The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 277 : Tertawa, Untuk Kebersamaan.



Arley masih terdiam memperhatikan sang paman. Sedangkan Varra beserta Melliana, mereka berdua hanya menatap Emaly, yang ketika itu sedang bermain dengan dirinya sendiri.


Sang remaja berambut merah itu pun merasa penasaran … mengapa sang paman bisa sampai berharap mengehai hal yang seperti demikian.


“Kau mengerti, Arley? Kenapa aku menginginkan hal itu untuk terjadi?” Namun, sebelum Arley sempat bertanya, si paman berbadan kurus itu pun, malah terlebih dahulu menanyakan tanggapan dari anak angkatnya.


“Aku sedikit paham, paman. Saat ini, orang-orang yang menguasai dunia, adalah mereka para bangsawan. Lantas, jika kekuatan itu memang ada, mengubah peraturan di dunia ini sangatlah gampang. Begitu, kan, paman?”


Jelas si remaja berambut merah itu, sembari ia memandang lurus ke depan jalan.


“Benar! Kau pintar Arley.” kembali sang paman memuji Arley.


Namun, saat itu Arley memiliki firasat lain, yang menyatakan, jika bukan hanya itu saja yang membuat sang paman ingin melenyapkan para bangsawan dunia. Tetapi, untuk saat ini, Arley memilih membungkam mulutnya.


Ia merasa, jika pembicaraan ini terus di lanjutkan, hal yang seharusnya terpendam, akan terbuka kembali.


“Moo! Apa yang kalian bicarakan! Suasana ini terlalu kelam, bisakah kalian mengganti topik pembicaraan!?” Dan timiming yang sangat tepat pun terjadi.


Varra dengan suara kerasnya, langsung memotong pembicaraan sang paman bersama Arley. Tentu saja, si remaja berambut merah sangat bersyukur atas pemotong pembicaraan yang Varra lakuka.


“Nice Timing, Varra!” gumam Arley, dalam hatinya.


“A-ah! Maafkan aku! Ahahah! Apa yang aku katakan. Huuh, ya-ya! sebaiknya kita mengganti topik pembicaraan. Mmmm, tapi apa yang akan kita bicarakan selanjutnya?” ucap sang paman.


Lantas, Melliana pun memberikan pertanyaannya kepada paman Radits.


“Ngomgon-ngomong paman … apakah benar, paman mendapatkan upah yang cukup besar, dari pihak kota [Rapysta]” Tanya Melliana. si wanita cantik berambut panjang dan bergelombang itu.


“Uang itu? Ahh~ itu sebenarnya diperuntukan untuk Arley. Dan uang yang mereka berikan, adalah uang hasil pendapatan Verko selama setahun terakhir ini.” Memandanglah sang paman, degan pandangan bingungnya, ke arah Arley. “Tapi Arley memintaku untuk mengambil keputusan.”


“Benar, aku meminta paman Radits untuk mengambil keputusan. Lagi pula, aku tak membutuhkan uang sebanyak itu,” ungkap Arley, sambil membalikkan badannya kebelakang.


“Hee~ memangnya, total keseluruhannya berapa paman?” Varra pun ikut memasuki pembicaraan itu.


Dan dengan datarnya, sang paman menjawab pertanyaan itu, seperti pertanyaan pada umumnya.


“Satu miliar koin emas.” Namun, apa yang paman Radits ucapkan, bukanlah pernyataan yang umum di dengar.


“Sa-Satu Miliyaarrr?!” Sontak, Varra dan Melliana langsung terjengkang ke belakang ketika mereka berdua mendengarkan jumlah total dari harta Verko.


“Apakah paman mengambil seluruh uang itu?!” Kemudian Varra menambahkan pertanyaannya.


Sang paman pun melambaikan tangannya, sebagai tanda penolakan.


“Tidak, aku tak mungkin mengambil uang sebanyak itu. Lagi pula, uang itu adalah hasil kerja keras dari ratusan wanita yang Verko peralat,” ujarnya, sambil menerangkan alasannya pada saat itu.


“Jadi?” Kali ini Melliana yang bertanya.


“Jadi apanya? Uangnya? Yah, aku hanya ambil sepuluh ribu koin saja.”


“Sepuluh ribu koin!? SAAAJAA?!” serempak Varra dan Melliana kembali berteriak dalam ritme yang sama.


“Lalu sisanya bagaimana paman!?” Melliana kembali melontarkan pertanyaannya.


Lalu, sang paman melihat ke arah Arley dengan tatapan menunjuk. Dan menolehlah Varra beserta Melliana melihat ke wajah Arley.


Arley pun tersenyum sembari ia memberikan jawabannya.


“Lima puluh persen dari keseluruhannya, di ambil oleh istri pertama Verko. Tiga puluh persennya di berikan kepada kota [Rapysta], dan sisanya, di bagikan kepada para wanita yang sudah diperdaya oleh Verko.”


“Begitu, ya … yah, memang mereka berhak mendapatkannya sih … tetapi, mengapa istri pertama Verko mendapatkan uang sebanyak itu?!” ujar Varra dengan penuh pertanyaan.


“Dia adalah satu di antara dua wanita, yang ingatannya tidak mau dihapus. Selain itu, dia adalah korban pertama Verko. Sebenarnya, aku memberikan keseluruhan harta itu kepadanya, tetapi, ia malah memecah uang itu dan seperti yang aku jelaskan tadi, dirinya hanya mengambil lima puluh persen dari keseluruhan total yang dijelaskan,” terang Arley kepada kedua wantia itu.


“Wanita yang aneh … jika itu aku, pastinya aku akan mengambil keseluruhannya.” Kembali Varra memberitahu keinginannya.


Namun, tiba-tiba paman Radits teringat akan sesuatu.


“Ah! Ngomgong-ngomong, apakah kau sudah beritahu Cipi- Ah! maksudku Moona, mengenai hal itu?!”


“Hal itu? Maksud paman … mengenai pria itu?” Arley mengulai pertanyaannya, sebab ia tak begitu tahu maksud dari ucapan sang paman.


“Ya! Pria itu … apakah kau memberi tahu mereka berdua …?”


Setelah sang pama menanyakan kembali pertanyaannya, Arley hanya terdiam sambil menatap Jalan.


“Tidak … aku tidak memberi tahu mereka berdua mengenai kondisi pria itu …,” gumam Arley, degan suara bergetarnya.


“Begitu, ya … betapa malangnya mereka berdua ….” Tambah sang paman, sambil ikut menatap tanah.


.


.


.


***


.


.


.


Pada saat itu … di waktu yang sama dengan momen ketika Arley tengah berbincang-bincang dengan pamannya, tepatnya di kota [Rapysta] ….


Mereka pun izin berangkat meninggalkan rumah mewah milik Walikota Wales, untuk kembali ke negeri kelahiran mereka. Kota [Azurat Zlanat]. Sang walikota, dengan senang hati mengantarkan mereka keluar sampai menuju pintu gerbang.


Dan ketika itu, para wanita lainnya menatap kepergian Loise dari balik jendela rumah mewah milik sang walikota. Mereka pun melambaikan tangan, sebagai tanda perpisahan. Untuk menghargai hal itu, Moona dan Louise juga ikut melabaikan tangan mereka dengan senyuman pada wajahnya.


Berjalanlah mereka berdua meninggalkan ke kediaman itu. Beberapa kali, mereka menghampiri sebuah toko untuk membeli perbekalan. Dan tentunya, mereka membayar dari hasil uang yang dibagikan oleh istri pertama dari Verko.


Saat itu, Loise mendapatkan uang senilai, sepuluh juta koin emas, yang dirinya simpan didalam kantung dimensi. Dirinya mendapatkan uang yang lebih banyak, dibandingkan ratusan wanita lainnya, sebab, ia adalah satu dari dua wanita yang memilih untuk hidup dengan ingatan yang melkat pada dirinya.


Pilihan itu ia ambil dengan penuh kesadaran, dan dirinya menganggap, jika memorinya saat ini, adalah kenangan dari kakaknya yang hanya itulah yang tersisa.


“Moona, Apakah segalanya sudah siap?” tanya Loise, yang ketika itu, mereka sudah berada di depan pintu gerbang masuk, kota [Rapysta].


“Umm~ Semuanya sudah beres!” balas Moona, sambil melihat liontin peraknya tersebut.


Loise yang menyadari atas apa yang Moona kenakan, saat itu pun mengomentari hal tersebut.


“Kau terlihat cantik dengan kalung itu,” ujarnya, sambil menggenggam tangan Moona, yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


“Tentu saja! Liontin ini kan pemberian dari, Kak Alan—” dan ketika ia menyebutkan nama dari orang yang begitu penting bagi dirinya, Moona teringat akan hal-hal menyenangkan yang mereka berdua lakukan. Meneteslah Air mata yang dirinya sudah tahan semenjak Alan meninggalkan dirinya. “Maksudku … Papa …,” tambah Moona, sambil memeluk ibu angkatnya saat itu.


Loise pun tak bisa banyak berbicara, dirinya juga merasa sangat kehilangan sosok seorang kakak yang membersamainya sampai belasan tahun lamanya.


“Aku masih berada di sisimu, Moona. Aku akan selalu bersamamu~” Berkali-kali kalimat itu Loise katakan, untuk meredakan tangisan Moona, namun, mereka berdua malah saling menangis sembari menunggu kereta keberangkatan untuk tiba di saat itu.


Keduanya pun mengeluarkan perasaan itu dengan cepat. Mereka berdua, memang bukanlah wanita yang lemah, melainkan, mereka adalah wanita perkasa yang bisa menjadi contoh bagi wanita lainnya.


Walaupun kehidupan tampak susah bagi keduanya, tetapi mereka memilih untuk terus berjalan, walaupun rasanya begitu sakit dan perih.


Setelah tangisan mereka berdua telah kering, kereta kuda yang amat cantik pun datang. Mereka akhirnya menaiki kereta itu untuk kembali pulang menuju kota kelahiran mereka.


Dalam larutnya hari, Kereta kuda mereka pun akhirnya lenyap dari depan pandangan.


Namun … dari jauhnya pandangan, terdapat seorang pria dengan jubah berwarna hitam, dam memiliki rambut panjang sampai menutupi mata kirinya. Tampak memandangi kereta itu larut dalam jauhnya jangkauan mata.


Lantas, pria itu pun pergi melangkahkan kakinya untuk mengikuti jejak kemana kereta kuda itu berangkat.


.


.


.


***


.


.


.


Kembali ke tempat di mana Arley dan paman Radits berada.


Kala itu … suara Arley terdengar bergetar, ketiak ia menjelaskan mengenai pria yang mereka berdua perbincangkan. Dan sang paman merundukkan kepalanya untuk menutupi perasaannya.


Namun, Varra dan Melliana menemukan sebuah kejanggalan di antara keduanya. Kedua pria ini tampak bukan seperti sedang bersedih, melainkan ….


“Hey, apa yang kalian lakukan? Kalau mau ketawa, kenapa tidak di lepaskan saja?” ujar Varra, sambil memandang datar keduanya.


Dan setelah itu ….


“BAHAHAHAhahaahah! Aaahhaahaha!”


Kedua pria itu pun tertawa dengan sangat riangnya, bahkan terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.


Melliana dan Varra pun bingung dengan apa yang sebenarnya kedua pria ini pikirkan.


“Ahh~ Aku tak mengerti apa yang pria-pria ini pikirkan.” Kala itu, Varra menoleh ke arah wajah Melliana, dan Melliana pun membalas pandangan wajah Varra.


Saat itu, keduanya pun ikut tertawa sambil memperhatikan Arley beserta Paman Radits, yang tak kunjung berhenti menertawakan hal yang kedua gadis ini tak mengerti.


Saat itu, hal yang di tertawakan Arley dan sang paman adalah … momen ketika mereka berdua mengangkat jasad Alan, dari medan pertempuran. Mereka berdua mengira jika Alan telah meninggal, akan tetapi … hal sebaliknya yang malah terjadi.


Tampaknya, saat itu, obat yang Arley paksakan minum ke mulut Alan, secara tak sengaja tertenggak sedikit olehnya, dan hal itulah yang membuat Alan tetap hidup walaupun tubuhnya sudah kritis.


Semenjak itu, Arley dan sang paman merawat Alan, sampai dirinya sadar. Dan ketika ia sadar, Alan mengira jika dirinya berada di Surga.


Saat dirinya baru saja sadar, Alan sempat berkata seperti orang bodoh yang menganggap Arley dan paman Radits sebagai Tuhan. Menyikapi hal itu, sang paman sengaja mempermainkan moment itu dan menjadikannya bahan olokan kepada Alan.


Kejadian itulah yang membuat kedua pria ini tertawa terbahak-bahak. Namun, karena Alan telah sadar, Arley dan sang paman diminta untuk merahasiakan hal ini, dari Moona dan Loise.


Sebab itulah, Arley tak bisa memberi tahu Moona dan Loise, mengenai keberadaan Alan yang masih hidup sampai detik ini.


Ya, kebahagiaan ini akhirnya kembali.


Di setiap masa sulit, pasti memiliki batas akrhinya. Dan ketika kita tiba pada masa itu, kebahagiaan pasti akan menyelimuti diri ini.


Hal inilah yang dirasakan oleh keluarga Tomtom, pada moment yang amat tenang ini. Yaps, kebahagiaan yang tiada duanya.


Arc : Jiwa Yang Lepas, End.


Bersambung~