
Pada saat itu … Arley baru saja keluar dari kereta kayu yang sebelumnya sempat di pakai Alan dan rombongannya untuk menculik Melliana.
Cipi masih termenung … menatap kosong menuju arah luar dari kereta kayu tersebut. Kondisi malam, memang membuatnya sedikit lelah, tetapi tubuhnya kala itu, tidaklah merasakan kantuk.
Dari atas pangkuannya, tiba-tiba Alan menegur Cipi dan membuka pembicaraan.
“Cipi …,” ujar Alan, yang saat itu langsung mengejutkan Cipi.
“K-Kak Alan?!” saut Cipi, yang kemudian lagsung melihat menuju ke wajah Alan.
Bangkitlah Alan dari tidurnya, lalu … ia duduk di samping Cipi, sambil memandang kosong lantai kayu yang berada di bawah kakinya.
Cipi pun tak bisa berkata apa-apa … ia takut, jika Alan mendengarkan percakapanya dengan Arley.
“K-Kakak baru bangun?” tanya Cipi.
Namun, Alan tak menjawab ucapan Cipi. Dirinya hanya terdiam sambil menghela napas panjang dengan perasaan campur aduk. Dan tiba-tiba, Alan menaruh telapak tangan kirinya di atas kepala Cipi, serta mengelus rambut Cipi dengan penuh perasaan.
“Aku mendengarnya …,” jawab Alan yang masih tak tahu harus berbuat apa.
“S-Sejak kapan …?”
“Semenjak kau berkata, bahwa, kau akan memberikan tubuhmu kepada anak berambut merah itu.”
“K-Kakak sudah sadar dari tadi?!” Lantas, Cipi menunjukkan ekspresi terkejutnya, dan ia tak menyadari jika Alan sudah sadar sedari tadi.
Keheningan kembali terjadi, mereka berdua tak tahu harus berkata apa. Alan sendiri, dirinya pun mengharapkan bantuan dari Arley, selepas ia bertarung melawannya, tetapi ia tak ingin Cipi menjadi bayaran dari ini semua.
“B-Bagaimana menurutmu …,” gumam Cipi, yang menanyakan tanggapan Alan, mengenai dirinya yang akan menjadi milik Arley, jika sang remaja berambut merah itu berhasil memusnahkan Verko dari muka bumi ini.
Menjawab pertanyaan Cipi, Alan pun menggelengkan kepalanya. Ia tampak sedikit marah, juga jengkel atas apa yang Cipi ucapkan saat itu.
“Aku tentu saja tidak setuju … dan jika Loise mendengar hal ini, aku rasa ia akan sangat murka. Orang tua mana yang mau anaknya dijadikan budak oleh orang lain.”
Setelah itu, Alan langsung berdiri dari duduknya, dan ia pergi keluar dari kereta tersebut untuk mencari udara segar.
Pada malam hari itu … Cipi tampak semakin sedih, sebab, dirinya sendiri pun tak mau melakukan hal ini. tapi mau bagaimana lagi, hanya inilah yang dirinya miliki, dan ia sangat berharap besar dengan kemampuan Arley untuk kedepannya.
.
.
.
***
.
.
.
Kembali ke kediaman Polka ….
Saat itu, Arley baru saja selesai menjelaskan segala kejadian yang menimpa dirinya juga Melliana. Ia juga sudah selesai menceritakan masa lalu Cipi beserta Alan, kepada paman Radits dan Varra.
Dirinya menjelaskan kepada sang paman, jika ia sangat ingin meruntuhkan kekuasaan Verko, dan merebut kembali seluruh kedamaian di kota [Rapysta].
Mereka bertiga tampak duduk bersila di ruangan tengah tersebut, dan saat Arley usai menceritakan kisahnya … tampak jelas, Varra dan paman Radits menampakkan ekspresi amarah mereka pada hadapan Arley.
“Tak bisa dimaafkan … betapa kotornya orang yang satu itu. Sampai mati pun, aku tidak akan memaafkan orang yang seperti dia …,” gumam Varra, yang merasa sangat kesal atas kejahatan yag Verko lakukan.
Di sisi lain, sang paman menggerutukan giginya untuk menahan Amarahnya.
“Arley … jika yang kau sampaikan itu benar ….” Senejak sang paman terdiam. “Tidak … aku rasa semua yang kau ceritakan itu adalah kebenaran. Maka dari itu, aku ingin merubah rencana kita dalam mengeksekusi pria yang satu ini,” ujar sang paman, kepada Arley.
“Rencana?” Varra bertanya.
Lantas, Arley dan sang paman pun terkejut, sebab mereka tak sempat menceritakan rencana mereka kepada Varra. Dan di saat inilah, mereka baru teringat jika rencana mereka sangatlah sensitif jika di dengarkan oleh wanita.
“A-Aa! Ya, tidak, emmm!” Kala itu pun, sang paman tak bisa berbicara banyak, sebab ia tak ingin Varra mengetahui rencana utama mereka.
“Paman!” Tetapi, Arley berpikiran lain. “Aku rasa, tidak ada salahnya jika Varra mengetahui rencana kita ….”
Menyikapi hal ini, Arley dan sang paman pun menganggukkan kepala mereka, memberikan tanda, bahwa mereka berdua setuju jika Varra mengetahui rencana mereka.
Ketika sang paman usai menceritakan runtutan rencana mereka, wajah Varra pun berubah dan ia tampak jijik dengan apa yang Arley dan sang paman rencanakan.
“Euh … kalian memang yang terburuk, rencana menjijikkan apa itu. Aku tidak setuju dengan rencana ini!” ungkap Varra, dengan ekspresi menahan jijiknya.
“Sudah aku bilang, kan, jika renacana ini tidak cocok didengarkan oleh wanita. Itu salahmu sendiri yang memaksa kami.” Lantas, sang paman pun tidak ingin kalah debat dengan Varra.
“Ahh … jika Emaly mendengarkan ucapanmu, aku rasa ia akan merasa menyesal untuk menjadi anakmu, paman,” cetus Varra, yang kemudian menggeserkan posisi duduknya, menjauh dari arah ARley dan sang paman.
“E-eee?! B-Benarkah demikian …?!” Mendengar ucapan Varra, sang paman pun merasa sedikit shock, lalu, ia memilih duduk di pojokan ruangan, sembari merenenungkan kesalahannya kala itu.
Namun, Hal itu tak berlangsung lama. Setelah ia usai merenungkan kesalahannya, sang paman lalu kembali duduk di dekat Arley, untuk merevisi rencana mereka.
“Arley … aku rasa, jika kita hanya mendapatkan berkas perjanjian itu saja, desa ini, dan keluarga Polka tidak akan terbebas dari permasalahan …,” jelas sang paman dengan serius. Bahkan, Varra mendengarkan percakapan sang paman dengan Arley, dengan penuh perhatian tinggi.
“Aku setuju. Tapi aku tak memiliki pilihan lain, selain melenyapkannya dari dunia ini, paman.” Arley pun menampakkan kekesalannya di hadapan sang paman.
“Hal itu tidak bisa dibantah. Aku juga merasakan hal yang sama. Tetapi … ingat Arley, orang yang seperti ini, tidaklah mudah untuk di temui, maka dari itu … mau tidak mau, kita harus punya suatu hal yang berharga untuk bertemu dengan dirinya.”
Untuk sejenak, Arley agak sedikit bingung dengan ucapan sang paman.
“Maksud paman, Obat kuat ini akan kita jadikan alat agar kita bisa bertemu dengannya?” tanya ARley denga sungguh-sungguh.
Mengangguklah sang paman, yang memberi tanda, bahwa apa yang ARley ucapkan adalah sebuah kebenaran.
“Kita memiliki dua rencana … Yang pertama, adalah bertemu dengannya dengan cara diplomatik, dan yang kedua, adalah menghancurkan kota [Rapysta] secara keseluruhan.” Kala itu, sang paman menunjukkan jari telunjuknya dan jari tengahnya, seperti memberikan tanda bahwa kedua jarinya itu adalah tanda dua cara yang ia jelaskan barusan.
“Me-menghancurkan kota [Rapysta]?! Kenapa harus menghancurkannya, paman?!” Varra pun cukup terkejut ketika ia mendengarkan renaca yang satunya.
Menolehlah wajah sang paman, dan menatap Varra dengan serius.
“Aku dan Arley, kemarin sempat mampir ke kota itu untuk membeli sesuatu … dan di saat itulah aku menyadari suatu hal, bahwasanya, seluruh kota itu sudah di kuasai oleh Verko. Jika kita memilih bertempur melawannya, itu berarti, kita harus menghancurkan seluruh kota.”
Jelas sang paman, sambil menajamkan kedua alis matanya.
Kondisi menjadi sunyi senyap, matahari pun perlahan naik. “Arley … kau setuju dengan rencana yang pertama atau yang kedua?” tanya sang paman.
“Aku setuju dengan rencana yang pertama, Kita hancurkan Vero dari dalam kasinonya.” Arley pun juga memberikan respon seriusnya.
Dan di saat matahari sudah terbit pada ujung horizon. Saat itulah rencana mereka di mulai.
“Arley … Laksanakan!” teriak sang paman, untuk memulai semua rencana mereka.
***
Pagi telah menjemput, embun telah hilang, dan jalanan rumput tampak basah nan segar.
Melliana sudah sadar semenjak satu jam yang lalu, demikian, saat ini Arley beserta Varra ingin pergi mencari bahan-bahan yang mereka ingin kumpulkan untuk membuat ramuan obat kuat yang mereka bertiga rencanakan.
“Varra, kau jadi ikut?” tanya Arley, yang sudah berada di depan ruama.
“Jadi-jadi! Tunggu sebenar!” Jawanya dengan sedikit berteriak.
Dan ketika Varra keluar dari dalam rumah, saat itu, dirinya tampak begitu cantik mempesona. Bahkan, Wajah Arley langsung membara, layaknya terbakar oleh api asmara. Tapi, tentu saja ia tak mengerti perasaan cintanya sendiri.
Di lain sisi, Arley tak sengaja melihat Melliana yang juga, telah mengenakan gaun cantik, yang biasanya digunakan saat musim panas.
“Kak Mell, akan ikut juga?” tanya Arley, sambil tersenyum sedikit.
Akan tetapi, raut wajah Melliana tiba-tiba berubah merah … dan saat itu, Varra menyadari akan suatu hal yang begitu penting untuk masa depannya.
“H-He …?” gumam Varra, yang menyadari, jika Melliana saat itu telah jatuh hati kepada Arley.
“Kak Mell?” ujar Arley dengan polosnya.
Varra pun tampak kesal, ia menggembungkan pipinya dan ia bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang telah terjadi dengan mereka berdua, pada malam kemarin, gumamnya dengan intens di dalam hati.
Arley yang tak tahu apa-apa mengenai hal ini, dengan kepolosannya langsung saja berjalan menuju ladang bunga, yang akan mereka hampiri sebentar lagi.
Ladang bunga yang begitu rimbun, terpapar pada bagian samping sungai yang luas pada sisi lain dari desa [Uaccam].
Bagaimanakan kisah mereka bertiga selanjutnya?!