The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 126 : Kondisi Arley, Perry, dan Aurum.



    Pancaran cahaya matahari perlahan berubah warna menjadi jingga. Kali ini Arley tengah menyembuhkan telapak kakinya yang terlihat pecah-pecah akibat serangan Misa sebelumnya.


    Kondisi suasana menjadi hening semenjak lapangan pertandingan tiba-tiba saja dipenuhi oleh kabut yang menebal. Arley menyadari jika sihir Amylia-lah yang menyebabkan hal tersebut.


    Sembari Arley berusaha mengobati lukanya dengan mantra sihir ”Lux Sanator,” ketiga anggota Tim Medis berusaha menyembuhkan tubuh Perry yang masih dalam kondisi kaku akibat mantra sihir Misa yang membuat tubuh Perry menjadi batu es.


    “Tuan Muda Arley? apakah anda sudah merasa lebih baikan?” ucap salah seorang Tim Medis yang membersamai Arley dan Perry kala itu.


    Sekilas Arley menatap sang pria dengan tatapan bingung, lalu pada Akhirnya ia menanyakan hal yang selama ini sudah menjadi pertanyaan di benaknya.


    “Sebenarnya apa yang membuat kalian memanggilku Tuan Muda, atau Yang Mulia. Aku tidak merasa pernah menjadi bangsawan atau sejenisnya,” jelas Arley dengan wajah yang kebingungan.


    Saling bertatap mata-lah ketiga orang Tim Medis tersebut sembari mereka tertawa kecil.


    “Ahh~ itu hanya panggilan kami terhadap anda Tuan Muda Arley,” ucap salah seorang Tim Medis yang keberadaannya paling dekat dengan Arley, “karena engkau adalah orang yang paling dekat dengan Uskup Agung Steven Benedict—jadi kami menganggap anda sebagai cucu dari Yang Mulia Steven,” jelas sang pria dengan senyuman pada wajahnya.


    “Selain itu, kami juga merasa sangat respek dengan anda—sebab apa yang telah anda sumbangkan untuk dunia pengobatan,” dari sebelah Perry, Tim Medis yang tengah mengobati dirinya berbicara dengan nada yang cukup keras agar Arley dapat mendengarkan kalimatnya.


    “Aku? sumbangan?” ucap Arley dengan perasaan yang semakin bingung.


    Kembalilah mereka bertiga saling menatap satu dengan yang lainnya, dan mereka kembali tertawa lepas sebab kepolosan Arley yang telah mendarah daging.


    “Ah~ maafkan kami,” ucap pria yang berada di dekat Arley, “sumbangan yang kami maksud adalah Tesis anda, Tuan Muda Arley,” jelasnya dengan tenang.


    Arley terdiam sejenak, ia berusaha berpikir mundur, tentang apa yang pernah ia tuliskan dahulu, “Aku tak pernah membuat tesis yang sepenting itu …,” sejenak ia terdiam, lalu ia berbicara kembali, “s-sepertinya sih …,” cakap Arley dengan penuh keraguan.


    “Bagaimana dengan tesis yang anda kirimkan beberapa hari yang lalu, Yang Mulia Arley?” bertanyalah orang ketiga—yang berada diantara Arley dan Perry kala itu.


    Sontak Arley langsung mengingat tulisan terakhirnya, “Ah! tesis yang itu!” teriaknya dengan kejut setelah menyadari apa yang ketiga orang itu maksud-kan.


    “Berkat tesis anda, kami jadi mengerti betapa pentingnya Antibodi dan Sel Darah Putih pada tubuh manusia, ditambah lagi; anda memebrikan rangkaian proses dan cara mempercepat penyembuhan terhadap tubuh manusia yang mengalami sakit dalam atau luka luar.”


    Arley pun tersenyum selepas ia mendengarkan kalimat ketiga orang Tim Medis tersebut, “Ohh, jadi itu sebabnya ... kalian terlalu berlebihan,” ucap Arley sambil merendahkan diri.


    Sejenak, orang yang berada di dekat Arley langsung tersanjung atas ucapan Arley, ia tidak menyangka jika Arley adalah orang yang sangat dermawan, “Ini adalah penemuan terbesar dalam sejarah ilmu penyembuhan, Tuan Muda Arley! anda adalah pahlawan kami!” pujinya sampai se tinggi langit.


    Namun Arley tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya agak memerah sedikit sembari ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


    Lantas, dari kejauhan terdengar suara seseorang yang berteriak ke arah mereka berlima.


    “Oooooii! tolong aku!” pekik Michale kepada Arley dan Tim Medis.


    Salah seorang Tim Medis yang tidak berlaku banyak pun langsung bergerak cepat untuk membantu Michale yang tengah membopong Aurum.


    “Aurum!?” Arley terkejut ketika melihat tubuh Aurum terkulai lemas di punggung Michale.


    Di bawalah mereka berdua ketempat dimana Arley dan Perry tengah diobati.


    “Apakah dia baik-baik saja?” ucap Perry dari arah belakang Arley.


    Tim Medis pun langsung mengecek kondisi Aurum yang saat ini sedang tidak sadarkan diri.


    Setelah beberapakali mereka megecek detak jantungnya dengan Stetoskop—terhela-lah nafas orang yang tengah mengecek Aurum kala itu.


    “Dia baik-baik saja, hanya kelelahan dan sedikit terkejut dengan apa yang ia hadapi barusan.”


    Sontak Michale menjadi panik selepas ia mengetahui kondisi Aurum, “Arley! Amylia dalam bahaya! ia mencoba untuk melawan monster itu seorang diri!” Michale langsung tersungkur ke lantai dan ia mencengkeram kencang kedua punggung Arley.


    “APA!?” sontak Arley ikut menjadi panik, matanya mendelik dan keringatnya kembali berkucur deras.


    Bangkitlah Arley dari duduknya. Pengobatannya belum sembuh sempurna, jalannya juga masih tertatih-tatih.


    Ia berniat untuk membantu Amylia yang tengah kesusahan di dalam lapangan pertarungan dalam kondisinya yang masih belum stabil begitu.


    “Tuan Muda Arley!” tiba-tiba ketiga orang yang berprofesi sebagai Tim Medis itu, langsung menghalangi langkah Arley, “kami mohon untuk anda tidak bergegas ke sana! kondisi anda saat ini tidaklah mampu berlaga dalam sebuah pertarungan!” orang yang tampak paling tua dibandingkan ketiga Tim Medis tersebut memperingakkan Arley tentang kondisinya.


    Namun Arley tidak menggubris mereka bertiga, “Minggir …,” Arley kemudian mendorong salah seorang dari mereka—agar ia bisa berjalan menuju Arena Pertarungan.


    “Arley!” teriak Perry dari arah belakang, seketika itu juga Arley menoleh ke arah Perry, “aku mohon … tolong selamatkan Tuan Putri Amylia …,” pinta Perry dengan suara bergetar. Seperti orang yang saat itu juga—bisa saja melepaskan rasa tangisnya.


    Sejenak Arley terdiam, lalu ia membalikkan badannya untuk berbicara lugas terhadap Perry, “Tentu saja! aku pasti akan menyelamatkan Tuan Putri-mu yag resek itu!” dengan mengeramkan tangannya, Arley menunjukkan genggaman tangannya kepada Perry.


    Lantas Arley langsung berlari menuju ke dalam kabut yang tebal nan dingin tersebut.


***


    Berlari kencang. Segalanya menjadi kabur, pandangan Arley hanya tampak 1 meter ke depannya.


    Saat ini Arley hanya mampu mendengarkan suara langkah sepatunya saja yang menghentak lantai Arena degan tepikan menggema.


    “Dimana posisi mereka sekarang …?” Arley berbicara untuk membuat kesadarannya tetap dalam dirinya. Saat ini ia merasakan bahwa dirinya seperti tengah tertangkap di dalam Ilusi yang Amylia ciptakan.


    Kemudian, dari arah sebelah kirinya—Arley mendengar suara ledakan juga teriakan yang menderu cukup kencang.


    “Apakah dari sana?” ucap Arley sembari ia berlari menuju tempat kejadian perkara.


    Beberapa menit kemudian, Arley menemukan Kastil yang Amylia ciptakan. Sejenak, Arley sangat terkejut ketika melihat sebuah kastil bisa terbangun tepat di tengah-tengah Arena Pertandingan ini.


    “APA ITU!?” sontak, Arley melihat sebuah tubuh terlempar dari atas kastil, dan tiba-tiba—tubuh orang yang terlempar tadi, terjatuh tepat di belakang Arley.


    “AMY!?” teriak Arley setelah mengetahui jika tubuh Amylia-lah yang terhempas dari atas Kastil berukuran medium ini.


    Bergegas Arley berlari menuju Amylia, lalu ia segera mengangkat kepala Amylia dan menaruhnya di legan kanan, untuk menghentikan pergerakan darah menuju otak.


    “Amy! kau baik-baik saja!? -EugH! … mana mungkin ia baik-baik saja, apa yang tengah aku pikirkan …,” Arley berbicara dengan penuh kebingungan.


    Seketika itu juga, Amylia bergerak setelah ia terbatuk sambil mengeluarkan darah dari tenggorokannya. Tubuhnya telah penuh dengan darah, juga memar di beberapa bagian, yang tampak terlihat begitu fatal.


    Lompatlah sebuah kebatan bayangan dari dalam kastil tersebut. Tampak tubuh sang Monster berdiri tegap dengan beberapa luka—serta tampak ada beberapa bagian pada tubuhnya yang telah berubah menjadi batu es.


    Berdecak bibir Arley karena kekeasalan yang sudah memuncak, “MISA! HEY MISA! SADARLAH KAU DARI TUBUH ITU!”


    Pekik Arley untuk menyadarkan Misa yang tubuhnya tengah dirasuki Monster berparas putih tersebut.


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuh support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!