
Not Edited!
Tubunya tergeletak lemas … wajahnya yang pucat, saat ini tampak lebih pucat di bandingkan sebelumnya.
Kepala Lenka langsung pusing, pikirannya berkecamuk dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
“Arley!” teriak Lenka, sembari ia berlari dan membenarkan posisi tubuh Arley menjadi telentang. Ia buka baju Arley dengan paksa … saat itu juga Lenka dekatkan kupingnya ke jantung sang remaja.
Terdiam sejenak … segala yang ada di sekitar Lenka, terasa begitu melamban. Akan tetapi, tiba-tiba mata Lenka terbuka lebar, sedangkan pupilnya mengecil sebab rasa terkejutnya.
“Ha …?” gumam Lenka yang tak mempercayai apa yang telah terjadi.
Ketika itu, Lenka di kejutkan dengan sebuah kenyataan pahit … bahwasanya … Jantung Arley saat ini sudah tak berdetak sama sekali ….
Tentu saja Lenka tak menyerah di situ saja, Ia langsung memompa dada Arley sekuat-kuatnya. Segala hal ia lakukan untuk menyelamatkan nyawa si remaja.
“Aoyolah …! Ayolaah!” teriak Lenka yang memompa dada Arely menggunakan kedua tangannya yang bersimbah darah ….
Terus, terus, dan terus ia melakukan itu … beberapa kali Lenka mengecek kembali jantung Arley, namun setelah beberapa saat ia mendekatkan kupingnya ke dada Arley, lanjutlah Lenka memompa jantung Arley dengan kencang ….
Lagi, lagi, dan lagi … hanya hal itu saja yang ia lakukan berukang kali ….
.
.
.
***
.
.
.
Di lain sisi. Tepatnya di atas Menara Diana. Telah berkumpul seluruh sahabat Arley yang ketika itu terkejut-kejut dengan situasi saat ini.
“Amy!” panggil Eadwig kepada kekasihnya.
Menyadari jika nyawa sang kesatria masih selamat, Amylia langsung berlari mengejar Eadwig, dan memeluknya dengan hangat, sembari ia menangis di dekapan pria berambut kuning tersebut.
“Aku pulang … Amy …,” ucap Eadwig kepada sang kekasing.
“Selamat pulang … Eadwig,” jawabnya dengan tulus.
Rubius yang sempat tersenyum lega melihat kedua sejoli itu, lantas langsung memutarkan padangannya mencari Arley.
“Kemana Arley?” tanya Rubius kepada Aurum.
“Err … masalah itu ….” Tak tahu harus memberikan jawaban apa, lantas, Aurum menceritakan seluruh kejadian, saat mereka mulai berpisah, berawal dari ruangan yang berada di bawah gorong-gorong.
Penjelasannya cukup panjang, tapi Rubius paham apa yang Aurum ingin sampaikan.
“Ahh … begitu ternyata,” ujarnya. “sebenarnya … kami sempat melihat Arley, untuk waktu yang singkat. Dia datang untuk memberikan Misa sebuah daun yang sama dengan yang Amylia dapatkan.” Tunjuk Rubius mengarah ke tempat Amylia berdiri.
Sejenak Aurum terdiam, kemudian ia memilih untuk menanyakan rasa penasarannya kepada Rubius.
“Sebenarnya, apa yang terjadi di tempat kalian …?” tanya Aurum yang ketika itu terduduk simpu di samping Rubius.
Melihatlah Rubius ke atas langit, lalu dirinya mulai bercerita, kisah selepas Arley menghilang meninggalkan mereka bertiga.
“Yang sebenarnya terjadi ya …? Haha … aku pun tak mengerti sebenarnya apa yang tengah terjadi saat itu … tiba-tiba, selepas Arley menghilang, pertarungan kami melawan para monster itu kembali berlanjut. Tentu saja iblis biru itu melakukan tipu daya liciknya kepada kami. Jujur saja, saat itu aku hampir mati akibat sihir licik si iblis biru itu, tetapi … untung ada Misa yang mensuport kami, sampai akhirnya pertarungan kami usai.”
“Apakah kalian mengalahkan mereka secara telak?” tanya Aurum.
“Tidak … mereka menghilang menjadi debu, semuanya menguap menjadi pasir … aku tak mengerti apa yang telah terjadi, tapi aku menganggap ini adalah kemenangan kami.”
“Kalau begitu, bukan di tempat kami saja yang melihat hal aneh ini ya …?”
“Eh? Kau juga melihat mereka berubah menjadi pasir, Aurum?” tanya Rubius yang sedikit terkejut.
Mengangguklah Aurum, lalu ia menunjuk dedauan hijau yang ada di atas mereka.
“Kau tahu? Saat dedaunan ini mengeluarkan cahaya … saat itulah seluruh monster itu berubah menjadi pasir … aneh bukan?” tutur Aurum dengan ekspresi polosnya.
Tiba-tiba, sebuah perasaan aneh merasuki hati Rubius. Ia terdiam sambil mengeluarkan keringat dingin.
“Rubius …?” panggil Aurum kepada Rubius yang ketika itu teremenung dengan wajah cemas.
Berdirilah Rubius saat dirinya mulai memikirkan hal yang terburuk.
“A-aku rasa … ini semua adalah perbuatan Arley …!” ucap Rubius yang ketika itu menatap Aurum yang ada di bawahnya.
Mendengar ucapan RUbius, berdirilah Aurum secara spontan. “Benarkah?” ucap Aurum degan senyuman bahagia.
“Bodoh! Ini tidak segampang itu …! Ingat pelajaran dasar sihir … untuk merubah mantra sihir menjadi objek nyata … maka di butuhkan pengorbanan yang setimpal.” Ketika itu Rubius menjelaskan Aurum titik dasar dari apa yang ingin ia sampaikan.
Lantas, belum selesai Rubius menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan, tampak dari ekspresi Aurum jika ia mengerti maksud dari apa yang Rubius akan perjelas.
“Untuk merealisasikan sebuah mantra sihir, maka pertukaran setimpal harus di lakukan. Maka dari itu, menukarkan energi [Mana] adalah salah satu cara yang bisa di tempuh untuk mendapatkan kekuatan …,” ucap Aurum yang mengerti pola pertukaran mantra sihir.
Mengangguklah Rubius dengan seriusnya.
“Jika demikian … hal apa yang Arley tukarkan, untuk merapalkan sebuah mantra sihir, yang bisa memusnahkan ratusan juta monster—musnah dari atas benua [Horus] kita ini?!” Kala itu, RUbius mempersingkat penjelasannya kepada Aurum, sebab ia memahami Aurum adalah orang yang sama pintarnya dengan dirinya.
Mendengar ucapan Rubius, seketika itu juga ekspresi Aurum langsung berubah masam. Jantungnya berdebar kenjang dan tubuhnya bergetar hebat.
“T-tidak mungkin … tapi … jangan-jangan ….” Pola pikir Aurum sangat berkecamuk. Ia tak bisa memikirkan hal lain kecuali kondisi terburuk yang bisa Arley dapatkan.
Lalu … di saat Aurum sedang tak bisa berpikir jerni, tiba-tiba terdengar suara seorang pria, berteriak tak karuan sembari menangis seperti anak kecil.
“Siapa pun! TOloong …!” pekik suara yang berasal dari sudut selatan.
Menolehlah semua orang ke sumber suara. Wajah masyarakat yang tadinya bergembira ria, langsung berubah datar saat suara Lenka menggema masuk ke dalam gendang telinga.
Ketika itu Amylia, Misa, Sophie, Helena, Rubius, Eadwig, dan Aurum. Mereka langsung berlari menuju pinggiran menara, demi melihat siapa sebenarnya yang meminta pertolongan.
“Tuan Lenka?!” ucap Eadwig yang mengetahui siuet dari sang pria.
Dirinya terbang dengan kecepatan penuh. Dalam waktu yang singkat, Lenka langsung tiba di atas menara sembari ia menggendong Arley yang sudah dalam kondisi kaku.
“T-tolong …! Tolong anak ini! siapa pun itu …!” cakap Lenka sembari tubuhnya bergetar hebat.
Datanglah Dokter Hasyim beserta tiga perawatnya. Dengan cepat mereka mengambil tubuh Arley dan menggeletakknya di atas lantai.
Stetoskop ia keluarkan, lalu sang dokter menaruh ujung Bell ke dada Arley.
“D-dokter?!” teriak Amylia, Misa, Sophie, Helena, Rubius, Eadwig, dan Aurum secara bersama.
Mata sang dokter menatap kaku ketujuh sahabat Arley, sembari ia menggelengkan kepalanya.
“T-tidak …,” ucap Sophie sembari ia terduduk di atas kakinya. Lalu seketika itu juga Sophie terpingsan di tempat. Kala itu, Perry dan teman-temannya langsung menghampiri Sophie, dan mereka mencoba menyadarkan Sophie dari pingsannya. walaupun demikian, keempat gadis itu juga ikutan menangis, tetapi mereka berlagak kuat untuk mensuport orang di sekitar mereka.
“I-ini pasti mimpi … t-tidak … aku pasti sedang mendapatkan mimpi buruk …,” gumam Eadwig sembari ia membalikkan tubuhnya menuju sisi sudut tebing. Meneteslah air mata Edawig tak terkendalikan. dirinya tak menyangka jika orang yang paling ia harapkan untuk hidup, malah menjadi tumbal di pertarungan ini.
Demikian pula dengan Amylia. Ia langsung datang ke belakang pundak Eawdig, dan ia memeluk punggung sang pangeran dengan seluruh kehangatannya. Amylia pun, saat itu menangis sejadi-jadinya. Niatan awal Amylia adalah untuk menenangkan Eadwih, lantas, saat tangisannya tumpah, kala itu juga Amylia berada di tingkatan yang sama dengan Eadwig. dirinya sesungguhnya juga meminta sebuah pelukan demi menenangkan hatinya.
Sedangkan Rubius … dirinya hanya termenung menatap jasad Arely yang sangat pucat dan dingin. Senyuman di wajah Arley, tampak seperi orang yang hanya tertidur pada malam hari. Dirinya tak percaya jika Arley telah tiada.
Lalu … Aurum …?
Seketika itu juga ... Aurum berdiri dari duduknya, selepas dirinya terlemas mendengar kabar duka yang merebak di sukmanya. Saat itu, dirinya berjalan menuju ke sudut Menara secara diam-diam. “Jika Arley telah tiada … apa gunanya aku hidup di dunia ini … aku akan ikut bersamanya,” ucap Aurum yang saat itu telah berdiri di pinggir Menara. Ia berniat membunuh dirinya sendiri sebab rasa perih di jiwanya, terluka terlalu dalam.
Seketika itu juga, tim Yellow Eagel berlari mengejar ketua tim mereka. “Jangan berpikiran pendek, Kapten!” ucap mereka berempat secara serempak. yang lalu Elnara menarik lengan sang kapten demi menahan dirinya untuk tidak ompat.
“Apa artinya hidup jika Arley tidak ada!?” pekik Aurum, yang ketika itu telah lepas emosi.
Saat itu, Misa yang juga ikut menangis, datang menghampiri Aurum, dan langsung menamparnya dengan seluruh kekuatan yang ia miliki.
“Hey Wanita! Lihat apa yang engkau punya!” Bentak Misa sambil ia menggenggam kerah baju Aurum. “Lihatlah apa yang ada di hadapanmu saat ini!” Tunjuk Misa kepada seluruh sahabat Aurum ketika itu. “Tahukah kau perasaan Arley jika dirimu mati sia-sia?! Akan kau jadikan apa pengorbanannya setelah ia mengorbankan dirinya untuk kita semua?!”
Tertegun Aurum melihat ekspresi sedih Misa, Dirinya menyadari jika Misa-lah orang yang paling disakiti di sini ... ia menyadari hal tersebut dari raut wajah Misa yang terlihat sangat mengkerut, penuh dengan penyesalan, juga penderitaan ... sejenak Aurum melirik sekitarnya … ketika itu, dirinya tersadar jika ia telah di kelilingi oleh sahabat-sahabat yang selalu memperhatikannya, dan menyayangi dirinya.
Aurum langsung meledak dalam tangisannya. Dirinya terduduk lemas dalam pelukan orang-orang yang mengasihi dirinya. Helena pun datang dan memeluk pipi Aurum sembari dirinya hanyut juga dalam kesedihan.
Demikianlah akhir hidup dari Arley … Seorang penyelamat yang telah mengorbankan nyawanya untuk keselamatan manusia.
.
.
.
***
.
.
.
Sore harinya … kesedihan dan kegembiraan berbalut menjadi satu ….
Eadwig, Rubius, Amylia, Aurum, Misa, Sophie, Helena, Michale … serta seluruh Regu penyelamat, juga tim Dokter beserta perawatnya … tak luput juga, tim Green Lotus yang saat ini di wakilkan oleh Maximus. Serta, seluruh peserta tournamen yang sempat membersamai diri Arley. juga seluruh masyarakat ibu kote [Lebia], yang telah Arley selamatkan ....
Mereka semua mengenakan pakaian serba hitam … berdiri pada sebuah makam yang terukir pada batu nisannya, sebuah nama yang begitu bersejarah bagi masyarakat kota [Lebia].
Pada batu putih tersebut … tertulis sebuah nama yang memiliki dua marga.
[Arley G. Benedict].
Demikian nama itu akan tertulis di buku-buku sejarah.
.
.
.
***
.
.
.
Tiga hari selepas pemakaman.
Kesedihan masih meliputi hati dari orang-orang yang di tinggal pergi insan yang di kasihi. Namun, tangan harus tetap bekerja walaupun bumi hampir musnah.
Kala itu, matahari hampir turun ke ujung horizon. Seluruh warga kota masih sibuk memperbaiki rumah-rumah mereka yang hancur sebab perang yang terjadi beberapa hari yang lampau.
Di saat waktu yang begitu sibuk tengah berlangsung, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari sudut Barat Laut, Ibu Kota [Lebia]. Suara ledakan yang sangat menggema, mengejutkan warga kota bahkan sampai seluruhnya menghentikan tangan mereka dari pekerjaan yang menumpuk.
Keesokan harinya … beredar sebuah informasi yang terdengar cukup aneh.
Tertulis pada surat kabar harian pagi: bahwasanya, telah hilang tubuh seorang pahlawan perang, yang diduga dicuri oleh orang yang tak bertanggung jawab. Bagi mereka yang bisa menemukan sang pelaku, akan di beri hadian, Satu Juta Gold.
Arc : 7 Years Later, End~
Bersambung! ~
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -