The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 72 : Eadwig of Simbad the Lion Heart.



Menderu … suara para penonton di pinggir arena mengaung kencang sampai-sampai membuat gendang telingaku bergetar.


Namun hal ini belum seberapa. suara pekikan ini semakin bertambah oktafnya ketika seseorang tiba-tiba muncul di udara sambil berdiri di kaca yang di ciptakan dengan sihir.


“Selamat siang para hadirin sekalian!! Selamat datang kembali pada Festival tahunan yang paling kita tunggu setiap harinya! Bersama saya Michale Evancho! Yang akan mendampingi hadirin sekalian agar acara ini lebih meriah dan lebih spektakuler!!”


Demikian suara pekikan menggelegar sampai tumpah ruah dengan sendirinya. Rasanya seperti ada granat yang tiba-tiba meledak tepat di hadapanku.


Kuping ini berdenging dan aku merasakan mual dan ingin rasanya aku pingsan di tempat.


Namun sebelum aku sempat pingsan, Maximus sudah terlebih dahulu terpingsan di depanku bersama ketiga temannya.


“Heeeiii!!! Bangun kalian dasar bodoh!” teriakku sambil mengeplak kepala mereka berempat secara bergantian.


“Ha? Apakah acaranya sudah selesai?” Ucap Maximus seperti orang yang barusaja bangun dari tidurnya.


“Tidak secepat itu ferguso!!” Teriak ku dengan nada kesal sambil kembali mengeplak kepalanya.


Namun di luar dugaan, ketiga teman Maximus lebih mudah untuk di ingatkan dibandingkan Maximus sendiri. Mereka bangkit dari pingsannya dan berusaha untuk menetralkan diri.


Ergh … namun lihat lah Maximus … bukannya menjadi pemimpin yang baik, malah saat ini ia berjalan ke pinggir Arena sambil membuang isi perutnya.


Saat itu juga aku mengeplak jidat ku sambil membalikkan badan seperti aku baru saja melihat sesuatu hal yang seharusnya aku tidak melihat perbuatan tersebut.


Ya, Maximus bukan orang yang aku kenal, baiklah otakku, mari kita reset segala memori mengenai Maximus.


Tetapi belum sempat lagi aku meresetnya, tiba-tiba maximus muncul di belakangku sambil memegang pundakku dengan kencang.


“Heii ... aku merasa jika kau akan melakukan hal yang tidak seharusnya kau lakukan Arley~”


Dengan wajah menyeramkan Maximus kemudian berusaha menghentikan aku untuk mereset otak ini secara instan.


“Jangan hentikan aku Maximus!! Aku akan menghilangkan mu dari memori ku!!”


“AAaaa!! Sudah ku duga!! Jangan lakukan itu! Aku akan merasakan kesepian bodoh!!” Tampak Maximus akan menangis lagi. Tapi kali ini aku tidak akan teritpu dengannya.


“Lepaskan!! Orang yang berkata bodoh kepada orang lain adalah orang yang sebenarnya bodoh!!”


“Ahh!! Berarti kau mengakui dirmu sendiri adalah orang yang bodoh Arley!” Balas Maximus dengan ingus yang mengalir deras.


“Aaaa!! Aku tak paham apa yang kau katakana bodoh!!!” aku bersuaha melepaskan genggaman tangan Maximus.


“Aaa!! Kau mengatakan bodoh!! Berarti kau sendirilah yang bodoh!! Bwee!! Arley bodoh!!” tindakan Maximus semakin menjadi-jadi, semakin lama tindakannya akan seperti anak balita yang syaraf di otaknya ada yang tak sengaja terlepas.


Namun tiba-tiba perdebatan kami di hentikan dengan terdengar kembali suara Michale Evancho yang menggelegar.


“Wahai para calon penyihir dan kesatria yang gagah perkasa!! Berbahagia lah kalian!! Karena pada hari ini, pada festival kali ini!! ke-lima Raja akan secara langsung menyaksikan pertandingan dan jeri payah kalian sampai salah satu di antara kalian berhasil menjadi juara umum pada festival yang sangat megah nan gemilang ini!”


Jika aku perhatikan, pria bernama Michale ini adalah seorang penyihir.


Walaupun pakaiannya tidak melambangkan bahwa dirinya adalah seorang penyihir, tetapi aku tahu pasti bahwa dia adalah seorang penyihir tulen, karena ia mengenakan tongkat sihir untuk membesarkan volume suaranya.


Michale Evancho, Pria ini mengenakan pakaian layaknya pesulap kuno. yap, topi bundar, jas hitam dengan jubah hitam membentang di punggungnya, lalu celana dasar beserta sepatu pantofel, dan penutup wajah yang tertempel pada kedua matanya.


Yap, persis seperti pesulap kuno yang tampilannya sangat perlente.


“Tanpa berlama-lama lagi, mari kita sambut kelima Raja kita!! The World Government !!!”


Lalu suara terompet menggema kencang. seusai terompet berbunyi, berlanjut dengan suara gendang, seruling, dan beberapa instrument lainnya yang tak aku kenal, berdendang dengan sangat harmonisnya untuk memadu padu kehadiran sang pemimpin Alias ke-Lima Raja utama pada benua 『Horus』 yang hadir dengan penuh wibawanya.


Yang pertama kali hadir adalah Raja dari kerajaan kita sendiri. yang mulia Alexander Dombart Hubert ke-127, atau yang lebih di kenal sebagai (Alexander the Wisdom). Selain ia adalah Raja, ia juga seorang “Pope” yang pada Agama ini, ialah kepala dari Ke-Uskupan. Demikian ia juga merupakan Raja yang bijaksana.


Lalu yang kedua hadir adalah Raja dari kerajaan 『Simbad』, yang mulia Richard of Simbad The Lion Hearts, atau yang di kenal (Richard the Brave).


Yang ke-tiga adalah Raja dari kerajaan 『Atargatis』, yang mulia Davy Njyord Poseidon, atau yang di kenal sebagai (Davy The beauty of Mankind).


Raja ke-Empat yang masuk adalah Raja dari kerajaan 『Akhekh』. Yang mulia Sirius Latobius Sol, atau yang di kenal sebagai  (Sirius The Pride).


Serta Raja terakhir yang masuk adalah Raja dari kerajaan 『Regalist』, Yang mulia Nikola Chronos Cox, atau yang di kenal dengan (Nikola the knowledge).


Demikian pengetahuan ku mengenai kelima Raja yang saat ini telah duduk di kursi VVIP mereka. Lalu Michale kembali mengambil alih acara.


“Demikianlah kelima Raja yang sangat kita cintai ini telah duduk di kursi mereka! Nah! Saat ini, kita akan memulai seleksi tanpa memperlambat waktu, dan hmm …”


Sejenak Michale melihat ke arah peserta dan ia sepertinya menyadari suatu hal.


“Sepertinya kalian semua sudah mengetahui peraturan pertandingan yang seharusnya masih menjadi rahasia kami, tapi tidak apa-apa!! karena walaupun kalian tahu seperti apa metode seleksi yang akan di gunakan pada seleksi pertama ini!! itu tidak akan menjamin bahwa kalian bisa lulus ke babak selanjutnya!!”


Sambil berlari ke sana kemari di atas kaca yang ia ciptakan, Michale terus berbicara sambil memeriahkan festival ini.


“Demikan saya akan menjelaskan bagaimana pertandingan ini akan di gelar! Pertama-tama yang harus di ketahui adalah, jumlah peserta hari ini adalah jumlah peserta terbanyak setelah lima abad terakhir, hmmm aku rasa kalian semua sudah tahu apa sebabnya.”


Michale melompat-lompat di atas kaca tanpa rasa takut. Ia berlari ke sana dan ke sini seperti orang yang sedang berdansa.


“Yaa!! Karena pada festival tahun ini!! Kelima Raja kita telah menyiapkan hadiah speseial untuk juara umum dari pertandingan ini!! Tidak hanya satu! Tetapi akan ada dua orang yang akan menjadi juara umumnya!!”


Lalu seketika itu juga gemuruh di tribun penonton, juga gemuruh di tengah Arena, terdengar bagaikan gempa bumi terjadi untuk sesaat.


“Eh? Aku baru mendengar jika juara umumnya akan ada dua!?” terdengar suara yang tak aku ketahu dari mana asalnya.


“Bukankah hadiahnya hanya satu!? Lalu bagaimana cara membagi hadiahnya?!” Lagi, terdengar suara yang entah dari mana asalnya.


Seketika, suara Michale terdengar menggelegar membuat para Audience dan peserta hanya terfokus pada kalimat sang pengisi acara.


“Wahai para hadirin sekalian! Mungkin kalian sudah melihat berita di Surat kabar pada pagi hari ini! namun, kami masih menyimpan kejutan yang sangat amat menakjubkan untuk para hadirin sekalian bisa dengarkan!”


Suara menjadi sunyi, semua orang menunggu kalimat lanjutan dari sang pembawa acara.


“Ya … Kelima Raja kita tidak hanya membawa satu hadiah dari benua baru, tetapi mereka membawa dua hadiah yang sangat melegendaris untuk acara kali ini!!”


Lalu tiba-tiba dari kaca yang di injak oleh Michale, berubah menjadi layar yang menampilkan kedua hadiah yang sedang di bicarakan oleh Michale.


Yap, sebialah pedang besar dan seutas tongkat sihir yang terlihat sangat antik muncul di layar berukuran masive tersebut.


Seketika itu juga seluruh masyarakat beserta peserta berteriak menggila, dan bahkan lebih menggelegar dari yang sebelumnya. Mereka semua melompat-lompat seperti sedang pesta arak dan mabuk karenanya.


Sedangkan aku hanya berusaha berdiri tegak karena lantai yang aku pijak saat ini bergetar hebat akibat dentuman kaki para peserta yang kegirangan akan kabar yang membahagiakan ini.


“Ini gila!! Arleyy!! Ini sangat lah gilaa!! Aku harus memenangkan pertandingan ini!!” teriak Maximus kegirangan melihat hadiah yang terpampang besar di atas kami semua.


Tetapi aku sesunggunya tidak tertarik sama sekali dengan hadiah yang di tawarkan tersebut, aku hanya ingin bersekolah di sekolah sihir 『Barbaron』 dan mempelajari ilmu sihir di sana.


Masalah tongkat sihir atau pedang … meh~, aku bisa membuatnya atau membelinya di kemudian hari.


“Tenang hadirin sekalian!! Tenang~ karena sebentar lagi pertandingan akan dimulai. baik, beginilah peraturannya. Dari 2000 peserta yang mendaftar hari ini, kami menyiapkan 10 Grup, yang dari setiap grup nya akan saling bersaing serta menghasilkan kandidat terbaik untuk sesi selanjutnya.”


Suara kembali hening, semua orang kembali mendengarkan ucapan Michale dengan teliti.


“Contohnya adalah Grup yang pertama ini! didalam satu grup, terdapat 200 peserta, demikian kami akan memangkas secara ekstrim! Dalam satu grup ini yang akan selamat hanya 30 peserta! mereka lah kandidat terbaik yang akan lanjut ke tahap selanjutnya! Itu berarti, seteiap orang wajib menumbangkan 4 orang!! Yang berarti, orang itu harus pingsan! Atau kakinya menyentuh tanah di bagian luar Arena!”


Kembali, gemuruh suara pecah dan menggema tak karuan, namun kami para peserta sudah tahu akan peraturan itu, makanya kami membuat tim agar kami bisa saling melindungi untuk kedepannya.


“Apakah kalian para peserta sudah siap!? Siap tak siap kalian harus siap!! Kompetisi akan di mulai dalam waktu, 3, 2, 1! Lets The Battle Royal! Begin!!”


Namun keriuhan terjadi di sisi kami para peserta.


Saat itu juga aku dan tim Green Lotus, berlari ke sudut ruangan untuk menghindar dari segala pertarungan yang tengah terjadi selepas pertandingan di mulai.


“Hey kalian semua! Ikuti Plan A ya!” Cakap Maximus untuk mengingatkan kami apa yang harus kami lakukan.


“Siap Leader!” teriak Moria, Kripa, dan Karel serentak.


“Apa kau yakin rencana ini akan berjalan lancar Maximus?” Dengan ragu aku berlari dengan mereka ber-empat ke lokasi yang kami tuju.


“Kalau gagal kita langsung beralih ke rencana B! makanya kita bikin banyak rencana bukan!?” Terang Maximus sambil berlari di depan kami.


Demikian kami melancarkan rencana A seperti yang telah di jelaskan Maximus di ruang tunggu.


.


.


.


Kegaduhan dan Kekacauan … itu lah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan situasi kami saat ini.


Kami tidak di perbolehkan membunuh orang lain ... Namun kami di perbolehkan untuk mendorong, melempar dan menumbangkan lawan untuk memenangkan pertandingan ini.


Demikian senjata yang boleh di gunakan adalah senjata yang tumpul seperti pedang tumpul, tombak tumpul, dan senjata tumpul lainnya. Ekhem jangan berfikiran ngeres ya!


Beberapa kali tim kami di serang, namun tampaknya refleks mereka tidak lah buruk.


Lalu bagaimana dengan ku? Meh … kalian meremehkan ku. Tentu saja aku menghindar degan sangat lincah.


Yang menjadi masalah adalah, apakah rencana ini akan berjalan dengan mulus? Karena rencana ini terdengar sangat receh.


Kalian ingin mendengarnya? Baiklah … akan aku jelaskan.


Pertama, kami akan berlari menuju sudut  yang paling dekat dengan sisi kami pada saat ini. lalu setelah kami sampai di sana, kami akan berlari menuju sudut lainnya sampai kami berhasil mengelilingi Arena ini sebanyak satu kali.


Setelah kami berhasil mengelilingi satu kali, maka kami akan mencari lawan yang mudah untuk di lawan. Mengapa baru melawannya setelah mengelilingi arena sebanyak satu kali? Karena pada saat inilah kondisi Arena akan terasa lebih luas dan kami akan lebih mudah bergerak di dalam Arena.


Receh bukan? Makanya aku sedikit khawatir untuk mengikuti rencana ini … entah apa yang di pikirkan Maximus … semoga rencananya berhasil!


***


Beberapa saat kemudian kami berhasil sampai di tempat yang di tuju. Tak berlama-lama, kami langsung melancarkan rencana A tanpa perintah dari Maximus.


Kami langsung mengalihkan haluan kesebelah kanan sambil menghindari setiap serangan yang berpotensi menjatuhkan kami atau bahkan melontarkan kami keluar dari Arena.


Sejauh ini rencana A berjalan dengan baik.


“Hey Arley!! Kita akan menambah kecepatan sedikit lebih cepat! Jangan ketinggalan ya!” Ucap Maximus dengan lantang tanpa melihat ke belakang.


“Meh! Seharusnya kau katakana itu kepada Morlia, karena ia yang paling gemuk di antara kita!” jelas ku kepada Maximus karena ia telah meremehkan ku.


“Hohoho! Tampaknya kau meremehkan Morlia ya Arley!! Di bandingkan yang lain, sebenarnya Morlia lah yang paling unggul dalam permainan kejar-kejaran!” Jelas Maximus dengan nada mengejek ku.


“HA!? Kau bercanda kan!?”


Lalu dari samping kiriku, Morlia menatapku dengan pipinya yang gembung akibat kesal mendengar ucapanku tadi .


“A-aa ... hahaha maafkan aku Morlia~” tampaknya Morlia masih kesal akibat ucapan yang aku lontarkan tanpa pikir panjang tadi.


Lalu tiba-tiba asap keluar dari tubuh Morlia seperti ia sedang terbakar karena suatu hal.


“A-Apa!?!” sontak aku terkejut ketika tubuhnya menyusut dan ia langsung berlari ke depan kami semua dengan kecepatan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat ada orang yang bisa lari secepat itu dengan kedua kakinya. Benar-benar seperti kijang yang berlari menggunakan keempat kakinya, tetapi tentu saja Morlia hanya berlari menggunakan kedua kakinya saja.


“Woho!! Bagus sekali Morlia! kecepatanmu sepertinya tampak lebih cepat dari biasanya Morlia! Apakah kau kesal akibat ucapan Arley yang tadi? Ahaha!! ” Utas Maximus kepada Morlia yang saat ini memimpin didepan.


Tak butuh waktu yang lama, kamu sudah mencapai titik ke dua, dengan cepat kami mengubah haluan ke arah kanan lagi untuk berlari menuju titik ke tiga.


Morlia terus berlari dengan kencang sampai-sampai aku dapat melihat Angin terbelah akibat kecepatan larinya, kami yang berlari di belakangnya bahkan tidak merasakan ada tekanan angin yang menghadang kami dari depan, demikian kami bisa menyeimbangi laju lari Morlia sembil menghindari serangan yang masuk ke dalam gelombang angin ini.


Lagi-lagi Tak butuh waktu yang lama. Kami sampai di titik ketiga. Dengan cepat kami memanuver kan tubuh ke kanan dan berlari menuju ke titik ke empat.


Sanking cepatnya kami berlari, tak sengaja morlia menabrak seseorang dan ia berhasil menjatuhkan seseorang ke luar Arena. Saat itu juga Morlia berhasil mendapatkan satu poin hasil jerih payahnya ini. Itu berarti Morlia hanya butuh 3 orang lagi yang harus ia keluarkan atau di tumbang kan.


Lalu seketika itu juga kami sampai ke titik ke empat, dan kembali ke titik pertama tanpa waktu yang lama.


“Gahh!! Akhirnya sampai juga!” teriak Maximus sambil menghela nafasnya yang kelelahan.


“Okay rencana A sudah berhasil, sekarang kita ke rencana selanjutnya!” Ucap Maximus dengan nada yang tersengal-sengal.


Saat itu kami berdiam di sudut Arena sambil memperhatikan situasi dan kondisi di tengah Arena.


Namun saat itu juga, aku merasakan ada sesuatu hal yang sangat amat mengerikan sedang terjadi dari kerumunan manusia yang berasal dari tengah arena.


Secara refleks, aku mendapatkan perasaan jika kami semua harus tiarap ke tanah saat ini juga.


“Kalian semua!! saat ini juga!! tiarap ke tanaaah!!” Aku berteriak sekuat tenaga untuk memperingati tim ku yang saat ini dalam ambang kepunahan.


Dari tengah Arena, tiba-tiba  terhempas puluhan orang bagaikan dedaunan yang tertiup angin, demikian mereka semua keluar dari Arena secara instan bagaikan ada suatu energy yang menghempas kencang tubuh mereka dengan perkasa.


Mereka terbang ke langit lalu terjatuh ke luar Arena bagaikan hujan manusia yang turun dari angkasa, demikian saat itu juga mereka semua tidak dapat melanjutkan pertandingan.


“A-apa yang terjadi Arley ….!?” Tanya Maximus yang masih bingung dengan situasi dan kondisi saat ini.


“Sialan! Mereka ada di grup ini!!”


Dengan keringat dingin aku berusaha untuk menghindari tatap mata dengan pria yang satu ini.


“M-Mereka?! Maksud mu!?”


Maximus tampaknya masih belum menyadari bahwa tim kita sedang ada dalam bahaya yang besar.


“Lihat ke tengah Arena Maximus … mereka bertiga, hanya bertiga! Namun kekuatan mereka seperti gajah yang sedang mengamuk! Cih! Inikah kekuatan kesatria kelas dunia!?”


Ya, di tengah dari Arena ini terdapat kelompok yang sangat amat ingin di hindari dari seluruh kelompok tim yang ada.


Benar, mereka adalah kelompok dari negara 『Simbad』, orang yang di anggap paling pemberarani dari generasi kami, serta orang yang di anggap akan menjadi penerus raja dari kerjaan 『Simbad』. Ketua dari Tim 『The Red Lion』. Beliau adalah ....


Eadwig of Simbad The Lion Heart !


Seketika itu juga, tanpa di sengaja mata pria berambut pirang itu berpapasan dengan mataku.


“Sial dia menatap ke arah kita!!” Ucap ku dengan nada gemetar


Saat itu juga tim kami merasakan sebuah kekalahan yang hakiki.


***