
Penuh dan gemuruh, namun segalanya dibalut dengan keharmonisan yang tampak begitu kental.
Ya, pada sore hari ini, sangat banyak masyarakat yang tengah berlalu-lalang di sekitaran area pintu masuk stadion『El-Colloseum』. Dan tampaknya intensitas keramaian di publik umum ini tidak akan surut, sampai pertandingan pada hari ini menemui akhirnya.
Dengan begitu santainya kemudian aku berjalan di tengah-tengah keramaian masyarakat. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk mencari keberadaan orang yang bernama Paroki. Seorang pria yang mengenakan jubah hitam legam, serta tudung yang menutupi wajahnya.
Aku tidak tahu entah ada dimana keberadaan Paroki sekarang ini. Namun, sekilas saat aku tengah mengejar Paroki keluar dari dalam ruang tunggu peserta, aku sempat melihat ia tengah berjalan masuk menuju kerumunan masyarakat, yang pada saat itu tengah memenuhi seluruh alun-alun stadion pada sore hari ini.
Sungguh ramai dan meriah, aku bahkan mengagumi kemeriahan festival tahunan ini dengan perasaan yang cukup berdebar-debar.
Jika aku tidak menjadi peserta pada seleksi tahun ini, pasti aku akan segera pergi bertamasya kuliner di sekitaran kios-kios makanan yang berada di pinggir arena pada saat ini.
Demikian seluruh makanan yang berserakan di akun-akun stadion saat ini sangatlah menggugah seleraku. Namun aku harus tetap fokus mencari sang pria berubah hitam pekat.
“Hmmm, kemana perginya orang itu?” tanyaku pada diriku sendiri dengan suara yang cukup kecil sembari melirik ke kiri dan ke kanan, untuk mencari keberadaan Paroki saat ini. Tetapi tetap saja aku masih belum menemukannya.
Tak kenal menyerah, aku terus berjalan mengelilingi alun-alun stadion sembari memperhatikan setiap pakaian yang dikenakan oleh masyarakat, niatnya untuk mencari ciri-ciri busana yang dikenakan oleh Paroki.
Namun usahaku tak kunjung menampakkan hasil apapun. Sampai aku telah mengelililingi alun-alun stadion ini sebanyak satu kali, aku masih belum juga menemukan batang hidung Paroki yang keberadaannya pada saat ini entah ada dimana.
“Huuh~ sangat melelahkan. Kemana perginya orang itu? sudah hampir setengah jam aku berkeliling namun aku masih belum juga menemukannya,” gumamku untuk mengurangi rasa penat yang melanda kepala ini.
Demikian karena aku masih belum menemukan Paroki, aku memilih untuk masuk ke dalam ruang tunggu peserta seleksi yang posisinya berada sangat dekat dengan posisiku saat ini.
Lokasi pintu masuk gerbang Selatan hanya berjarak 15 meter dari tempat aku berdiri saat ini. Namun ketika aku ingin berjalan menuju tempat yang aku tuju, tiba-tiba aku mendengar sahutan seorang laki-laki yang tampaknya aku mengenali suara tersebut.
“Arley! -hey Arley! tunggu sejenak!” suara itu terdengar dari arah belakangku. Intonasinya cukup lantang dan menggema keras.
Lalu aku menoleh ke arah sumber suara, dan tepat sasaran! aku sangat mengenali siapa orang yang barusan saja memanggilku. “Ah?! Paman pemilik toko senjata?!” sahutku kepada beliau.
Demikian ia berlari menuju arahku dalam kondisi terengah-engah. Mengetahui keadaan beliau seperti itu, lalu aku juga ikut berlari menghampirinya dengan niatan untuk menanyakan kepada beliau, apa yang sebenarnya membuat sang Paman sampai bisa berada dalam kondisi "mandi keringat" seperti ini?.
“Ada apa Paman?! apakah ada suatu hal yang bisa aku bantu!?” tanyaku kepada sang Paman yang sampai saat ini aku masih belum mengetahui siapa nama beliau.
“Haah-haah!~ aduh, aku dari tadi berteriak memanggil namamu dan mengejarmu sampai satu kali putaran stadion ini, namun kau tetap saja tidak mendengar panggilanku. Hauh~ untung saja kali ini kau mendengar teriakanku. Jika tidak mungkin kita tidak akan bertemu sampai esok hari,” jelas sang paman, sembari mengucurkan keringat yang keluar dari dalam pori-pori wajah beliau.
“-Ah!? b-benarkah demikian Paman?! maafkan aku Paman! aku benar-benar tidak mendengar panggilan Paman,” terangku kepada sang Paman dengan perasaan yang sangat bersalah. “J-jadi bagaimana Paman? ada gerangan apa Paman mencari diriku ini?” tentu saja kehadiran Paman penjual senjata adalah suatu kondisi yang benar-benar di luar ekspetasiku saat ini.
“Oh ya! sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat kepadamu Arley, karena kau telah berhasil lanjut kebabak selanjutnya!” sang Paman lalu menepuk punggung kiriku dengan sangat bangga.
Namun secara tiba-tiba, suasana hatiku berubah menjadi mencekam. “Dengarkan aku Arley, aku ingin menyampaikan satu hal yang sangat penting kepadamu,” hal itu dibarengi dengan berubahnya raut wajah sang Paman penjual senjata, dengan sangat tiba-tiba saja, ekspresi beliau berubah menjadi sangat serius.
Wajah sang Paman terlihat begitu tegang, kerut wajahnya menonjol dan saat itu juga aku merasa sedikit canggung untuk menatap langsung wajah sang Paman.
Namun suatu tindakan yang tak dapat aku hindari tiba-tiba terjadi. Ketika itu, wajah sang Paman langsung mendekat tepat ke arah wajahku, dan ia mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga kiriku ini.
“-Arley, dengarkan dengan saksama kalimatku yang satu ini. Ingat ... jangan bereaksi mengenai apapun yang akan aku katakan kepadamu, dan jangan mengeluarkan suara sekecil apapun setelah kau mendengar informasi yang satu ini. Wahai Arley, berjanjilah kepadaku sekarang juga, ” bisik sang Paman dengan sangat pelan dan berhati-hati.
“Deg!”
"Gulp! ~"
Secara tiba-tiba jantung ini berdebar dengan sangat kencang. Juga aku langsung menelan ludah yang terkumpul sangat sedikit pada rongga mulutku saat ini.
Entah apa maksud dan tujuan sang Paman berbisik seperti ini kepadaku. Namun untuk saat ini aku memiliki sebuah firasat, bahwa apa yang akan dikatakan oleh Paman ini, bukanlah suatu perkara normal. Demikian aku langsung mengikuti perintah sang paman.
“B-baiklah Paman, aku berjanji kepadamu,” ujarku kepada sang paman dengan nada yang ikut bergetar.
Lalu, sejenak aku juga mendengar suara tertelannya ludah sang Paman di kerongkongannya sendiri. Dengan sangat jelas aku dapat mendengar suara itu tepat di telinga sebelah kiriku ini. Selepas itu, ia melanjutkan pembicaraannya.
“Bagus~ namun aku tidak bisa membicarakannya di sini, dan kita masih memiliki sisa waktu 10 menit sebelum pertandinganmu selanjutnya segera dimulai. Arley, untuk sekarang ayo ikuti aku,” ujar sang paman Sambil melirik dengan cukup intens ke sekeliling wilayah yang kami jejaki saat ini.
kemudian aku menganggukkan kepalaku sebanyak tiga kali demi memastikan bahwa aku setuju dengan pendapat sang Paman.
Tanpa memperpanjang waktu, kemudian aku pun pergi bersama sang Paman menuju ke arah istana kerajaan yang posisinya tidak terjalu jauh dari stadion『El-Colloseum』, mungkin jaraknya sekitar 400 meter dari alun-alun stadion, menuju ke depan pintu gerbang istana negara.
Tak mempedulikan apapun, kami terus berjalan dengan tempo cukup terburu-buru. Semua ini hanya untuk menghemat waktu yang terus berputar tak terhentikan.
Semakin lama kami berjalan, maka semakin sedikit orang yang kami jumpai. Entah akan dibawa kemana aku saat ini, namun tepat di mana aku berdiri sekarang, aku bisa melihat istana Negara berdiri dengan megahnya.
.
.
.
***
.
.
.
Kami berhenti di sebuah hutan kota yang menyambungkan jalan antara istana negara dengan arena stadion 『El-Colloseum』.
Sejenak aku mengira bahwa tempat ini adalah tempat yang memang tidak berpenghuni. Jika aku tidak melihat ada kursi-kursi taman yang tersusun dengan rapih di lokasi ini, mungkin aku mengira bahwa taman kota ini adalah hutan belantara.
Lantas sang Paman menyandarkannya tubuhnya pada sebuah pohon apel yang tampak tumbuh dengan rindang. Wajahnya sekilas masih terlihat mengernyit kaku, keriput di wajahnya terlihat belum menghilang sama sekali.
Keadaan terasa hening untuk sesaat, namun tiba-tiba sang Paman mulai berbicara dengan nada yang cukup pelan, tetapi aku bisa mendengarkannya dengan sangat jelas.
“Dengarkan, aku hanya akan menjelaskan hal ini satu kali saja ... jadi dengarkanlah semua informasi ini dengan saksama,” ucap sang Paman dengan wajahnya yang mulai berkeringat dingin lagi.
“Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri. Namaku adalah Albion, Albion Bon Aparte,” tiba-tiba sang paman menjulurkan tangannya. Tentu saja aku langsung menyambut salaman hangat sang Paman.
“Ah! s-salam kenal Paman Albion, ” jawabku dengan polos. Sebenarnya aku sendiri tidak mengetahui apa yang harus aku lakukan. Akibatnya aku bertindak dengan hanya mengandalkan apa yang pertama kali terlintas pada benakku.
Seusai kami berjabat tangan, lalu Paman Albion melanjutkan pembicaraannya yang tadi.
“Ada suatu informasi yang sangat ingin aku sampaikan kepadamu saat ini. Namun jika aku memberitahumu mengenai hal ini secara mendadak, aku yakin kau pasti tidak akan mempercayai sepatah kata pun yang keluar dari mulutku ini." terlihat jika sang paman mulai gelisah pada kondisinya sendiri.
Tampak ia tengah menggesek-gesekkan telapak sepatutnya, pada rumput yang sedang ia injak. Namun, sang Paman terlihat tetap berusaha untuk bisa berbicara dengan tenang.
"Dahulu, aku adalah Wakil Jendral dari pasukan tertinggi di negara ini, yaitu Pasukan Langit biru『Azure Sky』, " sejenak sang Paman tersenyum ketika menjelaskan siapa dirinya itu.
"Huh!? Wakil Jendral?!" tentu saja aku cukup terjekut dengan pernyataan yang disampaikan oleh sang paman. Aku tidak tahu apakah paman ini sedang membual atau memang menyampaikan suatu kebenaran.
Namun jika di lihat dari postur tubuhnya, aku tidak bisa menyangkal semua hal yang disampaikan oleh Paman Albion kepadaku begitu saja.
“Ya! Aku berani bersumpah akan semua hal itu. Namun aku sudah pensiun sekitar 15 tahun yang lalu, dan saat ini aku hanya memiliki sebuah toko senjata, untuk melestarikan apa yang orang tuaku pernah ajarkan kepadaku dimasa lampau. Tampaknya, cukup sampai di sini aku memperkenalkan diriku kepadamu.” cetus sang paman yang tampaknya ia ingin mempercepat penyampaian informasinya.
Lalu, seusai Paman Albion memperkenalkan dirinya. Beliau kemudian berjalan mendekati diriku yang tengah terdiam dengan tatapan heran ini.
Sontak ia kembali mendekatkan bibirnya ke arah telinga sebelah kiriku, seperti kejadian yang sama persis posisinya dengan kondisi saat kami tengah berada di alun-alun stadion『El-Colloseum』.
Tetapi saat itu suara yang keluar sangatlah pelan, aku hampir tidak mendengar kalimat apa yang ia ucapkan padaku. ia pun mulai berbisik kepadaku dengan frekuensi yang cukup bergetar.
“Arley, aku datang kepadamu hanya untuk memberikan sebuah peringatan yang begitu darurat. Pada malam hari ini, segeralah keluar dari kota『eXandia!』” sejenak tak terdengar lagi lanjutan narasi dari perkataan sang paman.
“-H-he ...?! m-maksud paman ...!?” tentu saja aku bingung dengan apa yang ingin sang paman sampaikan.
Wajah sang paman tiba-tiba menghadap tepat kehadapan wajahku. Pada tangan kiri dan kanannya, ia tempelkan kedua telapak tangannya tersebut pada kedua sisi pipiku saat ini.
Membeku bagaikan es! tangan sang paman terasa begitu dingin seperti es batu yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin.
Namun pandangan sang paman cukup berbeda dengan kondisi tubuhnya saat ini. Wajahnya tampak begitu memelas, juga perawakannya saat ini, tampak begitu hangat nan lembut. Tepat di kedua kelopak matanya, tergenang air mata yang siap tertumpah saat itu juga.
Beberapa saat kemudian ia bergumam sendiri tak karuan. “Ahh~ wajahmu tampak begitu mirip dengan wajah Kapten Hexa ketika ia masih muda. Ya ampun, seandainya ia masih hidup, kalian pasti terlihat seperti orang yang kembar,” seketika itu juga tiba-tiba mengucur dengan sendirinya air mata sang paman, pada kedua pipi beliau.
“P-paman Albion ...? apakah Paman baik-baik saja!?” tanyaku dengan perasaan yang sedikit terkejut.
Sontak sang paman langsung menghapus lelehan air mata beliau dengan kerah bajunya. Ia tampak cukup terkejut ketika menyadari bahwa air matanya jatuh begitu saja dari kedua kelopak matanya.
Namun, beberapa saat kemudian Paman Albion kembali ke topik pembicaraan. “Wahai Arley, saat ini kau pasti telah menyadari jika kelima Raja dari 5 kerjaan di benua『Horus』. Semenjak pagi tadi, mereka berlima sudah tidak berada di kursi penonton, pada tribun VVIP mereka bukan? ” ujar Paman Albion sembari menanyakanku sebuah pertanyaan yang cukup membuatku bingung.
"Ya benar. Tetapi bukankah mereka berlima sedang berada di dalam istana untuk merundingkan suatu hal yang penting?" jawabku pada pertanyaan Paman Albion.
"Apakah itu yang di sampaikan Michale?" tiba-tiba ekspresi sang Paman berubah kembali menjadi menyeramkan.
"Y-ya, aku mendengarnya dari Michale saat ia mengumumkan peraturan pada pertandingan babak pertama," sebenarnya apa yang paman ini ingin sampaikan?
Suasana di tempat kami saat ini berubah menjadi begitu mencekam dan menghanyutkan. Hanya alunan suara angin menghilir santai yang dapat aku dengarkan.
Paman Albion berhenti berkata-kata, ia hanya memejamkan matanya seperti orang yang sedang merancang kata-kata untuk di lontarkan.
Lalu didalam kondisi yang amat begitu mencekam ini, Paman Albion kembali berbicara.
"Dengarkan aku Arley, sesungguhnya, Ibukota『Lebia』pada saat ini ...-" sang paman kembali terdiam sembari menatap lantai dengan alisnya yang mengkerut.
Sejenak, kedua tangan Paman Albion mengeram dengan sangat kencang. Tampak seperti ia sedang menyimpan suatu hal yang begitu rumit. Kemudian ia kembali berbicara.
"Pada saat ini ... negara『eXandia』, tengah di ambang kehancuran," sejenak Paman Albion menggelengkan kepalanya, lalu ia membetulkan statement nya yang terakhir. "Tidak, bahkan benua『Horus』. Esok malam, segala hal yang berada di atas tanah benua 『Horus』 akan hancur dan musnah bagaikan Kapas yang di terpa angin!" bisik tegas Paman Albion dengan tubuhnya yang bergetar hebat.
“Deg!”
Tubuhku langsung merinding serta menggigil, badan ini berubah menjadi kaku seusai mendengarkan kalimat terakhir yang disampaikan oleh Paman Albion. Sebenarnya apa yang telah terjadi?!
***