
Not Edited !
Berdiri tegap menghadap meja resepsionis. Arley dan Varra sangat memperhatikan, materi apa yang akan Lanel sampaikan kepada mereka selanjutnya. Sudah terjajar, empat buah kalung yang membentuk lambang kepala serigala padanya. Kepala serigala itu menghadap samping, dan terdapat ukiran sebuah kalimat, bertuliskan: [Dorstom].
“Baiklah, selanjutnya kita ke materi Emblem of Pride, atau sering kita sebut dengan Pride Emblem.” Kala itu, Lanel mengangkat salah satu emblem berwarna perunggu, untuk memberi tahu bentuk dan detail dari kalung tersebut. “Kalung ini, adalah sebuah perwujudan dari rasa bangga seorang Adventurer, yang mendaftar pada suatu Guild. Jika kalian mendaftarkan diri di Guild kota [Dorsom], maka kalian akan mendapatkan kalung berlambangkan serigala, dan bertuliskan lokasi dari mana kalian mendaftarkan diri.”
Kemudian Lanel menaruh kalungnya yang tadi, dan ia pun menjajarkan kalung itu di atas meja kembali. “Pride Emblem ini, memiliki empat warna. Seperti yang kalian ketahui, Setiap kali kalian naik ke peringkat yang lebih tinggi, maka kalian akan di beri emblem baru.”
Lalu, Lanel menunjuk satu persatu emblem tersebut. “Sama seperti kartu Guild tadi, jika kalian berada di kelas Newbie, maka kalian akan mendapatkan Emblem Perunggu, dan jika kalian berhasil memasuki Class D, maka secara otomatis kami akan mengganti emblem kalian menjadi perak. Begitu juga seterusnya.”
Diangkatnyalah Emblem berwarna emas dan transparan itu dari atas meja. Lanel pun memamerkan kedua kalung imitasi itu kepada Arley dan Varra. “Kalau yang emas, adalah untuk mereka yang berada di Class A dan S, sedangkan yang transparan ini, adalah milik kami para pekerja Guild.” Sesudah ia menjelaskan fungsi warna dari Emblem, lanjutlah Lanel menjelaskan kebermanfaatan khusus dari Emblem itu sendiri. “Nah, selain emblem ini menjadi identitas kita di luar sana, Fungsi lain dari kalung ini adalah untuk mencatat setiap aktifitas yang kita lakukan di luar sana. Mulai dari berburu, kemudian pengumpulan suatu benda, atau pun penyelesaian misi yang hanya membutuhkan kerja kantoran saja, segalanya akan tercatat secara langsung ke kalung ini.”
“Sepertinya akan sangat sulit untuk bermain curang.” Tiba-tiba Arley menanggapi apa yang Lanel jelaskan.
“Tentu saja! Kami akan langsung tahu, jika seorang Adventurer melakukan kecurangan, atau perbuatan kiriminal. Jika mereka melanggar hukum, maka, kartu Guidlnya akan kami tahan, sampai waktu yang kami tentukan!” Tegas Lanel menjelaskan konsekuensinya. “Oh, ya! jika kalian ingin membentuk Party, atau ingin menampah pertemanan. Kalian bisa saling menyentuhkan kalung ini ke kalung yang lainnya, nanti secara otomatis kalung ini akan mencatat bahwasanya kalian sudah menambah pertemanan, yang nantinya bisa kalian ajak menjadi sebuah Party.”
Setelah dirinya selesai menjelaskan fungsi dari Emblem of Pride, Lanel pun akhirnya mengumpulkan kembali, keempat Emblem tersebut, dan ia memasukkannya kedalam laci mejanya lagi.
“Ada yang mau di tanyakan?” tanya Lanel dengan sedikit senyuman.
Namun, Arley dan Varra tidak menjawab pertanyaan Lanel, malahan mereka secara bersamaan menggelengkan kepala dan kembali melangkah mundur untuk memberi tahu, jika mereka sudah paham dengan apa yang Lanel informasikan.
“Bagus! Nah, sekarang kita tinggal menyelesaikan pendaftaran, Nyonya Varra.” Saat itu, Lanel langsung mempersilahkan Varra untuk merekam jejak statusnya, pada [Appraisal Orb] yang sudah ia sediakan dari tadi.
Tanpa ragu-ragu, Varra pun menempelkan tangan kanannya di batu bulat itu, dan sama seperti Arley, tampak ada sedikit cahaya yang muncul dari bola kecil itu.
Tercatatlah data milik Varra, dan setelah ia mengangkat tangan kanannya, Lanel pun langsung mengecek status yang Varra miliki.
“Terima kasih, tunggu sebentarya, biar saya cek statusnya,” ucap Lanel, sambil ia mengabil batu status Varra.
---
Status
Nama : Hannya Varra.
HP : 300/300
MP : 2000/2000
Str : 1500
Vit : 500
Int : 2300
Luk : 1300
Skill : Fire Ball.
S.Skill : -.
Job : Beginner Adventurer.
---
Setelah melihat status yang di miliki Varra, Lanel pun memberikan eksresi gembiranya. “Woow! Ini lumayan bagus,” ujarnya dengan girang.
“Boleh aku lihat?” tanya paman Radits. Kali ini, Lanel tidak mempersoalkan status milik Varra, dirinya pun memberikan batu status milik Varra kepada paman Radits. Setelah si paman menggapai batu tersebut, dirinya langsung mengecek, status apa yang Varra miliki. “Hmm-hmm~ ini menarik, walaupun tidak segila Arley, tapi status ini sangat luar biasa, bagi orang normal,” ucapnya sembar ia mengembalikan batu itu kepada Lanel.
“Bolehkah aku melihatnya juga?” tanya Varra yang sedikit penasaran. Dan tetntu saja ia di perbolehkan. Lanel pun mengestafetkan bola tersebut kepada si remaja wanita. Tanpa berlama-lama, Varra langsung menelurusi apa kelebihan yang ia miliki. “Eh? [Mana] yang aku miliki, kenapa bisa sebesar ini?!” ujar Varra yang cukup terkejut.
Lalu, paman Radits menjawap pertanyaan Varra. “Ini menandakan, bahwa kamu cukup berbakat jika menjadi seorang penyihir.” Jelasnya dengan gembira.
Tentu saja Varra sangat berbahagia, cita-cita yang sudah dari dulu ingin ia gapai, saat ini memberikan gambaran nyata, jika yang ia impikan itu bukanlah hanya sebuah bunga tidur saja. Wajah Varra langsung menampilkan bintang-bintang kesenangan, matanya bercahaya dan bibirnya terbuka lebar, mengembangkan senyuman lugunya kepada orang sekitarnya.
“Lalu-lalu?! Bagaimana dengan Arley?!” Varra pun ingin mengetahui, status apa yang Arley miliki.
Demikian pula dengan si remaja berambut merah, ia pastinya ingin sekali mengetahui status apa yang ia miliki saat ini.
Menolehlah paman Radits menatap Lanel, ia ingin mengetahui, apakah ia boleh membocorkan sedikit informasi mengenai Arley, kepada kedua remaja ini. Saat itu, Lanel hanya menghembuskan napasnya, tanda ia berserah diri pada sang paman.
“Untuk Arley,” sejenak paman radits menjeda ucapannya. “ia tidak memiliki energi [Mana] sama sekali. Ini seperti yang sudah kita duga sebelumnya, tetapi, kekuatan fisik yang Arley miliki sangatlah luar biasa. Dan itu merupakan aset yang sangat berharga baginya.” Menjawab pertanyaan Varra, paman Radits pun langsung mengelus kepala Arley, untuk tidak membuatnya pundung, sebab dirinya tak memiliki aliran energi [Mana], sama sekali. “Ini memang sangat jarang terjadi. Akan tetapi, Sihir bukanlah segalaya di dunia ini. Lihat saja kami, para pedangang. Kami tidak membutuhkan sihir untuk bertahan hidup,” ujar sang paman, sambil ia menggendeong Emaly.
Sejujurnya, Arley sangat Shock saat ia mendengar kabar itu. ia tak menyangka jika dirinya ternyata tak bisa menggunakan mantra sihir sama sekali. Begitu juga dengan Varra. Ia merasa iba dengan sang remaja pria. Di dunia ini, tidak banyak orang yang tidak memiliki energi [Mana], ini adalah kasus yang sangat amat langka, bahkan sempat tergolong sebagai sebuah penyakit.
Arley pun menyadari, jika ia berpotensi membuat orang lain, merasa kasihan sebab dirinya. Saat itu, ia langsung memberikan jawaban positifnya, demi menutupi rasa sedih. “Aku rasa itu cukup, jika Varra nantinya akan menjadi seorang penyihir yang hebat. Mungkin aku harus mulai belajar tata cara menjadi seorang ahli pedang,” ucap Arley, sembari ia melihat ke wajah Varra, dan memberikan senyuman pada sang wanita.
Varra yang menyaksikan hal itu, dirinya sedikit meras legah dan melepaskan rasa ibanya terhadap Arley.
***
Pendaftaran usai, berkas-berkas sudah di input semua dalam, data base Guild. Tak perlu berlama-lama, dua buah kartu dan dua buah kalung langsung di berikan kepada Arley dan Varra, sebagai tanda legalnya mereka berdua, menjadi seorang Adventurer pemula.
Betapa senangnya Varra saat ia mendapatkan kartu itu, ia terus menerus menyaksikan kartu itu, layaknya sebuah hadiah terbesar yang pernah ia miliki.
Sedangkan Arley, ia hanya menatap senyum Varra, dan menikmatinya secara mendalam.
“Arley.” Akan tetapi, tiba-tiba paman Radits memanggil si remaja berambut merah itu, di saat dirinya sedang bersantai. “bisakah kau ke sini sebentar?” ucap paman Radits, tampak menggendong Emaly, yang telah tertidur di pelukannya.
“Iya Paman?” tanya Arley yang menanggapi panggilan sang paman.
“Aku dan Emaly, tampaknya harus pulang terlebih dahulu,” terangnya. “Nah, sekarang tugasmu bersama Varra, carilah Quest yang bisa kalian selesaikan dalam waktu dua minggu.” Tampak sang paman menunjuk sebuah papan berwarna hijau, yang padanya terdapat ratusan kertas, tertempel padanya. “Kita kan akan berangkat sekitar tiga minggu lagi, dari pada waktu kalian kosong saat aku mempersiapkan perlengkapan untuk berburu, lebih baik, kalian naikkan peringkat kalian di Guild ini dengan menyelesaikan Quest yang ada.” Imbuh sang paman.
Arley pun menganggukkan kepalanya. Menerima jawaban positif dari si remaja, paman Radits memilih pulang dan memberikan kepercayaan penuh kepada Arley, untuk menghabiskan waktu dua minggunya secara efisien.
Langit sudah mulai sore. Guild pun semakin malam, malah semakin ramai.
Selain itu, Fungsi Guild ini di malam hari, juga berubah sifa menjadi bar yang mampu menampung ratusan orang. Di tempat ini juga, banyak informasi yang beredar, baik itu yang berhubungan dengan Quest, maupun dengan hal-hal lainnya. Sangat bermanfaat, walaupun harus berhati-hati.
Tampak Arley dan Varra, sedang melihat papan hijau yang amat besar. Tingginya sekitar dua setengah meter, dan lebarnya mencapai sepuluh meter. Ada ratusan Quest yang terpajang di papan itu. mulai dari yang kertasnya lecek, sapai yang kertasnya berbau aroma wangi, sebab di semprot parfum. Biasanya, kertas yang di semprot parfum, merupakan Quest yang amat berbahaya, dan sengaja di semprot parfum agar orang mampu membedakan, mana Quest yang berbahaya dan mana yang biasa-biasa saja.
Arley pun membaca satu-persatu lembar Quest yang tersedia, sedangkan Varra berdiri di sebelah Arley sambil ia membantu Arley Quest yang sepadan untuk mereka.
“Apakah kau menemukan sesuatu yang menari?” tanya Arley.
“Belum, rata-rata quest yang terpajang adalah, misi pemburuan dan penaklukan wilayah monster.” Jawab si remaja wanita.
“Mungkin lebih baik, cari Quest yang gampang-gampang dulu saja, seperti mencari Herb, atau Mushroom.”
Varra pun terdiam sejenak, tampak ia sedang membaca sebuah lembaran yang cukup serupa dengan permintaan Arley.
“Ah, ada!” cetusnya, yang kemudian, Varra mencabut kertas tersebut dari papan hijau itu. “Ini, coba lihat ini Arley!” Diberikannyala kertas itu kepada sang remaja berambut merah, dan berharap, Quest ini sesuai dengan kriterianya.
Arley pun menanggapi panggilan Varra. Ia mengambil lembar kertas tersebut, dan dibacanyalah ketentuan Quest yang Varra berikan padanya tadi, dengan serius juga saksama.
Seketika itu juga, Arley menganggukkan kepalanya, dan ia tersenyum atas pilihan Varra. “Ya, ini menarik. Ayo kita ambil Quest yang ini!” ucap Arley, yang sangat setuju dengan pilihan Varra. “mencari, 10.000 Pucuk Daun Herb, dalam jangka waktu dua minggu. Ini sangat sempurna dengan kondisi kita saat ini!”
Demikian, Arley dan Varra langsung membawa lembar kertas tersebut, ke meja resepsionis, dan mereka berbicara dengan seorang wanita, yang kali ini ternyata berbeda penjaga dari sebelumnya.
“Hm? Ke mana perginya, Kak Lanel?” tanya Varra kepada si penjaga meja, tampaknya Sift mereka sudah berganti, akibat jam kerja yang sudah memenuhi waktu.
“Ah, Lanela, ya? Saat ini, Kak Nela sudah selesai bekerja. Sekarang, aku lah yang akan melayani kalian semua,” ujar si penjaga resepsionis berambut pendek itu.
Arley dan Varra pun saling menatap satu sama yang lainnya. Kemudian, Arley langsung memberikan kertas Quest mereka kepada si penjaga meja yang baru.
“Ini kak, kami ingin mengerjakan Quest ini.” jelas Arley dengan nada Datar.
Diterimalah Lembar permintaan itu, dan dibacanyalah ketentuan Quest tersebut, secara saksama. “Bolehah aku melihat kartu Adventurr kalian?” tanya si penjaga meja.
Tanpa ragu, Arley beserta Varra langsung memberikan kartu Bronze Class mereka kepada si penjaga resepsionis. Namun, saat si penjaga meja menerima kartu Adventurer yang Arley dan Varra berikan, ia tampak sedikit cemas dengan Quest yang akan kedua remaja ini ingin jalankan.
“Ahh … tampaknya Quest ini terlalu berbahaya untuk kalian. Untuk menyjalankan Quest ini, minimal kalian harus terlebih dahulu menginjak, Class E, atau setidaknya dua orang Class F.
Arley pun sedikit terkejut, begitu juga dengan Varra. Tetapi, tiba-tiba dari arah belakang si penjaga resepsionis, datang seorang perempuan, dengan dua buah melon yang cukup besar, juga rambut yang di ikat sebelah. “Ah, kalau mereka berdua, biarkan saja mereka mengambil Quest ini.” ucap si wanita, yang dirinya adalah Lanel—tampak mengenakan pakaian biasa, dan tidak berseragam lagi.
“K-kak Nel?! Tapi kak ….” Tentu saja si penjaga resepsionis pengganti Lanel ini, agak sedikit takut. Namun, kali ini Lanel berhasil meyakinkan dirinya untuk meloloskan Arley dan Varra, agar mereka mendapatkan Quest yang mereka inginkan.
“Sudah-sudah, jangan dipikirkan terlalu dalam, Teriana,” ucap Lanel yang menyebut nama dari si penjaga meja. “jika di kemudian hari kau bertemu mereka berdua lagi, ia kan saja Quest apa saja yang mereka ingin selesaikan. Ini adalah perintah dari Master Guild.” Jelas Lenala sambil mengedipkan sebelah matanya, kepada wanita bernama asli, Teriana Meruru, itu.
Teriana pun menganggukkan kepalanya, dan dengan cepat ia menstempel kertas tersebut dengan tinta merah, yang ada di atas meja resepsionis.
“I-ini silahkan! Maafkan aku karena sudah menyusahkan kalian!” Seketika dirinya menyerahkan berkas Quest tersebut, Teriana pun langsung membungkukkan badannya terhadap Arley dan Varra.
“U-umm! Tidak apa-apa kak! Kami juga seharusya memilih Quest yang lebih ringan, maafkan kami juga, dan terima kasih banyak.” Jawab Varra yang sedikit segan dengan perlakuan semacam ini.
Demikian … Arley dan Varra pun pergi untuk kembali pulang ke penginapan mereka. Akan tetapi, Teriana masih bertanya-tanya dalam benaknya, sebab identitas dari kedua remaja tanggung itu.
“Sebenarnya … mereka berdua itu siapa, ya …?” gumamnya, sambil menatap keluar, menuju tempat Varra dan Arley berjalan pulang. “Di umur yang semuda itu, mereka sudah mendapatkan perlakuan yang istimewa. Apakah mereka anak bangsawan? Euh, tidak-tidak. Mana mungkin ada anak bangsawan yang mau bekerja di Guild.” Lanjutnya.
Di saat pikirannya masih berkecamuk, tiba-tiba masuk pukulan ringan, dengan tumpukan kertas, yang mengarah ke kepala Teriana. “Hey! Fokuslah bekerja!” ujar salah seorang senior Teriana.
“A-aww!” walaupun tak terasa sakit, Teriana tetap berteriak, namun teriakannya itu disebabkan rasa terkejutnya. “K-kak! Kok aku di pukul?!” ujar Teriana, tampak sedikit kesal dengan seniornya.
“Hahaha! maaf-maafk, tapi tanganmu berhenti bekerja, makanya aku datang untuk memberikanmu hukuman,” jelas sang senior. Kemudian, sang senior melihat ketempat di mana Teriana melihat tadi. Dan dirinya mendapati Arley besraa Varra berjalan sudah cukup jauh dari pandangan mata mereka berdua. “Ahh, anak itu ya.” Tiba-tiba sang senior tersenyum lepas. “Mereka bukan anak bangsawan kok. Hanya saja, tadi saat aku membantu Lanel melayani mereka, tampaknya Status mereka berdau sangatlah menjanjikan.”
“Hee, pantas saja mereka mendapatkan perhatian khusus,” ucap Teriana.
Terfokuslah pandangan kedua wanita itu, melihat Arley dan Varra, lenyap dalam pandangan mereka. Setelah kedua remaja itu tak terlihat lagi, barulah mereka berdua kembali bekerja seperti biasanya.
Lantas, di hari esok, Arley dan Varra akan segera menjalankan Quest pertama mereka, untuk menaikkan peringkat kelas mereka berdua, menjadi lebih tinggi di Guild kota [Dorstom!].
Petualangan apa lagi yang Arley dan Varra akan hadapi, saat diri mereka menyelesaikan Quest ini?
Bersambung !
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------