
Segalanya menjadi senyap … seluruh orang yang berada di ruangan itu, tampak memanjatkan doa bersama Arley.
Tak ada satu matapun yang terbuka, sampai pada akhirnya, terdengar suara retakan dari batu putih berbentuk telur itu.
Sophie dan Aurum yang menaruh curiga, langsung membuka kedua mata mereka demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tampak di depan mata mereka, tubuh Arley yang tergeletak bersama dengan Helena.
“Arley?!” teriak mereka berdua secara serempak, sambil berlari menuju ke tempat sang remaja.
Sebab teriakan Aurum dan Sophie, seluruh warga ikut membuka mata mereka untuk melihat lokasi kejadian.
Semakin lama, retakan yang ada pada batu tersebut semakin merebak.
Ketika itu, Aurum langsung berniat menggendong Arley dan membawanya pergi dari lokasi itu. demikian Sophie membantu Aurum untuk menaruh tubuh Arley di puggung Aurum.
Kejadian itu pun tiba. Seluruh mata yang melihat kejadian ini, perlahan melangkah kan kaki mereka untuk mundur. Beberapa dia antara warga kota lebia, bahkan ada yang terhimpit sampai menyentuh tembok.
Pecahlah cangkang batu itu secara tiba-tiba, Lantas cahaya hijau langsung memancar dari dalam batu yang ternyata memang benar-benar telur tersebut.
Getaran kembali terjadi. Tempat di mana Arley terpingsan tadi, langsung runtuh, hanyut ke bawah. Masyarakat kembali panik, sebab mereka mengira jika lantai yang mereka injak, akan bernasib sama dengan lantai yang ada di tengah ruangan.
Sesaat kemudian, Arley terbangun kembali dari pingsannya.
“T-turunkan aku …,” gumam Arley yang ketika itu berada di pundak Aurum.
“Tidak! Berbicara saja kau sudah susah. Memangnya mau apa lagi yang engkau lakukan, Arley?!” bentak Aurum kepada sang remaja.
“Nyawa kita akan terancam … jika kita berlama-lama di sini …,” jelas Arley dengan suara lemasnya. “kalau begitu … bawa aku ke sedutut Selatan, dari ruangan ini …,” ucap Arley memberikan solusi.
Aurum yang terkejut dengan informasi yang Arley berikan, lantas langsung mengikuti anjurannya dengan berlari menuju sudut Selatan.
Kala itu, cahaya hijau yang tadinya tergantung di udara. Tiba-tiba terjatuh, dan masuk kedalam lubang yang ada di bawahnya.
“K-kak Aurum … cepat … tekan gambar tangga itu …,” tutur Arley yang hampir terpingsan kembali.
“Y-yang mana …?! Di sini banyak gambarannya!” jawab Aurum yang mulai panik.
“O-oi … apa yang kalian lakukan? Kita akan baik-baik saja bukan?” ucap salah seorang warga yang mulai merasa curiga.
“Berisik! Biarkan aku konsentrasi!” bentak Aurum kepada sang pria yang bertanya kepadanya.
Lantas, Aurum degan gesit mencari ukiran patung yang Arley maksud. Berkali-kali matanya menggeliat memandang tembok yang ada di depannya. Gempa bumi pun semakin membesar, mereka yang berdiri, semakin lama semakin susah untuk berdiri tegap.
“Ah!? apakah ini?! Eugh!—” Aurum berhasil menemukan ukiran tangga yang Arley maksud, tetapi, sebab gempa yang semakin membesar dan tampaknya ada yang sedang kunjung datang dari dalam lubang di tengah ruangan. Tubuh Aurum terjatuh di tanah. “Tidak!” teriak Aurum yang menjadi sangat paink.
Tetapi, kala itu ada Sophie yang mensuport mereka berdua. Dengan cekatan Sophie menekan gambar tangga yang Aurum dan Arley maksudkan.
“Sophie!” sebut Aurum memanggil nama sahabat barunya itu.
Tersenyumlah Sophie dengan wajahnya yang bercucuran keringat. Lalu, dari tebok bagian selatan, terbuka pintu rahasia yang menjulang tinggi, naik ke atas.
“Cepat … berlari menuju ke luar ruangan …,” perintah Arley untuk yang terakhir kalinya.
Mengiyakan komando terakhir dari Arley, sebelum dirinya pingsan kembali, Aurum langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju tangga yang ada di depannya.
“Semuanya! Ikuti langkahku!” teriak Aurum di bersamai dengan Sophie.
Kala itu, seluruh masyarakat langsung mengikuti langkah Sophie dan Aurum. Begitu juga dengan Amylia dan tim Blue Whale. Amylia tampak senang dengan keakuran Aurum dan Sophie, di waktu yang segenting ini, Amylia masih bisa tersenyum kecil melihat tingkah laku Aurum dan Sophie.
“Dasar … efek wanita yang jatuh cinta,” Gumam Amylia sambil menampilkan giginya dengan senyuman yang manis.
Kembali seluruh warga bergerak menuju pintu keluar. Sudah beberapa menit mereka terus menjejakkan kaki mereka demi melihat udara segar.
Aurum dan Sophie yang berada di lini depan. membimbing seluruh warga ke tempat yang mereka sendiri sebenarnya tak tahu mau ke mana.
Beberapa kali tangga yang mereka naiki berbelok Arah dengan sangat tajam, namun mereka tetap berjalan mengikuti jalan satu arah itu tanpa mengetahui arah yang benar.
Gempa semakin besar. Saat ini, lokasi tempat dimana seluruh masyarakat memanjatkan doa tadi, telah runtuh masuk ke dalam tanah.
Pertarungan antara Rubius, Eadwig, dan Misa, melawan para Iblis dan Monster pun, saat ini terhenti akibat gemba yang mengguncang tanah.
Mereka semua terduduk di tanah sambil menahan tubuhnya agar tidak terombang-ambing. Atap tempat mereka berada saat ini pun mulai runtuh, entah bagaimana akhirnya, tapi Eadwig pasti memiliki caranya sendiri untuk menyelamatkan diri bersama kedua rekannya yang lain.
Kembali ke rombongan masyarakat.
Lebar ruangan semakin lama semakin menyempit, tapi ini seperti sebuah tanda bahwa pelarian mereka akan menuai hasil akhir. Dan hal itu benar terjadi.
Seketika itu juga Sophie membuka pintu tersebut dengan menendangnya secara kencang. Alhasil, pintu itu langsung ambruk dan terbuka lebar.
Udara segar langsung menyembur, membelai wajah setiap orang yang berhasil menaiki tangga super tinggi tersebut.
Sophie langsung terkejut ketika meliaht diri mereka berada di ketinggian yang tak di duga. Demikian Aurum yang mengikuti langkah Sophie sembari ia menggendong Arley, juga menampilkan wajah yang sama dengan Shopie ….
“Ini … dimana …?” tanya Aurum kepada Sophie.
Teridam Sophie melihat sekitarnya. Seluruh kota hampir rata dengan tanah. Dia sempat bertanay pada dirinya sendiri, bukankah mereka berlari menuju selatan? Lalu mengapa mereka berada di sudut Utara ibu kota? Gumam Sophie pada menaknya sendiri.
Lantas, Sophie pun menjawab pertanyaan Aurum.
“Kita berada di punjak istana kerajaan [Exandia]. Kita berada di atas, Menara Diana” jelas Sophie kepada Aurum.
Saat ini, Seluruh warga kota, berada di atas Menara tertinggi, dan terbesar yang ada di benua [Horus]. Bangunan yang tersusun di antara komplek istana kerajaan, yang memiliki nama 'Menara Diana'.
Diambil dari nama Adik Raja Exandia, sebagai pengingat baginya, juga penghargaan tertinggi untuk orang yang sang Raja sayangi.
Ketika itu, di atas Menara yang mampu menampung jutaan orang tersebut, bahkan masih menyisahkan banyak tempat padanya. Menampilkan sebuah penampakan yang amat absurb.
Dari sudut Selatan, Mereka melihat Lenka sedang bersusah payah menghentikan pasukan musuh yang telah berhasil menerobos masuk gerbang ibu kota.
Pada bagian tengah kota, seluruh monster yang berhasil masuk ke pusat ibu kota, dengan Agresivenya meluluhlantakkan setiap bangunan yang berdiri padanya.
Tak terkecuali dengan bangunan bersejarah, Gereja Perpustakaan.
Menangis warga kota melihat rumah-rumah mereka sudah rata dengan tanah. Kebakaran di mana-mana, suasana yang masih senja menjelag pagi, tampak tak beigitu gelap sebab api yang berkobar liar.
Gempa masih tak kunjung berhenti, akan tetapi, entah bagaimana, orang-orang yang berada di atas Menara tersebut tidak begitu merasakan gempa yang sedang terjadi.
Walaupun mereka bisa melihat di depan mata mereka sendiri, jika ibu kota sedang di landa gempa yang amat dahsyat.
“Yang Mulia, Amylia! Lihat itu!” panggil Perry kepada majikannya.
Perry menunjuk ke pusat ibu kota, yang di tengahnya terdapat patung serang pria, tengah memegang Apel yang telah di makan setengah bagiannya.
“Itu … patung Adam?” ujar Amylia.
“Iya! Lihat di sekitar patung tersebut, yang mulia!” Sekali lagi Perry menunjuk patung tersebut.
Lantas, seluruh orang melihat ketempat di mana Perry menunjukkan jari telunjuknya.
***
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -