The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 133 : Kemungkinan Yang Bisa Terjadi



Angin tertiup kencang dari sudut Selatan. Embusannya mendorong setiap makhluk hidup yang ingin berjalan menuju ke sumber perkara—menjauh darinya.


Arley, Rubius, Eadwig, Amylia, Aurum, Sofie, Lily, Michale dan Misa. Di tambah ketiga orang tim Medis yang sempat menolong mereka bertujuh sebelumnya.


Mereka semua tengah menatap ke sudut Selatan Kerajaan『eXandia』yang saat ini telah hancur lebur berkat penyerangan yang di lakukan oleh pasukan Monster.


Dari atas langit, Michale kemudian menaikkan tinggi terbang mereka untuk memandang lebih jelas, berapa puluh ribu musuh yang tengah menyerang kerajaan『eXandia』saat ini.


Tetapi yang ia temukan—terlanjur berbeda dengan apa yang ia harapkan.


“M-Mustahil!? Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi!?” ujar Michale yang tak meyakini apa yang ia tengah pandang saat itu.


Bukannya mereka melihat ribuan Monster. Mereka semua—malah melihat triliunan monster yang menutupi seluruh horizon pada bagian Selatan benua『Horus』.


Beberapa dari mereka ada yang bertubuh batu raksasa, atau sering di sebut『Golem』. Lalu ada berbagai Monster darat seperti『Cobolt Wolf』dan『Goblin』, yang memegang pentungan kayu.


Kemudian ada pasukan 『Incubus』beserta bala tentaranya. Ditambah lagi sekumpulan『Orc』yang dengan tubuh gempalnya itu—mereka tengah memukuli setiap sisi benteng Selatan untuk melebarkan bagian lubang, yang telah terbuka.


Tidak hanya itu, masih ada jutaan jenis Monster lainnya yang Arley ketahui—namun tak pernah ia lihat wujud asli dari keseluruhannya. Baru kali inilah Arley melihat penampakan asli sang Monster yang tertulis pada buku-buku karangan "Merlin S.J."


“A-arley … ini kah yang dinamakan Monster!?” saut Amylia yang tampak begitu tercengang.


“Iya—aku pun baru pertama kali melihat begitu banyak jenis Monster seperti ini …,” jawab Arley, sembari tubuhnya bergetar hebat.


Kala itu, bagi mereka yang awalnya masih ragu dengan buku karangan “Merlin S.J.” Setelah mereka melihat kejadian ini, tentu saja mereka langsung percaya akan apa yang Arley sebutkan semalam.


Ya—mereka yang di maksud adalah keempat sahabat Arley yang telah berjuang bersamanya untuk melawan Monster Misa.


Terutama Amylia yang sebelumnya sempat meragukan perkataan Arley. Kali ini ia terbujur kaku menghadapi tantangan yang akan menghampiri mereka.


Di dalam kecanggungan yang terjadi, mendadak, terdengarlah lesatan suatu objek, layaknya angin tengah terbelah—dari arah Selatan posisi kerajaan saat ini.


Lantas Arley dan kawan-kawannya menatap ke sumber suara.


Betapa terkejutnya mereka ketika melihat jasad dua orang pria tua, dengan baju berwarna hitam dan putih, tengah melesat cepat menuju sumber kegaduhan.


“Kakek Marlin dan Kakek Steven!?” ujar Arley yang terkejut melihat mereka berdua.


Bagaikan pesawat tempur, gelegar lesatan terbang mereka memecah langit, dan menyebabkan seluruh orang yang melihat kejadian itu—langsung meneriakkan ketenangan mereka, sembari berlari dengan lebih teratur dari sebelumnya.


Benar-benar sosok seorang pahlawan yang sesungguhnya. Wajah Arley langsung tertegun, ia memandang kedua kakek itu seperti sosok seorang Superhero, yang tiba untuk menyelamatkan kota dalam bencana besar. Matanya berseri-seri, bibirnya tersenyum dan rasa khawatirnya perlahan merumput.


Saat itu, kedua kakek tersebut telah hilang dari pandangan Arley dan kawan-kawannya. Tepat dari ujung pandangan mereka, terlihat ledakan-ledakan dahsyat yang diakibatkan oleh mantra sihir.


Tampaknya Marlin dan Uskup Steven tengah beraksi untuk menumpas para Monster yang menyerang kota. Ledakan terdengar semakin lama semakin bertubi-tubi. Seperti suara itu tengah mengadu kepada orang yang mendengarkannya, bahwa pertarungan mereka sangatlah sengit.


“Ayo kita bantu mereka!” ujar Arley dengan kondisi tubuhnya yang tak berdaya.


“Kau sudah gila Arley!? Berjalan saja kau sudah tak mampu. Sekarang kau ingin melawan Monster-monster itu dengan kondisi seperti ini?!” tegur Eadwig yang tampak sangat serius. “Tidak! Kali ini aku tidak sependapat denganmu!” bentaknya dengan keras.


Namun bukan hanya Eadwig yang menentang masukan Arley kala itu. Seluruh kawan-kawannya juga memasang pandangan yang sama.


Sejenak Arley melihat dari sudu kiri ke sudut kanan. Mereka semua memasang alis tajam menukik ke bawah, dengan tanggapan menolak pada benak mereka.


“Arley, aku sarankan untuk kita segera menuju ke tempat pengungsian. Jika kesehatanmu sudah kembali, mari kita bicarakan hal ini kembali,” saran Michale yang sebenarnya agak setuju dengan saran Arley yang tadi.


Tentu saja ia mengerti apa yang Arley maksudkan. Saat ini, pertahanan kota sedang kosong. Seluruh bala tentara tengah berusaha menahan gempuran agresi militer ini di pantai Selatan.


Namun jika dilihat dari jumlah musuh yang masuk ke dalam kota saat ini. Sepertinya mereka semua telah musnah, sebab munculnya kekuatan tempur yang luar biasa ini.


Tak mampu membalas perkataan teman-temannya, Arley hanya menganggukkan kepala. Lantas, secara frontal Michale melesatkan kaca pijakan mereka saat ini—langsung menuju Istana Kerajaan『eXandia』.


.


.


.


***


.


.


.


Mengumpul. Seluruh masyarakat tengah berbaris dengan begitu rapinya. Seperti hal ini bukan kali pertamanya mereka menerima perlakuan seperti itu. Tingkah laku merema membuat Aurum tampak bingung.


Kala itu, mereka masih berada di atas kaca terbang—untuk mengondisikan diri, agar lebih leluasa dalam bertindak.


“Mereka sedang menyusun barisan agar pintu bungker dapat terbuka,” jelas Dokter Hasyim kepada Aurum.


“Bagaimana bisa? Apakah ada sihir yang mengendalikan hal itu?” Amylia balas bertanya.


“Ya~ ini adalah sihir kuno yang pendahulu kami telah rapalkan. Karena kekuatan orang-orang terdahulu sangatlah unik. Kami tak mampu mengukur pengetahuan mereka dengan ilmu pengetahuan zaman sekarang," jelas Michale dengan wajah pucatnya, "kami juga tidak mengerti mengapa mantra sihirnya bisa bekerja walaupun tubuh mereka sudah terurai menjadi tanah.”


Lantas—seluruh kawan-kawan Arley menyadari ketidak beresan yang tengah terjadi di antara Arley, dan Michale.


“Hey, apa yang kalian sembunyikan?” tanya Amylia dengan perasaannya yang begitu tajam.


Tertegun bingung ingin menjawab apa, Arley dan Michale hanya mampu saling membalas tatapan—dengan pandangan cemas dan gelisah.


“Oh iya … aku baru menyadari ini … ngomong-ngomong, kemana bantuan yang akan mensuport kedua kakek tadi?” celetuk Rubius tak pandang situasi. Kala itu, bagaikan sambaran petir, seluruh orang yang menaiki kaca terbang tersebut, langsung berpikiran hal yang sama.


Namun, hanya Eadwiglah yang mengetahui situasi dan kondisi saat ini. Sebabnya karena ia adalah seorang kesatria. Jadi, ia tahu betul apa yang seorang kesatria akan lakukan, jika berada dalam kondisi seperti ini.


“Hey Arley … sebelumnya kau sempat mengatakan jika seluruh kerajaan yang berada di benua『Horus』ini, tengah mengumpulkan bala tentaranya di pantai Selatan bukan …?” Eawdig yang tadinya memandang sekeliling, seketika itu juga langsung mengalihkan pandangannya ke hadapan Arley, “bukankah itu berarti—pertahanan di negeri ini tengah kosong!?”


Sekejap itu juga, kawan-kawan Arley yang lainnya, menjadi terkejut setelah mengetahui kebenaran yang tengah berlangsung.


Arley terdiam dan termenung, ia hanya mampu menatap lantai kaca yang ia duduki. Lalu ia mengumpulkan napas untuk menjawab pertanyaan rekan-rekannya kala itu.


“Jika aku lihat dari seluruh kejadian ini ….” Sejenak Arley menelan ludah. “Aku rasa … tidak ada bala tentara yang tersisa di negeri ini. Maupun itu di pertahanan negara kalian.” Menataplah Arley melihat seluruh wajah teman-temannya kala itu.


Ia mengerutkan alisnya ke atas, lalu ia menelan ludah untuk kembali membasahi kerongkongannya yang tak kunjung lembab.


“Kemungkinan ... hal inilah yang bisa terjadi ...," ucap Arley, sembari tertunduk pilu. "Jika jumlah musuh kita sebanyak ini. Pertahanan yang seluruh kerajaan tengah upayakan untuk menahan gempuran mereka … tampaknya telah habis digrogoti oleh serangan musuh.”


Mendengar analisis Arley. Mata mereka serentak melotot hampir keluar.


Ya, ini bukanlah berita yang buruk, tetapi ini adalah berita yang sangat buruk.


Jika seluruh bala tentara negara dipindahkan ke suatu tempat, dan serangan musuh masih bisa masuk ke dalam daerah pertahanan. Itu berarti—tak ada yang tersisa dari sistem pertahanan mereka.


Itu tandanya—pada benua『Horus』ini … tidak ada lagi kerajaan yang tersisa kecuali negara『eXandia』.


Sebabnya? Karena selepas negara『eXandia』, tak ada lagi negara yang berdiri pada sudut Selatan benua『Horus』.


Menyadari akan hal tersebut—tubuh kawan-kawan Arley yang tengah berada di atas kaca terbang saat ini, langsung menggigil, layaknya batu es baru saja di masukkan ke dalam nadi mereka.


Bisakah benua ini terselamatkan?!


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!