resep tersebut. “tetapi … kenapa aku tak bisa menemukan resep obat kuat itu di buku-buku herbalogis lainnya, ya, Kak?”
“Tentu saja, ramuan itu tidak akan kamu temukan di mana pun,” ucap Litta, yang kemudian ia tersenyum membanggakan diri, terhadap si remaja berjubah putih tersebut. “buku ini, hanya ada satu di dunia ini.”
Ketika itu, Litta menyentuh buku yang tergeletak di hadapan Arley menggunakan telapak tangan kirinya, tampak seperti ia tengah menunjukkan apa yang sedang ia jelaskan. “Karena, semua yang ada di dalam buku ini, adalah hasil dari risetku sendiri.”
Setelah Arley mendengarkan ucapan Litta, saat itu juga sang remaja langsung membelalak kan matanya, ia benar-benar terlihat sangat terkejut.
“Pantas saja aku tidak pernah menemukan ramuan itu, di buku mana pun …,” gumam Arley sambil ia menatap fokus pada sampul buku tersebut.
Pada bagian depan dari buku itu, terdapat judul yang terbuat dari tinta ungu, bertuliskan: ‘Herbal Potion, by: C. Litta Holmes'.
Setelah Arley membaca tulisan pada sampul dari buku tersebut, ia pun berkeinginan untuk segera membuka buku berwarna hitam itu.
“Apakah aku boleh membukanya?” tanya Arley kepada Litta, dengan penuh rasa penasaran.
“Tentu saja~” Litta menganggukkan kepalanya, memberikan sebuah tanda, bahwa Arley di izinkan untuk membuka buku itu.
Lantas, Arley langsung saja membuka buku itu pada halaman pertamanya. Ketika ia melihat halaman satu dari buku tersebut, sang remaja langsung disuguhi oleh dua macam ramuan yang sangat luar biasa.
“Hi Potion, ramuan yang mampu menyebuhkan segala luka … Elixir, ramuan yang bisa menyembuhkan segala penyakit,” gumam Arley, saat ia membaca buku tersebut.
Tetapi, di saat ia membaca bagian penjelasan dari ramuan Hi potion, pada buku tersebut. Arley tak sengaja mendapatkan sebuah penjelasan, jika, resep Hi Potion yang Litta racik, memiliki kemampuan, untuk menyembuhkan luka sampai tahap rekonstruksi bagian sel pada tubuh manusia, dan membuat bagian pada tubuh yang hilang tersebut, bisa tumbuh kembali seperti semula.
Melihat penjelasan dari buku itu, Arley langsung mengangkat kepalanya secara terkejut, dan menatap ke wajah Litta dengan penuh takjub.
“B-Benarkah apa yang buku ini tuliskan?!” ucap sang remaja dengan nada tinggi.
“Mm~ Ya, seratus persen benar! Aku bisa menjaminnya.” Jelas Litta dengan ringannya.
Arley langsung melamun—memperhatikan buku yang saat ini ia sentuh.
“Ramuan ini … jika ada orang lain yang mengetahuinya, bisa-bisa perang besar akan terjadi.”
Senyuman terpaksa pun langsung muncul pada wajah Arley. Tangannya sangat gemetaran dan ia cukup takut untuk membawa buku itu keluar dari Atelier ini.
“Apakah aku benar-benar boleh membawa buku ini keluar dari rumah ini, Kak Litta?”
“Tentu saja! Bawalah buku ini sesukamu, dan kamu boleh mengembalikannya kapan pun yang kamu mau!” Lagi-lagi, Litta menjawab pertanyaan Arley dengan begitu mudah.
Tentu saja demikian, karena, saat ini Litta sedang menahan seluruh perasaan di dalam hatinya, dan tengah bersikap sok keren di hadapan Arley. Makanya, segala yang Arley pinta, akan ia perbolehkan, walaupun hal tersebut bisa menghancurkan dunia.
“T-tapi Kak! Buku ini bisa sangat berbahaya jika aku tak sengaja menghilangkannya, dan bisa saja buku ini di salah gunakan oleh orang yang jahat! Apakah aku benar-benar boleh membawa keluar buku ini?!” tanya Arley sekali lagi, yang dirinya masih belum yakin jika ia berani membawa buku itu keluar dari rumah Litta.
Lantas, Litta pun mulai ragu dengan jawabannya. Ego-nya mulai terkikis dengan realitas yang ada, saat ini, jika ia salah ambil keputusan, bisa saja dunia akan terbalik.
“Y-ya … e-em … sepertinya, yang kamu ucapkan ada benarnya, Arley.” Pada Akhirnya, Litta langsung mengendurkan rasa sok kerennya, dan menelan perasaan itu dalam-dalam.
Sang Alchemist langsung menutup buku yang Arley tengah baca itu, dan ia ingin mengambil literatur itu dari tangan Arley.
“M-mungkin aku hanya akan menuliskan resep obat kuat itu di selembar kertas, dan—” Belum selesai Litta menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Arley menahan tangan Litta, dan ia kembali menarik buku yang ingin Litta simpan kembali, ke dalam rak buku.
“Tunggu dulu, kak!” imbuh Arley, yang saat itu langsung menunjukkan senyumannya dengan tambahan sedikit bumbu semangat. “Biarkan aku menghapalkan seluruh isinya.”
Mendengar ucapan Arley yang sangat Absurb, Litta langsung terdiam, dan tak bisa berkata-kata atas apa yang akan Arley lakukan kepada bukunya tersebut. Tak berlama-lama, Arley langsung menarik buku itu, dan ia membacanya dengan sangat fokus.
“A-Aku rasa, hal itu mustahil, mana mungkin ada manusia yang bisa menghapalkan 800 halaman buku ramuan, dalam waktu satu hari …,” gumam Litta dalam hatinya. Namun, apa yang ia lihat, tidak dapat membohongi realita yang sesungguhnya.
Pada saat itu, dengan begitu cepat Arley membaca seluruh isi yang tercantum di dalam buku ramuan tersebut. Menggunakan kemampuan ‘Photographic Memory-nya’ Arley mencoba menghapalkan setiap lembar yang ia buka, dalam waktu, lima detik per halaman. Dan dalam waktu satu jam lebih, Arley sudah menghapalkan seluruh isi yang tertulis di buku itu.
Beberapa minggu yang lalu, Arley menyadari akan suatu hal terhadap dirinya sendiri, yaitu, ia memiliki ingatan yang cukup kuat saat ia fokuskan dirinya sendiri dalam hal membaca buku.
Arley tak mengerti, mengapa hal ini bisa ia raih dengan begitu mudah. Tetapi, sebelum Arley lupa ingatan pun, dirinya sudah memiliki kemampuan ini, dan ia hanya bisa mengguakan teknik ini, jika ia benar-benar memaksakan pikirannya untuk megingat hal yang ingin ia cari.
Satu hal yang pasti. Walaupun Arley sedang dalam kondisi lupa ingatan, namun, seluruh skill yang berhubungan dengan kemampuan fisiknya, masih bisa berjalan normal. Bahkan, dalam tingkatan seratus persen sempurna, sama seperti saat dirinya belum melupakan memori masa lalunya.
Akan tetapi ... untuk mendapatkan skill tersebut, ia harus menemukannya secara tidak sengaja. Inilah yang membuat ‘Status’ pada tabel skill Arley, tidak tercantumkan apa pun, sebab utamanya, karena dirinya tak mengingat jika ia mempunyai kemampuan tersebut.
Penyebab lainnya mengapa tabel skill Arley masih kosong, saat ditest oleh pihak Guild, adalah, karena [Orb] yang mereka gunakan, tidak sama standarnya dengan yang di miliki oleh kerajaan [Exandia] saat ini. Dengan kata lain, [Apparisal Orb] yang di miliki pihak Guild, adalah [Orb] yang bertipe lama, atau sudah ketinggalan zaman.
.
.
.
.
.
.
Satu jam pun telah berlalu ....
Tampak jelas, jika Arley sudah membaca habis seluruh lembaran halaman pada buku yang Litta miliki itu.
Keringat bercucuran lebat pada tubuh Arley, bahkan, napasnya tampak tersendat-sendat seperti orang yang baru saja melakukan olahraga berat.
“A-Arley? Kau tidak apa-apa?”
Litta yang merasa cemas dengan kondisi Arley, dirinya pun langsung keluar dari meja kasirnya, dan ia mendekat ke samping kiri Arley, sambil mencoba mengelap keringat yang hinggap di wajah sang remaja.
“Ya, aku baik-baik saja. Bahkan, saat ini aku merasa sangat bugar.” jawab Arley, sambil ia menahan tangan Litta dari pandangannya.
Wajah Arley pun menunjukkan perasaannya, senyuman bahagia tercantum jelas pada bibirnya. Lalu, ia memberikan buku tebal itu, kembali kepada sang pemiliknya.
“Kak Litta,” gumam Arley. “bisa kah Kakak mengetes daya ingatanku?”
Ketika itu, retina pada mata Litta langsung mengecil. Dirinya hampir tidak percaya, jika Arley benar-benar mampu menghapalkan seluruh isi dari bukunya tersebut, bahkan, waktunya hanya sekitar satu jam saja.
“M-Mustahil … hahaha, kamu bercanda, kan, Arley?” ucap Litta dengan nada gemetaran.
Tetapi Arley hanya tersenyum, sambil ia menyodorkan buku tebal tersebut kepada sang pemiliknya.
Litta tak bisa menolak lagi, tak ada cara lain, ia pun langsung mengambil buku tersebut, dan dirinya langsung membuka secara acak, lembaran yang terdapat di dalam bukunya itu.
“Halaman 534, paragraf ke lima,” ucap Litta.
Arley terdiam sejenak, ia memejamkan matanya sambil mengingat kembali, apa yang tertulis pada halaman dan paragraf dari yang Litta sebutkan tadi.
“Tiga liter campuran air dari ekstrak tanaman, 'Hitoleminar', dan dua sendok bubuk, 'Mandrek'. Kemudian ... diaduk secara rata menggunakan ranting pohon, 'Tolitelia', dengan suhu enam puluh derajat selsius.”
Selepas itu, Arley membuka matanya, dan ia langsung melihat ekspresi wajah Litta.
“Ini tentang ramuan, menyembuhkan mata yang buta, bukan?” imbuh Arley, dengan sangat percaya diri.
Litta terdiam kembali. Kali ini, mulutnya terbuka lebar atas apa yang Arley tunjukkan kepada dirinya. Sang Alchemist bahkan sempat mencubit pipinya sendiri, karena ia mengira, jika semua ini hanyalah mimpi belaka.
“A-Arley … buku ini, memiliki seluruh ramuan yang sangat langkap, dari zaman dahulu, sampai yang belum diketahui oleh masyarakat umum. Ka-kamu … apakah kamu benar-benar menghapalkan seluruh isinya hanya dalam waktu satu jam saja …?!” tanya Litta, yang sangat terkejut, juga begitu terkesima atas kecerdasan yang Arley miliki.
Saat itu, Jantung Litta mulai berdebar tak terkontrol.
Arley tidak langsung menjawab pertanyaan Litta. Urusannya dengan toko ini telah selesai, maka dari itu, ia pun bangkit dari kursinya, dan dirinya langsung berjalan menuju pintu keluar.
Sesampainya di depan pintu, Arley langsung membuka tuas pintu Atelier milik Litta ini dan ia baru menjawab pertanyaan sang Alchemist.
“Ya … setiap titik dan koma, setiap huruf besar dan kecil, juga, setiap angka pada tabel takarannya. Aku, berhasil menghapal segalanya.” ucap sang remaja berambut merah, sambil melirik ke arah Litta.
Setelah ia memberikan penjelasannya itu, Arley pun keluar dari rumah milik Litta, dan menlontarkan empat kata terakhirnya, sebelum ia menutup pintu toko tersebut. “Termia kasih, Kak Litta” ucap Arley, dengan suara yang begitu jelas, dan dengan tatapan tajam. Layaknya anak panah, yang terlepas cepat dari busurnya, dan menembus jantung hati Litta—tepat mengenai perasaan terdalamnya.
Bongkahan es di dalam hati Litta pun langsung runtuh. Hatinya yang dingin, seketika itu juga langsung mencair layaknya tertelan magma.
Debaran jantung Litta bertambah semakin kencang. Tetapi, ia terlihat bingung, mengapa hal ini bisa terjadi seperti ini. Akhirnya, Litta hanya termenung, memandangi pintu tokonya yang telah tertutup rapat.
Semakin di tunggu olehnya, jantung Litta semakin berdebar kencang, bahkan ia bisa mendengarkan suara jantungnya sendiri, yang terpompa dengan begitu gila.
Wajahnya memerah padam, dan tubuhnya semakin gelisah. Ia tak pernah berada di dalam kondisi seperti ini sebelumnya. Kejadian ini, adalah yang pertama kalinya dalam seumur hidup Litta.
“Dia … apakah dia benar-benar menghapalkan seluruh isi dari karya buku yang telah aku tulis ini?” Terduduklah Litta memandangi pintu masuk tokonya.
"Buku yang sudah kuanggap sebagai kekasihku sendiri ...." Lalu, ia menyentuh dadanya yang masih terasa sesak. “Apa … apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Kenapa aku menjadi seperti ini?” cakap Litta, dengan senyuman yang mengembang lebar.
Tak sengaja, saat itu Litta melirik tipis, ke arah buku yang sempat ia baca dari tadi. Tertulis pada sampul buku berwarna cokelat tersebut, sebuah judul yang sangat populer di kalangan remaja wanita, yaitu ‘Percintaan dan Asmara.’
Sontak, Litta langsung menyadari akan suatu hal, yang dirinya belum pernah rasakan selama hidupnya.
“Ini, kah, yang dinamakan, Cinta ...?” ucap Litta, sambil menyentuh bibir merahnya.
Setelah kalimat itu keluar dari bibirnya, Litta pun sudah tak kuat untuk berdiam diri lagi, di dalam Atteliernya. Tiba-tiba, Litta langsung bangkit dari kursinya, dan ia langsung berlari keluar, menuju pintu tokonya untuk mengejar Arley kembali.
"Tunggu, Arley!" teriak Litta, yang suaranya langsung menggelegar kencang, ke seluruh antero horizon.
Akan tetapi, setelah Litta keluar dari dalam toko dan tampak berdiri sendiri di depan rumahnya, ia langsung tersadar, jika dirinya berada di sebuah bukit yang bertempat sangat jauh dari lokasi Arley saat ini berada.
Hanya tampak sebuah toko yang berdiri sendiri, tepat di tengah-tengah hamparan rumput rimbun tak berpenghuni. Bahkan, jika di lihat dari jarak jauh, orang-orang yang melewati perbukitan itu akan langsung menyadari, jika ada sebuah rumah di atap bukit rumput tersebut.
Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya. Litta merasa menyesal, mengapa ia harus membuat tokonya bisa timbul di berbagai tempat dan ia tak bisa mengendalikan tempat di mana ia ingin keluar dari toko tersebut. Andai saja dirinya bisa keluar menuju tempat yang ia inginkan, tentu saja ia bisa bertemu Arley saat ini.
“Arley …! Oh, Arley! Aku sangat ingin bertemu denganmu!” Demikian, Litta terus mendengungkan kata-kata itu di dalam pikirannya, sambil memeluk dirinya sendiri.
Wajahnya tampak begitu biram, bahkan lebih biram dibandingkan saat Litta mencium kening Arley. Begitu juga dengan tubuhnya yang masih bergetar hebat, akibat dirinya baru menyadari jika ia sangat ingin memeluk Arley, dan menjadikannya sebagai pendamping masa hidupnya, sapai mati kelak.
Dan sekali lagi ... untuk pertama kalinya dalam seumur hidup Litta, ia merasa begitu dongkol dengan takdir yang harus membuat dirinya berjauhan dengan sang Arley.
"Mengapa enkau tega memisahkan kami! Wahai takdir!" teriak Litta sekencang-kencangnya, pada hamparan bukit yang tampak rimbun. Suaranya pun menggema kencang ke seluruh penjuru wilayah bukit.
Dengan mendengungnya suara Litta pada horizon lepas, kaki Litta pun melemas, dan ia terjatuh di atas kedua lutunya. Sambil menatap mentari yang redup, Litta memeluk tubuhnya dengan begitu erat, dan juga tampak sangat gelisah.
Semenjak saat itu, Litta selalu memikirkan Arley walaupun saat dirinya sedang makan, mandi, atau pun sebelum tidur. Bahkan, semenjak hari ini Litta selalu memimpikan Arley di dalam tidurnya.
Benar-benar kondisi yang sama, seperti orang yang tengah mabuk keras. Bedanya, saat ini Litta dimabukkan oleh cintanya sendiri.
Bisakah Litta membendung perasaan pada hatinya itu? dan apakah yang Arley akan perbuat, jika ia tahu apa yang Litta rasakan saat ini? Lalu, bagaimana dengan Varra?