The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 82 : Pertarungan Yang Tak Terselesaikan.



***


Sejenak kondisi stadion menjadi keruh. Tidak ada orang yang berbicara didalam kondisi yang membingungkan ini. Sampai akhirnya aku mendengar ada beberapa orang berbicara dari arah belakangku.


“H-Hey!? apakah dia membunuh tuan putri Amy?! mengapa ia menggunakan pedang yang tajam!? ini perbuatan yang curang!!.” Teriak sang pria dengan nada bergetar.


Namun tiba-tiba dari tubuh Amy yang telah terbelah dua, bergerak dan menyatu kembali. Darwin dengan sangat terkejut melompat mundur kebelakang dan mengambil jarak sambil berusaha mengembalikan ke-gilaan yang baru saja merasuki pikirannya.


Bagaikan air, tubuh Amy menggeliat seperti benda cair. Lalu dengan anehnya tubuh sang tuan putri kembali seperti sedia kala.


“Hihihi~ Yang Mulia Amylia memang sangat cerdik~.” Terdengar suara beberapa wanita dari arah samping kiriku.


Ketika aku melihat ke sumber suara, ternyata yang tertawa adalah anggota tim dari kerajaan『Atargatis』yang mereka beri nama “The Blue Whale.” Ke-lima anggota timnya berisi penuh hanya dengan wanita. Dan yang lebih mengerikannya lagi, mereka semua terlihat cantik bak putri duyung.


Aku merasakan ada getaran yang tidak normal dari tim “The Blue Whale ” seperti mereka tengah menyembunyikan suatu hal yang cukup menyeramkan. Aku tak tahu apa itu, tapi aku merasakan hal itu bukanlah suatu hal yang baik.


***


Tubuh Amy telah kembali seperti semula. Tiba-tiba ia tersenyum dan menunjukkan wajahnya yang terlihat begitu menawan. Seketika itu juga, seluruh lelaki yang ada di dalam Arena stadion ini tersipu bahagia saat melihat ekspresi sang “Putri Duyung” yang tampak begitu manis. Ya, semua lelaki kecuali aku dan Eadwig.


Darwin pun demikian. Wajahnya bersemu memerah ketika melihat wajah manis Amy yang tampak begitu menggoda. Namun tiba-tiba, seperti air yang menguap dengan suhu yang begitu panas. Amy menghilang bagaikan kabut asap yang mengepul tebal.


Tampaknya Darwin tengah dirundung panik! wajahnya melihat kesana kemari seperti orang yang tampak gelisah dengan kondisi yang menekan dirinya.


Lalu tiba-tiba tepat di belakang Darwin, terlihat sosok bayang-bayang seorang wanita yang muncul dengan sangat misterius. Darwin terperanjat akibat keberadaan sang wanita yang timbul secara tiba-tiba itu. Ia pun langsung melompat ke-arah yang berlawanan dari tempat berdirinya sang wanita.


Tetapi tiba-tiba kabut menghilang secara instan. Terang benderang! kami semua dapat melihat seisi Arena seperti sedia kala. Namun Tampak tepat di belakang Darwin, ada Amy yang sudah siap menyerang Darwin dengan mantra sihirnya! Darwin terkejut akan hal ini. Ia yang sedang berada di pertengahan udara tentu saja tidak dapat menghindari serangan dari Amy.


Terucaplah mantra dari kedua bibir Amy yang tampak pink dan mengkilap.


“Mist of Death~.”


Secara mendadak tiba-tiba Darwin terbujur kaku di udara. Badannya menggelimpang jatuh ke lantai dan saat itu juga matanya memutar kebelakang. Perilakunya seperti orang yang sedang kekurangan oksigen dan memasuki tahap koma.


Orang-orang di sekelilingku terlihat bingung dengan kejadian ini, termasuk juga dengan aku sendiri. Apa yang sedang terjadi? kenapa Darwin bisa menggelpar seperti itu?. Namun tiba-tiba Eadwig berteriak kepada Michale untuk segera menghentikan pertarungan antara Darwin dan Amy saat ini juga!


“Hey Michale!! hentikan pertandingan ini!!.” Eadwig langsung berlarin menuju Michale yang tak seberapa jauh dari posisi kami saat ini.


Sontak Michale baru menyadari bahwa kondisi Darwin sebenarnya sudah masuk ke ambang tewas! Demikian aku baru menyadari hal yang sama ketika melihat darah mulai keluar dari lubang hidung, mulut, juga telinga Darwin.


“Priittt!!!!.” Saat itu juga peluit ditiupkan. Orang-orang tampak bingung dengan keputusan yang diambil Michale.


“Pemenangnya adalah Amylia Tsovinar Poseidon!!.” Teriak Michale untuk menghentikan pertarungan.


Keriuhan mulai terjadi dari arah tribun penonton, mereka semua tidak mengetahui seberapa gentingnya kondisi ini. Namun kegentingan ini belum selesai, Amy dengan polosnya hanya memandang kami yang berada di atas Arena, ia tampak tak puas dengan pertarungan yang terjadi.


“Hmm?~ sudah selesai? padahal aku belum melakukan apapun.” Jelas Amy dengan intonasi nada yang cukup dewasa.


Tangga kaca pun turun, tanda bahwa pertandingan telah usai. Tubuh Darwin masih menggelepar, bahkan kali ini ia meronta-ronta kesakitan dengan sebab yang tak pasti.


“Amylia!! putuskan mantramu sekarang juga!!.” Eadwig berteriak dengan sangat ganas mencekal perbuatan Amy yang tidak sportif. Aku pun tahu apa yang dilakukan Amy, ia tidak menonaktifkan sihirnya sampai saat ini juga.


“Ara~ kau terlihat lebih cerdas dari para lelaki lainnya.” Ucap Amy dengan nada yang menggoda. Tak berapa lama kemudian ia telah sampai di atas Arena bersama kami semua. Lalu Amy menghampiri Eadwig dengan gelagatnya yang begitu mempesona.


“Selamat siang Yang Mulia Eadwig.” Sapa Amy kepada Eadwig sembari menatap tajam dengan tatapan menggoda kepada sang Pangeran Negara kerajaan『Simbad』.


Lalu Amy semakin mendekat ke hadapan Eadwig dan ia melihat sekujur tubuh Eadwig seperti orang yang melihat benda langka. “Hmm, Yang mulia. Kau terlihat begitu tampan, selain itu kau juga cerdas dan bijaksana. Jika anda tidak keberatan, maukah anda memikirkan pertunangan antara kita berdua dikemudian hari?~.” Dengan tenangnya Amylia melamar Eadwig tepat di hadapan berjuta-juta ummat manusia.


“HWEEEEEE!!!!!~.” teriak seluruh orang secara bersamaan. Hal ini termasuk Michale dan seluruh orang yang ada di dalam stadion『El-Colloseum』. Yap, semua orang … semua orang kecuali diriku dan Eadwig.


Lalu tampak tubuh Eadwig bergetar. Tubuhnya bergetar bagaikan sedang menahan amarah yang begitu membara. Giginya gerutukan menahan emosi yang akan membeludak. Ya, setidaknya itulah yang aku lihat dan aku interpretasikan.


Berjalan lah Eadwig menuju Amy dengan sangat perlahan, ia berjalan sampai akhirnya Eadwig berdiri tepat di hadapan Amy dan tampak begitu dekat. Tamat sudah riwayat Amy, ia akan dihabisi oleh Eadwig sang kesatria pemberani ….


Seketika itu juga Eadwig memegang punggung Amy dengan sangat kuat, bahkan aku melihat baju Amy yang digenggam keras oleh Eadwig tampak ringsek dan tak beraturan. "A-Aw!! Y-Yang Mulia!?.” Rintih Amy terhadap Eadwig.


Sontak seluruh penonton yang berada di atas tribun dan peserta yang berada di samping kami. Seluruhnya menghujat perbuatan Eadwig yang bermain kasar kepada seorang wanita.


“Hei Eadwig!! biarpun kau seorang Pangeran, tetapi kau tak boleh semena-mena seperti itu terhadap seorang wanita!!.” Teriak seorang pria dari arah tribun penonton!.


“Benar itu!! kau tidak boleh menyakiti Amy dengan tangan kotormu itu!! dasar Pangeran sialan!!.” Teriak Michale yang keceplosan dengan ucapannya sendiri. “-A-ah!? aku keceplosan, maafkan aku hehehe.” Ucap Michale dengan pengeras suaranya.


Demikian keriuhan pun pecah dan lempar-lemparan sampah mulai terjadi dari arah bawah kaca menuju tempat kami berdiri saat ini. Walaupun keriuhan sudah pecah, namun aku tahu betul bahwa pola pikir Eadwig sudah bulat dan tak tergoyangkan. Wajahnya mengkerut dan urat-urat marahnya timbul.


“AMmyyylliaaaaa!!!.” Sontak, Eadwig berteriak dengan sangat kencang!. Selesai, tamat sudah riwayat wanita ini.


Lalu aku melihat ke-arah rekan timnya Amy. Mereka semua gemeteran dan ketakutan saat melihat pertempuran antara Amy dan Eadwig.


"Haah, hey kalian yakin tidak mau menyelamatkan Tuan Putri kalian? dimana kesetia kawanan kalian yang sebelumnya kalian tampilkan kepada kami?." Demikian aku berceloteh sendiri di dalam hati.


Saat itu pun tiba. Eadwig yang terlihat sangat geram, mengangkat kepalanya tinggi keudara bagaikan ia akan segera menghantamkan kepalanya itu ke jidat Amy yang terlihat ringkih. Otot-otot di sekujur tubuhnya mengeras, dengan sekuat tenaga ia menyelesaikan ini semua dalam sekali tarikan nafas.


“-AMY!!! AKU TERIMA TAWARAN ITU!.” Demikianlah tampaknya kedua negara ini akan berperaa… -a ... -eh …? -hee!?! t-tunggu dulu … a-apakah aku salah mendengarnya??


“-AMY! JADILAH ISTRIKU SETELAH SEMUA INI BERAKHIR!!.” Eadwig terduduk pada kaki kirinya sedangkan kaki kanannya menopang tubuh tegapnya. Ia menggenggam erat kedua tangan Amy seperti orang yang benar-benar tengah melamar kekasihnya.


Wajah Amy langsung berubah merah setalah mendengar ucapan Eadwig yang begitu bergairah. “A-ara …~.” Tampaknya Amylia juga menjadi salah tingkah setelah mendengar lamaran yang diutarakan Eadwig kepada dirinya.


T-tunggu dulu!?! apakah ini benar-benar terjadi?! Hoi Eadwig! Kau sedang bercanda kan?! -gee!! Weii!! Kenapa wajahmu seperti main karakter pria dalam komik wanita remajaa!!!


Drama ini pun berlanjut tanpa ada yang bisa menghentikannya.


“A-Aku dengan senang hati menerimanya Yang Mulia Eadwig~.” Jawab Amy dengan wajah yang memerah. Demikian Amy menarik kedua tangannya dari genggaman Eadwig, dan saat itu juga ia menutupi kedua pipinya yang l tampak begitu memerah akibat ulahnya sendiri.


Saat itu, aku termenung melihat kejadian ini. Bukan hanya aku, bahkan seluruh orang yang ada di dalam Stadion『El-Colloseum』, termenung melihat kejadian yang tampak sangat amat langka ini.


Mungkin selama 1 juta tahun kedepan, kejadian seperti ini belum tentu akan terulang kembali. Dimana orang yang baru saja menyiksa sahabat karib sang Pangeran, dengan polosnya melamar sang Pangeran yang terlihat sangat pemberani dan perkasa, dan saat itu juga sang Pangeran menerima lamaran sang Tuan Putri dengan wajah yang terlihat kesemsem.


Lalu bagaimana kabar sahabatnya? E-errr, sahabatnya sedang menangis sambil di gotong untuk di bawa kerumah sakit. Hahaha ... aku jadi merasa sedikit kasihan dengannya, semoga kau cepat sembuh yaa Darwin!


Suasana sangat hening. Yang terdengar hanya tertawaan mesra kedua pangeran dan putri bodoh yang baru saja bertunangan ini. Demikian aku akan mulai mengeluarkan kalimat yang begitu ikonik di moment seperti ini, dan … ah! tampaknya bukan hanya aku yang akan melakukan hal ini.


Ekhem, baiklah, ayo kita menghitung mundur momen ini.


Tiga, dua, satu ….!


“HEeeeEeeeeEEEEeeeeeeeeeEEEeEE !!?!.” Kami semua berteriak dengan intonasi dan nada yang harmonis.


Demikian pertandingan tertunda sejenak akibat perbuatan Putri dan Pangeran yang kurang pintar ini ….


***